Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Tampilkan postingan dengan label identitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label identitas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juni 2014

Coqi Mulai Suka dan Rajin Menulis

Saya suka menulis, sangat suka menulis. Impian saya adalah hidup dengan dan dari menulis.
Menulis adalah kegiatan yang murah, sederhana, dan banyak manfaatnya. Karena itu saya juga punya impian anak-anak saya juga suka menulis. Saya memang tidak boleh memaksa anak-anak untuk suka menulis, tapi saya akan melakukan berbagai upaya agar mereka jadi suka menulis.

Cara mendidik yang paling efektif adalah dengan contoh, teladan. Saya optimis bisa membuat anak-anak suka menulis karena saya sudah memberikan contoh. Setiap hari mereka melihat saya menulis.

Sejak bisa menulis Coqi Basil sudah saya kompori (meminjam istilah Pak Heri) agar mau dan suka menulis. Awalnya Coqi mencoba menulis cerpen anak karena tertarik setelah membaca buku-buku karya penulis anak dalam seri Kecil-kecil Punya Karya, tapi tidak pernah bisa selesai. Hanya satu atau dua paragraph saja yang berhasil dia tulis. Setelah mencoba beberapa kali dan tidak berhasil, Coqi berhenti berusaha menulis cerpen. Terakhir dia berusaha menulis kira-kira saat masih kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak itu dia tidak lagi mau membuat karya tulis, dan saya tidak mau memaksanya.

Mungkin saat itu saya dan Coqi keliru memahami, seperti para penulis pemula lainnya, bahwa karya tulis itu harus berjenis fiksi atau sastra. Tulisan nonfiksi kami anggap bukan karya tulis, dan Coqi merasa tidak nyaman menulis fiksi. Atau mungkin saat itu Coqi belum menemukan genre tulisan yang dia sukai.

Saat mulai sekolah di tingkat menengah pertama atau SMP, Coqi mulai menyadari minatnya di bidang komedi. Dalam setiap kesempatan dia melontarkan joke-joke original dan berhasil membuat orang-orang sekitarnya tertawa.

Coqi sangat berminat mempelajari stand up comedy. Setiap ada kesempatan browsing-surfing dia gunakan untuk mencari infomasi dan pengetahuan tentang Stand Up Comedy. Dia menemukan kesimpulan bahwa seorang Comic (sebutan untuk comedian Stand Up Comedy) yang baik harus sering menuliskan materi-materinya. Sejak itu dia selalu menulis dalam buku khusus setiap kali menemukan ide materi. Dan sejak itu pula dia rajin mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan komedi.

Tulisan Coqi dalam blog-nya tidak sebagus tulisan Raditya Dika, Solih Solihun, atau penulis buku lainnya, tapi saya sangat bangga. Saya bangga Coqi sudah suka dan rajin menulis. Saya yakin cepat atau lambat, bila dia konsisten dan istiqomah menulis, kualitas tulisannya akan semakin baik.


Silakan kunjungi Blog-nya http://blackbazil.blogspot.com

Minggu, 16 Maret 2014

Golongan Putih Menurut Saya

Pada saat-saat mendekati PEMILU seperti saat ini banyak orang menggunakan istilah golongan putih (golput). Banyak persepsi orang tentang golput. Ada yang mempersepsikan golput sebagai sebuah golongan yang terorganisir. Persepsi bahwa golput adalah kelompok yang terorganisir sangatlah tidak relevan, tidak sesuai fakta. Memang ada beberapa organisasi, atau kelompok terorganisir yang menyatakan secara resmi bahwa mereka tidak mau ikut PEMILU, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa golput adalah kelompok yang terorganisir.

Ada orang yang mempersepsikan golput adalah orang-orang yang tidak mau memilih saat PEMILU, secara perorangan.

Kalau saya pribadi punya persepsi bahwa golongan putih adalah orang-orang yang menyukai kedamaian, ketenangan, kesederhanaan, dan kesucian, sesuai makna tersimbol dari warna putih. Golongan putih tidak suka kebisingan yang tidak bermanfaat, kekisruhan, hujatan, apalagi fitnah yang sangat kental mewarnai kegiatan politik.

Orang golongan putih tidak mau menodai keputihannya dengan kebencian kepada sesama manusia dengan perkataan kasar atau tindakan anarkis, dan tidak mau bedekatan dengan kelompok atau orang yang seperti itu. Bila ada orang yang tidak mau memilih tapi menghujat orang yang memilih, maka sebenarnya dia bukanlah golongan putih, karena dia tidak pantas menyandang warna putih.

Orang golongan putih tidak suka kegiatan-kegiatan pamer kekuatan yang dilakukan oleh partai politik, karena bertentangan dengan kebersahajaan yang diwakili warna putih, dan cenderung memancing kedengkian. Dia memilih diam merenung, mengagungkan nama Tuhan dalam keheningan untuk meminta petunjuk pilihan yang terbaik.

Bisa jadi orang golongan putih sudah punya pilihan, dan akan  memilih saat PEMILU, tapi dia tidak mau menjelek-jelekkan kelompok atau orang yang bukan pilihannya. Dia memilih untuk bersikap baik, ramah, dan bersahabat kepada semua kelompok, semua partai, semua caleg.



Ya ,saya Nur Muhammadian masuk golongan putih dengan persepsi yang sudah saya sebutkan. Saya menghimbau Anda untuk masuk golongan putih, bagi yang ingin memilih ataupun tidak saat PEMILU nanti. Saya menghimbau para praktisi politik untuk berhenti menyebut pihak yang menghujat Anda sebagai golongan putih, sebagaimana saya menolak orang yang suka menghujat sebagai golongan putih.

Sabtu, 15 Maret 2014

Bisakah Anda Memilih?

Berdasarkan beberapa tulisan saya akhir-akhir ini ada yang menganggap saya masuk golongan putih (golput), dan saya bersyukur daripada dianggap sebagai golongan hitam. Padahal PEMILU belum lagi terlaksana, sudah banyak caleg yang merasa berhak menilai jelek calon-calon rakyat yang akan diwakilinya.

Semua politikus punya jargon yang sama "Golput bukan solusi", dan ada kesangsian dari para apatist "Apakah memilih bisa memperbaiki negeri?", sedangkan  para optimist berpikir “Selalu ada harapan, dan pasti ada jalan…lain”


Entahlah...Yang jelas saya sendiri punya pilihan sikap, dan harus bertanggungjawab pada pilihan saya sendiri, apapun itu.

Semua orang berhak memilih, termasuk Anda wahai para caleg yang merasa berhak mewakili saya.
Tolong Anda pilihkan sikap bagaimana yang harus saya pilih :

1. Saya memilih, tapi saya memilih caleg dari partai lain karena saya anggap dia lebih baik dari Anda. Kemudian saya memuji-muji dia dan menjelek-jelekkan Anda karena dengan cara itu pilihan saya punya kesempatan terpilih lebih besar dari Anda.

