Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2022

Pak Saelan - Sosok Umar Bakri

Saelan...Nama dalam satu kata. Kami memanggilnya Pak Saelan. Guru kami kelas enam di SDN Jemberkidul 1 (sekarang SDN Kepatihan 1), di Kabupaten Jember. Seingat saya, sejak saya masuk SD, Pak Saelan selalu menjadi guru kelas enam. Setelah saya lulus SD, saya tidak tahu apakah beliau tetap mengajar kelas enam atau sempat mengajar kelas lain.

Waktu masih kelas 5 saya sering mendengar rumor, dulu istilahnya pergunjingan, tentang beliau sebagai guru killer. Angker. Waktu itu saya takut membayangkan akan diajar beliau di kelas enam. Serem.

Saat kelas enam, diajar beliau, saya jadi bingung dan heran. Apanya yang killer...? Mananya yang angker..? Saya justru sangat menikmati cara beliau mengajar.

Sosok Inspiratif 

Beliau memang bukan guru yang ramah. Hampir tidak pernah senyum, apalagi tertawa. Disiplin waktu. Tiada hari tanpa ulangan. Namun saya rasakan keikhlasan yang sangat kuat dari sikap-sikapnya tersebut. Saya merasa bahagia di kelas beliau, dan saya yakin itu disebabkan pancaran gelombang kebahagiaan beliau, meskipun tanpa senyum.

Saya sangat terkesan pada cara beliau mengajar, metodenya unik. Mungkinkah saya terkesan karena waktu itu hampir selalu mendapatkan kepuasan meraih nilai tertinggi? Untuk setiap ulangan, setiap hari. Atau sebaliknya, keberhasilan meraih nilai tertinggi yang saya raih karena senang pada cara beliau mengajar, karena saya menikmati proses belajar?

Entahlah. 

Yang pasti sejak diajar beliau saya jadi bercita-cita jadi guru. Sejak itu saya jadi sering  membayangkan betapa bahagianya bila bisa berbagi ilmu kepada orang lain. Saya jadi sering membayangkan kebahagiaan jadi guru yang mencurahkan hidupnya untuk membimbing anak-anak, membantunya merajut masa depan. Sosok Pak Saelan yang menginspirasi cita-cita saya.

Sejak merasakan kelas Pak Saelan saya juga jadi suka mengamati cara mengajar guru. Seringkali saya membuat catatan tentang kelemahan-kelemahan metode pengajaran guru, dan membuat rekomendasi perbaikannya. Catatan pribadi, untuk kepentingan sendiri yang mungkin berguna ketika saya menjadi guru.

Namun sayangnya, Ibunda kurang setuju bila saya memilih profesi sebagai guru. Alasan utamanya adalah masalah ekonomi. Ibunda ragu seorang guru bisa cerah masa depannya. Saya patuh kepada Ibunda. Namun, meskipun tidak secara formal jadi guru, sampai sekarang saya selalu berusaha menggunakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan kebahagiaan dengan berbagi ilmu, membimbing orang lain menjadi lebih baik, lebih bahagia.

Sosok Umar Bakri

Bagi saya Pak Saelan adalah ‘Umar Bakri’ yang sebenarnya. Waktu mengajar kami dulu motor Pak Saelan sudah tua, butut. Motor Pak Saelan tidak bisa melewati genangan air, pasti mogok. Padahal kalau musim hujan jalanan di sekitar rumah beliau sering terendam air. Maka beliau pun berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda kumbang. 

Mendekati Ujian Nasional Pak Saelan memberi kami tambahan kelas di sore hari, les bimbingan belajar gratis. Di kota kami waktu itu seringkali hujan turun siang hari, dan ketika sore hujan reda. Bila siang hujan, sorenya Pak Saelan sering terlambat datang ke sekolah, karena harus mengayuh sepeda kumbang dari rumahnya yang lumayan jauh jaraknya dari sekolah. Kami yang sudah hadir semua dari halam sekolah akan memandangi datangnya Pak Saelan dengan sepeda kumbangnya. Mungkin beberapa orang teman ada yang memandang kedatangan Pak Saelan dengan perasaan kecewa karena les tidak jadi libur. Sedangkan saya saat itu, selalu memandang Pak Saelan di atas sepeda kumbangnya sebagai sosok Umar Bakri sejati, keren...Citra itu melekat dalam benak saya sampai saat ini.

Sosok Istimewa

Sampai saat ini Pak Saelan tidak tergantikan dalam benak saya. Sosok guru sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik. Saya sangat menghargai semua guru yang pernah mengajar saya. Saya yakin semua guru sudah ikhlas mengajar dan mendidik saya. Namun bagi saya Pak Saelan yang paling istimewa.

Pak Saelan manusia biasa, yang juga punya banyak kelemahan, kesalahan. Salah satunya adalah kebiasaan beliau merokok di dalam kelas. Beliau bisa menghabiskan berbatang-batang rokok setiap hari di dalam kelas. Kebiasaan yang saya benci. Saya sangat anti rokok, dan sulit untuk menghargai orang yang merokok di depan saya, bahkan kepada kerabat yang lebih tua sekalipun. Namun khusus untuk Pak Saelan saya bersikap beda. Saya tidak pernah mempermasalahkannya. 

Setiap kali mengenang Pak Saelan yang saya ingat adalah kesederhanaan dan komitmen mengajar yang tinggi. Semoga semua ilmu yang saya dapat dari beliau, inspirasi dan motivasi yang saya rasakan, menjadi amal jariyah untuk beliau. Pahala yang akan terus mengalir bagi beliau, sehingga membuat beliau mendapatkan kebahagiaan di alam kubur.


Sabtu, 15 Maret 2014

Bisakah Anda Memilih?

Berdasarkan beberapa tulisan saya akhir-akhir ini ada yang menganggap saya masuk golongan putih (golput), dan saya bersyukur daripada dianggap sebagai golongan hitam. Padahal PEMILU belum lagi terlaksana, sudah banyak caleg yang merasa berhak menilai jelek calon-calon rakyat yang akan diwakilinya.

Semua politikus punya jargon yang sama "Golput bukan solusi", dan ada kesangsian dari para apatist "Apakah memilih bisa memperbaiki negeri?", sedangkan  para optimist berpikir “Selalu ada harapan, dan pasti ada jalan…lain”


Entahlah...Yang jelas saya sendiri punya pilihan sikap, dan harus bertanggungjawab pada pilihan saya sendiri, apapun itu.

