Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Tampilkan postingan dengan label kebahagiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebahagiaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Bullying - Tak Bisa Dilupakan tapi Harus Diikhlaskan

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang pendiam, jalannya lempeng dengan pandangan lurus ke depan, tidak melihat kanan-kiri? Orang yang tidak mau membalas senyum Anda, melengos, enggan menegur Anda saat bertemu. Saat Anda berusaha mengajaknya ngobrol dia hanya menjawab singkat, seakan berusaha secepatnya menyudahi obrolan, hanya memandang Anda sekilas.

Anda mungkin menganggap orang tersebut sombong, atau angkuh...

Sebenarnya dia sama sekali tidak sombong, justru sebaliknya. Dia sangat rendah diri.

Kesombongan yang terlihat hanyalah cara dia untuk menghadapi ketakutannya.

Dia tidak membalas senyum Anda karena ragu apakah senyum itu untuknya. Dia merasa tidak layak mendapatkan senyuman Anda, maupun dari semua orang. Dia takut dianggap ke-GR-an.

Dia enggan berkomunikasi dengan orang lain, meskipun sangat menginginkannya, karena merasa tidak pantas. Dia tidak tahu harus membicarakan apa dengan orang lain, selalu takut akan mengatakan hal-hal yang dianggap bodoh dan akan ditertawakan, atau sebaliknya, khawatir mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, atau kata-kata membosankan yang tidak menarik. Dia sendiri mudah tersinggung, seringkali merasa diejek atau jadi sasaran ejekan, padahal belum tentu juga dia yanng dituju, atau belum tentu kata-kata yang dia dengar adalah bermaksud mengejeknya. Pokoknya dia selalu berpikir negatif kepada orang lain.

Apakah karena dia intovert?

Hmmm...Dia suka berada di kerumunan orang banyak, meskipun berusaha tidak terlihat dan lebih suka diabaikan kehadirannya. Dia merasakan lebih bersemangat bersama banyak orang, dan merasa tertekan saat harus sendirian di suatu tempat. Ketika sedih atau galau dia akan keluar ke tempat-tempat umum, meskipun tidak berinteraksi dengan satu orang pun. Sepertinya ciri-ciri itu menunjukkan bahwa dia seorang extrovert, bukan introvert.

Mengapa dia bisa begitu?

Karena trauma masa lalu. Dia korban bullying. Perundungan.

Dia lahir dengan jidat keluar lebih dulu sehingga bentuk kepalanya jadi aneh. Peang. Seperti penderita hydrosefalus.

Sejak kecil dia sering diejek, atau dikomentari, atau menerima tatapan mata geli dari orang-orang yang heran melihat kepalanya yang aneh.

“Lihat anak itu...Kepalanya aneh...”

“Ndase koyok tempe...”

“Hey...Ndas gentong!!”

“Motone mendolo...”

Orang tua mengometari bentuk kepalanya yang aneh, anak-anak mentertawakannya. Banyak juga teman-teman sebaya yang mengganggunya secara fisik.

Bertahun-tahun dia merasakan itu. Sehingga membentuk mentalnya jadi sangat rendah diri. Begitu dahsyat pengaruh perundungan terhadap mentalnya.

Dia adalah saya. Korban perundungan di masa kecil, yang mampu memperbaiki diri.

Semua itu masa lalu. Perundungan itu saya alami saat kecil dan menjelang remaja. Namun dampaknya saya rasakan sampai dewasa. Entah kenapa, saya tidak pernah mengeluhkan yang saya rasakan kepada Bapak dan Ibu. Mungkin karena saya kasihan kepada mereka, sudah terlalu lelah bekerja. Saya telan sendiri semuanya.

Saya tidak menyesalinya, justru bersyukur terhadap segala apa yang pernah saya alami. Sekarang saya jadi lebih mempunyai empati terhadap para korban perundungan di masa kecil, karena mengalaminya sendiri. Empati itulah senjata utama saya untuk membantu mereka menjadi lebih baik dan bahagia. Mampu memandang masa depan dengan optimis, menjalani hidup dengan percaya diri.

Wahai para orang tua, jangan remehkan perundungan yang dialami anak-anak Anda. Sekecil apapun sangat menyakitkan bagi mereka. Melukai mental. Membekas. Mereka butuh tindakan khusus untuk menyembuhkan luka itu, serius.

Jangan minta anak-anak Anda melupakan perundungan yang mereka alami. Itu bukan solusi, justru berpotensi membebani jiwa mereka dalam alam bawah sadarnya. Luangkan waktu lebih banyak untuk mendampingi mereka, ajak bicara, dengarkan. Jangan terlalu banyak menceramahi mereka, jangan sok tahu perasaan mereka sebelum Anda mendengar lebih banyak.

Wahai para korban perundungan, jangan simpan luka Anda! Terima, bersihkan, dan ikhlaslah. Anda tidak perlu melupakan peristiwa itu, karena akan tetap jadi masa lalu Anda, selamanya. Terima saja, akui. Maafkan semua orang yang berkontribusi dalam perundungan itu, ikhlaskan. Memang berat, tapi hidup Anda jadi lebih berat jika tidak ikhlas.

Saya korban perundungan, sekarang saya bahagia. Kalau saya bisa, Anda pasti bisa. Saya siap membantu.

Kamis, 01 September 2022

Pelayanan Prima - Empati

Belasan tahun yang lalu, di suatu siang seorang anggota tim frontliner mendatangi saya, “Pak...ada pelanggan mau bertemu Bapak langsung, nggak mau pergi sebelum ketemu Bapak...”

Saya tersenyum memandang wajah cantiknya yang tampak jengkel bercampur cemas. Sembilan belas tim frontliner memang cantik dan pintar, memenuhi kriteria 3B (Brain, Beauty, Behavior), ada di bawah tanggung jawab saya termasuk untuk menjaga emosi dan kesehatan mental mereka.

“Apa yang terjadi...?” Saya bertanya dengan tetap senyum semanis mungkin. Saya yakin senyum saya bukanlah senyum genit, semoga demikian.

Maka dia pun menjelaskan masalah yang dialami oleh pelanggan, menceritakan apa yang sudah dia sampaikan kepada pelanggan tersebut, dan sambil merengut menyampaikan kegagalannya mengatasi masalah tersebut. Masalahnya sangat rumit, dan saya juga ragu akan bisa membantu pelanggan tersebut, tapi saya harus menyelesaikannya.

“Persilakan dia masuk ke ruang VIP, saya akan segera turun menemuinya...”

Si cantik pun turun dengan wajah yang sedikit agak lega. Saya sangat memahami kegundahan hatinya. Bayangkan saja sejak pagi dia harus menerima keluhan dari puluhan pelanggan yang datang ke galery pelayanan kami. Saya harus membantunya menyelesaikan masalah, membuatnya tenang sehingga bisa menangani pelanggan yang lain dengan tetap ramah dan manis.

Saya turun dan langsung menemui pelanggan, tersenyum menyalaminya dan memperkenalkan diri. Dia seorang pria seusia saya berpakaian kemeja sederhana, tipikal pengusaha menengah. Setelah saya persilakan duduk kembali, hanya dengan bertanya  “Bagaimana Pak...Apa yang bisa saya bantu...?”, dia sudah membanjirkan keluhannya. Saya hanya mendengar dengan ekspresi yang kuat, menunjukkan bahwa saya sangat memerhatikan masalahnya. Sesekali saya mengulang kata-katanya untuk meminta kepastian.

Saat dia berhenti bicara saya bertanya mengenai beberapa hal yang kurang jelas dari ceritanya, saya harus yakin sudah menerima semua detil masalah tanpa ada potongan yang tercecer. Sambil mendengarkan, pikiran saya juga berputar mencari berbagai alternatif solusi yang bisa saya tawarkan kepadanya.