2. Saya tidak memilih siapapun (silakan bila Anda mengganggap saya sebagai golput), karena saya menyayangi semua caleg. Saya akan sering  dengan santun menegur Anda dan caleg-caleg lain bila saya anggap ada yang tidak tepat. Siapapun yang terpilih adalah wakil saya sebagai rakyat, meskipun saya tidak ikut memilih karena gaji Anda toh diambil dari pajak yang saya bayarkan. Karena itu saya harus bekerja keras agar semakin besar pajak yang bisa saya bayarkan, untuk pembangunan negeri dan membiayai sidang-sidang parlemen. Rumah saya selalu terbuka bagi semua caleg dari partai apapun bila memang ada yang berkenan mendapatkan masukan-masukan dari saya, sehingga lima tahun lagi mungkin saya punya caleg yang layak untuk saya pilih karena selama lima tahun peduli dan benar-benar memperjuangkan suara saya dan rakyat lain.

3. Saya memilih Anda, kemudian tidak peduli dengan yang Anda lakukan, karena memang Anda tidak lagi butuh aspirasi saya seperti yang terjadi selama ini. Bila pun Anda mengundang saya dalam sebuah pertemuan-pertemuan resmi yang Anda sebut 'penyerapan aspirasi', ternyata hanya sebuah formalitas administrasi untuk mencairkan dana 'penyerapan aspirasi' atau dana-dana lain, tidak lebih. Karena setelah pertemuan itu Anda tidak pernah mengabarkan kepada saya bagaimana progres perjuangan Anda membawa aspirasi saya. Anda juga tidak pernah memberi saya  informasi tentang apa-apa saja yang Anda lakukan selayaknya seorang wakil kepada orang yang diwakili, yang menggunakan dana sebagian pajak saya yang sangat kecil.

Bisakah Anda memilih?
Mungkin Anda berkata “Wah tiga-tiganya gak ada yang bagus untuk dipilih…”
Maka saya akan menjawab menggunakan kata-kata Anda sendiri “Pilihlah yang terbaik dari yang tidak bagus, karena tidak memilih bukanlah solusi”.

Apapun pilihan Anda adalah cerminan diri Anda sebagaimana pilihan sikap saya terhadap PEMILU.

Jumat, 14 Maret 2014

Saya Ingin Coqi dan Hanun Seperti Batman (3 Alasan Saya Pensiun Dini 3)

Alasan #3 : Saya Ingin Anak Saya Seperti Batman atau Ironman

Dalam satu sesi pelatihan guru saya menyampaikan bahwa Superhero yang baik itu Batman atau Ironman. Karena dalam kehidupan normal mereka kaya, dan bisa membantu orang dengan kekayaan mereka. Beda dengan Superman yang hanya reporter atau Spiderman yang hanya seorang Photographer (tanpa merendahkan profesi reporter maupun photographer). Si Bruce atau si Tony bisa kaya karena mewarisi dari orang tuanya, istilah jawa timurannya “Belungan Sugih”.

Para konglomerat, para jutawan, miliuner maupun triliuner, sebagian  mewarisi dari orang tuanya masing-masing. Mereka mewarisi kekayaan dari orang tuanya. Mereka punya “Belungan Sugih”, mereka jadi Superhero. Benarkah kekayaan materi bisa dipertahankan sampai beberapa generasi ahli waris?

Sebenarnya yang membuat ahli waris tersebut kaya bukanlah warisan kekayaan materi, memang ada pengaruhnya sebagai modal. Tetapi warisan terbesar mereka adalah kemampuan mereka mengelola kekayaan materi yang diwarisi dari orang tuanya. Kemampuan itu sudah mereka dapatkan sejak kecil. Mereka sudah terbiasa melihat orang tua mereka bekerja keras sebagai pengusaha, wirausahawan. Mental entrepreneur sudah tertanam, mungkin, sejak mereka lahir. Mental itulah yang membuat mereka memiliki “Belungan Sugih”, mental pantang menyerah-mental kreatif-mental produktif.

Saya ingin Coqi dan Hanun jadi seperti Ironman atau Batman, hidup sejahtera meskipun seluruh hidupnya digunakan untuk membantu orang lain. Saya ingin mereka punya “Belungan Sugih”.

Kamis, 13 Maret 2014

Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah (3 Alasan Saya Pensiun Dini 2)

Alasan #2 : Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah

Saat saya diterima di sebuah perusahaan saya harus menandatangani surat perjanjian bersedia mematuhi segala aturan yang berlaku di perusahaan tersebut.
Karena itu untuk teman-teman yang berminat jadi karyawan, baca surat perjanjian dengan teliti dan seksama. Jangan sampai teman-teman setuju terhadap hal-hal yang bertentangan dengan norma agama kita. ALHAMDULILLAH perusahaan tempat saya bekerja memiliki aturan yang tidak bertentangan dengan semua prinsip-prinsip yang saya yakini.

Dan sejak itulah saya terikat kewajiban terhadap perusahaan. Minimal lima hari setiap minggu selama delapan jam per hari waktu saya harus saya peruntukkan untuk perusahaan, seluruh delapan jam waktu saya. Dan untuk itu saya mendapatkan uang gaji yang saya terima tiap akhir bulan. Jadi bila waktu yang saya peruntukkan untuk perusahaan kurang dari yang seharusnya, apakah saya berhak menerima uang gaji seluruhnya?

Seringkali saat jam kerja muncul ide-ide di benak saya untuk saya tulis, saat jam kerja. Sering pula beberapa sahabat dan saudara tercinta berkenan bertemu saya saat jam kerja. Beberapa teman kerja ingin curhat dan minta saran di luar urusan pekerjaan saat jam kerja, dan beberapa hal lain selain urusan perusahaan, yang menurut saya suatu hal yang baik, tapi harus saya lakukan saat jam kerja.

Meskipun baik dan untuk kebaikan, bila tidak ada hubungannya dengan perusahaan dan saya lakukan saat jam kerja, tetap saja tidak benar, salah. Saya menganggapnya tidak amanah menggunakan waktu, dan pengkhianatan terhadap komitmen saya sebagai karyawan.

Tidak ada cara lain, tidak ada pilihan lagi, bila saya ingin tetap berbuat baik tanpa berkhianat terhadap siapapun. Saya harus menebus lagi waktu saya yang sudah saya serahkan kepada perusahaan. Saya harus berhak sepenuhnya atas waktu yang saya miliki. Agar saya bisa menulis dengan bahagia, menulis tanpa rasa bersalah.



SAYA HARUS BEKERJA PADA SAYA SENDIRI SEHINGGA BERHAK SEPENUHNYA TERHADAP WAKTU YANG SAYA MILIKI

Rabu, 12 Maret 2014

Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik (3 Alasan Saya Pensiun Dini 1)

“Apa yang kamu cari Dian?”

