Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Tampilkan postingan dengan label kesehatan jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan jiwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Bullying - Tak Bisa Dilupakan tapi Harus Diikhlaskan

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang pendiam, jalannya lempeng dengan pandangan lurus ke depan, tidak melihat kanan-kiri? Orang yang tidak mau membalas senyum Anda, melengos, enggan menegur Anda saat bertemu. Saat Anda berusaha mengajaknya ngobrol dia hanya menjawab singkat, seakan berusaha secepatnya menyudahi obrolan, hanya memandang Anda sekilas.

Anda mungkin menganggap orang tersebut sombong, atau angkuh...

Sebenarnya dia sama sekali tidak sombong, justru sebaliknya. Dia sangat rendah diri.

Kesombongan yang terlihat hanyalah cara dia untuk menghadapi ketakutannya.

Dia tidak membalas senyum Anda karena ragu apakah senyum itu untuknya. Dia merasa tidak layak mendapatkan senyuman Anda, maupun dari semua orang. Dia takut dianggap ke-GR-an.

Dia enggan berkomunikasi dengan orang lain, meskipun sangat menginginkannya, karena merasa tidak pantas. Dia tidak tahu harus membicarakan apa dengan orang lain, selalu takut akan mengatakan hal-hal yang dianggap bodoh dan akan ditertawakan, atau sebaliknya, khawatir mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, atau kata-kata membosankan yang tidak menarik. Dia sendiri mudah tersinggung, seringkali merasa diejek atau jadi sasaran ejekan, padahal belum tentu juga dia yanng dituju, atau belum tentu kata-kata yang dia dengar adalah bermaksud mengejeknya. Pokoknya dia selalu berpikir negatif kepada orang lain.

Apakah karena dia intovert?

Hmmm...Dia suka berada di kerumunan orang banyak, meskipun berusaha tidak terlihat dan lebih suka diabaikan kehadirannya. Dia merasakan lebih bersemangat bersama banyak orang, dan merasa tertekan saat harus sendirian di suatu tempat. Ketika sedih atau galau dia akan keluar ke tempat-tempat umum, meskipun tidak berinteraksi dengan satu orang pun. Sepertinya ciri-ciri itu menunjukkan bahwa dia seorang extrovert, bukan introvert.

Mengapa dia bisa begitu?

Karena trauma masa lalu. Dia korban bullying. Perundungan.

Dia lahir dengan jidat keluar lebih dulu sehingga bentuk kepalanya jadi aneh. Peang. Seperti penderita hydrosefalus.

Sejak kecil dia sering diejek, atau dikomentari, atau menerima tatapan mata geli dari orang-orang yang heran melihat kepalanya yang aneh.

“Lihat anak itu...Kepalanya aneh...”

“Ndase koyok tempe...”

“Hey...Ndas gentong!!”

“Motone mendolo...”

Orang tua mengometari bentuk kepalanya yang aneh, anak-anak mentertawakannya. Banyak juga teman-teman sebaya yang mengganggunya secara fisik.

Bertahun-tahun dia merasakan itu. Sehingga membentuk mentalnya jadi sangat rendah diri. Begitu dahsyat pengaruh perundungan terhadap mentalnya.

Dia adalah saya. Korban perundungan di masa kecil, yang mampu memperbaiki diri.

Semua itu masa lalu. Perundungan itu saya alami saat kecil dan menjelang remaja. Namun dampaknya saya rasakan sampai dewasa. Entah kenapa, saya tidak pernah mengeluhkan yang saya rasakan kepada Bapak dan Ibu. Mungkin karena saya kasihan kepada mereka, sudah terlalu lelah bekerja. Saya telan sendiri semuanya.

Saya tidak menyesalinya, justru bersyukur terhadap segala apa yang pernah saya alami. Sekarang saya jadi lebih mempunyai empati terhadap para korban perundungan di masa kecil, karena mengalaminya sendiri. Empati itulah senjata utama saya untuk membantu mereka menjadi lebih baik dan bahagia. Mampu memandang masa depan dengan optimis, menjalani hidup dengan percaya diri.

Wahai para orang tua, jangan remehkan perundungan yang dialami anak-anak Anda. Sekecil apapun sangat menyakitkan bagi mereka. Melukai mental. Membekas. Mereka butuh tindakan khusus untuk menyembuhkan luka itu, serius.

Jangan minta anak-anak Anda melupakan perundungan yang mereka alami. Itu bukan solusi, justru berpotensi membebani jiwa mereka dalam alam bawah sadarnya. Luangkan waktu lebih banyak untuk mendampingi mereka, ajak bicara, dengarkan. Jangan terlalu banyak menceramahi mereka, jangan sok tahu perasaan mereka sebelum Anda mendengar lebih banyak.

