Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Bullying - Tak Bisa Dilupakan tapi Harus Diikhlaskan

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang pendiam, jalannya lempeng dengan pandangan lurus ke depan, tidak melihat kanan-kiri? Orang yang tidak mau membalas senyum Anda, melengos, enggan menegur Anda saat bertemu. Saat Anda berusaha mengajaknya ngobrol dia hanya menjawab singkat, seakan berusaha secepatnya menyudahi obrolan, hanya memandang Anda sekilas.

Anda mungkin menganggap orang tersebut sombong, atau angkuh...

Sebenarnya dia sama sekali tidak sombong, justru sebaliknya. Dia sangat rendah diri.

Kesombongan yang terlihat hanyalah cara dia untuk menghadapi ketakutannya.

Dia tidak membalas senyum Anda karena ragu apakah senyum itu untuknya. Dia merasa tidak layak mendapatkan senyuman Anda, maupun dari semua orang. Dia takut dianggap ke-GR-an.

Dia enggan berkomunikasi dengan orang lain, meskipun sangat menginginkannya, karena merasa tidak pantas. Dia tidak tahu harus membicarakan apa dengan orang lain, selalu takut akan mengatakan hal-hal yang dianggap bodoh dan akan ditertawakan, atau sebaliknya, khawatir mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, atau kata-kata membosankan yang tidak menarik. Dia sendiri mudah tersinggung, seringkali merasa diejek atau jadi sasaran ejekan, padahal belum tentu juga dia yanng dituju, atau belum tentu kata-kata yang dia dengar adalah bermaksud mengejeknya. Pokoknya dia selalu berpikir negatif kepada orang lain.

Apakah karena dia intovert?

Hmmm...Dia suka berada di kerumunan orang banyak, meskipun berusaha tidak terlihat dan lebih suka diabaikan kehadirannya. Dia merasakan lebih bersemangat bersama banyak orang, dan merasa tertekan saat harus sendirian di suatu tempat. Ketika sedih atau galau dia akan keluar ke tempat-tempat umum, meskipun tidak berinteraksi dengan satu orang pun. Sepertinya ciri-ciri itu menunjukkan bahwa dia seorang extrovert, bukan introvert.

Mengapa dia bisa begitu?

Karena trauma masa lalu. Dia korban bullying. Perundungan.

Dia lahir dengan jidat keluar lebih dulu sehingga bentuk kepalanya jadi aneh. Peang. Seperti penderita hydrosefalus.

Sejak kecil dia sering diejek, atau dikomentari, atau menerima tatapan mata geli dari orang-orang yang heran melihat kepalanya yang aneh.

“Lihat anak itu...Kepalanya aneh...”

“Ndase koyok tempe...”

“Hey...Ndas gentong!!”

“Motone mendolo...”

Orang tua mengometari bentuk kepalanya yang aneh, anak-anak mentertawakannya. Banyak juga teman-teman sebaya yang mengganggunya secara fisik.

Bertahun-tahun dia merasakan itu. Sehingga membentuk mentalnya jadi sangat rendah diri. Begitu dahsyat pengaruh perundungan terhadap mentalnya.

Dia adalah saya. Korban perundungan di masa kecil, yang mampu memperbaiki diri.

Semua itu masa lalu. Perundungan itu saya alami saat kecil dan menjelang remaja. Namun dampaknya saya rasakan sampai dewasa. Entah kenapa, saya tidak pernah mengeluhkan yang saya rasakan kepada Bapak dan Ibu. Mungkin karena saya kasihan kepada mereka, sudah terlalu lelah bekerja. Saya telan sendiri semuanya.

Saya tidak menyesalinya, justru bersyukur terhadap segala apa yang pernah saya alami. Sekarang saya jadi lebih mempunyai empati terhadap para korban perundungan di masa kecil, karena mengalaminya sendiri. Empati itulah senjata utama saya untuk membantu mereka menjadi lebih baik dan bahagia. Mampu memandang masa depan dengan optimis, menjalani hidup dengan percaya diri.

Wahai para orang tua, jangan remehkan perundungan yang dialami anak-anak Anda. Sekecil apapun sangat menyakitkan bagi mereka. Melukai mental. Membekas. Mereka butuh tindakan khusus untuk menyembuhkan luka itu, serius.

Jangan minta anak-anak Anda melupakan perundungan yang mereka alami. Itu bukan solusi, justru berpotensi membebani jiwa mereka dalam alam bawah sadarnya. Luangkan waktu lebih banyak untuk mendampingi mereka, ajak bicara, dengarkan. Jangan terlalu banyak menceramahi mereka, jangan sok tahu perasaan mereka sebelum Anda mendengar lebih banyak.

Wahai para korban perundungan, jangan simpan luka Anda! Terima, bersihkan, dan ikhlaslah. Anda tidak perlu melupakan peristiwa itu, karena akan tetap jadi masa lalu Anda, selamanya. Terima saja, akui. Maafkan semua orang yang berkontribusi dalam perundungan itu, ikhlaskan. Memang berat, tapi hidup Anda jadi lebih berat jika tidak ikhlas.

Saya korban perundungan, sekarang saya bahagia. Kalau saya bisa, Anda pasti bisa. Saya siap membantu.

Rabu, 31 Agustus 2022

Pak Saelan - Sosok Umar Bakri

Saelan...Nama dalam satu kata. Kami memanggilnya Pak Saelan. Guru kami kelas enam di SDN Jemberkidul 1 (sekarang SDN Kepatihan 1), di Kabupaten Jember. Seingat saya, sejak saya masuk SD, Pak Saelan selalu menjadi guru kelas enam. Setelah saya lulus SD, saya tidak tahu apakah beliau tetap mengajar kelas enam atau sempat mengajar kelas lain.

Waktu masih kelas 5 saya sering mendengar rumor, dulu istilahnya pergunjingan, tentang beliau sebagai guru killer. Angker. Waktu itu saya takut membayangkan akan diajar beliau di kelas enam. Serem.

Saat kelas enam, diajar beliau, saya jadi bingung dan heran. Apanya yang killer...? Mananya yang angker..? Saya justru sangat menikmati cara beliau mengajar.

Sosok Inspiratif 

Beliau memang bukan guru yang ramah. Hampir tidak pernah senyum, apalagi tertawa. Disiplin waktu. Tiada hari tanpa ulangan. Namun saya rasakan keikhlasan yang sangat kuat dari sikap-sikapnya tersebut. Saya merasa bahagia di kelas beliau, dan saya yakin itu disebabkan pancaran gelombang kebahagiaan beliau, meskipun tanpa senyum.