Pertanyaan itu mungkin yang sering muncul di kepala saya baik yang bersumber dari eksternal maupun internal, saat saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempat saya bekerja. Dan Alhamdulillah saya punya segudang alasan untuk menjawabnya. Saya akan menuliskan tiga alasan yang paling tidak klise. Saya punya alasan tentang mengejar impian, membuat lapangan pekerjaan, membantu orang lain, dan alasan-alasan mainstream lainnya, tapi yang akan saya tulis adalah yang spesifik ada dalam kepala saya.

Alasan #1 : Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik

Di perusahaan tempat saya bekerja ada dua jenis karyawan, karyawan tetap dan karyawan kontrak. Selama enam belas tahun bekerja saya sudah merasakan puluhan kali kesedihan melihat teman-teman terbaik saya diberhentikan bekerja karena selesai masa kontraknya. Awal-awal dulu saya memberi semangat mereka dengan mengatakan bahwa masih banyak peluang kerja di perusahaan lain. Tetapi dengan berjalannya waktu saya mendapati bahwa teman-teman yang berpindah ke perusahaan lain tidak bernasib lebih baik daripada sebelumnya. Banyak perusahaan yang menerapkan aturan ke-sdm-an yang sama, tentang aturan tenaga kontrak dan batasan usianya. Sehingga pada tahun-tahun terakhir saya tidak lagi memberi mereka saran untuk berpindah ke perusahaan lain. Secara usia mereka juga sudah tidak masuk criteria karyawan baru di level mereka.

Saya melihat bahwa peluang terbaik bagi mereka adalah berwirausaha. Yang terbaik bagi mereka, saya tidak melihat ada yang lebih baik.

Dan luar biasa…Hampir tidak ada teman yang mau mengikuti saran saya. Tidak ada seorangpun yang percaya dengan betapa besarnya peluang sukses berwirausaha.

Kenapa saran saya tidak mereka lakukan? Kenapa mereka tidak percaya pada apa yang saya sampaikan?

KARENA SAYA SENDIRI BELUM MELAKUKAN.


Tidak ada cara untuk membuat orang lain percaya bahwa berwirausaha adalah pilihan terbaik, selain saya harus melakukannya dulu, segera!

Selasa, 11 Maret 2014

Pilihan Coqi (Cita-cita Coqi)

Saya sangat setuju bahwa pendidikan itu sangat penting, bahkan sampai akhir hayat. Untuk sahabat-sahabat yang sudah berusia lanjut justru harus semakin banyak belajar karena zaman terus berubah dan Anda diberi kelebihan usia untuk dimanfaatkan di zaman ini, bukan zaman dulu.

Tapi saya berpendapat menuntut ilmu tidak harus di jalur umum (baca : formal), karena ilmu itu dicari untuk diamalkan dan dimanfaatkan, bukan sekedar gelar administrasi, kecuali bila memang gelar administrasi itu dibutuhkan untuk peningkatan jenjang karir. 
Bila menuntut ilmu hanya melalui jalur umum  maka setelah memiliki gelar akademik orang akan berhenti melakukannya. Tidak ada seorang pun yang berani sesumbar  bahwa gelar akademik bisa menjamin hidup jadi sukses. Pun tidak ada seorang pun yang berani bertaruh bahwa tanpa gelar akademik, tanpa ijazah, orang tak bisa sukses.

Saya dan istri sangat menyadari itu, dan kami terapkan dalam pola didik ke Coqi. Kami tidak ingin Coqi memilih jalur pendidikan tanpa tujuan yang jelas, asal pilih atau asal ikut.Saat ini Coqi sedang bersiap menghadapi Ujian Nasional SMP. Kami memberinya beberapa pilihan jalur setelah lulus SMP : masuk SMA, SMK, Pondok Pesantren, atau tidak semuanya alias Home Schooling. Kami beri dia kebebasan memilih, dan kami dukung maksimal pilihannya bila dia bisa memberikan alasan yang tepat. Tapi bila ternyata alasannya kurang kuat sehingga argumennya bisa saya patahkan maka dia harus mengubah pilihannya.

“Aku masuk SMA aja Pak…”

“Kenapa bukan SMK, Pesantren , atau Home  Schooling aja??” Saya sudah menyiapkan segala jurus untuk mematahkan argument dia. Saya berasumsi  Coqi memilih SMA tanpa memiliki alasan yang kuat, hanya karena kebanyakan teman-temannya memilih itu, ternyata asumsi saya salah.

“Aku ingin jadi journalist dan comedian Pak…Aku butuh masyarakat majemuk untuk latihan. SMA adalah sekolah yang paling majemuk dibanding SMK dan Ponpes apalagi Home Schooling” Coqi hanya menyampaikan tiga kalimat dan saya tidak punya satu kalimat pun untuk mematahkan argumennya. Saya kalah dan bangga dengan kondisi kekalahan saya. Ternyata anak lelaki saya yang beranjak remaja sudah memikirkan manfaat dari pilihannya.


Sekali lagi saya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berharap Coqi mendapat penataan langsung dari NYA.

Senin, 10 Maret 2014

Cita-cita Coqi

“Piye toh Coq orang ini…Bisa-bisanya dia minta didukung di PEMILU agar bisa melakukan perubahan…Jelas-jelas partainya adalah tiga partai terbesar perolehan suaranya di PEMILU lalu, dan lima tahun ini partainya tidak berbuat yang significant untuk rakyat, malah alegnya banyak yang korupsi. Kok gak malu minta dipilih lagi…!?!?” Saya mengomentari  pidato politik seorang tokoh partai dalam promonya di televisi.

“Hehehehe iya Pak…Nggak lucu…” Coqi terkekeh mendengar  gerutuan saya.

“Politikus itu memang pelawak-pelawak yang gak lucu Coq…”

Coqi  tertarik pada politik sejak usia lima tahun, sejak dia mulai belajar membaca. Saat itu memang sedang puncak pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya. Mungkin Coqi tertarik dengan bertebarannya banner kampanye calon presiden. Di usianya yang sangat muda itu Coqi sudah sangat antusias mengikuti berita politik baik dengan membaca media cetak maupun menonton televisi. Saat itu, dengan gaya khas anak-anak, dia sudah bisa menganalisa para calon presiden dan partai-partainya. Coqi pun bercita-cita menjadi  presiden.

Pernah saat  di sekolahnya disuruh gurunya membuat kreasi bentuk tertentu, sementara teman-temannya membuat bentuk benda-benda yang nyata seperti rumah, pesawat, mobil dan lain-lain, Coqi membuat bentuk yang absurd dan menyebutnya sebagai kursi DPR. Pada usia sembilan tahun Coqi menyumbangkan uang tabungannya  untuk dana kampanye salah satu calon Walikota Malang yang dia sukai.