Wahai para korban perundungan, jangan simpan luka Anda! Terima, bersihkan, dan ikhlaslah. Anda tidak perlu melupakan peristiwa itu, karena akan tetap jadi masa lalu Anda, selamanya. Terima saja, akui. Maafkan semua orang yang berkontribusi dalam perundungan itu, ikhlaskan. Memang berat, tapi hidup Anda jadi lebih berat jika tidak ikhlas.

Saya korban perundungan, sekarang saya bahagia. Kalau saya bisa, Anda pasti bisa. Saya siap membantu.

Rabu, 06 Desember 2017

Sabar, Kekuatan Besar Pemadam Api Kemarahan

Sejak dahulu saya selalu salut dan kagum kepada orang-orang yang sabar.


Sejak kecil, dengan segala dinamika dan pengalaman (akan saya ceritakan pada kesempatan lain), saya adalah pribadi yang temperamental. Konyolnya, dulu saya bangga menjadi orang yang pemarah. Dengan pemahaman yang sempit dulu saya menganggap bahwa orang pemarah sehingga ditakuti (lebih tepatnya dijauhi sih...) orang itu gagah dan keren. Sekali lagi karena kegagalan memahami, saya anggap diri saya keren seperti Umar bin Khattab ra atau Pak Sakerah yang garang. Di kemudian hari saya sadar bahwa ternyata Umar bin Khattab bukanlah pribadi pemarah yang temperamental, atau marah secara sembarangan, tapi seorang yang tegas menghadapi kemungkaran sehingga dijuluki Al Faruq. Sedangkan Pak Sakerah ternyata juga bukan tokoh putih yang patut jadi teladan.

Terapi jiwa, Terapi Emosi

Semakin dewasa saya semakin merasakan derita kemarahan. Dari diri sendiri, saat marah saya rasakan beberapa organ tubuh tidak bekerja dengan benar : kepala pusing berdeyut, dada berdebar, persendian kaku dan pegal, mata panas, nafas tersengal. Dan ternyata butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan kondisi badan menjadi normal kembali. Umur semakin bertambah, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menormalkan tubuh akibat kemarahan.

Akibat yang lebih merusak dari kemarahan adalah yang dirasakan orang-orang di sekeliling saya, lingkungan sekitar,  orang-orang yang saya sayangi. Di awal pernikahan dulu rumah tangga saya dihiasi oleh suara keras bentakan dan air mata tangisan, bentakan saya versus tangisan istri. Sejak Coqi (anak sulung) lahir saya sudah menerapkan pendidikan yang tegas (lebih tepatnya : keras) kepadanya, suatu pilihan langkah yang fatal. Sampai saat ini Coqi memiliki kelemahan mental gara-gara sikap keras saya, atau mungkin lebih cocok disebut cedera mental. Dia selalu mati gaya, salah tingkah, bila menghadapi orang lain saat berada di dekat saya dan ibunya, tidak mampu bersikap normal apa adanya. Sementara bila merasa tidak sedang kami awasi dia bisa bebas berekspresi dan sikapnya sangat positif. Sampai saat ini Ibunda saya enggan menegur saya, masih menganggap saya sekeras dulu. “Aku mending ngomong ke kamu...Aku tidak ingin menimbulkan dosa pada Dian karena membantahku...” begitulah kira-kira yang disampaikan Ibunda kepada istri saya. Ibunda mungkin sudah merasakan sakit hati berkali-kali karena ucapan kasar saya sejak kecil, semoga ALLOH mengampuni saya dan membahagiakan Ibunda.
Bahkan fisik sayapun berubah. Wajah saya mengeras, saat terdiam tanpa senyum, orang mengira saya sedang marah, dan memang sulit sekali bagi saya untuk tersenyum. Itu dulu sebelum saya sadar dan berubah.

Bila malam tiba, saat orang-orang yang saya sayangi sudah tertidur, saya sering menangis memandangi mereka. Betapa kejam saya sudah tega menyakiti hati mereka, yang menyayangi saya dan berusaha membahagiakan saya. PENYESALAN...Itulah buah kemarahan. Meskipun saat ini saya sudah berubah banyak, menghilangkan kebiasaan marah, penyesalan itu masih tertinggal. Saya sengaja membiarkan beban penyesalan itu, meskipun saya bisa menguranginya, agar lebih mudah mengeluarkan air mata untuk membasahi hati agar semakin lembut. Yang penting sekarang saya berusaha keras tidak lagi menambahnya.