Saya sangat terkesan pada cara beliau mengajar, metodenya unik. Mungkinkah saya terkesan karena waktu itu hampir selalu mendapatkan kepuasan meraih nilai tertinggi? Untuk setiap ulangan, setiap hari. Atau sebaliknya, keberhasilan meraih nilai tertinggi yang saya raih karena senang pada cara beliau mengajar, karena saya menikmati proses belajar?

Entahlah. 

Yang pasti sejak diajar beliau saya jadi bercita-cita jadi guru. Sejak itu saya jadi sering  membayangkan betapa bahagianya bila bisa berbagi ilmu kepada orang lain. Saya jadi sering membayangkan kebahagiaan jadi guru yang mencurahkan hidupnya untuk membimbing anak-anak, membantunya merajut masa depan. Sosok Pak Saelan yang menginspirasi cita-cita saya.

Sejak merasakan kelas Pak Saelan saya juga jadi suka mengamati cara mengajar guru. Seringkali saya membuat catatan tentang kelemahan-kelemahan metode pengajaran guru, dan membuat rekomendasi perbaikannya. Catatan pribadi, untuk kepentingan sendiri yang mungkin berguna ketika saya menjadi guru.

Namun sayangnya, Ibunda kurang setuju bila saya memilih profesi sebagai guru. Alasan utamanya adalah masalah ekonomi. Ibunda ragu seorang guru bisa cerah masa depannya. Saya patuh kepada Ibunda. Namun, meskipun tidak secara formal jadi guru, sampai sekarang saya selalu berusaha menggunakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan kebahagiaan dengan berbagi ilmu, membimbing orang lain menjadi lebih baik, lebih bahagia.

Sosok Umar Bakri

Bagi saya Pak Saelan adalah ‘Umar Bakri’ yang sebenarnya. Waktu mengajar kami dulu motor Pak Saelan sudah tua, butut. Motor Pak Saelan tidak bisa melewati genangan air, pasti mogok. Padahal kalau musim hujan jalanan di sekitar rumah beliau sering terendam air. Maka beliau pun berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda kumbang. 

Mendekati Ujian Nasional Pak Saelan memberi kami tambahan kelas di sore hari, les bimbingan belajar gratis. Di kota kami waktu itu seringkali hujan turun siang hari, dan ketika sore hujan reda. Bila siang hujan, sorenya Pak Saelan sering terlambat datang ke sekolah, karena harus mengayuh sepeda kumbang dari rumahnya yang lumayan jauh jaraknya dari sekolah. Kami yang sudah hadir semua dari halam sekolah akan memandangi datangnya Pak Saelan dengan sepeda kumbangnya. Mungkin beberapa orang teman ada yang memandang kedatangan Pak Saelan dengan perasaan kecewa karena les tidak jadi libur. Sedangkan saya saat itu, selalu memandang Pak Saelan di atas sepeda kumbangnya sebagai sosok Umar Bakri sejati, keren...Citra itu melekat dalam benak saya sampai saat ini.

Sosok Istimewa

Sampai saat ini Pak Saelan tidak tergantikan dalam benak saya. Sosok guru sederhana yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik. Saya sangat menghargai semua guru yang pernah mengajar saya. Saya yakin semua guru sudah ikhlas mengajar dan mendidik saya. Namun bagi saya Pak Saelan yang paling istimewa.

Pak Saelan manusia biasa, yang juga punya banyak kelemahan, kesalahan. Salah satunya adalah kebiasaan beliau merokok di dalam kelas. Beliau bisa menghabiskan berbatang-batang rokok setiap hari di dalam kelas. Kebiasaan yang saya benci. Saya sangat anti rokok, dan sulit untuk menghargai orang yang merokok di depan saya, bahkan kepada kerabat yang lebih tua sekalipun. Namun khusus untuk Pak Saelan saya bersikap beda. Saya tidak pernah mempermasalahkannya. 

Setiap kali mengenang Pak Saelan yang saya ingat adalah kesederhanaan dan komitmen mengajar yang tinggi. Semoga semua ilmu yang saya dapat dari beliau, inspirasi dan motivasi yang saya rasakan, menjadi amal jariyah untuk beliau. Pahala yang akan terus mengalir bagi beliau, sehingga membuat beliau mendapatkan kebahagiaan di alam kubur.


Sabtu, 28 Juni 2014

Coqi Mulai Suka dan Rajin Menulis

Saya suka menulis, sangat suka menulis. Impian saya adalah hidup dengan dan dari menulis.
Menulis adalah kegiatan yang murah, sederhana, dan banyak manfaatnya. Karena itu saya juga punya impian anak-anak saya juga suka menulis. Saya memang tidak boleh memaksa anak-anak untuk suka menulis, tapi saya akan melakukan berbagai upaya agar mereka jadi suka menulis.

Cara mendidik yang paling efektif adalah dengan contoh, teladan. Saya optimis bisa membuat anak-anak suka menulis karena saya sudah memberikan contoh. Setiap hari mereka melihat saya menulis.

Sejak bisa menulis Coqi Basil sudah saya kompori (meminjam istilah Pak Heri) agar mau dan suka menulis. Awalnya Coqi mencoba menulis cerpen anak karena tertarik setelah membaca buku-buku karya penulis anak dalam seri Kecil-kecil Punya Karya, tapi tidak pernah bisa selesai. Hanya satu atau dua paragraph saja yang berhasil dia tulis. Setelah mencoba beberapa kali dan tidak berhasil, Coqi berhenti berusaha menulis cerpen. Terakhir dia berusaha menulis kira-kira saat masih kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak itu dia tidak lagi mau membuat karya tulis, dan saya tidak mau memaksanya.

Mungkin saat itu saya dan Coqi keliru memahami, seperti para penulis pemula lainnya, bahwa karya tulis itu harus berjenis fiksi atau sastra. Tulisan nonfiksi kami anggap bukan karya tulis, dan Coqi merasa tidak nyaman menulis fiksi. Atau mungkin saat itu Coqi belum menemukan genre tulisan yang dia sukai.

Saat mulai sekolah di tingkat menengah pertama atau SMP, Coqi mulai menyadari minatnya di bidang komedi. Dalam setiap kesempatan dia melontarkan joke-joke original dan berhasil membuat orang-orang sekitarnya tertawa.

Coqi sangat berminat mempelajari stand up comedy. Setiap ada kesempatan browsing-surfing dia gunakan untuk mencari infomasi dan pengetahuan tentang Stand Up Comedy. Dia menemukan kesimpulan bahwa seorang Comic (sebutan untuk comedian Stand Up Comedy) yang baik harus sering menuliskan materi-materinya. Sejak itu dia selalu menulis dalam buku khusus setiap kali menemukan ide materi. Dan sejak itu pula dia rajin mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan komedi.