Bersama dengan berjalannya waktu, Coqi semakin dewasa, minat mengamati politik tidak berkurang tetapi cita-citanya berubah. “Nggak jadi dech Pak…Presiden itu amanatnya sangat besar, terlalu berat”

Saat ini Coqi menemukan sendiri bahwa dia sangat berminat menjadi journalist dan comedian, dan memang sikapnya menunjukkan itu. Saat saya mengambil raport kenaikan kelas, wali kelasnya menyampaikan bahwa Coqi suka menghibur guru dan teman-temannya dengan banyolan-banyolannya. Bila tertarik pada sesuatu, seperti film atau berita tertentu, maka Coqi akan segera melakukan penggalian data sebanyak-banyaknya. Sambil menonton siaran ulang acara penganugerahan piala Oscar, Coqi mampu menjelaskan tentang  film  dan actor- actress  yang mendapatkan piala Oscar cukup detil.

Sejak  SD Coqi selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba pidato agama. Coqi selalu menang di tingkat kecamatan tapi tidak pernah menang di tingkat kota. Menurut analisa gurunya hal itu disebabkan  Coqi menolak memasukkan banyak unsur-unsur banyolan dalam pidato-ceramahnya, sedangkan juri-juri lomba pidato tingkat kota sangat apresiatif pada pidato yang kocak atau lucu.

“Daripada ceramah berisi banyolan mending sekalian aku melawak tapi berisi pesan-pesan moral Pak….!”

Sampai sekarang Coqi masih suka berdiskusi tentang politik, meskipun tidak lagi berminat terjun ke dalamnya. Saya belum mendengar secara verbal, tapi saya yakin dalam hatinya Coqi punya pernyataan :

“Daripada jadi politikus yang omongannya seperti  lawakan yang tidak lucu, mending  jadi  pelawak yang menghibur dan mencerdaskan penontonnya”


Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk Coqi, doa seorang bapak yang memasrahkan masa depan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.

Kamis, 27 Juni 2013

Menasihati Diri Sendiri

Saya tergelitik membaca status Facebook seorang sahabat. Dia menyatakan bahwa status facebook yang berisi motivasi atau nasihat kemungkinan besar menandakan sang pemilik status-lah yang membutuhkan motivasi dan nasihat. Saya se-juta-tuju dengan pernyataannya, karena saya melakukannya.

Saya suka menuliskan nasihat-nasihat untuk saya sendiri dalam status Facebook, dan menurut saya sangatlah bermanfaat. Saat merasa ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dibenahi, harus segera diubah atau untuk mengingatkan diri sendiri, saya menulis nasihat untuk saya sendiri dalam status. Nasihat untuk diri sendiri yang dituliskan dalam status Facebook bagaikan deklarasi perubahan. Karena saya menuliskannya di media sosial yang bisa dibaca publik, maka saya wajib mempertanggungjawabkannya. Saya harus benar-benar menjalankan apa yang saya tulis, dan itu benar-benar untuk kebaikan saya sendiri. Seandainya ada pembaca status saya yang mengalami kondisi yang sama dan mendapatkan manfaat dari nasihat itu, maka segala puji bagi ALLOH.


Saat merasakan kualitas tindakan menurun, saya menasihati diri untuk segera melakukan perbaikan. Saat mendapatkan kebaikan, saya menasihati diri untuk memperbanyak syukur dan bertindak lebih banyak dan lebih baik lagi. Saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, saya mengingatkan diri bahwa itu hanyalah umpan balik untuk memperbaiki proses.

Nasihat dari diri sendiri lebih mudah dilaksanakan karena berdasarkan nilai-nilai yang sudah saya yakini. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan saya sendiri yang tahu kemampuan diri sendiri.


Saya berusaha sesering mungkin menasehati diri sendiri karena saya ingin selalu berubah menjadi lebih baik. Semakin sering saya menasihati diri sendiri, semakin besar komitmen saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Rabu, 27 Februari 2013

Teladan dan Amanah (Jilbab Hanun 3)


Saya dan istri yakin bahwa pendidikan yang terbaik adalah dengan contoh, teladan. Karena itu dalam mendidik Hanun contoh dari ibunya sangatlah penting.

Sebagai Bapak, seorang laki-laki, saya hanya bisa memberi contoh untuk sikap-sikap multi gender, sikap-sikap umum seorang muslim. Sejak dini kami sudah mengajarkan tentang perbedaan gender kepada Hanun. Dia sudah kami beritahu bahwa Bapak dan Ibu punya banyak perbedaan, terkait gender.Pelan-pelan kami sampaikan apa-apa yang boleh dilakukan laki-laki dan yang boleh dilakukan perempuan.

Sebagai seorang wanita dewasa yang paling dekat dengan Hanun, peran ibunya sebagai teladan sangat mempengaruhi perkembangan Hanun. Peran saya saya sebagai teladan Hanun lebih kecil porsinya dibandingkan peran saya sebagai penegur istri...hehehe...
Istri saya lebih tinggi kemauan untuk berubah bila termotivasi kesadaran sebagai teladan Hanun.

Dari awal menikah kami memang berkomitmen untuk melakukan secara maksimal, yang terbaik, dalam mendidik anak. Kami yakin niat dan usaha kami pasti ada hasilnya, meskipun semua hasil  tergantung keputusan TUHAN. Kami tidak bisa menjamin, tidak akan sesumbar, anak-anak kami menjadi insan terbaik kelak. Kami hanya akan melakukan apapun, bahkan bila perlu mengorbankan nyawa, untuk menjaga amanah TUHAN yang kami terima agar bisa mempertanggungjawabkannya pada pengadilan tertinggi kelak.


Jumat, 22 Februari 2013

Mandi dan Hidup Efektif


Gaya hidup efektif dan bahagia saya terapkan di rumah, lingkungan terkecil dan paling dekat hidup saya. Di rumah kami, saya biasakan melakukan sesuatu dengan efektif. Sebelum melakukan sesuatu kami harus tahu dan paham manfaatnya. Meskipun sulit kami harus melakukannya bila manfaatnya besar.

Dari hal-hal terkecil kami usahakan selalu efektif. Misalkan masalah jadwal mandi. Kami sekeluarga punya kesepakatan untuk tidak memiliki jadwal mandi, alias suka-suka. Kalau tidak perlu ya tidak mandi, tapi minimal sekali sehari. Sebaliknya kami bisa mandi berkali-kali sehari, sesuai kebutuhan. Kami berpedoman pada agama dan kesehatan dalam menentukan manfaat  mandi.  Selain agama dan  kesehatan, kami juga memperhatikan kebaikan dan kenyamanan orang lain. Meskipun sudah dua kali mandi, tapi karena berkeringat badan jadi bau tidak sedap, kami mandi lagi. Sebaliknya kami sering hanya mandi sekali karena badan masih bersih, tak berkeringat dan wangi sampai tidur malam hari.

