Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2022

Bullying - Tak Bisa Dilupakan tapi Harus Diikhlaskan

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang pendiam, jalannya lempeng dengan pandangan lurus ke depan, tidak melihat kanan-kiri? Orang yang tidak mau membalas senyum Anda, melengos, enggan menegur Anda saat bertemu. Saat Anda berusaha mengajaknya ngobrol dia hanya menjawab singkat, seakan berusaha secepatnya menyudahi obrolan, hanya memandang Anda sekilas.

Anda mungkin menganggap orang tersebut sombong, atau angkuh...

Sebenarnya dia sama sekali tidak sombong, justru sebaliknya. Dia sangat rendah diri.

Kesombongan yang terlihat hanyalah cara dia untuk menghadapi ketakutannya.

Dia tidak membalas senyum Anda karena ragu apakah senyum itu untuknya. Dia merasa tidak layak mendapatkan senyuman Anda, maupun dari semua orang. Dia takut dianggap ke-GR-an.

Dia enggan berkomunikasi dengan orang lain, meskipun sangat menginginkannya, karena merasa tidak pantas. Dia tidak tahu harus membicarakan apa dengan orang lain, selalu takut akan mengatakan hal-hal yang dianggap bodoh dan akan ditertawakan, atau sebaliknya, khawatir mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, atau kata-kata membosankan yang tidak menarik. Dia sendiri mudah tersinggung, seringkali merasa diejek atau jadi sasaran ejekan, padahal belum tentu juga dia yanng dituju, atau belum tentu kata-kata yang dia dengar adalah bermaksud mengejeknya. Pokoknya dia selalu berpikir negatif kepada orang lain.

Apakah karena dia intovert?

Hmmm...Dia suka berada di kerumunan orang banyak, meskipun berusaha tidak terlihat dan lebih suka diabaikan kehadirannya. Dia merasakan lebih bersemangat bersama banyak orang, dan merasa tertekan saat harus sendirian di suatu tempat. Ketika sedih atau galau dia akan keluar ke tempat-tempat umum, meskipun tidak berinteraksi dengan satu orang pun. Sepertinya ciri-ciri itu menunjukkan bahwa dia seorang extrovert, bukan introvert.

Mengapa dia bisa begitu?

Karena trauma masa lalu. Dia korban bullying. Perundungan.

Dia lahir dengan jidat keluar lebih dulu sehingga bentuk kepalanya jadi aneh. Peang. Seperti penderita hydrosefalus.

Sejak kecil dia sering diejek, atau dikomentari, atau menerima tatapan mata geli dari orang-orang yang heran melihat kepalanya yang aneh.

“Lihat anak itu...Kepalanya aneh...”

“Ndase koyok tempe...”

“Hey...Ndas gentong!!”

“Motone mendolo...”

Orang tua mengometari bentuk kepalanya yang aneh, anak-anak mentertawakannya. Banyak juga teman-teman sebaya yang mengganggunya secara fisik.

Bertahun-tahun dia merasakan itu. Sehingga membentuk mentalnya jadi sangat rendah diri. Begitu dahsyat pengaruh perundungan terhadap mentalnya.

Dia adalah saya. Korban perundungan di masa kecil, yang mampu memperbaiki diri.

Semua itu masa lalu. Perundungan itu saya alami saat kecil dan menjelang remaja. Namun dampaknya saya rasakan sampai dewasa. Entah kenapa, saya tidak pernah mengeluhkan yang saya rasakan kepada Bapak dan Ibu. Mungkin karena saya kasihan kepada mereka, sudah terlalu lelah bekerja. Saya telan sendiri semuanya.

Saya tidak menyesalinya, justru bersyukur terhadap segala apa yang pernah saya alami. Sekarang saya jadi lebih mempunyai empati terhadap para korban perundungan di masa kecil, karena mengalaminya sendiri. Empati itulah senjata utama saya untuk membantu mereka menjadi lebih baik dan bahagia. Mampu memandang masa depan dengan optimis, menjalani hidup dengan percaya diri.

Wahai para orang tua, jangan remehkan perundungan yang dialami anak-anak Anda. Sekecil apapun sangat menyakitkan bagi mereka. Melukai mental. Membekas. Mereka butuh tindakan khusus untuk menyembuhkan luka itu, serius.

Jangan minta anak-anak Anda melupakan perundungan yang mereka alami. Itu bukan solusi, justru berpotensi membebani jiwa mereka dalam alam bawah sadarnya. Luangkan waktu lebih banyak untuk mendampingi mereka, ajak bicara, dengarkan. Jangan terlalu banyak menceramahi mereka, jangan sok tahu perasaan mereka sebelum Anda mendengar lebih banyak.