Semua orang berhak memilih, termasuk Anda wahai para caleg yang merasa berhak mewakili saya.
Tolong Anda pilihkan sikap bagaimana yang harus saya pilih :

1. Saya memilih, tapi saya memilih caleg dari partai lain karena saya anggap dia lebih baik dari Anda. Kemudian saya memuji-muji dia dan menjelek-jelekkan Anda karena dengan cara itu pilihan saya punya kesempatan terpilih lebih besar dari Anda.

2. Saya tidak memilih siapapun (silakan bila Anda mengganggap saya sebagai golput), karena saya menyayangi semua caleg. Saya akan sering  dengan santun menegur Anda dan caleg-caleg lain bila saya anggap ada yang tidak tepat. Siapapun yang terpilih adalah wakil saya sebagai rakyat, meskipun saya tidak ikut memilih karena gaji Anda toh diambil dari pajak yang saya bayarkan. Karena itu saya harus bekerja keras agar semakin besar pajak yang bisa saya bayarkan, untuk pembangunan negeri dan membiayai sidang-sidang parlemen. Rumah saya selalu terbuka bagi semua caleg dari partai apapun bila memang ada yang berkenan mendapatkan masukan-masukan dari saya, sehingga lima tahun lagi mungkin saya punya caleg yang layak untuk saya pilih karena selama lima tahun peduli dan benar-benar memperjuangkan suara saya dan rakyat lain.

3. Saya memilih Anda, kemudian tidak peduli dengan yang Anda lakukan, karena memang Anda tidak lagi butuh aspirasi saya seperti yang terjadi selama ini. Bila pun Anda mengundang saya dalam sebuah pertemuan-pertemuan resmi yang Anda sebut 'penyerapan aspirasi', ternyata hanya sebuah formalitas administrasi untuk mencairkan dana 'penyerapan aspirasi' atau dana-dana lain, tidak lebih. Karena setelah pertemuan itu Anda tidak pernah mengabarkan kepada saya bagaimana progres perjuangan Anda membawa aspirasi saya. Anda juga tidak pernah memberi saya  informasi tentang apa-apa saja yang Anda lakukan selayaknya seorang wakil kepada orang yang diwakili, yang menggunakan dana sebagian pajak saya yang sangat kecil.

Bisakah Anda memilih?
Mungkin Anda berkata “Wah tiga-tiganya gak ada yang bagus untuk dipilih…”
Maka saya akan menjawab menggunakan kata-kata Anda sendiri “Pilihlah yang terbaik dari yang tidak bagus, karena tidak memilih bukanlah solusi”.

Apapun pilihan Anda adalah cerminan diri Anda sebagaimana pilihan sikap saya terhadap PEMILU.

Jumat, 14 Maret 2014

Saya Ingin Coqi dan Hanun Seperti Batman (3 Alasan Saya Pensiun Dini 3)

Alasan #3 : Saya Ingin Anak Saya Seperti Batman atau Ironman

Dalam satu sesi pelatihan guru saya menyampaikan bahwa Superhero yang baik itu Batman atau Ironman. Karena dalam kehidupan normal mereka kaya, dan bisa membantu orang dengan kekayaan mereka. Beda dengan Superman yang hanya reporter atau Spiderman yang hanya seorang Photographer (tanpa merendahkan profesi reporter maupun photographer). Si Bruce atau si Tony bisa kaya karena mewarisi dari orang tuanya, istilah jawa timurannya “Belungan Sugih”.

Para konglomerat, para jutawan, miliuner maupun triliuner, sebagian  mewarisi dari orang tuanya masing-masing. Mereka mewarisi kekayaan dari orang tuanya. Mereka punya “Belungan Sugih”, mereka jadi Superhero. Benarkah kekayaan materi bisa dipertahankan sampai beberapa generasi ahli waris?

Sebenarnya yang membuat ahli waris tersebut kaya bukanlah warisan kekayaan materi, memang ada pengaruhnya sebagai modal. Tetapi warisan terbesar mereka adalah kemampuan mereka mengelola kekayaan materi yang diwarisi dari orang tuanya. Kemampuan itu sudah mereka dapatkan sejak kecil. Mereka sudah terbiasa melihat orang tua mereka bekerja keras sebagai pengusaha, wirausahawan. Mental entrepreneur sudah tertanam, mungkin, sejak mereka lahir. Mental itulah yang membuat mereka memiliki “Belungan Sugih”, mental pantang menyerah-mental kreatif-mental produktif.

Saya ingin Coqi dan Hanun jadi seperti Ironman atau Batman, hidup sejahtera meskipun seluruh hidupnya digunakan untuk membantu orang lain. Saya ingin mereka punya “Belungan Sugih”.

Rabu, 12 Maret 2014

Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik (3 Alasan Saya Pensiun Dini 1)

“Apa yang kamu cari Dian?”

Pertanyaan itu mungkin yang sering muncul di kepala saya baik yang bersumber dari eksternal maupun internal, saat saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempat saya bekerja. Dan Alhamdulillah saya punya segudang alasan untuk menjawabnya. Saya akan menuliskan tiga alasan yang paling tidak klise. Saya punya alasan tentang mengejar impian, membuat lapangan pekerjaan, membantu orang lain, dan alasan-alasan mainstream lainnya, tapi yang akan saya tulis adalah yang spesifik ada dalam kepala saya.

Alasan #1 : Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik

Di perusahaan tempat saya bekerja ada dua jenis karyawan, karyawan tetap dan karyawan kontrak. Selama enam belas tahun bekerja saya sudah merasakan puluhan kali kesedihan melihat teman-teman terbaik saya diberhentikan bekerja karena selesai masa kontraknya. Awal-awal dulu saya memberi semangat mereka dengan mengatakan bahwa masih banyak peluang kerja di perusahaan lain. Tetapi dengan berjalannya waktu saya mendapati bahwa teman-teman yang berpindah ke perusahaan lain tidak bernasib lebih baik daripada sebelumnya. Banyak perusahaan yang menerapkan aturan ke-sdm-an yang sama, tentang aturan tenaga kontrak dan batasan usianya. Sehingga pada tahun-tahun terakhir saya tidak lagi memberi mereka saran untuk berpindah ke perusahaan lain. Secara usia mereka juga sudah tidak masuk criteria karyawan baru di level mereka.