Dari uraian panjangnya, awalnya saya menyimpulkan bahwa kalau mengikuti SOP (Standard Operational Procedure) saya tidak mungkin bisa membantunya, dan itu sudah disampaikan oleh si cantik kepada saya. Saya sampaikan hal tersebut kepada pelanggan, bahwa kerugian yang dia dapatkan karena kesalahannya sendiri, tentu saja dengan cara dan bahasa yang santun.

Namun saya yakin punya sesuatu yang bisa membantunya, maka saya beri dia ruang untuk membela diri, memancing semua argumentasi darinya. Sengaja saya lakukan hal tersebut karena yakin masih ada serpihan fakta yang belum saya dapatkan dari cerita panjangnya.

Ternyata benar, setelah berdiskusi beberapa menit, saya berhasil menemukan satu fakta yang bisa menjadi celah cahaya untuk menerangi jalan keluar bagi masalahnya. Saya sampaikan kepadanya bahwa akan melakukan ikhtiar maksimal agar bisa menyelesaikan masalahnya, dan memintanya untuk berdoa. Tapi saya juga menyampaikan bahwa tingkat keberhasilan ikhtiar saya adalah 50-50, bisa berhasil bisa tidak, dan saya minta dia siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Dia bisa menerimanya, menyalami saya “Tolong ya Pak...!”, dan pergi. Alhamdulillah masalah besar sudah terselesaikan. Selesai...? Ya iya lah...Masalahnya tadi khan pelanggan itu tidak mau pergi, dan saya berhasil membuatnya pergi tanpa mengusirnya, dan membuatnya memiliki harapan menghadapi masalah.

Mohon maaf saya tidak bisa menceritakan detil masalah yang dialami pelanggan tersebut karena sangat sensitif terhadap kepentingan perusahaan, dan juga tidak penting untuk dibahas.

Pelanggan yang datang dengan masalah karena menganggap kita bisa membantunya, dan itu harus dipenuhi dulu. Bisa menyelesaikan atau tidak, kita harus menunjukkan dengan tulus kepadanya bahwa kita siap membantu. Dengan tulus...tidak sekadar menyampaikan kata-kata yang sudah kita hapal “kami siap membantu”. Kita harus bisa meyakinkan pelanggan bahwa kita sudah menampung semua detil masalahnya, semuanya sedetil mungkin. Untuk melakukannya kita harus benar-benar menghadirkan diri seutuhnya, pikiran dan hati, di hadapan pelanggan. Kita harus mampu menampung masalahnya secara logika maupun emosi. Itulah yang disebut empati.

Apakah saya berhasil membantu pelanggan tersebut? Apa yang harus saya lakukan ketika pelanggan itu akan memberi saya imbalan yang besar untuk penyelesaian masalahnya? (bersambung)


Rabu, 31 Agustus 2022

Pak Saelan - Sosok Umar Bakri

Saelan...Nama dalam satu kata. Kami memanggilnya Pak Saelan. Guru kami kelas enam di SDN Jemberkidul 1 (sekarang SDN Kepatihan 1), di Kabupaten Jember. Seingat saya, sejak saya masuk SD, Pak Saelan selalu menjadi guru kelas enam. Setelah saya lulus SD, saya tidak tahu apakah beliau tetap mengajar kelas enam atau sempat mengajar kelas lain.

Waktu masih kelas 5 saya sering mendengar rumor, dulu istilahnya pergunjingan, tentang beliau sebagai guru killer. Angker. Waktu itu saya takut membayangkan akan diajar beliau di kelas enam. Serem.

Saat kelas enam, diajar beliau, saya jadi bingung dan heran. Apanya yang killer...? Mananya yang angker..? Saya justru sangat menikmati cara beliau mengajar.

Sosok Inspiratif 

Beliau memang bukan guru yang ramah. Hampir tidak pernah senyum, apalagi tertawa. Disiplin waktu. Tiada hari tanpa ulangan. Namun saya rasakan keikhlasan yang sangat kuat dari sikap-sikapnya tersebut. Saya merasa bahagia di kelas beliau, dan saya yakin itu disebabkan pancaran gelombang kebahagiaan beliau, meskipun tanpa senyum.

Saya sangat terkesan pada cara beliau mengajar, metodenya unik. Mungkinkah saya terkesan karena waktu itu hampir selalu mendapatkan kepuasan meraih nilai tertinggi? Untuk setiap ulangan, setiap hari. Atau sebaliknya, keberhasilan meraih nilai tertinggi yang saya raih karena senang pada cara beliau mengajar, karena saya menikmati proses belajar?

Entahlah. 

Yang pasti sejak diajar beliau saya jadi bercita-cita jadi guru. Sejak itu saya jadi sering  membayangkan betapa bahagianya bila bisa berbagi ilmu kepada orang lain. Saya jadi sering membayangkan kebahagiaan jadi guru yang mencurahkan hidupnya untuk membimbing anak-anak, membantunya merajut masa depan. Sosok Pak Saelan yang menginspirasi cita-cita saya.

Sejak merasakan kelas Pak Saelan saya juga jadi suka mengamati cara mengajar guru. Seringkali saya membuat catatan tentang kelemahan-kelemahan metode pengajaran guru, dan membuat rekomendasi perbaikannya. Catatan pribadi, untuk kepentingan sendiri yang mungkin berguna ketika saya menjadi guru.

Namun sayangnya, Ibunda kurang setuju bila saya memilih profesi sebagai guru. Alasan utamanya adalah masalah ekonomi. Ibunda ragu seorang guru bisa cerah masa depannya. Saya patuh kepada Ibunda. Namun, meskipun tidak secara formal jadi guru, sampai sekarang saya selalu berusaha menggunakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan kebahagiaan dengan berbagi ilmu, membimbing orang lain menjadi lebih baik, lebih bahagia.

Sosok Umar Bakri

Bagi saya Pak Saelan adalah ‘Umar Bakri’ yang sebenarnya. Waktu mengajar kami dulu motor Pak Saelan sudah tua, butut. Motor Pak Saelan tidak bisa melewati genangan air, pasti mogok. Padahal kalau musim hujan jalanan di sekitar rumah beliau sering terendam air. Maka beliau pun berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda kumbang. 

Mendekati Ujian Nasional Pak Saelan memberi kami tambahan kelas di sore hari, les bimbingan belajar gratis. Di kota kami waktu itu seringkali hujan turun siang hari, dan ketika sore hujan reda. Bila siang hujan, sorenya Pak Saelan sering terlambat datang ke sekolah, karena harus mengayuh sepeda kumbang dari rumahnya yang lumayan jauh jaraknya dari sekolah. Kami yang sudah hadir semua dari halam sekolah akan memandangi datangnya Pak Saelan dengan sepeda kumbangnya. Mungkin beberapa orang teman ada yang memandang kedatangan Pak Saelan dengan perasaan kecewa karena les tidak jadi libur. Sedangkan saya saat itu, selalu memandang Pak Saelan di atas sepeda kumbangnya sebagai sosok Umar Bakri sejati, keren...Citra itu melekat dalam benak saya sampai saat ini.

Sosok Istimewa

Sampai saat ini Pak Saelan tidak tergantikan dalam benak saya. Sosok guru sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik. Saya sangat menghargai semua guru yang pernah mengajar saya. Saya yakin semua guru sudah ikhlas mengajar dan mendidik saya. Namun bagi saya Pak Saelan yang paling istimewa.

Pak Saelan manusia biasa, yang juga punya banyak kelemahan, kesalahan. Salah satunya adalah kebiasaan beliau merokok di dalam kelas. Beliau bisa menghabiskan berbatang-batang rokok setiap hari di dalam kelas. Kebiasaan yang saya benci. Saya sangat anti rokok, dan sulit untuk menghargai orang yang merokok di depan saya, bahkan kepada kerabat yang lebih tua sekalipun. Namun khusus untuk Pak Saelan saya bersikap beda. Saya tidak pernah mempermasalahkannya. 