Wahai para korban perundungan, jangan simpan luka Anda! Terima, bersihkan, dan ikhlaslah. Anda tidak perlu melupakan peristiwa itu, karena akan tetap jadi masa lalu Anda, selamanya. Terima saja, akui. Maafkan semua orang yang berkontribusi dalam perundungan itu, ikhlaskan. Memang berat, tapi hidup Anda jadi lebih berat jika tidak ikhlas.

Saya korban perundungan, sekarang saya bahagia. Kalau saya bisa, Anda pasti bisa. Saya siap membantu.

Sabtu, 28 Juni 2014

Coqi Mulai Suka dan Rajin Menulis

Saya suka menulis, sangat suka menulis. Impian saya adalah hidup dengan dan dari menulis.
Menulis adalah kegiatan yang murah, sederhana, dan banyak manfaatnya. Karena itu saya juga punya impian anak-anak saya juga suka menulis. Saya memang tidak boleh memaksa anak-anak untuk suka menulis, tapi saya akan melakukan berbagai upaya agar mereka jadi suka menulis.

Cara mendidik yang paling efektif adalah dengan contoh, teladan. Saya optimis bisa membuat anak-anak suka menulis karena saya sudah memberikan contoh. Setiap hari mereka melihat saya menulis.

Sejak bisa menulis Coqi Basil sudah saya kompori (meminjam istilah Pak Heri) agar mau dan suka menulis. Awalnya Coqi mencoba menulis cerpen anak karena tertarik setelah membaca buku-buku karya penulis anak dalam seri Kecil-kecil Punya Karya, tapi tidak pernah bisa selesai. Hanya satu atau dua paragraph saja yang berhasil dia tulis. Setelah mencoba beberapa kali dan tidak berhasil, Coqi berhenti berusaha menulis cerpen. Terakhir dia berusaha menulis kira-kira saat masih kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak itu dia tidak lagi mau membuat karya tulis, dan saya tidak mau memaksanya.

Mungkin saat itu saya dan Coqi keliru memahami, seperti para penulis pemula lainnya, bahwa karya tulis itu harus berjenis fiksi atau sastra. Tulisan nonfiksi kami anggap bukan karya tulis, dan Coqi merasa tidak nyaman menulis fiksi. Atau mungkin saat itu Coqi belum menemukan genre tulisan yang dia sukai.

Saat mulai sekolah di tingkat menengah pertama atau SMP, Coqi mulai menyadari minatnya di bidang komedi. Dalam setiap kesempatan dia melontarkan joke-joke original dan berhasil membuat orang-orang sekitarnya tertawa.

Coqi sangat berminat mempelajari stand up comedy. Setiap ada kesempatan browsing-surfing dia gunakan untuk mencari infomasi dan pengetahuan tentang Stand Up Comedy. Dia menemukan kesimpulan bahwa seorang Comic (sebutan untuk comedian Stand Up Comedy) yang baik harus sering menuliskan materi-materinya. Sejak itu dia selalu menulis dalam buku khusus setiap kali menemukan ide materi. Dan sejak itu pula dia rajin mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan komedi.

Tulisan Coqi dalam blog-nya tidak sebagus tulisan Raditya Dika, Solih Solihun, atau penulis buku lainnya, tapi saya sangat bangga. Saya bangga Coqi sudah suka dan rajin menulis. Saya yakin cepat atau lambat, bila dia konsisten dan istiqomah menulis, kualitas tulisannya akan semakin baik.


Silakan kunjungi Blog-nya http://blackbazil.blogspot.com

Minggu, 25 Mei 2014

Manfaat Gadget bagi Hanun?

Dalam tulisan sebelumnya (Manfaat Gadget bagi Coqi?) saya ‘tersengat’ ketika harus menjawab kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Saya menyadari bahwa ternyata sikap kami sebagai orang tua Coqi dan Hanun masih kurang tegas. Kami masih mengizinkan, bahkan sering membiarkan dalam waktu lama, Hanun memainkan gadget.

Bila Coqi sudah bisa mendapatkan manfaat dari gadget, untuk menulis melalui laptop, maka Hanun hanya bisa menggunakan gadget untuk bermain game, hanya untuk main game. Sebenarnya saya dan istri tidak memiliki gadget yang berisi game yang menarik, bahkan di smartphone kami tidak ada game yang bisa dimainkan, tetapi saat bertemu saudara-saudara sepupunya atau Om dan Tantenya Hanun kerap memainkan gadget mereka yang berisi permainan-permainan menarik.