Tulisan Coqi dalam blog-nya tidak sebagus tulisan Raditya Dika, Solih Solihun, atau penulis buku lainnya, tapi saya sangat bangga. Saya bangga Coqi sudah suka dan rajin menulis. Saya yakin cepat atau lambat, bila dia konsisten dan istiqomah menulis, kualitas tulisannya akan semakin baik.


Silakan kunjungi Blog-nya http://blackbazil.blogspot.com

Minggu, 25 Mei 2014

Manfaat Gadget bagi Hanun?

Dalam tulisan sebelumnya (Manfaat Gadget bagi Coqi?) saya ‘tersengat’ ketika harus menjawab kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Saya menyadari bahwa ternyata sikap kami sebagai orang tua Coqi dan Hanun masih kurang tegas. Kami masih mengizinkan, bahkan sering membiarkan dalam waktu lama, Hanun memainkan gadget.

Bila Coqi sudah bisa mendapatkan manfaat dari gadget, untuk menulis melalui laptop, maka Hanun hanya bisa menggunakan gadget untuk bermain game, hanya untuk main game. Sebenarnya saya dan istri tidak memiliki gadget yang berisi game yang menarik, bahkan di smartphone kami tidak ada game yang bisa dimainkan, tetapi saat bertemu saudara-saudara sepupunya atau Om dan Tantenya Hanun kerap memainkan gadget mereka yang berisi permainan-permainan menarik.

Sejak menerima ‘kuisioner gadget’ itu saya berpikir panjang tentang manfaat gadget, termasuk game/permainan di dalamnya, bagi Hanun. Semakin panjang saya berpikir, semakin saya menemukan bahwa gadget tidak memiliki manfaat bagi Hanun kecuali untuk sarana komunikasi.

Mungkin ada orang, mungkin juga pakar/peneliti, yang berpendapat bahwa game atau permainan dalam gadget bisa memicu peningkatan IQ anak. Mungkin mereka benar memang ada manfaatnya, tapi lebih besar mana dengan dampak negatifnya? Permainan dalam gadget mungkin bisa meningkatkan kecerdasan intelektual, bagaimana dengan kecerdasan sosialnya? Kecerdasan emosionalnya? Kecerdasan spiritualnya?

Sebagai orang tua saya ingin Hanun menjadi pribadi yang bahagia dan membahagiakan, dan saya yakin itu tidak hanya ditopang kecerdasan intelektual semata. Bahkan lebih banyak orang bahagia yang memiliki IQ sedang tetapi EQ dan SQ-nya tinggi dibanding sebaliknya. Saya sangat tidak ingin Hanun menjadi orang yang update dalam hal technology (tidak gaptek) tapi gagap pergaulan atau gagap sosial.

Saya tidak tahu apakah para pakar dan peneliti yang berpendapat bahwa permainan game dalam gadget bisa meningkatkan IQ juga sudah melakukan penelitian pada permainan tradisional. Apakah mereka pernah melakukan penelitian pada permainan bekel, dakon, bentengan, gobak sodor?


Beberapa hari setelah menerima ‘kuisioner gadget’ saya membelikan Hanun seperangkat bekel dan dakon. Saya bukan peneliti, saya tidak punya ilmu dasar-dasar penelitian, tetapi saat melihat Hanun belajar memainkan bekel-nya saya lihat dia melatih syaraf motorik, menghitung, mengingat, kejujuran, dan berbagi, yang tidak mungkin didapat saat memainkan game dalam gadget

Manfaat Gadget bagi Coqi?

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Pertanyaannya hanya lima, tapi pada pertanyaan ketiga saya terhenti karena kesulitan menjawab.

Pertanyaan pertama : “Mulai usia berapa ananda diperkenankan memegang gadget?”

Saya menjawab tiga tahun. Saat menjawab pertanyaan pertama ini, sebelum membaca pertanyaan berikutnya perasaan saya sudah tidak enak. Dan benar, pertanyaan kedua sangat sulit dijawab.

Pertanyaan kedua : “Apa tujuan Ayah/Bunda memperkenankan ananda memegang gadget?”

Pikiran saya campur aduk karena tersadar bahwa selama ini banyak sikap kami mendidik Hanun yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Saya berusaha berpikir, mencari jawaban yang jujur dan pantas untuk pertanyaan kedua ini. Akhirnya saya menuliskan jawaban :”sekedar memperkenalkan teknologi”

Pertanyaan ketiga : “Manfaat apa yang didapat ananda dari gadget?”

Pertanyaan ketiga ini tampak pendek, tapi bagi saya terasa panjang. Bagi saya makna sebenarnya dari pertanyaan ini adalah “Manfaat apa yang bisa diberikan gadget kepada ananda yang tidak bisa diberikan oleh benda lain, yang benar-benar penting dalam proses tumbuh kembang ananda secara fisik, mental, dan sosial”
Saya benar-benar tidak mampu menemukan jawaban pertanyaan ketiga ini, maka saya tulis “nihil”.

Saya berhenti berusaha menjawab kuisioner, dan mulai berusaha berpikir untuk introspeksi tentang sikap-sikap kami dalam mendidik anak-anak. Saya teringat sempat merasa kasihan kepada Coqi dan Hanun, saat berkumpul dengan saudara-saudara sepupu mereka yang memegang gadget canggih masing-masing, Coqi dan Hanun hanya memandang dan berusaha meminjam dengan wajah melas. Saya sempat bimbang apakah langkah kami tidak membelikan gadget untuk anak-anak itu benar. Karena itu meskipun Coqi dan Hanun tidak memiliki gadget, mereka sering saya biarkan memainkan gadget milik saya atau ibunya. Setelah membaca kuisioner saya semakin mantap untuk membatasi Coqi dan Hanun memainkan gadget.

Coqi sudah punya laptop sendiri yang dia beli menggunakan uang tabungan hasil mengumpulkan uang beasiswa saat dia SD. Kami memberlakukan aturan bahwa belajar dan mengoperasikan computer/laptop harus dilakukan di ruang belajar bersama sehingga bisa saling tahu apa yang dilakukan masing-masing. Saya akan tahu apa yang dilakukan Coqi dengan laptopnya, kecuali dia sendirian di ruang belajar, sebaliknya Coqi akan selalu tahu apa yang saya lakukan dengan laptop saya. Dengan cara ini, selain untuk fungsi pengawasan, saya bisa memotivasi Coqi untuk menulis. Bukankah pendidikan yang terbaik itu dengan teladan? ALHAMDULILLAH Coqi sudah mulai aktif menulis di blog-nya http://blackbazil.blogspot.com.