Saat semakin terbebas dari kemarahan, saat ini saya menaruh iba kepada orang-orang yang suka mengumbar kemarahan karena yakin bahwa mereka sedang menumpuk-menggunungkan penyesalan. Saya yakin jiwa mereka semakin berat, semakin penat, semakin menderita. Semakin lama mereka dengan kemarahannya, semakin banyak kerusakan yang hampir tidak akan pernah bisa diperbaiki.
Saat ini, zaman now, di era digital-era gadget-era sosmed mudah sekali orang mengobarkan kemarahan di ‘depan umum’. Mudah sekali orang mengumbar sumpah serapah, makian hina, komentar nyinyir, dan yang lebih memprihatinkan : mereka bangga dengan kobaran amarahnya. “Status-statusku sendiri, wall-wall-ku sendiri terserah aku...”. Mereka menganggap kemarahannya masuk ranah pribadi, padahal status mereka disetting untuk dibaca umum. Ibaratnya, mereka marah-marah diteras rumah dengan suara keras menggunakan pengeras suara.
Saya sangat mengasihani mereka karena yakin mereka orang-orang yang jauh dari bahagia. Mereka menganggap kobaran api kemarahan akan mampu mengurangi penderitaan mereka. Alih-alih mengurangi penderitaan, kemarahan mereka telah ‘membakar’ lingkungan sekelilingnya dan arang tak akan bisa dikembalikan menjadi kayu. Percayalah...mereka akan dipenuhi penyesalan, itu pasti karena saya dulu pelakunya.

Karena itulah saya sangat mengagumi orang sabar, orang yang sabar ya...bukan orang yang suka menahan kemarahan. Karena dua hal tersebut sangat berbeda. Orang yang terbiasa menahan kemarahan bukanlah orang sabar. Mereka marah tapi dipendam sendiri, mungkin yang tahu hanya diri sendiri, atau sikap marah mereka tidak terlihat berapi-api. Orang-orang seperti itu akan mengalami banyak penyakit fisik. Kemarahan adalah api, dan api yang ditahan tetaplah api yang panas membakar. Bayangkan menahan api berkobar di dalam tubuh Anda...
Api bukanlah ditahan, tapi dipadamkan. Memang berat memadamkan api, lebih berat dibanding menahannya apalagi mengumbarnya, tapi jauh lebih besar manfaatnya dan jauh lebih kecil dampak buruknya. Butuh kekuatan besar untuk memadamkan api kemarahan. Itulah orang sabar, punya kekuatan besar untuk selalu memadamkan api kemarahan. Orang sabar pantang mengumbar kemarahan, karena itu adalah perbuatan orang lemah yang tidak berdaya menghadapi kemarahannya sendiri, orang kalah = pecundang. Orang sabar juga enggan menahan-nahan kemarahan, mungkin sebentar saja menahannya dan langsung menghilangkannya. Orang sabar selalu punya sumber daya untuk memadamkan api kemarahan.

Bertahun-tahun saya berusaha mengumpulkan kekuatan kesabaran, kekuatan untuk memadamkan api kemarahan. Bukan hal yang mudah bagi saya yang sejak kecil sudah terbiasa hidup dengan kemarahan, tapi saya ingin bahagia dan membahagiakan. Menurut saya, dan sangat meyakininya, selama ada kemarahan tidak akan ada kebahagiaan. Saya yakin saya bisa karena orang sabar bukanlah mitos. Orang sabar bukanlah cerita legenda belaka. Orang sabar itu nyata, ada di sekeliling kita, dan kita bisa menjadi salah satu dari mereka.
Saya mau, berniat kuat menjadi orang sabar dan ALHAMDULILLAH sejauh ini  saya berhasil berubah, dan saya mengajak Anda...Anda mau...?

Semoga ALLOH meridloi usaha kita....

Minggu, 25 Mei 2014

Manfaat Gadget bagi Hanun?

Dalam tulisan sebelumnya (Manfaat Gadget bagi Coqi?) saya ‘tersengat’ ketika harus menjawab kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Saya menyadari bahwa ternyata sikap kami sebagai orang tua Coqi dan Hanun masih kurang tegas. Kami masih mengizinkan, bahkan sering membiarkan dalam waktu lama, Hanun memainkan gadget.

Bila Coqi sudah bisa mendapatkan manfaat dari gadget, untuk menulis melalui laptop, maka Hanun hanya bisa menggunakan gadget untuk bermain game, hanya untuk main game. Sebenarnya saya dan istri tidak memiliki gadget yang berisi game yang menarik, bahkan di smartphone kami tidak ada game yang bisa dimainkan, tetapi saat bertemu saudara-saudara sepupunya atau Om dan Tantenya Hanun kerap memainkan gadget mereka yang berisi permainan-permainan menarik.