Setiap kali mengenang Pak Saelan yang saya ingat adalah kesederhanaan dan komitmen mengajar yang tinggi. Semoga semua ilmu yang saya dapat dari beliau, inspirasi dan motivasi yang saya rasakan, menjadi amal jariyah untuk beliau. Pahala yang akan terus mengalir bagi beliau, sehingga membuat beliau mendapatkan kebahagiaan di alam kubur.


Rabu, 06 Desember 2017

Sabar, Kekuatan Besar Pemadam Api Kemarahan

Sejak dahulu saya selalu salut dan kagum kepada orang-orang yang sabar.


Sejak kecil, dengan segala dinamika dan pengalaman (akan saya ceritakan pada kesempatan lain), saya adalah pribadi yang temperamental. Konyolnya, dulu saya bangga menjadi orang yang pemarah. Dengan pemahaman yang sempit dulu saya menganggap bahwa orang pemarah sehingga ditakuti (lebih tepatnya dijauhi sih...) orang itu gagah dan keren. Sekali lagi karena kegagalan memahami, saya anggap diri saya keren seperti Umar bin Khattab ra atau Pak Sakerah yang garang. Di kemudian hari saya sadar bahwa ternyata Umar bin Khattab bukanlah pribadi pemarah yang temperamental, atau marah secara sembarangan, tapi seorang yang tegas menghadapi kemungkaran sehingga dijuluki Al Faruq. Sedangkan Pak Sakerah ternyata juga bukan tokoh putih yang patut jadi teladan.

Terapi jiwa, Terapi Emosi

Semakin dewasa saya semakin merasakan derita kemarahan. Dari diri sendiri, saat marah saya rasakan beberapa organ tubuh tidak bekerja dengan benar : kepala pusing berdeyut, dada berdebar, persendian kaku dan pegal, mata panas, nafas tersengal. Dan ternyata butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan kondisi badan menjadi normal kembali. Umur semakin bertambah, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menormalkan tubuh akibat kemarahan.

Akibat yang lebih merusak dari kemarahan adalah yang dirasakan orang-orang di sekeliling saya, lingkungan sekitar,  orang-orang yang saya sayangi. Di awal pernikahan dulu rumah tangga saya dihiasi oleh suara keras bentakan dan air mata tangisan, bentakan saya versus tangisan istri. Sejak Coqi (anak sulung) lahir saya sudah menerapkan pendidikan yang tegas (lebih tepatnya : keras) kepadanya, suatu pilihan langkah yang fatal. Sampai saat ini Coqi memiliki kelemahan mental gara-gara sikap keras saya, atau mungkin lebih cocok disebut cedera mental. Dia selalu mati gaya, salah tingkah, bila menghadapi orang lain saat berada di dekat saya dan ibunya, tidak mampu bersikap normal apa adanya. Sementara bila merasa tidak sedang kami awasi dia bisa bebas berekspresi dan sikapnya sangat positif. Sampai saat ini Ibunda saya enggan menegur saya, masih menganggap saya sekeras dulu. “Aku mending ngomong ke kamu...Aku tidak ingin menimbulkan dosa pada Dian karena membantahku...” begitulah kira-kira yang disampaikan Ibunda kepada istri saya. Ibunda mungkin sudah merasakan sakit hati berkali-kali karena ucapan kasar saya sejak kecil, semoga ALLOH mengampuni saya dan membahagiakan Ibunda.
Bahkan fisik sayapun berubah. Wajah saya mengeras, saat terdiam tanpa senyum, orang mengira saya sedang marah, dan memang sulit sekali bagi saya untuk tersenyum. Itu dulu sebelum saya sadar dan berubah.

Bila malam tiba, saat orang-orang yang saya sayangi sudah tertidur, saya sering menangis memandangi mereka. Betapa kejam saya sudah tega menyakiti hati mereka, yang menyayangi saya dan berusaha membahagiakan saya. PENYESALAN...Itulah buah kemarahan. Meskipun saat ini saya sudah berubah banyak, menghilangkan kebiasaan marah, penyesalan itu masih tertinggal. Saya sengaja membiarkan beban penyesalan itu, meskipun saya bisa menguranginya, agar lebih mudah mengeluarkan air mata untuk membasahi hati agar semakin lembut. Yang penting sekarang saya berusaha keras tidak lagi menambahnya.

Saat semakin terbebas dari kemarahan, saat ini saya menaruh iba kepada orang-orang yang suka mengumbar kemarahan karena yakin bahwa mereka sedang menumpuk-menggunungkan penyesalan. Saya yakin jiwa mereka semakin berat, semakin penat, semakin menderita. Semakin lama mereka dengan kemarahannya, semakin banyak kerusakan yang hampir tidak akan pernah bisa diperbaiki.
Saat ini, zaman now, di era digital-era gadget-era sosmed mudah sekali orang mengobarkan kemarahan di ‘depan umum’. Mudah sekali orang mengumbar sumpah serapah, makian hina, komentar nyinyir, dan yang lebih memprihatinkan : mereka bangga dengan kobaran amarahnya. “Status-statusku sendiri, wall-wall-ku sendiri terserah aku...”. Mereka menganggap kemarahannya masuk ranah pribadi, padahal status mereka disetting untuk dibaca umum. Ibaratnya, mereka marah-marah diteras rumah dengan suara keras menggunakan pengeras suara.
Saya sangat mengasihani mereka karena yakin mereka orang-orang yang jauh dari bahagia. Mereka menganggap kobaran api kemarahan akan mampu mengurangi penderitaan mereka. Alih-alih mengurangi penderitaan, kemarahan mereka telah ‘membakar’ lingkungan sekelilingnya dan arang tak akan bisa dikembalikan menjadi kayu. Percayalah...mereka akan dipenuhi penyesalan, itu pasti karena saya dulu pelakunya.

Karena itulah saya sangat mengagumi orang sabar, orang yang sabar ya...bukan orang yang suka menahan kemarahan. Karena dua hal tersebut sangat berbeda. Orang yang terbiasa menahan kemarahan bukanlah orang sabar. Mereka marah tapi dipendam sendiri, mungkin yang tahu hanya diri sendiri, atau sikap marah mereka tidak terlihat berapi-api. Orang-orang seperti itu akan mengalami banyak penyakit fisik. Kemarahan adalah api, dan api yang ditahan tetaplah api yang panas membakar. Bayangkan menahan api berkobar di dalam tubuh Anda...
Api bukanlah ditahan, tapi dipadamkan. Memang berat memadamkan api, lebih berat dibanding menahannya apalagi mengumbarnya, tapi jauh lebih besar manfaatnya dan jauh lebih kecil dampak buruknya. Butuh kekuatan besar untuk memadamkan api kemarahan. Itulah orang sabar, punya kekuatan besar untuk selalu memadamkan api kemarahan. Orang sabar pantang mengumbar kemarahan, karena itu adalah perbuatan orang lemah yang tidak berdaya menghadapi kemarahannya sendiri, orang kalah = pecundang. Orang sabar juga enggan menahan-nahan kemarahan, mungkin sebentar saja menahannya dan langsung menghilangkannya. Orang sabar selalu punya sumber daya untuk memadamkan api kemarahan.

Bertahun-tahun saya berusaha mengumpulkan kekuatan kesabaran, kekuatan untuk memadamkan api kemarahan. Bukan hal yang mudah bagi saya yang sejak kecil sudah terbiasa hidup dengan kemarahan, tapi saya ingin bahagia dan membahagiakan. Menurut saya, dan sangat meyakininya, selama ada kemarahan tidak akan ada kebahagiaan. Saya yakin saya bisa karena orang sabar bukanlah mitos. Orang sabar bukanlah cerita legenda belaka. Orang sabar itu nyata, ada di sekeliling kita, dan kita bisa menjadi salah satu dari mereka.
Saya mau, berniat kuat menjadi orang sabar dan ALHAMDULILLAH sejauh ini  saya berhasil berubah, dan saya mengajak Anda...Anda mau...?