Jadi masalah mandi ini kami benar-benar menggunakan azaz manfaat, bukan sekedar rutinitas tradisi.
Masalahnya, tidak semua orang di sekitar kami bisa memahami azaz manfaat mandi yang kami anut. Contohnya adalah peristiwa saat kami berkunjung dan menginap di rumah Ibu saya selama liburan sekolah.
Ibu saya, Utinya Coqi, memegang teguh tradisi sejak lama, mandi dua kali sehari. Sehingga beliau tidak berkenan saat Coqi menolak disuruh mandi sore “Badanku masih bersih Uti…Baru tadi siang Aku mandi dan sekarang belum kotor dan tidak berkeringat….”. Neneknya tidak bisa menerima alasan Coqi.

Saya panggil Coqi…

“Bapak menghargai pendirian Coqi tidak mau mandi sore, berdasarkan gaya hidup efektif kita. Tapi dalam mempertimbangkan manfaat Coqi juga harus memperhatikan konteks. Meskipun Coqi tidak kotor dan masih wangi, Coqi harus menghargai kebiasaan di rumah Uti…Coqi harus menjaga kebahagiaan Uti…Kali ini Coqi harus mandi karena manfaat yang besar, kebahagiaan Uti…”

Coqi harus belajar bahwa membahagiakan orang adalah pertimbangan tertinggi gaya hidup efektif setelah ajaran agama.



Jumat, 15 Februari 2013

Doa dalam Nama Coqi

"What is a name"
Apalah arti sebuah nama.
Bagi saya nama adalah doa, harapan, cita-cita orang tua kepada anaknya.

Semua orang tua ingin anaknya menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak semua orang tua memberi nama anaknya sebagai doa dan harapan. Itu pilihan mereka, dan saya menghargainya. Seperti sebuah cerita humor yang pernah saya baca :
"Ma...Benarkah di suku kita nama orang itu sesuai peristiwa besar yang terjadi saat ibunya belum hamil sampai melahirkan?"
"Benar...Kenapa kamu menanyakan itu Dipan Ambruk?"

Banyak juga orang yang memiliki nama yang bagus, menggunakan nama-nama Nabi, orang-orang bijak, atau nama-nama lain yang memiliki arti bagus dan mulia tapi perilakunya sangat hina, keji, suka menyakiti sesama. Apakah yang dilakukan orang tua mereka memberi nama bagus tidak ada gunanya?

Orang tua memberi nama yang bagus adalah ihtiar untuk kebaikan anaknya, salah satu usaha. Usaha orang tua tidak cukup sampai di situ, tidak cukup hanya memberi nama yang bagus, tapi harus berkelanjutan dengan pendidikan yang baik.

Nama lengkap Coqi adalah Muhammad Isyroqi Basil. Muhammad artinya orang yang terpuji, isyroq artinya memancar, dan basil artinya pemberani. Sejak kecil, sejak bisa bicara Coqi sudah kami beri penjelasan tentang arti namanya sendiri. Kami sampaikan juga bahwa dia harus bertanggung jawab menyandang nama yang artinya baik. Dia harus bersikap selaras dengan kebaikan namanya. Itulah ikhtiar awal kami...

Nama Muhammad Isyroqi Basil adalah doa dan harapan kami untuk Coqi. Semoga dia menjadi orang yang terpuji, yang memancarkan sinar ke sekelilingnya dan berani berbuat untuk kebenaran. Aamiin...

Kamis, 31 Januari 2013

Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis (Jilbab Hanun 2)


Hanun saat ini berusia lima tahun, dan dia sudah paham tentang konsep aurat maupun muhrim. ALHAMDULILLAH tidak terlalu sulit membuat dia paham bagaimana harus bersikap kepada lawan jenis. Saya yakin itu karena hidayah Tuhan kepadanya, dan Tuhan pula yang mengilhamkan ke saya dan istri saya tentang mendidik ahlak sejak usia Hanun 0 tahun.

Saya yakin tentang konsep pendidikan sejak dalam kandungan. Saya belum pernah membaca jurnal ilmiah atau hasil penelitian tentang konsep ini, tapi saya sudah menemukan banyak bukti dan mengalaminya sendiri. Sayang sekali masih banyak orang tua di Indonesia yang meragukan konsep ini. Mereka masih berpendapat bahwa bayi dan anak di bawah usia tiga tahun belum bisa menangkap informasi sempurna dari sekelilingnya.

Pendidikan yang saya anggap paling penting untuk saya ajarkan kepada Hanun sesegera mungkin adalah tentang ahlak, dan saya meyakini sumber terbaik adalah ajaran agama. Saya meyakini bahwa ajaran agama adalah manual book atau user guide manusia untuk hidup. Sebagai muslim saya meyakini Al Qur'an dan Al Hadits sebagai pedoman hidup, acuan segala ilmu.

Saya percaya bahwa semua yang kita sampaikan kepada anak sejak usia 0 tahun terekam sempurna dalam pikirannya, di otaknya. Hanya saja mereka belum bisa menanggapi informasi itu. Informasi yang tersimpan di otaknya pasti bermanfaat suatu saat kelak. Sebaliknya, hati-hati dengan informasi negatif yang berpotensi masuk ke otak anak usia dini, juga akan terekam dalam otaknya. Televisi adalah media yang harus diwaspadai berpotensi besar mengirim informasi negatif  ke dalam pikiran anak.

Saat Hanun sudah mulai aktif berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, saya mulai sering mengingatkan tentang konsep hubungan yang benar menurut ajaran agama, konsep yang sudah dia terima informasinya sejak lahir.
"Bukankah larangan itu bagi orang yang sudah dewasa? Sudah baligh?"
Tak ada penegasan di agama bahwa aturan hanya boleh diajarkan kepada orang dewasa, kalau berlakunya keawajiban memang benar untuk orang yang sudah dewasa. Ahlak dan moral adalah sari pati inti dari karakter. Bukankah terlambat bila baru mengajarkan ahlak dan moral saat anak sudah dewasa? Saat karakternya sudah terbentuk? Secara biologis kita bisa mengenali kapan anak kita mencapai kedewasaan, tapi secara psikologis sulit mendeteksinya.

ALHAMDULILLAH sekarang Hanun sudah tahu dan melakukan sikap-sikap membatasi diri saat berhubungan dengan lawan jenis, meskipun kadang-kadang masih harus diingatkan. Paling tidak dia bisa menerima dan segera berubah saat diingatkan, tidak membantah atau menentang menggunakan  segala argumen nalar manusia yang tidak selaras dengan ajaran agama.