Sejak menerima ‘kuisioner gadget’ itu saya berpikir panjang tentang manfaat gadget, termasuk game/permainan di dalamnya, bagi Hanun. Semakin panjang saya berpikir, semakin saya menemukan bahwa gadget tidak memiliki manfaat bagi Hanun kecuali untuk sarana komunikasi.

Mungkin ada orang, mungkin juga pakar/peneliti, yang berpendapat bahwa game atau permainan dalam gadget bisa memicu peningkatan IQ anak. Mungkin mereka benar memang ada manfaatnya, tapi lebih besar mana dengan dampak negatifnya? Permainan dalam gadget mungkin bisa meningkatkan kecerdasan intelektual, bagaimana dengan kecerdasan sosialnya? Kecerdasan emosionalnya? Kecerdasan spiritualnya?

Sebagai orang tua saya ingin Hanun menjadi pribadi yang bahagia dan membahagiakan, dan saya yakin itu tidak hanya ditopang kecerdasan intelektual semata. Bahkan lebih banyak orang bahagia yang memiliki IQ sedang tetapi EQ dan SQ-nya tinggi dibanding sebaliknya. Saya sangat tidak ingin Hanun menjadi orang yang update dalam hal technology (tidak gaptek) tapi gagap pergaulan atau gagap sosial.

Saya tidak tahu apakah para pakar dan peneliti yang berpendapat bahwa permainan game dalam gadget bisa meningkatkan IQ juga sudah melakukan penelitian pada permainan tradisional. Apakah mereka pernah melakukan penelitian pada permainan bekel, dakon, bentengan, gobak sodor?


Beberapa hari setelah menerima ‘kuisioner gadget’ saya membelikan Hanun seperangkat bekel dan dakon. Saya bukan peneliti, saya tidak punya ilmu dasar-dasar penelitian, tetapi saat melihat Hanun belajar memainkan bekel-nya saya lihat dia melatih syaraf motorik, menghitung, mengingat, kejujuran, dan berbagi, yang tidak mungkin didapat saat memainkan game dalam gadget

Kamis, 17 April 2014

[Anak Bermasalah 2] Anak adalah Akibat Orang Tuanya

Seorang ibu muda mengeluhkan anaknya yang 'speech delay'. Dia bahkan berani bayar berapapun untuk sesi terapi anaknya.

Alih-alih menerapi anaknya, saya malah mengajak ibu tersebut ngobrol tentang dirinya.
"Ibu bekerja?"
"Iya Pak...Saya berwirausaha..."
"Jam berapa Ibu sampai rumah?"
"Saya sampai rumah menjelang Ashar Pak"
"Capek Bu?"
"Iya Pak..."
"Apa yang Ibu lakukan saat capek di rumah, selain tidur?"
"Saya itu suka menggambar Pak..."
"Wah asik juga Bu...Dengan menggambar bisa menghilangkan capek? Wah sangat produktif kalau begitu..."
"Iya Pak...Wah kalau sedang asyik menggambar saya gak mau diganggu Pak...Biasanya saya malah jadi emosi kalau saat menggambar ada yang berisik. Saya merasa relax dan bebas saat sedang menggambar..."
(Obrolan terus berlanjut...)

Dari sekilas obrolan tersebut Anda pasti sudah bisa menebak apa yang akan saya sampaikan kepada ibu muda tersebut tentang masalah anaknya. Seperti biasa saya tidak menyampaikan pesan-pesan nasihat, tetapi beberapa pertanyaan yang harus dijawab Ibu muda tersebut. Kira-kira pertanyaan seperti apa yang saya sampaikan?

Pertanyaan bagi Anda : menggambar itu perbuatan baik atau buruk? Apa hubungan antara menggambar dengan ‘speech delay’?

Menggambar adalah suatu kebaikan. Melakukan sesuatu kebaikan untuk menyenangkan diri adalah perbuatan mulia. Tapi harus disadari bahwa sebagai  orang tua, menjadi ayah atau ibu, pasti memiliki amanah dan tanggung jawab lebih, lebih dan sangat besar. Jangankan menggambar, orang tua yang  tidak berbuat apa-apa bisa berakibat buruk sangat besar bagi anak-anaknya.


Anak adalah akibat orang tuanya. Bila Anda belum punya anak, segala perilaku Anda hanya akan ditanggung sendiri. Anda bebas berbuat sesuatu, apalagi suatu kebaikan.  
Tetapi saat Anda punya anak, maka semua anak Anda akan 'menikmati' akibat yang Anda sebabkan meskipun itu bukan kejahatan. Selalu pikirkan akibat yang akan ditanggung anak sebelum berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. Kebaikan bagi Anda belum tentu membawa akibat kebaikan bagi Anak Anda.