Semoga ALLOH meridloi usaha kita....

Selasa, 17 November 2015

[Perjalanan Haji] Senang...Bahagia...Semangat...Antusias...Khawatir...Cemas...Setelah Mendapatkan Sesuatu yang Ditunggu Bertahun-tahun

Lebih dari setahun lalu saya dan istri melakukan perjalanan ibadah Haji. Sengaja saya tidak menuliskannya langsung karena saya ingin mengendapkannya dulu. Saya khawatir bila langsung saya tuliskan pengalaman indah itu ada terselip sikap riya' atau sum'ah di dalamnya. Saya harus menata dulu pikiran dan perasaan sampai benar-benar yakin terbebas dari penyakit-penyakit hati tersebut. Saya tidak ingin tulisan saya justru merusak kebahagiaan dan potensi kebahagiaan.


Apa yang Anda rasakan bila akan mendapatkan sesuatu yang sudah ditunggu-tunggu selama lima tahun? Senang...Bahagia...Semangat...Antusias...? Saya merasakan itu semua ditambah rasa cemas dan khawatir...Lho kok?

Tahun dua ribu sembilan saya mendaftar Haji bersama istri, dan mendapat informasi rencana keberangkatan pada tahun 2014. Bagi kami waktu menunggu lima tahun cukup untuk mengumpulkan uang pelunasan.
Pada tahun 2013 ada pengurangan kuota jamaah Haji karena proses pembangunan Masjidil Haram. Kami khawatir pengurangan kuota ini akan menggeser rencana keberangkatan tahun 2014, dan ALHAMDULILLAH tidak terjadi.

Pada awal tahun 2014 kami melakukan konfirmasi ke Kementrian Agama (KEMENAG) dan mendapat jawaban yang melegakan : In Sya ALLOH kami masuk daftar Jamaah Haji Indonesia tahun 2014.
Sangat senang dan bahagia akan mendapatkan apa yang kami tunggu-tunggu selama lima tahun. Kami sangat semangat dan antusias akan melakukan suatu kegiatan yang sudah terbayang sejak lima tahun sebelumnya. Tapi kami juga cemas dan khawatir...Kami khawatir akan melakukan kekeliruan yang menyebabkan hal istimewa jadi menurun kualitasnya. Kami cemas penantian lima tahun jadi sia-sia karena ketidaktahuan dan ilmu yang rendah.

Ibadah Haji adalah ibadah yang istimewa. Diwajibkan hanya bagi yang memiliki kemampuan, kemampuan untuk melakukan perjalanan menuju tanah suci Mekkah, kemampuan materi dan fisik. Jadi wajib hukumnya bagi semua umat Islam yang sudah mempunyai kecukupan materi dan kekuatan fisik untuk melakukan perjalanan ke tanah suci Mekkah. Tapi...tidak semua jamaah Haji mendapatkan manfaat dari ibadah Haji. Tidak semua jamaah Haji mencapai tujuan dari ibadah Haji. Penyebab utamanya adalah ketidaktahuan atau kebodohan. Itulah yang sangat kami khawatirkan...Yang membuat kami cemas... Karena ketidaktahuan kami khawatir kehilangan manfaat ibadah Haji yang membutuhkan biaya besar. Kami cemas akan gagal mendapatkan tujuan ibadah Haji gara-gara kebodohan, padahal harus antri bertahun-tahun untuk melakukannya.

Ada penyesalan yang muncul : mengapa selama menunggu bertahun-tahun tidak kami gunakan untuk mencari ilmu tentang ibadah Haji. Lima tahun sangatlah cukup untuk mencari dan mendapatkan ilmu tentang ibadah Haji, ilmu yang tepat dan benar. Seandainya kami melakukan itu maka tidak perlu lagi khawatir dan cemas, paling tidak kekhawatiran dan kecemasan tidak terlalu besar.

Sesal kemudian tiada guna, begitulah pesan orang-orang bijak, dan kami menyadari itu. Kami juga tidak mau terbelenggu kekhawatiran dan kecemasan. Kami harus melakukan sesuatu secepatnya, harus segera bergerak mencari ilmu menambah pengetahuan tentang ibadah Haji. Waktu hanya beberapa bulan harus kami manfaatkan maksimal untuk mendapatkan ilmu.

Maka kami mulai mencari informasi tentang cara-cara mendapatkan ilmu ibadah Haji.

Banyak yang menyarankan kami untuk bergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Dari KBIH kami akan mendapatkan pelatihan dan bimbingan manasik Haji sebelum berangkat maupun saat di tanah suci Mekkah. Dan juga, saat itu sistem koordinasi persiapan pemberangkatan jamaah Haji dengan pihak KEMENAG dilakukan melalui KBIH, meskipun tidak diwajibkan tergabung dalam salah satu KBIH. Keuntungan lain tergabung dalam KBIH adalah karena pembagian kelompok dan rombongan Haji berdasarkan KBIH maka jamaah Haji akan mengenal teman-teman kelompoknya sebelum berangkat sehingga sempat melakukan pengenalan, pendekatan, dan bisa membuat rencana bersama.

Kami pun segera melakukan observasi untuk mencari KBIH yang bagus, berdasarkan kesaksian kerabat dan sahabat yang sudah pernah beribadah Haji. Dari segi biaya hampir tidak ada perbedaan yang significant. Kalau pun ada yang menarik biaya lebih tinggi itu karena fasilitasnya juga lebih banyak.

Ada beberapa KBIH yang direkomendasikan karena setiap tahun membina banyak sekali jamaah Haji. Sebagian besar KBIH tersebut akan membimbing jamaah secara intens, bahkan saat beribadah di tanah suci. Para jamaah Haji akan diajak beribadah secara berkelompok dan dibimbing sepenuhnya oleh Ustadz yang mendampingi, membaca doa secara berjamaah bersama-sama. Ada juga yang menyediakan katering makan siang saat di Mekkah (pada tahun 2014 jamaah Haji Indonesia belum mendapatkan fasilitas makan siang saat di hotel Mekkah)

Sampailah pada kami informasi tentang suatu lembaga bimbingan manasik Haji yang tidak memungut biaya sepeserpun tapi sangat profesional, memiliki kualitas layanan prima. Kami pun segera bergabung. Apa salahnya dicoba dulu, toh tanpa biaya, kalau tidak cocok kami bisa segera mencari KBIH lain. Dan ternyata kami memutuskan untuk berangkat ke tanah suci bersama lembaga ini. Kami mensyukuri keputusan tersebut dan kami meyakini kuasa ALLOH yang mengarahkannya. Kami bersyukur bukan hanya karena tidak perlu mengeluarkan tambahan biaya untuk bimbingan manasik, itu hanya sebagian kecil keuntungan. Kami bersyukur karena melalui lembaga ini mendapatkan anugerah pengalaman yang terindah, yang takkan terlupakan.

Kami mendapatkan beberapa pelajaran sangat berharga dari proses pemilihan KBIH ini. Bahwa ternyata untuk mendapat sesuatu yang berkualitas tidak selalu harus ditukar dengan nominal materi yang tinggi. Bahwa ternyata nilai keikhlasan jauh lebih berharga dari berapapun uang yang kami miliki.

(bersambung)

Sabtu, 28 Juni 2014

Coqi Mulai Suka dan Rajin Menulis

Saya suka menulis, sangat suka menulis. Impian saya adalah hidup dengan dan dari menulis.
Menulis adalah kegiatan yang murah, sederhana, dan banyak manfaatnya. Karena itu saya juga punya impian anak-anak saya juga suka menulis. Saya memang tidak boleh memaksa anak-anak untuk suka menulis, tapi saya akan melakukan berbagai upaya agar mereka jadi suka menulis.