Rabu, 30 Januari 2013

Jilbab Hanun


Dulu, lama sebelum Hanun lahir saya sudah sangat suka melihat anak kecil perempuan yang berkerudung rapi. Teman-teman, orang tua anak-anak itu, memberi tips bahwa jauh lebih mudah mengajari anak berkerudung sedari kecil, sedini mungkin.  Sejak saat itu selalu ada dalam doa saya permohonan dianugerahi anak perempuan.

Memerhatikan tingkah polah perempuan-perempuan masa kini saya sangat miris dan khawatir. Betapa mereka sudah tidak peduli dengan  kehormatan, suka memamerkan bagian-bagian tubuh demi mendapatkan kepuasan karena jadi pusat perhatian.

Banyak yang berkilah bahwa bukan tanggung jawab mereka  bila banyak mata lelaki jalang memandang tubuh mereka.
"Ah...Bukan urusan saya bila para lelaki itu memandangi saya, khan mata mereka sendiri, saya gak nyuruh"
"Ya salah sendiri gak punya iman...Gak bisa menahan nafsu..."
"Dasar pikiran mereka sendiri yang ngeres, piktor"

Coba kita balik logikanya, seandainya tidak ada seorang lelakipun tertarik pada dandanan mereka, tidak sebuah matapun memandang kagum, atau lebih tepatnya jalang, apakah mereka masih mau berpakaian seperti itu? Apa sih yang ada di benak perempuan-perempuan yang suka berdandan ‘minimalist’ itu saat bercermin mematut diri selain ingin segera keluar menemui kerumunan kemudian mendapatkan pujian dan tatapan pemujaan?

"Wajar khan yang indah itu disukai orang?"
"Apa salahnya saya menampilkan keindahan?"

Keindahan adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Sebagai mahlukNYA kita wajib menjaga dan merawat keindahan yang kita terima. Menampilkan keindahan boleh saja, dengan memerhatikan manfaat yang ingin diraih, bagi diri sendiri dan orang lain. Saat menampilkan bagian-bagian tubuhnya, manfaat apa yang diperoleh? Manfaat apa yang diberikan untuk orang lain? Keburukan apa yang kemungkinan terjadi? Lebih condong ke manfaat atau keburukan?

"Ah, jangan munafik lah...! Toh banyak juga peristiwa di dunia ini perempuan berjilbab yang dilecehkan dan diperkosa..."

Perdebatan seperti ini tidak akan pernah selesai, tak ada habisnya. Selalu ada perbedaan dalam memandang sesuatu. Karena itulah saya ingin memiliki anak perempuan, agar saya bisa mendidiknya dengan kebenaran yang saya yakini. Saya ingin berbuat sesuatu di dunia tentang keindahan seorang wanita, melalui anak saya karena saya laki-laki.

Saya menyetujui dan sepakat bahwa pendidikan anak dimulai saat usia 0 tahun, bahkan sejak dalam kandungan. Maka saya dan ibunya  mengajari Hanun menutup aurat sejak usia 0 tahun. Kami sudah berburu jilbab kecil sejak Hanun lahir.  

Tidak mudah, karena banyak yang menentangnya.
"Kasihan, dia khan masih kecil.."
Justru sayang Hanun saya kasihan bila terlambat mendidiknya tentang ahlak beragama.

(bersambung : "Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis)


Senin, 28 Januari 2013

Dulu Belajar Rangkaian Listrik Sekarang Jualan Kripik


Saya dulu kuliah di Politeknik Malang jurusan Listrik dan saat ini saya jualan kripik buah. Apakah saya merasa kuliah saya tidak ada gunanya?
Saya dulu belajar rangkaian listrik dan sekarang menulis buku tentang mudahnya bahagia. Apakah saya menyesalinya?

Sama sekali tidak!

Seandainya saya dulu kuliah di fakultas ekonomi, belum tentu sekarang saya bisa menjual satu ton kripik buah ke Malaysia. Karena faktanya banyak sarjana ekonomi yang mempelajari manajemen pemasaran tidak mau jadi pedagang.
Seandainya saya dulu belajar ilmu psikologi, belum tentu saya bisa menulis buku "Kripik untuk Jiwa". Karena faktanya banyak sarjana psikologi tidak mau menerapkan ilmunya untuk membantu orang lain jadi lebih bahagia.

Saya bangga dulu pernah belajar ilmu listrik. Saya masuk jurusan itu bukan asal masuk, asal kuliah. Saya melakukannya dengan niat mencari ilmu dan meningkatkan kualitas berpikir, dan saya menapatkannya. Apapun yang saya dapatkan saat kuliah adalah bekal saya yang sangat berharga untuk melakukan perjalanan hidup, sehingga saya bisa seperti saat ini.

Menuntut ilmu bukanlah tujuan tapi hanya salah satu tahapan proses. Kuliah hanyalah salah satu pilihan tahapan dari proses peningkatan kualitas diri, proses tiada henti.
Karena kuliah hanya sebagai  salah satu pilihan, Anda tidak harus melakukannya karena ada pilihan lain. Apapun pilihan Anda, lakukan dengan sebaik mungkin, terbaik yang bisa Anda lakukan.

Selasa, 27 November 2012

Semangat Berikrar Sumpah Pemuda dan Bernyanyi Lagu Kebangsaan Setelah Nonton Film



Saya sangat menyukai film ‘Invictus’ karena berisi pesan-pesan moral yang banyak sekali. Bahkan saat saya menonton yang keempat kali saya masih bisa menemukan pesan moral baru dalam film itu. Yang saya heran adalah bahwa saya beru ketemu film itu di tahun ini, tahun 2012, padahal film itu sudah diproduksi dan dipasarkan pada tahun dua ribu sembilan. Selama tiga tahun ada di mana film itu?

Mungkinkah karena film ‘Invictus’ bukan film laga atau horror sehingga tidak banyak orang membicarakannya? Atau mungkin para pemasar film di Indonesia kurang antusias dengan film-film bergenre drama. Entahlah…Yang jelas saya optimis dan antusias membawa film ini ke para pemuda, pelajar, mahasiswa, dan mengupas pesan-pesan moral yang ada di dalamnya. Saya yakin dengan cara berbeda dalam menyampaikan sebuah pesan, yaitu dengan cara yang menyenangkan dan asyik, lebih mudah masuk ke dalam benak anak-anak muda.

Ternyata hasil survey informal, yang saya sebarkan ke teman-teman muda pengurus FLP Malang, menunjukkan bahwa film ‘Invictus’ membosankan bagi mereka,nah lho…

Saya menyukai film ‘Invictus’. Saya mampu menonton film itu tanpa bosan sampai akhir. Saya tahu ‘bagaimana’ menonton film itu dengan asyik. Maka saya harus segera mempelajari ‘bagaimana’ teman-teman pengurus FLP Malang menonton film itu dengan perasaan bosan. Saya tidak terjebak dengan mempertanyakan mengapa mereka bosan menonton film itu, saya hanya perlu tahu bagaimana mereka melakukannya.