Waspadalah dan segera berubah, atau Anda harus siap  kecewa melihat Anak Anda.

Kamis, 20 Maret 2014

8 Rahasia Sukses Ujian Nasional, Ebook dan Slide Gratis


Pada bulan Maret dua tahun lalu saya meluncurkan Ebook gratis "8 Rahasia Sukses Ujian Nasional" (8RSUN). Banyak yang mengunduh Ebook tersebut melalui Pustaka Ebook  : http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional. Banyak pula yang ikut menyebarkan Ebook tersebut melalui blog-nya masing-masing, sehingga saya tidak lagi bisa mendeteksi berapa kali Ebook tersebut diunduh, karena hanya di Pustaka Ebook yang ada deteksi pengunduhnya.


Sejak itu saya juga sering diundang untuk memberi seminar motivasi dengan tema yang sama. Awalnya saya membawakan seminar ini tanpa slide, sampai beberapa hari lalu.

Saya sering berbagi slide pelatihan di Slideshare.net/nurmuhammadian. Hampir seluruh materi pelatihan saya unggah di slideshare.net/nurmuhammadian. Banyak yang view slide saya, ada juga yang mengunduhnya.

Beberapa bulan lalu saya membuat slide tentang 8RSUN tapi hanya sebagai preview, sekedar promo untuk ebook-nya, agar lebih banyak orang yang mengunduh ebooknya dan mendapatkan manfaat. Ternyata banyak juga yang justru mengunduh slide preview tersebut. Saya agak bingung, apa manfaatnya mengunduh slide preview, sekaligus merasa terpanggil untuk segera membuat slide seminar keseluruhannya agar lebih besar manfaatnya.

ALHAMDULILLAH, beberapa hari yang lalu saya bisa merampungkan slide seminar 8RSUN dan langsung saya unggah di http://www.slideshare.net/nurmuhammadian/8-rahasia-sukses-ujian-nasional-slide. Silakan siapapun yang membutuhkannya untuk mengunduhnya, khususnya orang tua atau guru yang sedang mengantar anak-anaknya mengikuti ujian nasional. Mungkin lebih bermanfaat bila orang tua atau guru mengunduh ebook dan membacanya dulu, baru kemudian membawakan materi 8RSUN di depan anak-anak menggunakan slidenya.

Sementara saya tetap siap bila ada yang mengundang untuk membawakan materi 8RSUN ini dalam format seminar atau mini workshop, silakan hubungi saya di 081 555 88 2600 atau 081 335 088 305.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 18 Februari 2014

Pelawak yang Tidak Lucu

Acara televisi yang saya sukai akhir-akhir ini adalah Indonesia Lawak Klub, sebuah talk show parodi. Saya menikmati acara tersebut untuk melepas ketegangan, namun ternyata saya juga menemukan pesan-pesan moral dari celetukan-celetukan para komedian dalam acara itu.
Meskipun masih ada sedikit lawakan yang sarkasme, atau adegan fisik murahan, secara keseluruhan banyolan-banyolan cerdas lebih mendominasi acara tersebut.

Acara ini memarodikan acara serius di stasiun TV lain. Tapi anehnya, saya justru lebih banyak menangkap pesan-pesan moral bermanfaat di ILK, meskipun dalam kemasan lawakan, bahkan slogan acaranya saja 'menyelesaikan masalah tanpa solusi'.

Pada acara serius yang diparodikan saya jarang menemukan pernyataan-pernyataan bermanfaat, kebanyakan hanya retorika politik, hujatan kepada kelompok lain, atau dalih-dalih pembelaan kelompok yang membadak buta (babi lebih kecil, dan faktanya memang badak yang rabun berat). Setiap orang atau tokoh yang hadir dalam acara ini sudah membawa misi dari kelompoknya masing-masing. Tugas mereka adalah memenangkan kepentingan kelompok masing-masing, bukan mencari solusi. Tidak ada satupun hadirin yang mau menerima kebenaran, bila bertentangan dengan kepentingan kelompok.

Dalam ILK, para panelis adalah komedian yang memiliki misi yang sama, yaitu menghibur penonton. Konflik yang muncul sengaja dibuat untuk hiburan, tapi justru secara konten hampir tidak ada pertentangan. Meskipun berusaha melucu dengan membolak-balik kata, ternyata pernyataan mereka mengandung nilai-nilai yang patut direnungkan. Ternyata untuk bisa lucu mereka harus cerdas dan menggunakan hati nurani. Salah satu contoh sederhana adalah penyataan mereka yang disepakati seluruh peserta bahwa tidak pantas dipilih caleg yang memaku material kampanye di pohon.