Coqi sudah menyampaikan permohonan izin membeli smartphone dengan menggunakan uang tabungannya. Saya mengizinkan dengan syarat nilai hasil Ujian Nasional SMP memuaskan, dan kelak tidak dibawa ke sekolah. Saya mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat SMA karena saya merasakan ada manfaat baginya. Coqi yang bercita-cita menjadi journalist saat ini sering meminjam smartphone milik ibunya untuk searching informasi bahan tulisan (Coqi punya kebiasaan menulis secara manual bahan tulisannya di buku sebelum diketik). Dia bilang lebih praktis menggunakan smartphone dibanding laptop untuk mencari data dengan cepat. “Kalau pakai laptop itu aku khan harus menunggu saat loading awal, loading membuka aplikasi internet, keburu hilang ideku Pak…” Seandainya saya tidak melihat manfaat itu saya mungkin baru mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat lulus SMA.


Bagaimana dengan Hanun? Akan saya bahas pada tulisan berikutnya.

Kamis, 17 April 2014

[Anak Bermasalah 2] Anak adalah Akibat Orang Tuanya

Seorang ibu muda mengeluhkan anaknya yang 'speech delay'. Dia bahkan berani bayar berapapun untuk sesi terapi anaknya.

Alih-alih menerapi anaknya, saya malah mengajak ibu tersebut ngobrol tentang dirinya.
"Ibu bekerja?"
"Iya Pak...Saya berwirausaha..."
"Jam berapa Ibu sampai rumah?"
"Saya sampai rumah menjelang Ashar Pak"
"Capek Bu?"
"Iya Pak..."
"Apa yang Ibu lakukan saat capek di rumah, selain tidur?"
"Saya itu suka menggambar Pak..."
"Wah asik juga Bu...Dengan menggambar bisa menghilangkan capek? Wah sangat produktif kalau begitu..."
"Iya Pak...Wah kalau sedang asyik menggambar saya gak mau diganggu Pak...Biasanya saya malah jadi emosi kalau saat menggambar ada yang berisik. Saya merasa relax dan bebas saat sedang menggambar..."
(Obrolan terus berlanjut...)

Dari sekilas obrolan tersebut Anda pasti sudah bisa menebak apa yang akan saya sampaikan kepada ibu muda tersebut tentang masalah anaknya. Seperti biasa saya tidak menyampaikan pesan-pesan nasihat, tetapi beberapa pertanyaan yang harus dijawab Ibu muda tersebut. Kira-kira pertanyaan seperti apa yang saya sampaikan?

Pertanyaan bagi Anda : menggambar itu perbuatan baik atau buruk? Apa hubungan antara menggambar dengan ‘speech delay’?

Menggambar adalah suatu kebaikan. Melakukan sesuatu kebaikan untuk menyenangkan diri adalah perbuatan mulia. Tapi harus disadari bahwa sebagai  orang tua, menjadi ayah atau ibu, pasti memiliki amanah dan tanggung jawab lebih, lebih dan sangat besar. Jangankan menggambar, orang tua yang  tidak berbuat apa-apa bisa berakibat buruk sangat besar bagi anak-anaknya.


Anak adalah akibat orang tuanya. Bila Anda belum punya anak, segala perilaku Anda hanya akan ditanggung sendiri. Anda bebas berbuat sesuatu, apalagi suatu kebaikan.  
Tetapi saat Anda punya anak, maka semua anak Anda akan 'menikmati' akibat yang Anda sebabkan meskipun itu bukan kejahatan. Selalu pikirkan akibat yang akan ditanggung anak sebelum berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. Kebaikan bagi Anda belum tentu membawa akibat kebaikan bagi Anak Anda.


Waspadalah dan segera berubah, atau Anda harus siap  kecewa melihat Anak Anda.

Kamis, 20 Maret 2014

8 Rahasia Sukses Ujian Nasional, Ebook dan Slide Gratis


Pada bulan Maret dua tahun lalu saya meluncurkan Ebook gratis "8 Rahasia Sukses Ujian Nasional" (8RSUN). Banyak yang mengunduh Ebook tersebut melalui Pustaka Ebook  : http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional. Banyak pula yang ikut menyebarkan Ebook tersebut melalui blog-nya masing-masing, sehingga saya tidak lagi bisa mendeteksi berapa kali Ebook tersebut diunduh, karena hanya di Pustaka Ebook yang ada deteksi pengunduhnya.


Sejak itu saya juga sering diundang untuk memberi seminar motivasi dengan tema yang sama. Awalnya saya membawakan seminar ini tanpa slide, sampai beberapa hari lalu.

Saya sering berbagi slide pelatihan di Slideshare.net/nurmuhammadian. Hampir seluruh materi pelatihan saya unggah di slideshare.net/nurmuhammadian. Banyak yang view slide saya, ada juga yang mengunduhnya.

Beberapa bulan lalu saya membuat slide tentang 8RSUN tapi hanya sebagai preview, sekedar promo untuk ebook-nya, agar lebih banyak orang yang mengunduh ebooknya dan mendapatkan manfaat. Ternyata banyak juga yang justru mengunduh slide preview tersebut. Saya agak bingung, apa manfaatnya mengunduh slide preview, sekaligus merasa terpanggil untuk segera membuat slide seminar keseluruhannya agar lebih besar manfaatnya.

ALHAMDULILLAH, beberapa hari yang lalu saya bisa merampungkan slide seminar 8RSUN dan langsung saya unggah di http://www.slideshare.net/nurmuhammadian/8-rahasia-sukses-ujian-nasional-slide. Silakan siapapun yang membutuhkannya untuk mengunduhnya, khususnya orang tua atau guru yang sedang mengantar anak-anaknya mengikuti ujian nasional. Mungkin lebih bermanfaat bila orang tua atau guru mengunduh ebook dan membacanya dulu, baru kemudian membawakan materi 8RSUN di depan anak-anak menggunakan slidenya.

Sementara saya tetap siap bila ada yang mengundang untuk membawakan materi 8RSUN ini dalam format seminar atau mini workshop, silakan hubungi saya di 081 555 88 2600 atau 081 335 088 305.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 15 Maret 2014

Bisakah Anda Memilih?

Berdasarkan beberapa tulisan saya akhir-akhir ini ada yang menganggap saya masuk golongan putih (golput), dan saya bersyukur daripada dianggap sebagai golongan hitam. Padahal PEMILU belum lagi terlaksana, sudah banyak caleg yang merasa berhak menilai jelek calon-calon rakyat yang akan diwakilinya.

Semua politikus punya jargon yang sama "Golput bukan solusi", dan ada kesangsian dari para apatist "Apakah memilih bisa memperbaiki negeri?", sedangkan  para optimist berpikir “Selalu ada harapan, dan pasti ada jalan…lain”


Entahlah...Yang jelas saya sendiri punya pilihan sikap, dan harus bertanggungjawab pada pilihan saya sendiri, apapun itu.