Cara mendidik yang paling efektif adalah dengan contoh, teladan. Saya optimis bisa membuat anak-anak suka menulis karena saya sudah memberikan contoh. Setiap hari mereka melihat saya menulis.

Sejak bisa menulis Coqi Basil sudah saya kompori (meminjam istilah Pak Heri) agar mau dan suka menulis. Awalnya Coqi mencoba menulis cerpen anak karena tertarik setelah membaca buku-buku karya penulis anak dalam seri Kecil-kecil Punya Karya, tapi tidak pernah bisa selesai. Hanya satu atau dua paragraph saja yang berhasil dia tulis. Setelah mencoba beberapa kali dan tidak berhasil, Coqi berhenti berusaha menulis cerpen. Terakhir dia berusaha menulis kira-kira saat masih kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak itu dia tidak lagi mau membuat karya tulis, dan saya tidak mau memaksanya.

Mungkin saat itu saya dan Coqi keliru memahami, seperti para penulis pemula lainnya, bahwa karya tulis itu harus berjenis fiksi atau sastra. Tulisan nonfiksi kami anggap bukan karya tulis, dan Coqi merasa tidak nyaman menulis fiksi. Atau mungkin saat itu Coqi belum menemukan genre tulisan yang dia sukai.

Saat mulai sekolah di tingkat menengah pertama atau SMP, Coqi mulai menyadari minatnya di bidang komedi. Dalam setiap kesempatan dia melontarkan joke-joke original dan berhasil membuat orang-orang sekitarnya tertawa.

Coqi sangat berminat mempelajari stand up comedy. Setiap ada kesempatan browsing-surfing dia gunakan untuk mencari infomasi dan pengetahuan tentang Stand Up Comedy. Dia menemukan kesimpulan bahwa seorang Comic (sebutan untuk comedian Stand Up Comedy) yang baik harus sering menuliskan materi-materinya. Sejak itu dia selalu menulis dalam buku khusus setiap kali menemukan ide materi. Dan sejak itu pula dia rajin mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan komedi.

Tulisan Coqi dalam blog-nya tidak sebagus tulisan Raditya Dika, Solih Solihun, atau penulis buku lainnya, tapi saya sangat bangga. Saya bangga Coqi sudah suka dan rajin menulis. Saya yakin cepat atau lambat, bila dia konsisten dan istiqomah menulis, kualitas tulisannya akan semakin baik.


Silakan kunjungi Blog-nya http://blackbazil.blogspot.com

Minggu, 25 Mei 2014

Manfaat Gadget bagi Hanun?

Dalam tulisan sebelumnya (Manfaat Gadget bagi Coqi?) saya ‘tersengat’ ketika harus menjawab kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Saya menyadari bahwa ternyata sikap kami sebagai orang tua Coqi dan Hanun masih kurang tegas. Kami masih mengizinkan, bahkan sering membiarkan dalam waktu lama, Hanun memainkan gadget.

Bila Coqi sudah bisa mendapatkan manfaat dari gadget, untuk menulis melalui laptop, maka Hanun hanya bisa menggunakan gadget untuk bermain game, hanya untuk main game. Sebenarnya saya dan istri tidak memiliki gadget yang berisi game yang menarik, bahkan di smartphone kami tidak ada game yang bisa dimainkan, tetapi saat bertemu saudara-saudara sepupunya atau Om dan Tantenya Hanun kerap memainkan gadget mereka yang berisi permainan-permainan menarik.

Sejak menerima ‘kuisioner gadget’ itu saya berpikir panjang tentang manfaat gadget, termasuk game/permainan di dalamnya, bagi Hanun. Semakin panjang saya berpikir, semakin saya menemukan bahwa gadget tidak memiliki manfaat bagi Hanun kecuali untuk sarana komunikasi.

Mungkin ada orang, mungkin juga pakar/peneliti, yang berpendapat bahwa game atau permainan dalam gadget bisa memicu peningkatan IQ anak. Mungkin mereka benar memang ada manfaatnya, tapi lebih besar mana dengan dampak negatifnya? Permainan dalam gadget mungkin bisa meningkatkan kecerdasan intelektual, bagaimana dengan kecerdasan sosialnya? Kecerdasan emosionalnya? Kecerdasan spiritualnya?

Sebagai orang tua saya ingin Hanun menjadi pribadi yang bahagia dan membahagiakan, dan saya yakin itu tidak hanya ditopang kecerdasan intelektual semata. Bahkan lebih banyak orang bahagia yang memiliki IQ sedang tetapi EQ dan SQ-nya tinggi dibanding sebaliknya. Saya sangat tidak ingin Hanun menjadi orang yang update dalam hal technology (tidak gaptek) tapi gagap pergaulan atau gagap sosial.

Saya tidak tahu apakah para pakar dan peneliti yang berpendapat bahwa permainan game dalam gadget bisa meningkatkan IQ juga sudah melakukan penelitian pada permainan tradisional. Apakah mereka pernah melakukan penelitian pada permainan bekel, dakon, bentengan, gobak sodor?


Beberapa hari setelah menerima ‘kuisioner gadget’ saya membelikan Hanun seperangkat bekel dan dakon. Saya bukan peneliti, saya tidak punya ilmu dasar-dasar penelitian, tetapi saat melihat Hanun belajar memainkan bekel-nya saya lihat dia melatih syaraf motorik, menghitung, mengingat, kejujuran, dan berbagi, yang tidak mungkin didapat saat memainkan game dalam gadget

Kamis, 17 April 2014

[Anak Bermasalah 2] Anak adalah Akibat Orang Tuanya

Seorang ibu muda mengeluhkan anaknya yang 'speech delay'. Dia bahkan berani bayar berapapun untuk sesi terapi anaknya.

Alih-alih menerapi anaknya, saya malah mengajak ibu tersebut ngobrol tentang dirinya.
"Ibu bekerja?"
"Iya Pak...Saya berwirausaha..."
"Jam berapa Ibu sampai rumah?"
"Saya sampai rumah menjelang Ashar Pak"
"Capek Bu?"
"Iya Pak..."
"Apa yang Ibu lakukan saat capek di rumah, selain tidur?"
"Saya itu suka menggambar Pak..."
"Wah asik juga Bu...Dengan menggambar bisa menghilangkan capek? Wah sangat produktif kalau begitu..."
"Iya Pak...Wah kalau sedang asyik menggambar saya gak mau diganggu Pak...Biasanya saya malah jadi emosi kalau saat menggambar ada yang berisik. Saya merasa relax dan bebas saat sedang menggambar..."
(Obrolan terus berlanjut...)

Dari sekilas obrolan tersebut Anda pasti sudah bisa menebak apa yang akan saya sampaikan kepada ibu muda tersebut tentang masalah anaknya. Seperti biasa saya tidak menyampaikan pesan-pesan nasihat, tetapi beberapa pertanyaan yang harus dijawab Ibu muda tersebut. Kira-kira pertanyaan seperti apa yang saya sampaikan?

Pertanyaan bagi Anda : menggambar itu perbuatan baik atau buruk? Apa hubungan antara menggambar dengan ‘speech delay’?

Menggambar adalah suatu kebaikan. Melakukan sesuatu kebaikan untuk menyenangkan diri adalah perbuatan mulia. Tapi harus disadari bahwa sebagai  orang tua, menjadi ayah atau ibu, pasti memiliki amanah dan tanggung jawab lebih, lebih dan sangat besar. Jangankan menggambar, orang tua yang  tidak berbuat apa-apa bisa berakibat buruk sangat besar bagi anak-anaknya.