Saya melihat bahwa peluang terbaik bagi mereka adalah berwirausaha. Yang terbaik bagi mereka, saya tidak melihat ada yang lebih baik.

Dan luar biasa…Hampir tidak ada teman yang mau mengikuti saran saya. Tidak ada seorangpun yang percaya dengan betapa besarnya peluang sukses berwirausaha.

Kenapa saran saya tidak mereka lakukan? Kenapa mereka tidak percaya pada apa yang saya sampaikan?

KARENA SAYA SENDIRI BELUM MELAKUKAN.


Tidak ada cara untuk membuat orang lain percaya bahwa berwirausaha adalah pilihan terbaik, selain saya harus melakukannya dulu, segera!

Senin, 10 Maret 2014

Cita-cita Coqi

“Piye toh Coq orang ini…Bisa-bisanya dia minta didukung di PEMILU agar bisa melakukan perubahan…Jelas-jelas partainya adalah tiga partai terbesar perolehan suaranya di PEMILU lalu, dan lima tahun ini partainya tidak berbuat yang significant untuk rakyat, malah alegnya banyak yang korupsi. Kok gak malu minta dipilih lagi…!?!?” Saya mengomentari  pidato politik seorang tokoh partai dalam promonya di televisi.

“Hehehehe iya Pak…Nggak lucu…” Coqi terkekeh mendengar  gerutuan saya.

“Politikus itu memang pelawak-pelawak yang gak lucu Coq…”

Coqi  tertarik pada politik sejak usia lima tahun, sejak dia mulai belajar membaca. Saat itu memang sedang puncak pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya. Mungkin Coqi tertarik dengan bertebarannya banner kampanye calon presiden. Di usianya yang sangat muda itu Coqi sudah sangat antusias mengikuti berita politik baik dengan membaca media cetak maupun menonton televisi. Saat itu, dengan gaya khas anak-anak, dia sudah bisa menganalisa para calon presiden dan partai-partainya. Coqi pun bercita-cita menjadi  presiden.

Pernah saat  di sekolahnya disuruh gurunya membuat kreasi bentuk tertentu, sementara teman-temannya membuat bentuk benda-benda yang nyata seperti rumah, pesawat, mobil dan lain-lain, Coqi membuat bentuk yang absurd dan menyebutnya sebagai kursi DPR. Pada usia sembilan tahun Coqi menyumbangkan uang tabungannya  untuk dana kampanye salah satu calon Walikota Malang yang dia sukai.

Bersama dengan berjalannya waktu, Coqi semakin dewasa, minat mengamati politik tidak berkurang tetapi cita-citanya berubah. “Nggak jadi dech Pak…Presiden itu amanatnya sangat besar, terlalu berat”

Saat ini Coqi menemukan sendiri bahwa dia sangat berminat menjadi journalist dan comedian, dan memang sikapnya menunjukkan itu. Saat saya mengambil raport kenaikan kelas, wali kelasnya menyampaikan bahwa Coqi suka menghibur guru dan teman-temannya dengan banyolan-banyolannya. Bila tertarik pada sesuatu, seperti film atau berita tertentu, maka Coqi akan segera melakukan penggalian data sebanyak-banyaknya. Sambil menonton siaran ulang acara penganugerahan piala Oscar, Coqi mampu menjelaskan tentang  film  dan actor- actress  yang mendapatkan piala Oscar cukup detil.

Sejak  SD Coqi selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba pidato agama. Coqi selalu menang di tingkat kecamatan tapi tidak pernah menang di tingkat kota. Menurut analisa gurunya hal itu disebabkan  Coqi menolak memasukkan banyak unsur-unsur banyolan dalam pidato-ceramahnya, sedangkan juri-juri lomba pidato tingkat kota sangat apresiatif pada pidato yang kocak atau lucu.

“Daripada ceramah berisi banyolan mending sekalian aku melawak tapi berisi pesan-pesan moral Pak….!”

Sampai sekarang Coqi masih suka berdiskusi tentang politik, meskipun tidak lagi berminat terjun ke dalamnya. Saya belum mendengar secara verbal, tapi saya yakin dalam hatinya Coqi punya pernyataan :

“Daripada jadi politikus yang omongannya seperti  lawakan yang tidak lucu, mending  jadi  pelawak yang menghibur dan mencerdaskan penontonnya”


Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk Coqi, doa seorang bapak yang memasrahkan masa depan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.

Sabtu, 08 Maret 2014

Pentingkah Suara Saya?

Saya sangat prihatin dengan bertebarannya banner promo caleg yang bertebaran di pohon-pohon. Para  caleg itu memasang bannernya secara serampangan sehingga secara estetika sangat mengganggu. Semakin parah lagi sebagian besar mereka memasang bannernya dengan cara memaku ke pohon, menurut saya hal tersebut adalah tindakan biadab.

Saya pernah bekerja dalam team marketing, yang salah satu tugasnya adalah melakukan promo produk juga dalam bentuk banner outdoor. Dulu tidak pernah sekalipun saya izinkan team saya pasang banner dengan memaku pohon. Saya tegur keras bila ada yang melanggarnya.
Menurut saya sikap yang menyayangi dan tak mau menyakiti pohon bukanlah sikap berlebihan, karena sebagai manusia saya punya amanah untuk menyayangi seluruh alam ciptaan Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sangat kecewa karena mendapati wajah orang yang saya kenal dipaku di pohon. Orang itu adalah caleg yang saat ini sudah atau sedang menjadi anggota legislatif, yang rencananya akan saya pilih pada pemilu nanti. Saya segera mengirim pesan ke beberapa orang yang saya anggap bisa menyampaikan pesan saya kepada aleg tersebut. Saya kirimkan foto banner yang terpaku di pohon itu diiringi pesan “Salam dari pohon yang teraniaya”.

Beberapa saat kemudian saya mendapatkan balasan pesan yang kira-kira berbunyi :“Pesan sudah saya sampaikan, berikut balasan :  maaf dan terima kasih atas kritiknya”. Saat itu saya agak lega dan berharap segera ada perubahan.