Bila kita amati, dunia politik ternyata hanyalah panggung lawakan yang tidak lucu, karena para pemainnya berbicara dan bertindak melawan hati nurani, melawan logika,  dan tidak konsisten. Konsistensi mereka adalah pada kepentingan kelompok, bukan pada kemanfaatan masyarakat umum.

Saya sampai merasa bahwa ILK adalah talk show yang sebenarnya, sedangkan acara yang diparodikan hanyalah acara lawak yang tidak lucu dan menyebalkan.

Komedian yang terjun ke politik praktis adalah komedian yang rela kehilangan peluang untuk menyuarakan hati nurani, menurut pendapat saya pribadi.

Walau bagaimanapun saya menghargai pilihan dan pendapat mereka, para pelawak-pelawak yang tidak (lagi) lucu.


Sabtu, 12 Oktober 2013

Phobia Durian

Saya sangat suka buah durian. Dulu, saat masih kecil, saya bisa menghabiskan beberapa buah durian dalam sekali makan, yang berarti puluhan biji. Bapak, Ibu, dan semua saudara saya sangat suka durian. Karena itu saya dulu sempat heran bila ada orang yang tidak suka durian. Tapi lambat laun saya bisa memahami dan memaklumi orang yang tidak suka durian.

“Pak saya phobia durian…!”

Wah ini ada yang baru lagi. Untuk memahami orang yang tidak suka durian saja saya perlu waktu lama, apalagi ini phobia durian. Tapi kali ini saya tidak boleh terlalu lama minta waktu untuk memahami orang yang phobia durian, bahkan saya tidak perlu memahaminya. Client saya yang seorang bapak muda ini butuh dibantu, tidak butuh dipahami.

Saya tidak menanyakan kepadanya mengapa dia phobia durian, karena mungkin ceritanya akan terlalu panjang, atau bahkan sebaliknya, dia tidak tahu mengapa dia phobia durian. Yang awal saya tanyakan adalah tujuan dia mendatangi saya.

“Saya ingin sembuh pak. Saya ingin menghilangkan phobia saya”

Maka pertanyaan saya selanjutnya adalah tujuan dia menghilangkan phobia.

“Saya ingin membahagiakan istri dan anak saya Pak. Selama ini saya sangat enggan membelikan mereka durian, padahal mereka suka durian. Bila pun terpaksa membelikan saya akan keluar rumah, pergi sejauh mungkin sampai durian habis tuntas. Saya ingin bisa menemani mereka menikmati durian, paling tidak duduk bersama”

Saya menilai client saya ini punya tujuan yang jelas, dan itu berarti proses kesembuhannya sudah lima puluh persen. Yang lima puluh persen sisanya hanya masalah teknis saja.

Tanpa tujuan yang jelas sebuah sesi terapi hanya menjadi ajang curcol, tidak ada ujung dan pangkal. Sedangkan bila client punya tujuan yang jelas, sang therapist hanya menjadi pemandu jalannya menuju tujuan. 

Dengan kekuasaan Tuhan dan karena tujuan yang jelas serta kemauan yang kuat, client saya bisa sembuh dari phobianya terhadap durian. Pada akhir sesi terapi dia tidak lagi pusing bila berdekatan dengan durian, meskipun tetap tidak suka makan durian.


“Biarlah saya tetap tidak bisa makan durian, asal saya bisa bersama anak dan istri saya saat mereka menikmati durian.”

Selasa, 23 April 2013

Trauma yang Bermanfaat




Seorang gadis kecil sedang makan bersama dengan beberapa saudaranya di ruang tamu rumahnya. Sambil makan gadis ini asyik ngobrol dan bercanda, meskipun beberapa kali ditegur ibunya agar tidak banyak bercanda saat sedang makan. Tiba-tiba gadis kecil ini berhenti makan, melempar piring makannya dan memuntahkan isi mulutnya. Ternyata di atas nasi di piringnya ada satu setengah ekor anak tikus yang masih berwarna merah tanpa bulu. Sebagian badan anak tikus itu sudah terkunyah si gadis kecil, yang kemudian dia muntahkan.

Karena sibuk bercanda sang gadis kecil tidak memerhatikan makanannya sehingga tidak menyadari dua ekor anak tikus jatuh dari atap rumah yang tanpa langit-langit dan mendarat persis di atas nasi di piringnya. Dia merasa aneh dan sadar  saat merasa mengunyah daging padahal dia tahu bahwa lauknya hanya tahu dan sambal. Bayangkan bagaimana perasaan sang gadis kecil!

Sejak saat itu sang gadis kecil tidak mau makan daging yang berlemak apalagi jerohan. Bila terpaksa dia hanya mau makan daging yang dimasak kering tanpa lemak.