Anak adalah akibat orang tuanya. Bila Anda belum punya anak, segala perilaku Anda hanya akan ditanggung sendiri. Anda bebas berbuat sesuatu, apalagi suatu kebaikan.  
Tetapi saat Anda punya anak, maka semua anak Anda akan 'menikmati' akibat yang Anda sebabkan meskipun itu bukan kejahatan. Selalu pikirkan akibat yang akan ditanggung anak sebelum berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. Kebaikan bagi Anda belum tentu membawa akibat kebaikan bagi Anak Anda.


Waspadalah dan segera berubah, atau Anda harus siap  kecewa melihat Anak Anda.

Sabtu, 15 Maret 2014

Bisakah Anda Memilih?

Berdasarkan beberapa tulisan saya akhir-akhir ini ada yang menganggap saya masuk golongan putih (golput), dan saya bersyukur daripada dianggap sebagai golongan hitam. Padahal PEMILU belum lagi terlaksana, sudah banyak caleg yang merasa berhak menilai jelek calon-calon rakyat yang akan diwakilinya.

Semua politikus punya jargon yang sama "Golput bukan solusi", dan ada kesangsian dari para apatist "Apakah memilih bisa memperbaiki negeri?", sedangkan  para optimist berpikir “Selalu ada harapan, dan pasti ada jalan…lain”


Entahlah...Yang jelas saya sendiri punya pilihan sikap, dan harus bertanggungjawab pada pilihan saya sendiri, apapun itu.

Semua orang berhak memilih, termasuk Anda wahai para caleg yang merasa berhak mewakili saya.
Tolong Anda pilihkan sikap bagaimana yang harus saya pilih :

1. Saya memilih, tapi saya memilih caleg dari partai lain karena saya anggap dia lebih baik dari Anda. Kemudian saya memuji-muji dia dan menjelek-jelekkan Anda karena dengan cara itu pilihan saya punya kesempatan terpilih lebih besar dari Anda.

2. Saya tidak memilih siapapun (silakan bila Anda mengganggap saya sebagai golput), karena saya menyayangi semua caleg. Saya akan sering  dengan santun menegur Anda dan caleg-caleg lain bila saya anggap ada yang tidak tepat. Siapapun yang terpilih adalah wakil saya sebagai rakyat, meskipun saya tidak ikut memilih karena gaji Anda toh diambil dari pajak yang saya bayarkan. Karena itu saya harus bekerja keras agar semakin besar pajak yang bisa saya bayarkan, untuk pembangunan negeri dan membiayai sidang-sidang parlemen. Rumah saya selalu terbuka bagi semua caleg dari partai apapun bila memang ada yang berkenan mendapatkan masukan-masukan dari saya, sehingga lima tahun lagi mungkin saya punya caleg yang layak untuk saya pilih karena selama lima tahun peduli dan benar-benar memperjuangkan suara saya dan rakyat lain.

3. Saya memilih Anda, kemudian tidak peduli dengan yang Anda lakukan, karena memang Anda tidak lagi butuh aspirasi saya seperti yang terjadi selama ini. Bila pun Anda mengundang saya dalam sebuah pertemuan-pertemuan resmi yang Anda sebut 'penyerapan aspirasi', ternyata hanya sebuah formalitas administrasi untuk mencairkan dana 'penyerapan aspirasi' atau dana-dana lain, tidak lebih. Karena setelah pertemuan itu Anda tidak pernah mengabarkan kepada saya bagaimana progres perjuangan Anda membawa aspirasi saya. Anda juga tidak pernah memberi saya  informasi tentang apa-apa saja yang Anda lakukan selayaknya seorang wakil kepada orang yang diwakili, yang menggunakan dana sebagian pajak saya yang sangat kecil.

Bisakah Anda memilih?
Mungkin Anda berkata “Wah tiga-tiganya gak ada yang bagus untuk dipilih…”
Maka saya akan menjawab menggunakan kata-kata Anda sendiri “Pilihlah yang terbaik dari yang tidak bagus, karena tidak memilih bukanlah solusi”.

Apapun pilihan Anda adalah cerminan diri Anda sebagaimana pilihan sikap saya terhadap PEMILU.

Jumat, 14 Maret 2014

Saya Ingin Coqi dan Hanun Seperti Batman (3 Alasan Saya Pensiun Dini 3)

Alasan #3 : Saya Ingin Anak Saya Seperti Batman atau Ironman

Dalam satu sesi pelatihan guru saya menyampaikan bahwa Superhero yang baik itu Batman atau Ironman. Karena dalam kehidupan normal mereka kaya, dan bisa membantu orang dengan kekayaan mereka. Beda dengan Superman yang hanya reporter atau Spiderman yang hanya seorang Photographer (tanpa merendahkan profesi reporter maupun photographer). Si Bruce atau si Tony bisa kaya karena mewarisi dari orang tuanya, istilah jawa timurannya “Belungan Sugih”.

Para konglomerat, para jutawan, miliuner maupun triliuner, sebagian  mewarisi dari orang tuanya masing-masing. Mereka mewarisi kekayaan dari orang tuanya. Mereka punya “Belungan Sugih”, mereka jadi Superhero. Benarkah kekayaan materi bisa dipertahankan sampai beberapa generasi ahli waris?

Sebenarnya yang membuat ahli waris tersebut kaya bukanlah warisan kekayaan materi, memang ada pengaruhnya sebagai modal. Tetapi warisan terbesar mereka adalah kemampuan mereka mengelola kekayaan materi yang diwarisi dari orang tuanya. Kemampuan itu sudah mereka dapatkan sejak kecil. Mereka sudah terbiasa melihat orang tua mereka bekerja keras sebagai pengusaha, wirausahawan. Mental entrepreneur sudah tertanam, mungkin, sejak mereka lahir. Mental itulah yang membuat mereka memiliki “Belungan Sugih”, mental pantang menyerah-mental kreatif-mental produktif.

Saya ingin Coqi dan Hanun jadi seperti Ironman atau Batman, hidup sejahtera meskipun seluruh hidupnya digunakan untuk membantu orang lain. Saya ingin mereka punya “Belungan Sugih”.

Kamis, 13 Maret 2014

Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah (3 Alasan Saya Pensiun Dini 2)

Alasan #2 : Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah

Saat saya diterima di sebuah perusahaan saya harus menandatangani surat perjanjian bersedia mematuhi segala aturan yang berlaku di perusahaan tersebut.
Karena itu untuk teman-teman yang berminat jadi karyawan, baca surat perjanjian dengan teliti dan seksama. Jangan sampai teman-teman setuju terhadap hal-hal yang bertentangan dengan norma agama kita. ALHAMDULILLAH perusahaan tempat saya bekerja memiliki aturan yang tidak bertentangan dengan semua prinsip-prinsip yang saya yakini.

Dan sejak itulah saya terikat kewajiban terhadap perusahaan. Minimal lima hari setiap minggu selama delapan jam per hari waktu saya harus saya peruntukkan untuk perusahaan, seluruh delapan jam waktu saya. Dan untuk itu saya mendapatkan uang gaji yang saya terima tiap akhir bulan. Jadi bila waktu yang saya peruntukkan untuk perusahaan kurang dari yang seharusnya, apakah saya berhak menerima uang gaji seluruhnya?

Seringkali saat jam kerja muncul ide-ide di benak saya untuk saya tulis, saat jam kerja. Sering pula beberapa sahabat dan saudara tercinta berkenan bertemu saya saat jam kerja. Beberapa teman kerja ingin curhat dan minta saran di luar urusan pekerjaan saat jam kerja, dan beberapa hal lain selain urusan perusahaan, yang menurut saya suatu hal yang baik, tapi harus saya lakukan saat jam kerja.