Beberapa minggu kemudian kekecewaan saya memuncak karena banner wajah aleg yang saya kenal itu masih dengan arogannya menganiaya pohon.
Selain wajah caleg, hampir semua partai peserta PEMILU dengan pongahnya memaku banner kampanye mereka ke pohon, termasuk partai tempat caleg yang saya kenal tersebut. Saya mendapat jawaban dari beberapa kader partai tersebut bahwa itu perilaku team sukses bukan kader resmi partai. Maka saya sampaikan bahwa bila masalah kecil tapi penting seperti itu saja partai tidak bisa mengendalikan team suksesnya bagaimana mungkin partai itu pantas dipilih sebagai wakil rakyat?

Saya bereaksi hanya kepada satu partai itu, dan hanya kepada satu caleg itu karena saya menyayangkan tindakannya dan berharap mereka bisa berubah, karena saya berencana memilih mereka saat PEMILU nanti. Saya tidak peduli kepada caleg lain dan partai lain. Tapi kepedulian saya ternyata tidak bersambut. Pesan teguran saya tidak mereka gubris.


Saya sadar diri, apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang tidak peduli melihat pohon dianiaya. Apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang memilih mereka, dan yang tidak peduli mereka berbuat apapun saat proses kampanye. Bila saya tidak memilih, mereka hanya kehilangan satu suara, tidak ada pengaruh significant untuk mendapatkan kursi DPR. 
Saya memang layak diabaikan.

Selasa, 21 Januari 2014

Menikmati Toleransi

Dalam ajaran agama saya ada larangan makan sambil berdiri. Saya sangat yakin dan berusaha menghindari larangan tersebut. Kami juga diwajibkan makan menggunakan tangan kanan.
Sementara di Indonesia, tradisi yang berkembang adalah Standing Party, yang merupakan tradisi adopsi dari budaya bangsa 'barat'. Saat ini sangat jarang pesta pernikahan yang menyediakan cukup kursi untuk makan sambil duduk.

Ketika saya menghadiri suatu undangan pernikahan, saya harus menghormati pihak pengundang dengan berusaha menghadiri undangannya, bagaimanapun acaranya. Saya yakin pihak pengundang, apapun agamanya, tahu agama saya dan pasti sudah menyediakan fasilitas sesuai aturan agama saya. Bila pun  ternyata dalam acara pesta pernikahan tersebut ada hal-hal yang tidak sesuai ajaran agama yang saya anut, saya hanya perlu tersenyum mengucapkan selamat kepada mempelai dan segera meninggalkan tempat dengan sikap santun. Inilah toleransi.



Saat menikmati makanan di acara Standing Party saya harus mencari tempat duduk agar bisa makan sambil duduk. Saya bisa cukup lama berdiri menunggu untuk bergantian duduk, karena kursi yang tersedia sangat terbatas jumlahnya dibanding jumlah undangan. Bahkan bila tidak sabar menunggu, saya makan sambil jongkok di pojok ruangan. Jadi bila Anda dalam sebuah pestas resepsi pernikahan melihat ada orang mengenakan setelan jas lengkap dan makan sambil jongkok, mungkin Anda sedang melihat saya.



ilustrasi dari rinaldimunir.wordpress.com

Bagi saya aturan yang menjadi prioritas utama untuk dipatuhi adalah ajaran agama. Saya wajib meninggalkan semua hal yang dilarang dalam agama, kecuali keadaan genting darurat. Menurut saya larangan makan sambil berdiri adalah mutlak, selama saya bisa melakukannya sambil duduk, kapanpun dan di manapun. Sementara ada orang yang menganut agama sama dengan saya beranggapan bahwa suatu acara standing party adalah kondisi darurat sehingga boleh makan sambil berdiri. Saya tidak pernah berniat memperdebatkan perbedaan ini dengan mereka, saya menghargai pendapat mereka. Saya akan menikmati makanan sambil jongkok dan tak perlu memandang sinis orang-orang yang makan sambil berdiri, sehingga saya benar-benar merasakan nikmatnya beraneka ragam makanan yang dihidangkan. Inilah nikmatnya toleransi.

Toleransi tidak selalu terjadi pada agama yang berbeda, dalam agama yang sama pun dibutuhkan toleransi terhadap perbedaan pendapat.Toleransi adalah sikap menghargai pendapat yang berbeda, dengat tetap memegang teguh keyakinan pendapat kita sendiri. Toleransi bukanlah proses asimilasi pendapat yang berbeda , atau bukanlah rekonsiliasi  perbedaan pendapat. Saya tidak perlu makan sambil berdiri untuk menghargai orang yang makan sambil berdiri, begitu pula sebaliknya. Mereka tidak perlu makan sambil jongkok menemani saya.

Saya tidak akan mencap kafir orang-orang yang makan menggunakan tangan kiri. Mungkin, pada moment yang tepat, dengan cara yang baik, saya akan mengingatkan tentang perintah makan menggunakan tangan kanan.
Saya juga tidak perlu mengucapkan “Selamat menikmati makan menggunakan tangan kiri” hanya untuk menunjukkan toleransi saya, tapi saya juga tidak akan menyalahkan orang yang berpendapat ucapan itu sebagai syarat toleransi.

Saya akan tetap makan dengan nikmat menggunakan tangan kanan sambil duduk atau jongkok meskipun semua orang di sekeliling saya makan menggunakan tangan kiri sambil berdiri. Saya tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan mereka, dan mereka tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan saya, itulah nikmatnya toleransi.

Kamis, 27 Juni 2013

Menasihati Diri Sendiri

Saya tergelitik membaca status Facebook seorang sahabat. Dia menyatakan bahwa status facebook yang berisi motivasi atau nasihat kemungkinan besar menandakan sang pemilik status-lah yang membutuhkan motivasi dan nasihat. Saya se-juta-tuju dengan pernyataannya, karena saya melakukannya.

Saya suka menuliskan nasihat-nasihat untuk saya sendiri dalam status Facebook, dan menurut saya sangatlah bermanfaat. Saat merasa ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dibenahi, harus segera diubah atau untuk mengingatkan diri sendiri, saya menulis nasihat untuk saya sendiri dalam status. Nasihat untuk diri sendiri yang dituliskan dalam status Facebook bagaikan deklarasi perubahan. Karena saya menuliskannya di media sosial yang bisa dibaca publik, maka saya wajib mempertanggungjawabkannya. Saya harus benar-benar menjalankan apa yang saya tulis, dan itu benar-benar untuk kebaikan saya sendiri. Seandainya ada pembaca status saya yang mengalami kondisi yang sama dan mendapatkan manfaat dari nasihat itu, maka segala puji bagi ALLOH.