Semua orang berhak memilih, termasuk Anda wahai para caleg yang merasa berhak mewakili saya.
Tolong Anda pilihkan sikap bagaimana yang harus saya pilih :

1. Saya memilih, tapi saya memilih caleg dari partai lain karena saya anggap dia lebih baik dari Anda. Kemudian saya memuji-muji dia dan menjelek-jelekkan Anda karena dengan cara itu pilihan saya punya kesempatan terpilih lebih besar dari Anda.

2. Saya tidak memilih siapapun (silakan bila Anda mengganggap saya sebagai golput), karena saya menyayangi semua caleg. Saya akan sering  dengan santun menegur Anda dan caleg-caleg lain bila saya anggap ada yang tidak tepat. Siapapun yang terpilih adalah wakil saya sebagai rakyat, meskipun saya tidak ikut memilih karena gaji Anda toh diambil dari pajak yang saya bayarkan. Karena itu saya harus bekerja keras agar semakin besar pajak yang bisa saya bayarkan, untuk pembangunan negeri dan membiayai sidang-sidang parlemen. Rumah saya selalu terbuka bagi semua caleg dari partai apapun bila memang ada yang berkenan mendapatkan masukan-masukan dari saya, sehingga lima tahun lagi mungkin saya punya caleg yang layak untuk saya pilih karena selama lima tahun peduli dan benar-benar memperjuangkan suara saya dan rakyat lain.

3. Saya memilih Anda, kemudian tidak peduli dengan yang Anda lakukan, karena memang Anda tidak lagi butuh aspirasi saya seperti yang terjadi selama ini. Bila pun Anda mengundang saya dalam sebuah pertemuan-pertemuan resmi yang Anda sebut 'penyerapan aspirasi', ternyata hanya sebuah formalitas administrasi untuk mencairkan dana 'penyerapan aspirasi' atau dana-dana lain, tidak lebih. Karena setelah pertemuan itu Anda tidak pernah mengabarkan kepada saya bagaimana progres perjuangan Anda membawa aspirasi saya. Anda juga tidak pernah memberi saya  informasi tentang apa-apa saja yang Anda lakukan selayaknya seorang wakil kepada orang yang diwakili, yang menggunakan dana sebagian pajak saya yang sangat kecil.

Bisakah Anda memilih?
Mungkin Anda berkata “Wah tiga-tiganya gak ada yang bagus untuk dipilih…”
Maka saya akan menjawab menggunakan kata-kata Anda sendiri “Pilihlah yang terbaik dari yang tidak bagus, karena tidak memilih bukanlah solusi”.

Apapun pilihan Anda adalah cerminan diri Anda sebagaimana pilihan sikap saya terhadap PEMILU.

Rabu, 12 Maret 2014

Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik (3 Alasan Saya Pensiun Dini 1)

“Apa yang kamu cari Dian?”

Pertanyaan itu mungkin yang sering muncul di kepala saya baik yang bersumber dari eksternal maupun internal, saat saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempat saya bekerja. Dan Alhamdulillah saya punya segudang alasan untuk menjawabnya. Saya akan menuliskan tiga alasan yang paling tidak klise. Saya punya alasan tentang mengejar impian, membuat lapangan pekerjaan, membantu orang lain, dan alasan-alasan mainstream lainnya, tapi yang akan saya tulis adalah yang spesifik ada dalam kepala saya.

Alasan #1 : Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik

Di perusahaan tempat saya bekerja ada dua jenis karyawan, karyawan tetap dan karyawan kontrak. Selama enam belas tahun bekerja saya sudah merasakan puluhan kali kesedihan melihat teman-teman terbaik saya diberhentikan bekerja karena selesai masa kontraknya. Awal-awal dulu saya memberi semangat mereka dengan mengatakan bahwa masih banyak peluang kerja di perusahaan lain. Tetapi dengan berjalannya waktu saya mendapati bahwa teman-teman yang berpindah ke perusahaan lain tidak bernasib lebih baik daripada sebelumnya. Banyak perusahaan yang menerapkan aturan ke-sdm-an yang sama, tentang aturan tenaga kontrak dan batasan usianya. Sehingga pada tahun-tahun terakhir saya tidak lagi memberi mereka saran untuk berpindah ke perusahaan lain. Secara usia mereka juga sudah tidak masuk criteria karyawan baru di level mereka.

Saya melihat bahwa peluang terbaik bagi mereka adalah berwirausaha. Yang terbaik bagi mereka, saya tidak melihat ada yang lebih baik.

Dan luar biasa…Hampir tidak ada teman yang mau mengikuti saran saya. Tidak ada seorangpun yang percaya dengan betapa besarnya peluang sukses berwirausaha.

Kenapa saran saya tidak mereka lakukan? Kenapa mereka tidak percaya pada apa yang saya sampaikan?

KARENA SAYA SENDIRI BELUM MELAKUKAN.


Tidak ada cara untuk membuat orang lain percaya bahwa berwirausaha adalah pilihan terbaik, selain saya harus melakukannya dulu, segera!

Selasa, 11 Maret 2014

Pilihan Coqi (Cita-cita Coqi)

Saya sangat setuju bahwa pendidikan itu sangat penting, bahkan sampai akhir hayat. Untuk sahabat-sahabat yang sudah berusia lanjut justru harus semakin banyak belajar karena zaman terus berubah dan Anda diberi kelebihan usia untuk dimanfaatkan di zaman ini, bukan zaman dulu.

Tapi saya berpendapat menuntut ilmu tidak harus di jalur umum (baca : formal), karena ilmu itu dicari untuk diamalkan dan dimanfaatkan, bukan sekedar gelar administrasi, kecuali bila memang gelar administrasi itu dibutuhkan untuk peningkatan jenjang karir. 
Bila menuntut ilmu hanya melalui jalur umum  maka setelah memiliki gelar akademik orang akan berhenti melakukannya. Tidak ada seorang pun yang berani sesumbar  bahwa gelar akademik bisa menjamin hidup jadi sukses. Pun tidak ada seorang pun yang berani bertaruh bahwa tanpa gelar akademik, tanpa ijazah, orang tak bisa sukses.

Saya dan istri sangat menyadari itu, dan kami terapkan dalam pola didik ke Coqi. Kami tidak ingin Coqi memilih jalur pendidikan tanpa tujuan yang jelas, asal pilih atau asal ikut.Saat ini Coqi sedang bersiap menghadapi Ujian Nasional SMP. Kami memberinya beberapa pilihan jalur setelah lulus SMP : masuk SMA, SMK, Pondok Pesantren, atau tidak semuanya alias Home Schooling. Kami beri dia kebebasan memilih, dan kami dukung maksimal pilihannya bila dia bisa memberikan alasan yang tepat. Tapi bila ternyata alasannya kurang kuat sehingga argumennya bisa saya patahkan maka dia harus mengubah pilihannya.