Gadis kecil itu sekarang sudah berusia kepala tujuh. Sang gadis kecil sudah menjadi nenek sehat yang aktif. Sepanjang hidupnya, sejak peristiwa itu, dia tidak pernah makan daging berlemak, dan jerohan, sehingga dia tidak pernah sakit darah tinggi, kelebihan kolesterol, asam urat, maupun gula darah. Nenek yang sehat dan aktif ini mendapat  pengalaman yang mengerikan sehingga mengalami trauma, namun itu justru bermanfaat bagi hidupnya, bagi kesehatannya.


Nenek sehat yang aktif itu adalah Ibunda mertua saya yang sangat kami hormati. Ternyata tidak semua trauma merugikan. Karena itu, meskipun saya bisa mencoba mengobati trauma beliau, saya menyarankan untuk tidak menghilangkannya. Trauma yang beliau alami telah membantu menjaga kesehatan, trauma yang bermanfaat.

Kamis, 22 November 2012

Tak Mau Berobat Karena Menikmati Sakit


Sejak kecil saya bercita-cita menjadi dokter, mungkin karena Ibu seorang Bidan sehingga sering sekali saya bertemu dengan dokter yang gagah dengan baju putih berkalung stetoskop. Saat SMP saya berpikir ulang tentang cita-cita saya karena ternyata saya membenci pelajaran biologi yang banyak hapalannya, genus-species dan turunan-turunannya.

Sekarang, berpuluh tahun sejak membuang keinginan menjadi dokter, saya menemukan bahwa ternyata di pikiran bawah sadar saya tetap bermimpi menjadi dokter, berbuat sesuatu untuk mengobati orang lain. Beberapa tahun terakhir saya banyak berinvestasi materi maupun waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu pengobatan, meskipun bukan ilmu pengobatan formal medis ala dunia barat. Bukankah NLP, Egostate Therapy, SEFT, Hijamah, ilmu herbal, bisa digunakan untuk membantu mengobati orang yang sakit?

Ternyata dulu saya ingin jadi dokter bukan semata ingin gagah berbaju putih berkalung stetoskop. Ternyata saya ingin jadi dokter karena melihat dokter-dokter itu tampak bahagia bisa berbuat sesuatu membantu orang yang sakit.

Dengan beberapa ilmu yang saya pelajari, saya bisa mengobati diri sendiri saat mengalami beberapa gangguan fisik. Namun anehnya saya tidak melakukan itu, pun tidak mendatangi dokter untuk berobat. Saya memilih untuk sakit.

Untuk gangguan kesehatan pada level tertentu saya memilih untuk tidak mengobatinya. Selain saya yakin bahwa ALLOH sebenarnya sudah menciptakan obat dalam tubuh saya, saya juga memilih untuk menikmati sakit saya. Saya tidak mengeluh, saya tidak merintih, karena saya benar-benar menikmati sakit itu.

Dengan menikmati sakit lebih mudah bagi saya bersyukur saat sakit itu diangkat ALLOH.
Dengan menikmati sakit saya bisa melatih kesabaran saya.
Dengan menikmati sakit saya lebih waspada dan awas dalam bersikap agar terhindar dari sakit-sakit yang berat. Saya jadi lebih mudah mengubah pola makan saya menjadi lebih sehat, lebih mudah termotivasi untuk berolah-raga
Saya menikmati sakit sambil istighfar memohon ampunanNYA. Bukankah sakit itu melebur dosa? Bila kita segera berobat dan ingin segera sembuh hanya sedikit dosa kita yang terkurangi.

Pada level berapa sakit yang saya nikmati dan tidak saya obati? Selama sakit saya tidak mengganggu orang lain, orang-orang di sekitar saya yang saya sayangi, selama sakit itu tidak mengganggu kegiatan saya bermanfaat bagi orang lain, selama tidak menghalangi saya menunaikan amanah dan kewajiban. Lebih dari itu saya akan berusaha mengobati sakit saya, sendiri atau meminta bantuan orang lain.


Minggu, 18 November 2012

Tanpa Kritik Mana Bisa Berkembang


Saat diminta mengisi materi pada sebuah forum saya selalu mengajak istri, meskipun karena kesibukan tugas sebagai ibu rumah tangga tidak selalu bisa memenuhi ajakan saya. Saya suka komentar atau kritik masukan dari istri tentang kualitas materi saya dan cara penyampaiannya. Sampai saat ini saya merasa baru istri  yang berani memberi kritik masukan tentang kualitas public speaking saya.

"Bapak tadi terlalu banyak menggunakan bahasa Jawa, terasa kurang profesional..."
"Bapak tadi terlalu kaku..."
"Bapak tadi kurang luwes..."