Saat merasakan kualitas tindakan menurun, saya menasihati diri untuk segera melakukan perbaikan. Saat mendapatkan kebaikan, saya menasihati diri untuk memperbanyak syukur dan bertindak lebih banyak dan lebih baik lagi. Saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, saya mengingatkan diri bahwa itu hanyalah umpan balik untuk memperbaiki proses.

Nasihat dari diri sendiri lebih mudah dilaksanakan karena berdasarkan nilai-nilai yang sudah saya yakini. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan saya sendiri yang tahu kemampuan diri sendiri.


Saya berusaha sesering mungkin menasehati diri sendiri karena saya ingin selalu berubah menjadi lebih baik. Semakin sering saya menasihati diri sendiri, semakin besar komitmen saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Sabtu, 23 Februari 2013

Berpikir Akibat Sebelum Bertindak


Teman-teman yang baru mengenal saya mungkin tidak mengira bahwa dulu saya pernah ‘melabrak’ pimpinan divisi general affair hanya karena tidak diprioritaskan menggunakan kendaraan operasional, sampai ada adegan membanting pintu segala. Saya juga pernah menghadap Kepala Cabang dengan emosi hanya karena ruangan saya dipinjam divisi lain. Saat itu saya merasa apa yang saya lakukan benar. Saya berani berbuat karena merasa benar. Ternyata benar saja tidak cukup.

“Lebih baik kalah dalam pertempuran untuk memenangkan peperangan”. Saya sering mendengar kata-kata bijak ini. Saya menyadari bahwa saya dulu selalu ingin memenangkan pertempuran karena merasa benar.  “Berani karena benar”. Ternyata berani saja belum cukup.

Dulu, saya cepat bertindak karena merasa benar, benar menurut saya, bagaimana menurut orang lain? Apa akibat tindakan saya bagi diri sendiri dan orang lain?

Dulu, saya menganggap cepat bertindak adalah perwujudan dari istilah tangkas, atau proaktif, atau cepat tanggap. Saya lupa bahwa juga ada istilah ceroboh, atau gegabah, atau grusa-grusu. Yang membedakan apa?

Yang membedakan adalah sebesar apa saya memperhatikan akibat, atau dampak, atau efek, dari tindakan saya. Bila saya merasa benar, kemudian bertindak cepat tanpa peduli baik buruknya akibat tindakan saya, maka saya telah melakukan tindakan gegabah.

“Ah kelamaan kalau mau bertindak harus mikir tentang segala akibatnya…”

Mungkin kelamaan, saat saya belum terbiasa memikirkan akibat sebelum melakukan tindakan, belum  menjadikan hidup efektif sebagai gaya hidup. Memang perlu kemauan untuk berubah, dan saya memutuskan untuk berubah menjadi lebih efektif, selalu berpikir akibat sebelum bertindak. Untuk itu saya harus terus berlatih dan berlatih, karena berubah menjadi lebih baik tidak boleh berhenti sampai maut menjemput.

Jumat, 15 Februari 2013

Doa dalam Nama Coqi

"What is a name"
Apalah arti sebuah nama.
Bagi saya nama adalah doa, harapan, cita-cita orang tua kepada anaknya.

Semua orang tua ingin anaknya menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak semua orang tua memberi nama anaknya sebagai doa dan harapan. Itu pilihan mereka, dan saya menghargainya. Seperti sebuah cerita humor yang pernah saya baca :
"Ma...Benarkah di suku kita nama orang itu sesuai peristiwa besar yang terjadi saat ibunya belum hamil sampai melahirkan?"
"Benar...Kenapa kamu menanyakan itu Dipan Ambruk?"

Banyak juga orang yang memiliki nama yang bagus, menggunakan nama-nama Nabi, orang-orang bijak, atau nama-nama lain yang memiliki arti bagus dan mulia tapi perilakunya sangat hina, keji, suka menyakiti sesama. Apakah yang dilakukan orang tua mereka memberi nama bagus tidak ada gunanya?

Orang tua memberi nama yang bagus adalah ihtiar untuk kebaikan anaknya, salah satu usaha. Usaha orang tua tidak cukup sampai di situ, tidak cukup hanya memberi nama yang bagus, tapi harus berkelanjutan dengan pendidikan yang baik.

Nama lengkap Coqi adalah Muhammad Isyroqi Basil. Muhammad artinya orang yang terpuji, isyroq artinya memancar, dan basil artinya pemberani. Sejak kecil, sejak bisa bicara Coqi sudah kami beri penjelasan tentang arti namanya sendiri. Kami sampaikan juga bahwa dia harus bertanggung jawab menyandang nama yang artinya baik. Dia harus bersikap selaras dengan kebaikan namanya. Itulah ikhtiar awal kami...

Nama Muhammad Isyroqi Basil adalah doa dan harapan kami untuk Coqi. Semoga dia menjadi orang yang terpuji, yang memancarkan sinar ke sekelilingnya dan berani berbuat untuk kebenaran. Aamiin...

Kamis, 31 Januari 2013

Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis (Jilbab Hanun 2)


Hanun saat ini berusia lima tahun, dan dia sudah paham tentang konsep aurat maupun muhrim. ALHAMDULILLAH tidak terlalu sulit membuat dia paham bagaimana harus bersikap kepada lawan jenis. Saya yakin itu karena hidayah Tuhan kepadanya, dan Tuhan pula yang mengilhamkan ke saya dan istri saya tentang mendidik ahlak sejak usia Hanun 0 tahun.

Saya yakin tentang konsep pendidikan sejak dalam kandungan. Saya belum pernah membaca jurnal ilmiah atau hasil penelitian tentang konsep ini, tapi saya sudah menemukan banyak bukti dan mengalaminya sendiri. Sayang sekali masih banyak orang tua di Indonesia yang meragukan konsep ini. Mereka masih berpendapat bahwa bayi dan anak di bawah usia tiga tahun belum bisa menangkap informasi sempurna dari sekelilingnya.