“Aku masuk SMA aja Pak…”

“Kenapa bukan SMK, Pesantren , atau Home  Schooling aja??” Saya sudah menyiapkan segala jurus untuk mematahkan argument dia. Saya berasumsi  Coqi memilih SMA tanpa memiliki alasan yang kuat, hanya karena kebanyakan teman-temannya memilih itu, ternyata asumsi saya salah.

“Aku ingin jadi journalist dan comedian Pak…Aku butuh masyarakat majemuk untuk latihan. SMA adalah sekolah yang paling majemuk dibanding SMK dan Ponpes apalagi Home Schooling” Coqi hanya menyampaikan tiga kalimat dan saya tidak punya satu kalimat pun untuk mematahkan argumennya. Saya kalah dan bangga dengan kondisi kekalahan saya. Ternyata anak lelaki saya yang beranjak remaja sudah memikirkan manfaat dari pilihannya.


Sekali lagi saya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berharap Coqi mendapat penataan langsung dari NYA.

Senin, 10 Maret 2014

Cita-cita Coqi

“Piye toh Coq orang ini…Bisa-bisanya dia minta didukung di PEMILU agar bisa melakukan perubahan…Jelas-jelas partainya adalah tiga partai terbesar perolehan suaranya di PEMILU lalu, dan lima tahun ini partainya tidak berbuat yang significant untuk rakyat, malah alegnya banyak yang korupsi. Kok gak malu minta dipilih lagi…!?!?” Saya mengomentari  pidato politik seorang tokoh partai dalam promonya di televisi.

“Hehehehe iya Pak…Nggak lucu…” Coqi terkekeh mendengar  gerutuan saya.

“Politikus itu memang pelawak-pelawak yang gak lucu Coq…”

Coqi  tertarik pada politik sejak usia lima tahun, sejak dia mulai belajar membaca. Saat itu memang sedang puncak pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya. Mungkin Coqi tertarik dengan bertebarannya banner kampanye calon presiden. Di usianya yang sangat muda itu Coqi sudah sangat antusias mengikuti berita politik baik dengan membaca media cetak maupun menonton televisi. Saat itu, dengan gaya khas anak-anak, dia sudah bisa menganalisa para calon presiden dan partai-partainya. Coqi pun bercita-cita menjadi  presiden.

Pernah saat  di sekolahnya disuruh gurunya membuat kreasi bentuk tertentu, sementara teman-temannya membuat bentuk benda-benda yang nyata seperti rumah, pesawat, mobil dan lain-lain, Coqi membuat bentuk yang absurd dan menyebutnya sebagai kursi DPR. Pada usia sembilan tahun Coqi menyumbangkan uang tabungannya  untuk dana kampanye salah satu calon Walikota Malang yang dia sukai.

Bersama dengan berjalannya waktu, Coqi semakin dewasa, minat mengamati politik tidak berkurang tetapi cita-citanya berubah. “Nggak jadi dech Pak…Presiden itu amanatnya sangat besar, terlalu berat”

Saat ini Coqi menemukan sendiri bahwa dia sangat berminat menjadi journalist dan comedian, dan memang sikapnya menunjukkan itu. Saat saya mengambil raport kenaikan kelas, wali kelasnya menyampaikan bahwa Coqi suka menghibur guru dan teman-temannya dengan banyolan-banyolannya. Bila tertarik pada sesuatu, seperti film atau berita tertentu, maka Coqi akan segera melakukan penggalian data sebanyak-banyaknya. Sambil menonton siaran ulang acara penganugerahan piala Oscar, Coqi mampu menjelaskan tentang  film  dan actor- actress  yang mendapatkan piala Oscar cukup detil.

Sejak  SD Coqi selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba pidato agama. Coqi selalu menang di tingkat kecamatan tapi tidak pernah menang di tingkat kota. Menurut analisa gurunya hal itu disebabkan  Coqi menolak memasukkan banyak unsur-unsur banyolan dalam pidato-ceramahnya, sedangkan juri-juri lomba pidato tingkat kota sangat apresiatif pada pidato yang kocak atau lucu.

“Daripada ceramah berisi banyolan mending sekalian aku melawak tapi berisi pesan-pesan moral Pak….!”

Sampai sekarang Coqi masih suka berdiskusi tentang politik, meskipun tidak lagi berminat terjun ke dalamnya. Saya belum mendengar secara verbal, tapi saya yakin dalam hatinya Coqi punya pernyataan :

“Daripada jadi politikus yang omongannya seperti  lawakan yang tidak lucu, mending  jadi  pelawak yang menghibur dan mencerdaskan penontonnya”


Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk Coqi, doa seorang bapak yang memasrahkan masa depan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.

Selasa, 21 Januari 2014

Menikmati Toleransi

Dalam ajaran agama saya ada larangan makan sambil berdiri. Saya sangat yakin dan berusaha menghindari larangan tersebut. Kami juga diwajibkan makan menggunakan tangan kanan.
Sementara di Indonesia, tradisi yang berkembang adalah Standing Party, yang merupakan tradisi adopsi dari budaya bangsa 'barat'. Saat ini sangat jarang pesta pernikahan yang menyediakan cukup kursi untuk makan sambil duduk.

Ketika saya menghadiri suatu undangan pernikahan, saya harus menghormati pihak pengundang dengan berusaha menghadiri undangannya, bagaimanapun acaranya. Saya yakin pihak pengundang, apapun agamanya, tahu agama saya dan pasti sudah menyediakan fasilitas sesuai aturan agama saya. Bila pun  ternyata dalam acara pesta pernikahan tersebut ada hal-hal yang tidak sesuai ajaran agama yang saya anut, saya hanya perlu tersenyum mengucapkan selamat kepada mempelai dan segera meninggalkan tempat dengan sikap santun. Inilah toleransi.



Saat menikmati makanan di acara Standing Party saya harus mencari tempat duduk agar bisa makan sambil duduk. Saya bisa cukup lama berdiri menunggu untuk bergantian duduk, karena kursi yang tersedia sangat terbatas jumlahnya dibanding jumlah undangan. Bahkan bila tidak sabar menunggu, saya makan sambil jongkok di pojok ruangan. Jadi bila Anda dalam sebuah pestas resepsi pernikahan melihat ada orang mengenakan setelan jas lengkap dan makan sambil jongkok, mungkin Anda sedang melihat saya.



ilustrasi dari rinaldimunir.wordpress.com

Bagi saya aturan yang menjadi prioritas utama untuk dipatuhi adalah ajaran agama. Saya wajib meninggalkan semua hal yang dilarang dalam agama, kecuali keadaan genting darurat. Menurut saya larangan makan sambil berdiri adalah mutlak, selama saya bisa melakukannya sambil duduk, kapanpun dan di manapun. Sementara ada orang yang menganut agama sama dengan saya beranggapan bahwa suatu acara standing party adalah kondisi darurat sehingga boleh makan sambil berdiri. Saya tidak pernah berniat memperdebatkan perbedaan ini dengan mereka, saya menghargai pendapat mereka. Saya akan menikmati makanan sambil jongkok dan tak perlu memandang sinis orang-orang yang makan sambil berdiri, sehingga saya benar-benar merasakan nikmatnya beraneka ragam makanan yang dihidangkan. Inilah nikmatnya toleransi.