Meskipun baik dan untuk kebaikan, bila tidak ada hubungannya dengan perusahaan dan saya lakukan saat jam kerja, tetap saja tidak benar, salah. Saya menganggapnya tidak amanah menggunakan waktu, dan pengkhianatan terhadap komitmen saya sebagai karyawan.

Tidak ada cara lain, tidak ada pilihan lagi, bila saya ingin tetap berbuat baik tanpa berkhianat terhadap siapapun. Saya harus menebus lagi waktu saya yang sudah saya serahkan kepada perusahaan. Saya harus berhak sepenuhnya atas waktu yang saya miliki. Agar saya bisa menulis dengan bahagia, menulis tanpa rasa bersalah.



SAYA HARUS BEKERJA PADA SAYA SENDIRI SEHINGGA BERHAK SEPENUHNYA TERHADAP WAKTU YANG SAYA MILIKI

Rabu, 12 Maret 2014

Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik (3 Alasan Saya Pensiun Dini 1)

“Apa yang kamu cari Dian?”

Pertanyaan itu mungkin yang sering muncul di kepala saya baik yang bersumber dari eksternal maupun internal, saat saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempat saya bekerja. Dan Alhamdulillah saya punya segudang alasan untuk menjawabnya. Saya akan menuliskan tiga alasan yang paling tidak klise. Saya punya alasan tentang mengejar impian, membuat lapangan pekerjaan, membantu orang lain, dan alasan-alasan mainstream lainnya, tapi yang akan saya tulis adalah yang spesifik ada dalam kepala saya.

Alasan #1 : Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik

Di perusahaan tempat saya bekerja ada dua jenis karyawan, karyawan tetap dan karyawan kontrak. Selama enam belas tahun bekerja saya sudah merasakan puluhan kali kesedihan melihat teman-teman terbaik saya diberhentikan bekerja karena selesai masa kontraknya. Awal-awal dulu saya memberi semangat mereka dengan mengatakan bahwa masih banyak peluang kerja di perusahaan lain. Tetapi dengan berjalannya waktu saya mendapati bahwa teman-teman yang berpindah ke perusahaan lain tidak bernasib lebih baik daripada sebelumnya. Banyak perusahaan yang menerapkan aturan ke-sdm-an yang sama, tentang aturan tenaga kontrak dan batasan usianya. Sehingga pada tahun-tahun terakhir saya tidak lagi memberi mereka saran untuk berpindah ke perusahaan lain. Secara usia mereka juga sudah tidak masuk criteria karyawan baru di level mereka.

Saya melihat bahwa peluang terbaik bagi mereka adalah berwirausaha. Yang terbaik bagi mereka, saya tidak melihat ada yang lebih baik.

Dan luar biasa…Hampir tidak ada teman yang mau mengikuti saran saya. Tidak ada seorangpun yang percaya dengan betapa besarnya peluang sukses berwirausaha.

Kenapa saran saya tidak mereka lakukan? Kenapa mereka tidak percaya pada apa yang saya sampaikan?

KARENA SAYA SENDIRI BELUM MELAKUKAN.


Tidak ada cara untuk membuat orang lain percaya bahwa berwirausaha adalah pilihan terbaik, selain saya harus melakukannya dulu, segera!

Selasa, 11 Maret 2014

Pilihan Coqi (Cita-cita Coqi)

Saya sangat setuju bahwa pendidikan itu sangat penting, bahkan sampai akhir hayat. Untuk sahabat-sahabat yang sudah berusia lanjut justru harus semakin banyak belajar karena zaman terus berubah dan Anda diberi kelebihan usia untuk dimanfaatkan di zaman ini, bukan zaman dulu.

Tapi saya berpendapat menuntut ilmu tidak harus di jalur umum (baca : formal), karena ilmu itu dicari untuk diamalkan dan dimanfaatkan, bukan sekedar gelar administrasi, kecuali bila memang gelar administrasi itu dibutuhkan untuk peningkatan jenjang karir. 
Bila menuntut ilmu hanya melalui jalur umum  maka setelah memiliki gelar akademik orang akan berhenti melakukannya. Tidak ada seorang pun yang berani sesumbar  bahwa gelar akademik bisa menjamin hidup jadi sukses. Pun tidak ada seorang pun yang berani bertaruh bahwa tanpa gelar akademik, tanpa ijazah, orang tak bisa sukses.

Saya dan istri sangat menyadari itu, dan kami terapkan dalam pola didik ke Coqi. Kami tidak ingin Coqi memilih jalur pendidikan tanpa tujuan yang jelas, asal pilih atau asal ikut.Saat ini Coqi sedang bersiap menghadapi Ujian Nasional SMP. Kami memberinya beberapa pilihan jalur setelah lulus SMP : masuk SMA, SMK, Pondok Pesantren, atau tidak semuanya alias Home Schooling. Kami beri dia kebebasan memilih, dan kami dukung maksimal pilihannya bila dia bisa memberikan alasan yang tepat. Tapi bila ternyata alasannya kurang kuat sehingga argumennya bisa saya patahkan maka dia harus mengubah pilihannya.

“Aku masuk SMA aja Pak…”

“Kenapa bukan SMK, Pesantren , atau Home  Schooling aja??” Saya sudah menyiapkan segala jurus untuk mematahkan argument dia. Saya berasumsi  Coqi memilih SMA tanpa memiliki alasan yang kuat, hanya karena kebanyakan teman-temannya memilih itu, ternyata asumsi saya salah.

“Aku ingin jadi journalist dan comedian Pak…Aku butuh masyarakat majemuk untuk latihan. SMA adalah sekolah yang paling majemuk dibanding SMK dan Ponpes apalagi Home Schooling” Coqi hanya menyampaikan tiga kalimat dan saya tidak punya satu kalimat pun untuk mematahkan argumennya. Saya kalah dan bangga dengan kondisi kekalahan saya. Ternyata anak lelaki saya yang beranjak remaja sudah memikirkan manfaat dari pilihannya.


Sekali lagi saya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berharap Coqi mendapat penataan langsung dari NYA.

Senin, 10 Maret 2014

Cita-cita Coqi

“Piye toh Coq orang ini…Bisa-bisanya dia minta didukung di PEMILU agar bisa melakukan perubahan…Jelas-jelas partainya adalah tiga partai terbesar perolehan suaranya di PEMILU lalu, dan lima tahun ini partainya tidak berbuat yang significant untuk rakyat, malah alegnya banyak yang korupsi. Kok gak malu minta dipilih lagi…!?!?” Saya mengomentari  pidato politik seorang tokoh partai dalam promonya di televisi.

“Hehehehe iya Pak…Nggak lucu…” Coqi terkekeh mendengar  gerutuan saya.

“Politikus itu memang pelawak-pelawak yang gak lucu Coq…”

Coqi  tertarik pada politik sejak usia lima tahun, sejak dia mulai belajar membaca. Saat itu memang sedang puncak pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya. Mungkin Coqi tertarik dengan bertebarannya banner kampanye calon presiden. Di usianya yang sangat muda itu Coqi sudah sangat antusias mengikuti berita politik baik dengan membaca media cetak maupun menonton televisi. Saat itu, dengan gaya khas anak-anak, dia sudah bisa menganalisa para calon presiden dan partai-partainya. Coqi pun bercita-cita menjadi  presiden.

Pernah saat  di sekolahnya disuruh gurunya membuat kreasi bentuk tertentu, sementara teman-temannya membuat bentuk benda-benda yang nyata seperti rumah, pesawat, mobil dan lain-lain, Coqi membuat bentuk yang absurd dan menyebutnya sebagai kursi DPR. Pada usia sembilan tahun Coqi menyumbangkan uang tabungannya  untuk dana kampanye salah satu calon Walikota Malang yang dia sukai.