Pendidikan yang saya anggap paling penting untuk saya ajarkan kepada Hanun sesegera mungkin adalah tentang ahlak, dan saya meyakini sumber terbaik adalah ajaran agama. Saya meyakini bahwa ajaran agama adalah manual book atau user guide manusia untuk hidup. Sebagai muslim saya meyakini Al Qur'an dan Al Hadits sebagai pedoman hidup, acuan segala ilmu.

Saya percaya bahwa semua yang kita sampaikan kepada anak sejak usia 0 tahun terekam sempurna dalam pikirannya, di otaknya. Hanya saja mereka belum bisa menanggapi informasi itu. Informasi yang tersimpan di otaknya pasti bermanfaat suatu saat kelak. Sebaliknya, hati-hati dengan informasi negatif yang berpotensi masuk ke otak anak usia dini, juga akan terekam dalam otaknya. Televisi adalah media yang harus diwaspadai berpotensi besar mengirim informasi negatif  ke dalam pikiran anak.

Saat Hanun sudah mulai aktif berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, saya mulai sering mengingatkan tentang konsep hubungan yang benar menurut ajaran agama, konsep yang sudah dia terima informasinya sejak lahir.
"Bukankah larangan itu bagi orang yang sudah dewasa? Sudah baligh?"
Tak ada penegasan di agama bahwa aturan hanya boleh diajarkan kepada orang dewasa, kalau berlakunya keawajiban memang benar untuk orang yang sudah dewasa. Ahlak dan moral adalah sari pati inti dari karakter. Bukankah terlambat bila baru mengajarkan ahlak dan moral saat anak sudah dewasa? Saat karakternya sudah terbentuk? Secara biologis kita bisa mengenali kapan anak kita mencapai kedewasaan, tapi secara psikologis sulit mendeteksinya.

ALHAMDULILLAH sekarang Hanun sudah tahu dan melakukan sikap-sikap membatasi diri saat berhubungan dengan lawan jenis, meskipun kadang-kadang masih harus diingatkan. Paling tidak dia bisa menerima dan segera berubah saat diingatkan, tidak membantah atau menentang menggunakan  segala argumen nalar manusia yang tidak selaras dengan ajaran agama.

Rabu, 30 Januari 2013

Jilbab Hanun


Dulu, lama sebelum Hanun lahir saya sudah sangat suka melihat anak kecil perempuan yang berkerudung rapi. Teman-teman, orang tua anak-anak itu, memberi tips bahwa jauh lebih mudah mengajari anak berkerudung sedari kecil, sedini mungkin.  Sejak saat itu selalu ada dalam doa saya permohonan dianugerahi anak perempuan.

Memerhatikan tingkah polah perempuan-perempuan masa kini saya sangat miris dan khawatir. Betapa mereka sudah tidak peduli dengan  kehormatan, suka memamerkan bagian-bagian tubuh demi mendapatkan kepuasan karena jadi pusat perhatian.

Banyak yang berkilah bahwa bukan tanggung jawab mereka  bila banyak mata lelaki jalang memandang tubuh mereka.
"Ah...Bukan urusan saya bila para lelaki itu memandangi saya, khan mata mereka sendiri, saya gak nyuruh"
"Ya salah sendiri gak punya iman...Gak bisa menahan nafsu..."
"Dasar pikiran mereka sendiri yang ngeres, piktor"

Coba kita balik logikanya, seandainya tidak ada seorang lelakipun tertarik pada dandanan mereka, tidak sebuah matapun memandang kagum, atau lebih tepatnya jalang, apakah mereka masih mau berpakaian seperti itu? Apa sih yang ada di benak perempuan-perempuan yang suka berdandan ‘minimalist’ itu saat bercermin mematut diri selain ingin segera keluar menemui kerumunan kemudian mendapatkan pujian dan tatapan pemujaan?

"Wajar khan yang indah itu disukai orang?"
"Apa salahnya saya menampilkan keindahan?"

Keindahan adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Sebagai mahlukNYA kita wajib menjaga dan merawat keindahan yang kita terima. Menampilkan keindahan boleh saja, dengan memerhatikan manfaat yang ingin diraih, bagi diri sendiri dan orang lain. Saat menampilkan bagian-bagian tubuhnya, manfaat apa yang diperoleh? Manfaat apa yang diberikan untuk orang lain? Keburukan apa yang kemungkinan terjadi? Lebih condong ke manfaat atau keburukan?

"Ah, jangan munafik lah...! Toh banyak juga peristiwa di dunia ini perempuan berjilbab yang dilecehkan dan diperkosa..."

Perdebatan seperti ini tidak akan pernah selesai, tak ada habisnya. Selalu ada perbedaan dalam memandang sesuatu. Karena itulah saya ingin memiliki anak perempuan, agar saya bisa mendidiknya dengan kebenaran yang saya yakini. Saya ingin berbuat sesuatu di dunia tentang keindahan seorang wanita, melalui anak saya karena saya laki-laki.

Saya menyetujui dan sepakat bahwa pendidikan anak dimulai saat usia 0 tahun, bahkan sejak dalam kandungan. Maka saya dan ibunya  mengajari Hanun menutup aurat sejak usia 0 tahun. Kami sudah berburu jilbab kecil sejak Hanun lahir.  

Tidak mudah, karena banyak yang menentangnya.
"Kasihan, dia khan masih kecil.."
Justru sayang Hanun saya kasihan bila terlambat mendidiknya tentang ahlak beragama.

(bersambung : "Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis)


Selasa, 27 November 2012

Semangat Berikrar Sumpah Pemuda dan Bernyanyi Lagu Kebangsaan Setelah Nonton Film



Saya sangat menyukai film ‘Invictus’ karena berisi pesan-pesan moral yang banyak sekali. Bahkan saat saya menonton yang keempat kali saya masih bisa menemukan pesan moral baru dalam film itu. Yang saya heran adalah bahwa saya beru ketemu film itu di tahun ini, tahun 2012, padahal film itu sudah diproduksi dan dipasarkan pada tahun dua ribu sembilan. Selama tiga tahun ada di mana film itu?

Mungkinkah karena film ‘Invictus’ bukan film laga atau horror sehingga tidak banyak orang membicarakannya? Atau mungkin para pemasar film di Indonesia kurang antusias dengan film-film bergenre drama. Entahlah…Yang jelas saya optimis dan antusias membawa film ini ke para pemuda, pelajar, mahasiswa, dan mengupas pesan-pesan moral yang ada di dalamnya. Saya yakin dengan cara berbeda dalam menyampaikan sebuah pesan, yaitu dengan cara yang menyenangkan dan asyik, lebih mudah masuk ke dalam benak anak-anak muda.