Toleransi tidak selalu terjadi pada agama yang berbeda, dalam agama yang sama pun dibutuhkan toleransi terhadap perbedaan pendapat.Toleransi adalah sikap menghargai pendapat yang berbeda, dengat tetap memegang teguh keyakinan pendapat kita sendiri. Toleransi bukanlah proses asimilasi pendapat yang berbeda , atau bukanlah rekonsiliasi  perbedaan pendapat. Saya tidak perlu makan sambil berdiri untuk menghargai orang yang makan sambil berdiri, begitu pula sebaliknya. Mereka tidak perlu makan sambil jongkok menemani saya.

Saya tidak akan mencap kafir orang-orang yang makan menggunakan tangan kiri. Mungkin, pada moment yang tepat, dengan cara yang baik, saya akan mengingatkan tentang perintah makan menggunakan tangan kanan.
Saya juga tidak perlu mengucapkan “Selamat menikmati makan menggunakan tangan kiri” hanya untuk menunjukkan toleransi saya, tapi saya juga tidak akan menyalahkan orang yang berpendapat ucapan itu sebagai syarat toleransi.

Saya akan tetap makan dengan nikmat menggunakan tangan kanan sambil duduk atau jongkok meskipun semua orang di sekeliling saya makan menggunakan tangan kiri sambil berdiri. Saya tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan mereka, dan mereka tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan saya, itulah nikmatnya toleransi.

Kamis, 03 Oktober 2013

[Anak Bermasalah 1] Orang Tua Harus Mau Berubah

Beberapa malam yang lalu saya menerima tamu, sepasang suami-istri atau lebih tepatnya sepasang ayah-bunda. Sebelum datang sang Ayah sebenarnya sudah menghubungi saya melalui Blackberry Message, secara singkat menyampaikan tentang keinginan mereka untuk bertemu saya dan konsultasi masalah anak mereka. Kami sepakat pada pertemuan pertama sang anak tidak perlu diajak.

Berdasarkan pengalaman menangani masalah anak, memang hampir 90% masalah yang terjadi ternyata bersumber dari orang tua, sehingga saat kedua orang tua bersedia berubah maka masalah pada anak terselesaikan dengan sendirinya.

Pada pertemuan malam itu, setelah mereka menyampaikan masalah anak mereka, ada satu pernyataan mereka yang membuat saya terkesan dan menilai mereka adalah orang tua yang luar biasa. Mereka menyatakan, yang diwakili dinyatakan oleh sang Ayah :" Apa yang salah dari kami Pak? Perubahan apa yang harus kami lakukan?". Bagi saya pernyataan itu suatu tanda bahwa sebenarnya tidak ada masalah krusial pada anak mereka, bahkan pada keluarga kecil mereka. Bila pun mereka merasa ada yang harus dibenahi, saya yakin dalam waktu cepat bisa berubah jadi lebih baik.
Ayah-Bunda tamu saya ini menunjukkan kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk berubah, dan itu adalah lebih dari separuh penyelesaian masalah.

Sangat banyak terjadi pada pasangan Ayah-Bunda lain, yang sebagian juga melakukan konsultasi dengan saya, yang menganggap anaknya bermasalah tapi tidak mau mengakui bahwa mereka lah yang harus berubah terlebih dahulu.

"Pak...Anak saya itu maunya sendiri, sering membantah kalau dikasih tahu...! Tolong terapi dia Pak..."
"Saya sudah melakukan segala yang dia mau, tapi dia semakin ngelunjak...Nyerah saya..."

Banyak orang tua yang menganggap anak mereka bermasalah, tapi mereka merasa sudah memperlakukan anak mereka dengan benar. Tugas terberat saya adalah membuat mereka sadar bahwa mereka harus berubah terlebih dahulu bila menginginkan anak mereka berubah, nyaris tidak ada cara lain.

Kamis, 27 Juni 2013

Menasihati Diri Sendiri

Saya tergelitik membaca status Facebook seorang sahabat. Dia menyatakan bahwa status facebook yang berisi motivasi atau nasihat kemungkinan besar menandakan sang pemilik status-lah yang membutuhkan motivasi dan nasihat. Saya se-juta-tuju dengan pernyataannya, karena saya melakukannya.

Saya suka menuliskan nasihat-nasihat untuk saya sendiri dalam status Facebook, dan menurut saya sangatlah bermanfaat. Saat merasa ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dibenahi, harus segera diubah atau untuk mengingatkan diri sendiri, saya menulis nasihat untuk saya sendiri dalam status. Nasihat untuk diri sendiri yang dituliskan dalam status Facebook bagaikan deklarasi perubahan. Karena saya menuliskannya di media sosial yang bisa dibaca publik, maka saya wajib mempertanggungjawabkannya. Saya harus benar-benar menjalankan apa yang saya tulis, dan itu benar-benar untuk kebaikan saya sendiri. Seandainya ada pembaca status saya yang mengalami kondisi yang sama dan mendapatkan manfaat dari nasihat itu, maka segala puji bagi ALLOH.


Saat merasakan kualitas tindakan menurun, saya menasihati diri untuk segera melakukan perbaikan. Saat mendapatkan kebaikan, saya menasihati diri untuk memperbanyak syukur dan bertindak lebih banyak dan lebih baik lagi. Saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, saya mengingatkan diri bahwa itu hanyalah umpan balik untuk memperbaiki proses.

Nasihat dari diri sendiri lebih mudah dilaksanakan karena berdasarkan nilai-nilai yang sudah saya yakini. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan saya sendiri yang tahu kemampuan diri sendiri.