Bersama dengan berjalannya waktu, Coqi semakin dewasa, minat mengamati politik tidak berkurang tetapi cita-citanya berubah. “Nggak jadi dech Pak…Presiden itu amanatnya sangat besar, terlalu berat”

Saat ini Coqi menemukan sendiri bahwa dia sangat berminat menjadi journalist dan comedian, dan memang sikapnya menunjukkan itu. Saat saya mengambil raport kenaikan kelas, wali kelasnya menyampaikan bahwa Coqi suka menghibur guru dan teman-temannya dengan banyolan-banyolannya. Bila tertarik pada sesuatu, seperti film atau berita tertentu, maka Coqi akan segera melakukan penggalian data sebanyak-banyaknya. Sambil menonton siaran ulang acara penganugerahan piala Oscar, Coqi mampu menjelaskan tentang  film  dan actor- actress  yang mendapatkan piala Oscar cukup detil.

Sejak  SD Coqi selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba pidato agama. Coqi selalu menang di tingkat kecamatan tapi tidak pernah menang di tingkat kota. Menurut analisa gurunya hal itu disebabkan  Coqi menolak memasukkan banyak unsur-unsur banyolan dalam pidato-ceramahnya, sedangkan juri-juri lomba pidato tingkat kota sangat apresiatif pada pidato yang kocak atau lucu.

“Daripada ceramah berisi banyolan mending sekalian aku melawak tapi berisi pesan-pesan moral Pak….!”

Sampai sekarang Coqi masih suka berdiskusi tentang politik, meskipun tidak lagi berminat terjun ke dalamnya. Saya belum mendengar secara verbal, tapi saya yakin dalam hatinya Coqi punya pernyataan :

“Daripada jadi politikus yang omongannya seperti  lawakan yang tidak lucu, mending  jadi  pelawak yang menghibur dan mencerdaskan penontonnya”


Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk Coqi, doa seorang bapak yang memasrahkan masa depan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.

Sabtu, 08 Maret 2014

Pentingkah Suara Saya?

Saya sangat prihatin dengan bertebarannya banner promo caleg yang bertebaran di pohon-pohon. Para  caleg itu memasang bannernya secara serampangan sehingga secara estetika sangat mengganggu. Semakin parah lagi sebagian besar mereka memasang bannernya dengan cara memaku ke pohon, menurut saya hal tersebut adalah tindakan biadab.

Saya pernah bekerja dalam team marketing, yang salah satu tugasnya adalah melakukan promo produk juga dalam bentuk banner outdoor. Dulu tidak pernah sekalipun saya izinkan team saya pasang banner dengan memaku pohon. Saya tegur keras bila ada yang melanggarnya.
Menurut saya sikap yang menyayangi dan tak mau menyakiti pohon bukanlah sikap berlebihan, karena sebagai manusia saya punya amanah untuk menyayangi seluruh alam ciptaan Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sangat kecewa karena mendapati wajah orang yang saya kenal dipaku di pohon. Orang itu adalah caleg yang saat ini sudah atau sedang menjadi anggota legislatif, yang rencananya akan saya pilih pada pemilu nanti. Saya segera mengirim pesan ke beberapa orang yang saya anggap bisa menyampaikan pesan saya kepada aleg tersebut. Saya kirimkan foto banner yang terpaku di pohon itu diiringi pesan “Salam dari pohon yang teraniaya”.

Beberapa saat kemudian saya mendapatkan balasan pesan yang kira-kira berbunyi :“Pesan sudah saya sampaikan, berikut balasan :  maaf dan terima kasih atas kritiknya”. Saat itu saya agak lega dan berharap segera ada perubahan.

Beberapa minggu kemudian kekecewaan saya memuncak karena banner wajah aleg yang saya kenal itu masih dengan arogannya menganiaya pohon.
Selain wajah caleg, hampir semua partai peserta PEMILU dengan pongahnya memaku banner kampanye mereka ke pohon, termasuk partai tempat caleg yang saya kenal tersebut. Saya mendapat jawaban dari beberapa kader partai tersebut bahwa itu perilaku team sukses bukan kader resmi partai. Maka saya sampaikan bahwa bila masalah kecil tapi penting seperti itu saja partai tidak bisa mengendalikan team suksesnya bagaimana mungkin partai itu pantas dipilih sebagai wakil rakyat?

Saya bereaksi hanya kepada satu partai itu, dan hanya kepada satu caleg itu karena saya menyayangkan tindakannya dan berharap mereka bisa berubah, karena saya berencana memilih mereka saat PEMILU nanti. Saya tidak peduli kepada caleg lain dan partai lain. Tapi kepedulian saya ternyata tidak bersambut. Pesan teguran saya tidak mereka gubris.


Saya sadar diri, apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang tidak peduli melihat pohon dianiaya. Apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang memilih mereka, dan yang tidak peduli mereka berbuat apapun saat proses kampanye. Bila saya tidak memilih, mereka hanya kehilangan satu suara, tidak ada pengaruh significant untuk mendapatkan kursi DPR. 
Saya memang layak diabaikan.

Selasa, 18 Februari 2014

Pelawak yang Tidak Lucu

Acara televisi yang saya sukai akhir-akhir ini adalah Indonesia Lawak Klub, sebuah talk show parodi. Saya menikmati acara tersebut untuk melepas ketegangan, namun ternyata saya juga menemukan pesan-pesan moral dari celetukan-celetukan para komedian dalam acara itu.
Meskipun masih ada sedikit lawakan yang sarkasme, atau adegan fisik murahan, secara keseluruhan banyolan-banyolan cerdas lebih mendominasi acara tersebut.

Acara ini memarodikan acara serius di stasiun TV lain. Tapi anehnya, saya justru lebih banyak menangkap pesan-pesan moral bermanfaat di ILK, meskipun dalam kemasan lawakan, bahkan slogan acaranya saja 'menyelesaikan masalah tanpa solusi'.

Pada acara serius yang diparodikan saya jarang menemukan pernyataan-pernyataan bermanfaat, kebanyakan hanya retorika politik, hujatan kepada kelompok lain, atau dalih-dalih pembelaan kelompok yang membadak buta (babi lebih kecil, dan faktanya memang badak yang rabun berat). Setiap orang atau tokoh yang hadir dalam acara ini sudah membawa misi dari kelompoknya masing-masing. Tugas mereka adalah memenangkan kepentingan kelompok masing-masing, bukan mencari solusi. Tidak ada satupun hadirin yang mau menerima kebenaran, bila bertentangan dengan kepentingan kelompok.

Dalam ILK, para panelis adalah komedian yang memiliki misi yang sama, yaitu menghibur penonton. Konflik yang muncul sengaja dibuat untuk hiburan, tapi justru secara konten hampir tidak ada pertentangan. Meskipun berusaha melucu dengan membolak-balik kata, ternyata pernyataan mereka mengandung nilai-nilai yang patut direnungkan. Ternyata untuk bisa lucu mereka harus cerdas dan menggunakan hati nurani. Salah satu contoh sederhana adalah penyataan mereka yang disepakati seluruh peserta bahwa tidak pantas dipilih caleg yang memaku material kampanye di pohon.

Bila kita amati, dunia politik ternyata hanyalah panggung lawakan yang tidak lucu, karena para pemainnya berbicara dan bertindak melawan hati nurani, melawan logika,  dan tidak konsisten. Konsistensi mereka adalah pada kepentingan kelompok, bukan pada kemanfaatan masyarakat umum.

Saya sampai merasa bahwa ILK adalah talk show yang sebenarnya, sedangkan acara yang diparodikan hanyalah acara lawak yang tidak lucu dan menyebalkan.

Komedian yang terjun ke politik praktis adalah komedian yang rela kehilangan peluang untuk menyuarakan hati nurani, menurut pendapat saya pribadi.

Walau bagaimanapun saya menghargai pilihan dan pendapat mereka, para pelawak-pelawak yang tidak (lagi) lucu.