Ternyata hasil survey informal, yang saya sebarkan ke teman-teman muda pengurus FLP Malang, menunjukkan bahwa film ‘Invictus’ membosankan bagi mereka,nah lho…

Saya menyukai film ‘Invictus’. Saya mampu menonton film itu tanpa bosan sampai akhir. Saya tahu ‘bagaimana’ menonton film itu dengan asyik. Maka saya harus segera mempelajari ‘bagaimana’ teman-teman pengurus FLP Malang menonton film itu dengan perasaan bosan. Saya tidak terjebak dengan mempertanyakan mengapa mereka bosan menonton film itu, saya hanya perlu tahu bagaimana mereka melakukannya.

Setelah melakukan beberapa pertanyaan singkat kepada mereka melalui sms, mencari tahu secara tersirat  apa yang mereka lakukan sebelum, saat, dan setelah menonton film, saya bisa menemukan beberapa hal yang harus saya lakukan saat saya membawa film ini ke hadapan dua ratus siswa SMK Putera Indonesia Malang. Beruntung mbak Wulan, salah satu teman FLP yang merasa bosan saat menonton film itu menyadari apa yang terjadi pada dirinya dan memberi saya beberapa masukan, yang sesuai dengan rencana-rencana saya.

Di depan para siswa, saya membuka acara dengan membangkitkan semangat dan antusias mereka. Saya mengajak mereka bersepakat bahwa sepanjang acara kita bersenang-senang dengan asyik. Sebelum mulai membicarakan film, saya membahas sedikit tentang sejarah dan makna peristiwa Sumpah Pemuda. Saya kaitkan ikrar Sumpah Pemuda dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Apa yang saya sampaikan tentang Sumpah Pemuda kepada para siswa adalah yang saya tulis di Malang Post tanggal 28 Oktober 2012, atau bisa dibaca di sini http://bit.ly/musuhbersamabangkitkansemangatsumpahpemuda .

Selanjutnya saya menjelaskan tentang latar belakang film ‘Invictus’. Saya jelaskan kepada mereka kelebihan-kelebihan film itu layaknya seorang penjual tiket nonton, atau penjual DVD yang mempromosikan film-film dagangannya.

Saya membagi film yang berdurasi sembilan puluh menit menjadi enam session. Tiap awal session saya menyampaikan beberapa pesan tentang adegan-adegan yang perlu lebih diperhatikan, karena setiap session berakhir saya akan menyampaikan tantangan berhadiah.
Sempat ada kendala saat pemutaran session kelima, sound system tiba-tiba tak bersuara. Cukup lama teknisi mengotak-atik perangkatnya, dan para siswa mulai gaduh. Terlihat beberapa siswa (sekitar sepuluh persen) mulai meninggalkan tempat. Karena saya tidak bisa mendapat kepastian perangkat pengeras suara bisa digunakan lagi atau tidak sedangkan waktu saya terbatas, saya pun menyampaikan tawaran kepada para siswa, sambil berteriak, untuk menghentikan pemutaran film dan langsung ke babak hadiah utama. Yang mengharukan adalah ternyata hampir semua siswa menghendaki film diteruskan, mereka bersedia menunggu. ALHAMDULILLAH film bisa dilanjutkan dengan menggunakan perangkat pengeras suara kecil, tidak ada rotan akar pun jadi.
Karena waktu sudah terpotong, session kelima sampai akhir saya jadikan satu.

Selesai pemutaran film, setelah membagikan hadiah-hadiah utama, saya mengajak para siswa membaca ikrar Sumpah Pemuda dan menyanyikan Indonesia Raya. Para siswa, yang mau bertahan selama empat jam dalam aula yang gerah karena kipas angin tidak bisa dinyalakan, dengan semangat bersama-sama berikrar Sumpah Pemuda dan bernyanyi  lagu kebangsaan. ALHAMDULILLAH, saya sangat bersyukur dan terharu.

Minggu, 25 November 2012

Menang Lomba Baca Syair Semarak Tahun Baru Hijriyah



Bulan Muharom

Syair karya Nur Muhammadian

Bulan Muharom...
Bulan pertama tahun Hijriyah
Bulan Muharom...
Adalah bulan qomariah
Bulan Muharom
Satu dari empat bulan mulia
Bulan Muharom
Bulan Rajab, bulan Dzulqo'dah, dan bulan Dzulhijah

Hari Asyuro
Hari ke sepuluh bulan muharom
Hari Asyuro
Hari diselamatkannya umat nabi Musa
Hari Asyuro
Disunahkan berpuasa



“Pak bikinkan puisi tentang tahun baru Hijriyah!” pinta Hanun setengah memerintah.
“Buat apa?”
“Untuk lomba syair di sekolahku”
“Kapan?”
“Tiga hari lagi…”
“#%&^*(&)*_)”

Sudah lama saya tidak menulis puisi, dan sekarang diminta membuat puisi yang akan dibaca dalam lomba, dalam waktu tiga hari. Yang lebih menantang lagi adalah bagaimana Hanun bisa menghafal dan berlatih membaca puisi dalam waktu tiga hari, itupun kalau puisinya segera jadi. Untunglah lomba syairnya berpasangan antara ibu dan anak.

Satu hari berlalu, dan ide puisi yang akan saya buat belum terlintas di benak saya, yang berarti kesempatan berlatih juga berkurang sehari. Berarti saya harus membuat puisi pendek sehingga mudah dan cepat dihafal Hanun dan ibunya.

Saya segera browsing, baca buku, mencari informasi segala hal tentang bulan Muharom, tentang tahun baru Hijriyah. Hikmahnya, saya jadi tahu bahwa bulan Muharom bukanlah bulan hijrahnya Rosululloh, tapi bulan pertama kali para sahabat mulai berhijrah ke Madinah. Sedangkan Rosululloh baru hijrah sebulan kemudian, tepatnya di bulan Safhar (mungkin karena itu namanya Safar=perjalanan).

Saya harus membuat puisi tentang keutamaan bulan Muharom, tidak terlalu panjang agar Hanun dan ibunya mudah menghafalkannya, dan harus dirancang membacanya bergantian antara Hanun dan ibunya. Maka jadilah puisi yang pendek sederhana itu.