Saya berusaha sesering mungkin menasehati diri sendiri karena saya ingin selalu berubah menjadi lebih baik. Semakin sering saya menasihati diri sendiri, semakin besar komitmen saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Sabtu, 04 Mei 2013

Televisi oh Televisi


Saya dan istri menyadari bahwa sedikit sekali manfaat yang bisa didapat dari televisi, tetapi kami mengakui meskipun sedikit masih ada manfaatnya sehingga masih mempertahankannya di rumah kami. Saya sendiri sangat jarang sempat meluangkan waktu menonton acara televisi. Sebelum kakak ipar mengirimi kami televisi dua puluh inch, kami hanya memiliki televisi empat belas inch yang kami beli lima belas tahun lalu. Kami tidak bisa menolak pemberian kakak ipar.

gambar dari depositphotos.com 

Dulu saya sempat berniat menghilangkan televisi dari rumah kami, karena mengkhawatirkan anak-anak. Saat itu kedua anak kami banyak menghabiskan waktu di depan televisi, sehingga saya merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka, tapi saya tidak mungkin melarang mereka tiba-tiba tanpa alasan. Saya tidak ingin anak-anak merasa 'terpaksa' tidak menonton televisi, bukan dari kesadaran diri.
Hingga akhirnya suatu ketika kedua anak kami bertengkar berebut acara televisi. Saya merasa menemukan moment yang bagus untuk melakukan perubahan.  Saya cabut kabel listrik sebagai hukuman pertengkaran mereka. Saya akan mengizinkan mereka menonton televisi setelah mereka berbaikan, dan menunggu hasil 'musyawarah keluarga'.

Kami memang mempunyai tradisi mengadakan 'musyawarah keluarga' untuk mencari solusi masalah atau merencanakan sesuatu. Dalam musyawarah itu semua orang berhak mengajukan pendapat, dan semua peserta harus komitmen pada hasil musyawarah.

Saya membuka musyawarah dengan menyampaikan kekhawatiran saya tentang terlalu banyaknya waktu yang digunakan anak-anak untuk menonton televisi. Mereka saya tanya satu persatu manfaat televisi untuk masa depan mereka, dan mereka terdiam. Saya minta pendapat mereka acara apa saja yang bermanfaat di Televisi, yang bermanfaat untuk kebahagiaan dan masa depan mereka, dan yang paling kecil pengaruh buruknya. Hanun yang saat itu masih balita juga aktif berbicara dengan gaya dan celotehnya yang lucu. Kami asyik berdiskusi, menimbang-nimbang, menganalisa kondisi, dan akhirnya membuat keputusan. Ternyata Coqi hanya tertarik menonton pertandingan bola, acara pengetahuan populer, dan beberapa film seri detektif. Kami bersama memiliki kesamaan pendapat bahwa ada manfaat dari acara-acara itu, dan khusus film detektif syaratnya Coqi harus saya atau ibunya dampingi saat menonton. Setiap hari Coqi hanya punya waktu satu jam setelah Ashar dan satu jam setelah belajar malam hari.
Sedangkan Hanun hanya suka film kartun, dan punya jatah satu jam setiap hari. Hasil kesepakatan musyawarah mengikat kami semua, termasuk saya dan istri.

Meskipun kecil ada manfaat yang bisa didapat dari televisi. Yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan diri, karena televisi hanyalah alat pasif. Kita sendiri yang bisa memilih untuk mendapatkan untung atau rugi dari televisi.

Rabu, 27 Februari 2013

Teladan dan Amanah (Jilbab Hanun 3)


Saya dan istri yakin bahwa pendidikan yang terbaik adalah dengan contoh, teladan. Karena itu dalam mendidik Hanun contoh dari ibunya sangatlah penting.

Sebagai Bapak, seorang laki-laki, saya hanya bisa memberi contoh untuk sikap-sikap multi gender, sikap-sikap umum seorang muslim. Sejak dini kami sudah mengajarkan tentang perbedaan gender kepada Hanun. Dia sudah kami beritahu bahwa Bapak dan Ibu punya banyak perbedaan, terkait gender.Pelan-pelan kami sampaikan apa-apa yang boleh dilakukan laki-laki dan yang boleh dilakukan perempuan.

Sebagai seorang wanita dewasa yang paling dekat dengan Hanun, peran ibunya sebagai teladan sangat mempengaruhi perkembangan Hanun. Peran saya saya sebagai teladan Hanun lebih kecil porsinya dibandingkan peran saya sebagai penegur istri...hehehe...
Istri saya lebih tinggi kemauan untuk berubah bila termotivasi kesadaran sebagai teladan Hanun.

Dari awal menikah kami memang berkomitmen untuk melakukan secara maksimal, yang terbaik, dalam mendidik anak. Kami yakin niat dan usaha kami pasti ada hasilnya, meskipun semua hasil  tergantung keputusan TUHAN. Kami tidak bisa menjamin, tidak akan sesumbar, anak-anak kami menjadi insan terbaik kelak. Kami hanya akan melakukan apapun, bahkan bila perlu mengorbankan nyawa, untuk menjaga amanah TUHAN yang kami terima agar bisa mempertanggungjawabkannya pada pengadilan tertinggi kelak.


Sabtu, 23 Februari 2013

Berpikir Akibat Sebelum Bertindak


Teman-teman yang baru mengenal saya mungkin tidak mengira bahwa dulu saya pernah ‘melabrak’ pimpinan divisi general affair hanya karena tidak diprioritaskan menggunakan kendaraan operasional, sampai ada adegan membanting pintu segala. Saya juga pernah menghadap Kepala Cabang dengan emosi hanya karena ruangan saya dipinjam divisi lain. Saat itu saya merasa apa yang saya lakukan benar. Saya berani berbuat karena merasa benar. Ternyata benar saja tidak cukup.

“Lebih baik kalah dalam pertempuran untuk memenangkan peperangan”. Saya sering mendengar kata-kata bijak ini. Saya menyadari bahwa saya dulu selalu ingin memenangkan pertempuran karena merasa benar.  “Berani karena benar”. Ternyata berani saja belum cukup.

Dulu, saya cepat bertindak karena merasa benar, benar menurut saya, bagaimana menurut orang lain? Apa akibat tindakan saya bagi diri sendiri dan orang lain?

Dulu, saya menganggap cepat bertindak adalah perwujudan dari istilah tangkas, atau proaktif, atau cepat tanggap. Saya lupa bahwa juga ada istilah ceroboh, atau gegabah, atau grusa-grusu. Yang membedakan apa?

Yang membedakan adalah sebesar apa saya memperhatikan akibat, atau dampak, atau efek, dari tindakan saya. Bila saya merasa benar, kemudian bertindak cepat tanpa peduli baik buruknya akibat tindakan saya, maka saya telah melakukan tindakan gegabah.

“Ah kelamaan kalau mau bertindak harus mikir tentang segala akibatnya…”

Mungkin kelamaan, saat saya belum terbiasa memikirkan akibat sebelum melakukan tindakan, belum  menjadikan hidup efektif sebagai gaya hidup. Memang perlu kemauan untuk berubah, dan saya memutuskan untuk berubah menjadi lebih efektif, selalu berpikir akibat sebelum bertindak. Untuk itu saya harus terus berlatih dan berlatih, karena berubah menjadi lebih baik tidak boleh berhenti sampai maut menjemput.