Setelah melakukan beberapa pertanyaan singkat kepada mereka melalui sms, mencari tahu secara tersirat  apa yang mereka lakukan sebelum, saat, dan setelah menonton film, saya bisa menemukan beberapa hal yang harus saya lakukan saat saya membawa film ini ke hadapan dua ratus siswa SMK Putera Indonesia Malang. Beruntung mbak Wulan, salah satu teman FLP yang merasa bosan saat menonton film itu menyadari apa yang terjadi pada dirinya dan memberi saya beberapa masukan, yang sesuai dengan rencana-rencana saya.

Di depan para siswa, saya membuka acara dengan membangkitkan semangat dan antusias mereka. Saya mengajak mereka bersepakat bahwa sepanjang acara kita bersenang-senang dengan asyik. Sebelum mulai membicarakan film, saya membahas sedikit tentang sejarah dan makna peristiwa Sumpah Pemuda. Saya kaitkan ikrar Sumpah Pemuda dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Apa yang saya sampaikan tentang Sumpah Pemuda kepada para siswa adalah yang saya tulis di Malang Post tanggal 28 Oktober 2012, atau bisa dibaca di sini http://bit.ly/musuhbersamabangkitkansemangatsumpahpemuda .

Selanjutnya saya menjelaskan tentang latar belakang film ‘Invictus’. Saya jelaskan kepada mereka kelebihan-kelebihan film itu layaknya seorang penjual tiket nonton, atau penjual DVD yang mempromosikan film-film dagangannya.

Saya membagi film yang berdurasi sembilan puluh menit menjadi enam session. Tiap awal session saya menyampaikan beberapa pesan tentang adegan-adegan yang perlu lebih diperhatikan, karena setiap session berakhir saya akan menyampaikan tantangan berhadiah.
Sempat ada kendala saat pemutaran session kelima, sound system tiba-tiba tak bersuara. Cukup lama teknisi mengotak-atik perangkatnya, dan para siswa mulai gaduh. Terlihat beberapa siswa (sekitar sepuluh persen) mulai meninggalkan tempat. Karena saya tidak bisa mendapat kepastian perangkat pengeras suara bisa digunakan lagi atau tidak sedangkan waktu saya terbatas, saya pun menyampaikan tawaran kepada para siswa, sambil berteriak, untuk menghentikan pemutaran film dan langsung ke babak hadiah utama. Yang mengharukan adalah ternyata hampir semua siswa menghendaki film diteruskan, mereka bersedia menunggu. ALHAMDULILLAH film bisa dilanjutkan dengan menggunakan perangkat pengeras suara kecil, tidak ada rotan akar pun jadi.
Karena waktu sudah terpotong, session kelima sampai akhir saya jadikan satu.

Selesai pemutaran film, setelah membagikan hadiah-hadiah utama, saya mengajak para siswa membaca ikrar Sumpah Pemuda dan menyanyikan Indonesia Raya. Para siswa, yang mau bertahan selama empat jam dalam aula yang gerah karena kipas angin tidak bisa dinyalakan, dengan semangat bersama-sama berikrar Sumpah Pemuda dan bernyanyi  lagu kebangsaan. ALHAMDULILLAH, saya sangat bersyukur dan terharu.

Minggu, 25 November 2012

Menang Lomba Baca Syair Semarak Tahun Baru Hijriyah



Bulan Muharom

Syair karya Nur Muhammadian

Bulan Muharom...
Bulan pertama tahun Hijriyah
Bulan Muharom...
Adalah bulan qomariah
Bulan Muharom
Satu dari empat bulan mulia
Bulan Muharom
Bulan Rajab, bulan Dzulqo'dah, dan bulan Dzulhijah

Hari Asyuro
Hari ke sepuluh bulan muharom
Hari Asyuro
Hari diselamatkannya umat nabi Musa
Hari Asyuro
Disunahkan berpuasa



“Pak bikinkan puisi tentang tahun baru Hijriyah!” pinta Hanun setengah memerintah.
“Buat apa?”
“Untuk lomba syair di sekolahku”
“Kapan?”
“Tiga hari lagi…”
“#%&^*(&)*_)”

Sudah lama saya tidak menulis puisi, dan sekarang diminta membuat puisi yang akan dibaca dalam lomba, dalam waktu tiga hari. Yang lebih menantang lagi adalah bagaimana Hanun bisa menghafal dan berlatih membaca puisi dalam waktu tiga hari, itupun kalau puisinya segera jadi. Untunglah lomba syairnya berpasangan antara ibu dan anak.

Satu hari berlalu, dan ide puisi yang akan saya buat belum terlintas di benak saya, yang berarti kesempatan berlatih juga berkurang sehari. Berarti saya harus membuat puisi pendek sehingga mudah dan cepat dihafal Hanun dan ibunya.

Saya segera browsing, baca buku, mencari informasi segala hal tentang bulan Muharom, tentang tahun baru Hijriyah. Hikmahnya, saya jadi tahu bahwa bulan Muharom bukanlah bulan hijrahnya Rosululloh, tapi bulan pertama kali para sahabat mulai berhijrah ke Madinah. Sedangkan Rosululloh baru hijrah sebulan kemudian, tepatnya di bulan Safhar (mungkin karena itu namanya Safar=perjalanan).

Saya harus membuat puisi tentang keutamaan bulan Muharom, tidak terlalu panjang agar Hanun dan ibunya mudah menghafalkannya, dan harus dirancang membacanya bergantian antara Hanun dan ibunya. Maka jadilah puisi yang pendek sederhana itu.

Waktu saya tunjukkan ke Coqi untuk minta masukan, Coqi tertawa cekikikan.
“Ini puisi atau catatan kecil Pak?”
“Ya kalau terlalu panjang nanti adik dan ibu sulit menghafalnya. Tapi rimanya ada lho meski tidak sempurna…Coba perhatikan!”
“Iya sih…” Coqi masih menahan senyumnya.
“Coqi punya ide atau tambahan lagi?”
“Belum ada Pak…” Masih dengan senyum geli.

Dalam waktu satu setengah hari Hanun dan ibunya berlatih dengan bersungguh-sungguh membaca syair ‘Bulan Muharom’. Saya dan Coqi yang menilai penampilan mereka dan memberi beberapa saran gerakan atau intonasi suara. Hanun bertugas membaca baris yang pendek dan ibunya yang panjang. Saya menyampaikan ke mereka bahwa penilaian juri kemungkinan pada gaya bersyair dan kekompakan baik dari segi kostum maupun aksi panggung.