Waktu saya tunjukkan ke Coqi untuk minta masukan, Coqi tertawa cekikikan.
“Ini puisi atau catatan kecil Pak?”
“Ya kalau terlalu panjang nanti adik dan ibu sulit menghafalnya. Tapi rimanya ada lho meski tidak sempurna…Coba perhatikan!”
“Iya sih…” Coqi masih menahan senyumnya.
“Coqi punya ide atau tambahan lagi?”
“Belum ada Pak…” Masih dengan senyum geli.

Dalam waktu satu setengah hari Hanun dan ibunya berlatih dengan bersungguh-sungguh membaca syair ‘Bulan Muharom’. Saya dan Coqi yang menilai penampilan mereka dan memberi beberapa saran gerakan atau intonasi suara. Hanun bertugas membaca baris yang pendek dan ibunya yang panjang. Saya menyampaikan ke mereka bahwa penilaian juri kemungkinan pada gaya bersyair dan kekompakan baik dari segi kostum maupun aksi panggung.

Pada hari perlombaan saya tidak bisa hadir menonton penampilan mereka. Selesai perlombaan, sesampai di rumah, Hanun dan ibunya melaporkan bahwa hanya mereka yang membaca syair tanpa text karena hafal.

Lima hari kemudian, agak lama karena terpotong hari libur panjang, pemenang lomba diumumkan. ALHAMDULILLAH Hanun dan ibunya berhasil memenangkan lomba, jadi juara pertama. Kemenangan ini adalah prestasi resmi pertama yang berhasil dicapai Hanun. Dia sangat senang, dipandangi terus pialanya. Dipajang pialanya di ruang tamu kami. “Adik menang karena ALLOH sayang kepada anak yang rajin dan mau berusaha dengan keras dan serius…” Saya jongkok di samping Hanun menemani memandangi piala yang diletakkan di meja ruang tamu.

Selasa, 20 November 2012

Hari Ulang Tahun Coqi Tidaklah Istimewa


Bulan November adalah bulan kelahiran Coqi. Di antara kami, di keluarga kecil kami, sudah ada pemahaman yang sama tentang ulang tahun. Mungkin Hanun yang baru berusia empat tahun yang belum benar-benar paham.

Dulu, tepatnya saya lupa, seperti anak-anak pada umumnya Coqi selalu minta hadiah di hari ulang tahunnya.
"Coqi senang dapat hadiah di hari ulang tahun?"
Coqi mengangguk tersenyum.
"Coqi senang gak kalau dapat hadiahnya lebih sering, tidak hanya setahun sekali?"
"Ya senang sekali Pak.."
"Pilih mana?...Coqi mendapat sesuatu saat Coqi membutuhkan, atau Coqi mendapatkannya setahun sekali, saat ulang tahun saja."
"Ya pilih yang pertama dong Pak..."
"Bersyukur, mensyukuri nikmat itu setiap hari atau sebulan sekali?"
"Ya setiap hari dong Pak..."
"Berdoa memohon perlindungan, keselamatan, kebahagiaan, itu tiap tahun atau tiap hari?"
"Ya tiap hari dong Pak.."
Sejak saat itu di antara kami hari ulang tahun bukanlah moment yang luar biasa, sama istimewanya dengan hari-hari lain. Kami pun terbiasa 'merayakan' ulang hari.

Sementara, masih dalam lingkungan keluarga kecil saya memahamkan tentang budaya 'merayakan' ulang hari lebih baik dari ulang tahun. Saya tidak bisa memaksakan kepada orang lain. Saya juga tidak akan menyalahkan orang yang mengistimewakan hari ulang tahun, bahkan pun bila mereka mengistimewakan hari ulang tahun saya, istri dan anak-anak. Seperti yang terjadi di bulan November ini, teman-teman Coqi sudah tahu hari ulang tahunnya dan minta Coqi merayakannya.

Saya bersyukur Coqi juga sudah paham tentang hidup efektif dan bahagia. Uang yang dia dapat dari nenek dan paman-bibinya dia gunakan untuk mentraktir teman-temannya sekelas. Bagi Coqi kebahagiaan adalah bila membahagiakan orang lain, dan kebersamaan lebih efektif membuat bahagia dibanding materi.

Saya dan ibunya tidak mengucapkan 'selamat ulang tahun' kepada Coqi. Kami hanya mengingatkan tentang masa yang sudah dia jalani, dan peningkatan-peningkatan yang seharusnya dia capai. Kami tidak mendoakan Coqi khusus di hari ulang tahunnya, karena kami mendoakannya setiap hari.

Minggu, 18 November 2012

Tanpa Kritik Mana Bisa Berkembang


Saat diminta mengisi materi pada sebuah forum saya selalu mengajak istri, meskipun karena kesibukan tugas sebagai ibu rumah tangga tidak selalu bisa memenuhi ajakan saya. Saya suka komentar atau kritik masukan dari istri tentang kualitas materi saya dan cara penyampaiannya. Sampai saat ini saya merasa baru istri  yang berani memberi kritik masukan tentang kualitas public speaking saya.

"Bapak tadi terlalu banyak menggunakan bahasa Jawa, terasa kurang profesional..."
"Bapak tadi terlalu kaku..."
"Bapak tadi kurang luwes..."

Begitulah komentar-komentar istri saya. Saya tidak pernah membantah komentar-komentarnya, hanya  minta penjelasan lebih detil dan minta solusi apa yang harus saya lakukan.

Beda jauh antara melontarkan celaan dengan kritik. Perbedaan terbesar adalah pada niat sang pelontar. Orang yang mencela berniat memuaskan diri sendiri dengan menjelekkan atau merendahkan orang yang dicela. Sedangkan orang yang memberi kritik berniat membantu yang dikritik menjadi lebih baik, meningkat kualitasnya.

Saya juga selalu minta masukan tentang tulisan fiksi saya kepada istri dan anak sulung saya. Sebagai anggota FLP Malang saya bersyukur punya teman-teman yang siap mengkritik tulisan-tulisan saya, atau bersedia mengedit naskah saya.

Saya yakin tanpa kritik  tidak akan pernah bisa meningkatkan kualitas diri. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang mendukung saya menjadi lebih baik, dengan memberi kritik.