Begitulah komentar-komentar istri saya. Saya tidak pernah membantah komentar-komentarnya, hanya  minta penjelasan lebih detil dan minta solusi apa yang harus saya lakukan.

Beda jauh antara melontarkan celaan dengan kritik. Perbedaan terbesar adalah pada niat sang pelontar. Orang yang mencela berniat memuaskan diri sendiri dengan menjelekkan atau merendahkan orang yang dicela. Sedangkan orang yang memberi kritik berniat membantu yang dikritik menjadi lebih baik, meningkat kualitasnya.

Saya juga selalu minta masukan tentang tulisan fiksi saya kepada istri dan anak sulung saya. Sebagai anggota FLP Malang saya bersyukur punya teman-teman yang siap mengkritik tulisan-tulisan saya, atau bersedia mengedit naskah saya.

Saya yakin tanpa kritik  tidak akan pernah bisa meningkatkan kualitas diri. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang mendukung saya menjadi lebih baik, dengan memberi kritik.

Kamis, 15 November 2012

Jangan Sebut Saya 'Ustadz'


Kata ‘ustadz’ dalam bahasa Arab adalah guru dalam bahasa Indonesia. Saya sangat bahagia, dan menjadi impian saya, menjadi seorang guru. Namun sampai saat ini, entah sampai kapan, saya masih risih bila dipanggil ustadz. Bagi saya gelar ustadz adalah gelar yang sangat mulia, beberapa tingkat lebih tinggi dari gelar guru, menurut perasaan saya pribadi. Saya merasa sebutan ustadz belum pantas saya sandang, terlalu berat bebannya.

Dalam setiap kesempatan menyampaikan materi di forum saya selalu menyampaikan agar tidak memanggil saya ustadz. Banyak yang layak dan pantas dipanggil ‘ustadz’ dan saya belum layak.

Masih menurut perasaan saya, ustadz adalah seorang alim yang memahami ilmu-ilmu dunia dan akhirat, paham dan mampu memandu umat melalui jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan saya masih sedikit paham jalan menuju kebahagiaan di dunia, dan selalu mencari jalan terbaik menuju kebahagiaan akhirat.

Seorang ustadz adalah insan mulia yang sudah menjalankan segala ajaran-ajaran mulia, yang kemudian diajarkan kepada umat. Sedangkan saya masih sedikit-demi sedikit mengumpulkan ilmu mulia itu dan belajar mengamalkannya, sementara hanya saya bagi dan contohkan kepada anak dan istri.

Saya bahagia jadi guru, tapi saya belum lagi ustadz. Jangan sebut saya ustadz karena saya khawatir terbatasnya ilmu dan tindakan saya akan menodai gelar ustadz yang mulia.

Rabu, 14 November 2012

Hutang Budi (Dibawa Mati) Saya Kepada FLP Malang

Saya mulai berani dan bisa menulis sejak berkumpul dengan teman-teman FLP Malang. Saya rasakan sendiri manfaat sebuah  kebersamaan dalam komunitas yang memiliki kecenderungan minat yang sama. Dalam komunitas kita bisa saling memotivasi dan menginspirasi.

Saya merasa bisa seperti saat ini dalam hal kepenulisan adalah karena ALLOH mempertemukan saya dengan FLP Malang. Karena itu sampai kapanpun saya tidak akan melupakan ini, dan berharap dianugerahi kesempatan untuk membalas budi.

Sebagai sebuah organisasi, saya menilai FLP Malang masih sangat banyak kekurangannya, dan mungkin dari situlah sarana saya membalas budi kepada FLP Malang. Ilmu organisasi yang saya dapatkan saat menjadi karyawan, dan pengalaman akan saya sumbangkan semaksimalkan mungkin untuk meningkatkan kualitas FLP Malang sebagai sebuah organisasi.

ALHAMDULILLAH FLP Malang menyambut baik itikad saya. Dengan semangat fastabikul khoirot teman-teman FLP Malang khususnya pengurus sangat antusias menyambut tawaran saya. Mereka dengan kemauan dan semangat yang tinggi bersedia mengubah pikiran dan tindakan dalam berorganisasi. Memang belum bisa dibilang ideal, tapi saya mengamati dan membuktikan adanya progres kemajuan yang significant. Saya sangat menghargai dan salut atas kemauan tinggi teman-teman FLP Malang untuk berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi yang terbaik.

Saya tidak bisa menjamin kapan FLP Malang bisa benar-benar menjadi organisasi nirlaba yang profesional. Tapi saya yakin, bila proses perubahan ini secara istiqomah dijalankan, secepatnya FLP Malang akan menjadi sebuah organisasi yang disegani secara nasional bahkan internasional, dan maksimal bermanfaat bagi seluruh anggotanya maupun masyarakat umum.