Pada hari perlombaan saya tidak bisa hadir menonton penampilan mereka. Selesai perlombaan, sesampai di rumah, Hanun dan ibunya melaporkan bahwa hanya mereka yang membaca syair tanpa text karena hafal.

Lima hari kemudian, agak lama karena terpotong hari libur panjang, pemenang lomba diumumkan. ALHAMDULILLAH Hanun dan ibunya berhasil memenangkan lomba, jadi juara pertama. Kemenangan ini adalah prestasi resmi pertama yang berhasil dicapai Hanun. Dia sangat senang, dipandangi terus pialanya. Dipajang pialanya di ruang tamu kami. “Adik menang karena ALLOH sayang kepada anak yang rajin dan mau berusaha dengan keras dan serius…” Saya jongkok di samping Hanun menemani memandangi piala yang diletakkan di meja ruang tamu.

Selasa, 20 November 2012

Hari Ulang Tahun Coqi Tidaklah Istimewa


Bulan November adalah bulan kelahiran Coqi. Di antara kami, di keluarga kecil kami, sudah ada pemahaman yang sama tentang ulang tahun. Mungkin Hanun yang baru berusia empat tahun yang belum benar-benar paham.

Dulu, tepatnya saya lupa, seperti anak-anak pada umumnya Coqi selalu minta hadiah di hari ulang tahunnya.
"Coqi senang dapat hadiah di hari ulang tahun?"
Coqi mengangguk tersenyum.
"Coqi senang gak kalau dapat hadiahnya lebih sering, tidak hanya setahun sekali?"
"Ya senang sekali Pak.."
"Pilih mana?...Coqi mendapat sesuatu saat Coqi membutuhkan, atau Coqi mendapatkannya setahun sekali, saat ulang tahun saja."
"Ya pilih yang pertama dong Pak..."
"Bersyukur, mensyukuri nikmat itu setiap hari atau sebulan sekali?"
"Ya setiap hari dong Pak..."
"Berdoa memohon perlindungan, keselamatan, kebahagiaan, itu tiap tahun atau tiap hari?"
"Ya tiap hari dong Pak.."
Sejak saat itu di antara kami hari ulang tahun bukanlah moment yang luar biasa, sama istimewanya dengan hari-hari lain. Kami pun terbiasa 'merayakan' ulang hari.

Sementara, masih dalam lingkungan keluarga kecil saya memahamkan tentang budaya 'merayakan' ulang hari lebih baik dari ulang tahun. Saya tidak bisa memaksakan kepada orang lain. Saya juga tidak akan menyalahkan orang yang mengistimewakan hari ulang tahun, bahkan pun bila mereka mengistimewakan hari ulang tahun saya, istri dan anak-anak. Seperti yang terjadi di bulan November ini, teman-teman Coqi sudah tahu hari ulang tahunnya dan minta Coqi merayakannya.

Saya bersyukur Coqi juga sudah paham tentang hidup efektif dan bahagia. Uang yang dia dapat dari nenek dan paman-bibinya dia gunakan untuk mentraktir teman-temannya sekelas. Bagi Coqi kebahagiaan adalah bila membahagiakan orang lain, dan kebersamaan lebih efektif membuat bahagia dibanding materi.

Saya dan ibunya tidak mengucapkan 'selamat ulang tahun' kepada Coqi. Kami hanya mengingatkan tentang masa yang sudah dia jalani, dan peningkatan-peningkatan yang seharusnya dia capai. Kami tidak mendoakan Coqi khusus di hari ulang tahunnya, karena kami mendoakannya setiap hari.

Minggu, 18 November 2012

Tanpa Kritik Mana Bisa Berkembang


Saat diminta mengisi materi pada sebuah forum saya selalu mengajak istri, meskipun karena kesibukan tugas sebagai ibu rumah tangga tidak selalu bisa memenuhi ajakan saya. Saya suka komentar atau kritik masukan dari istri tentang kualitas materi saya dan cara penyampaiannya. Sampai saat ini saya merasa baru istri  yang berani memberi kritik masukan tentang kualitas public speaking saya.

"Bapak tadi terlalu banyak menggunakan bahasa Jawa, terasa kurang profesional..."
"Bapak tadi terlalu kaku..."
"Bapak tadi kurang luwes..."

Begitulah komentar-komentar istri saya. Saya tidak pernah membantah komentar-komentarnya, hanya  minta penjelasan lebih detil dan minta solusi apa yang harus saya lakukan.

Beda jauh antara melontarkan celaan dengan kritik. Perbedaan terbesar adalah pada niat sang pelontar. Orang yang mencela berniat memuaskan diri sendiri dengan menjelekkan atau merendahkan orang yang dicela. Sedangkan orang yang memberi kritik berniat membantu yang dikritik menjadi lebih baik, meningkat kualitasnya.

Saya juga selalu minta masukan tentang tulisan fiksi saya kepada istri dan anak sulung saya. Sebagai anggota FLP Malang saya bersyukur punya teman-teman yang siap mengkritik tulisan-tulisan saya, atau bersedia mengedit naskah saya.

Saya yakin tanpa kritik  tidak akan pernah bisa meningkatkan kualitas diri. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang mendukung saya menjadi lebih baik, dengan memberi kritik.

Kamis, 15 November 2012

Jangan Sebut Saya 'Ustadz'


Kata ‘ustadz’ dalam bahasa Arab adalah guru dalam bahasa Indonesia. Saya sangat bahagia, dan menjadi impian saya, menjadi seorang guru. Namun sampai saat ini, entah sampai kapan, saya masih risih bila dipanggil ustadz. Bagi saya gelar ustadz adalah gelar yang sangat mulia, beberapa tingkat lebih tinggi dari gelar guru, menurut perasaan saya pribadi. Saya merasa sebutan ustadz belum pantas saya sandang, terlalu berat bebannya.

Dalam setiap kesempatan menyampaikan materi di forum saya selalu menyampaikan agar tidak memanggil saya ustadz. Banyak yang layak dan pantas dipanggil ‘ustadz’ dan saya belum layak.

Masih menurut perasaan saya, ustadz adalah seorang alim yang memahami ilmu-ilmu dunia dan akhirat, paham dan mampu memandu umat melalui jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan saya masih sedikit paham jalan menuju kebahagiaan di dunia, dan selalu mencari jalan terbaik menuju kebahagiaan akhirat.

Seorang ustadz adalah insan mulia yang sudah menjalankan segala ajaran-ajaran mulia, yang kemudian diajarkan kepada umat. Sedangkan saya masih sedikit-demi sedikit mengumpulkan ilmu mulia itu dan belajar mengamalkannya, sementara hanya saya bagi dan contohkan kepada anak dan istri.

Saya bahagia jadi guru, tapi saya belum lagi ustadz. Jangan sebut saya ustadz karena saya khawatir terbatasnya ilmu dan tindakan saya akan menodai gelar ustadz yang mulia.