Sejak menerima ‘kuisioner gadget’ itu saya berpikir panjang tentang manfaat gadget, termasuk game/permainan di dalamnya, bagi Hanun. Semakin panjang saya berpikir, semakin saya menemukan bahwa gadget tidak memiliki manfaat bagi Hanun kecuali untuk sarana komunikasi.

Mungkin ada orang, mungkin juga pakar/peneliti, yang berpendapat bahwa game atau permainan dalam gadget bisa memicu peningkatan IQ anak. Mungkin mereka benar memang ada manfaatnya, tapi lebih besar mana dengan dampak negatifnya? Permainan dalam gadget mungkin bisa meningkatkan kecerdasan intelektual, bagaimana dengan kecerdasan sosialnya? Kecerdasan emosionalnya? Kecerdasan spiritualnya?

Sebagai orang tua saya ingin Hanun menjadi pribadi yang bahagia dan membahagiakan, dan saya yakin itu tidak hanya ditopang kecerdasan intelektual semata. Bahkan lebih banyak orang bahagia yang memiliki IQ sedang tetapi EQ dan SQ-nya tinggi dibanding sebaliknya. Saya sangat tidak ingin Hanun menjadi orang yang update dalam hal technology (tidak gaptek) tapi gagap pergaulan atau gagap sosial.

Saya tidak tahu apakah para pakar dan peneliti yang berpendapat bahwa permainan game dalam gadget bisa meningkatkan IQ juga sudah melakukan penelitian pada permainan tradisional. Apakah mereka pernah melakukan penelitian pada permainan bekel, dakon, bentengan, gobak sodor?


Beberapa hari setelah menerima ‘kuisioner gadget’ saya membelikan Hanun seperangkat bekel dan dakon. Saya bukan peneliti, saya tidak punya ilmu dasar-dasar penelitian, tetapi saat melihat Hanun belajar memainkan bekel-nya saya lihat dia melatih syaraf motorik, menghitung, mengingat, kejujuran, dan berbagi, yang tidak mungkin didapat saat memainkan game dalam gadget

Manfaat Gadget bagi Coqi?

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Pertanyaannya hanya lima, tapi pada pertanyaan ketiga saya terhenti karena kesulitan menjawab.

Pertanyaan pertama : “Mulai usia berapa ananda diperkenankan memegang gadget?”

Saya menjawab tiga tahun. Saat menjawab pertanyaan pertama ini, sebelum membaca pertanyaan berikutnya perasaan saya sudah tidak enak. Dan benar, pertanyaan kedua sangat sulit dijawab.

Pertanyaan kedua : “Apa tujuan Ayah/Bunda memperkenankan ananda memegang gadget?”

Pikiran saya campur aduk karena tersadar bahwa selama ini banyak sikap kami mendidik Hanun yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Saya berusaha berpikir, mencari jawaban yang jujur dan pantas untuk pertanyaan kedua ini. Akhirnya saya menuliskan jawaban :”sekedar memperkenalkan teknologi”

Pertanyaan ketiga : “Manfaat apa yang didapat ananda dari gadget?”

Pertanyaan ketiga ini tampak pendek, tapi bagi saya terasa panjang. Bagi saya makna sebenarnya dari pertanyaan ini adalah “Manfaat apa yang bisa diberikan gadget kepada ananda yang tidak bisa diberikan oleh benda lain, yang benar-benar penting dalam proses tumbuh kembang ananda secara fisik, mental, dan sosial”
Saya benar-benar tidak mampu menemukan jawaban pertanyaan ketiga ini, maka saya tulis “nihil”.

Saya berhenti berusaha menjawab kuisioner, dan mulai berusaha berpikir untuk introspeksi tentang sikap-sikap kami dalam mendidik anak-anak. Saya teringat sempat merasa kasihan kepada Coqi dan Hanun, saat berkumpul dengan saudara-saudara sepupu mereka yang memegang gadget canggih masing-masing, Coqi dan Hanun hanya memandang dan berusaha meminjam dengan wajah melas. Saya sempat bimbang apakah langkah kami tidak membelikan gadget untuk anak-anak itu benar. Karena itu meskipun Coqi dan Hanun tidak memiliki gadget, mereka sering saya biarkan memainkan gadget milik saya atau ibunya. Setelah membaca kuisioner saya semakin mantap untuk membatasi Coqi dan Hanun memainkan gadget.

Coqi sudah punya laptop sendiri yang dia beli menggunakan uang tabungan hasil mengumpulkan uang beasiswa saat dia SD. Kami memberlakukan aturan bahwa belajar dan mengoperasikan computer/laptop harus dilakukan di ruang belajar bersama sehingga bisa saling tahu apa yang dilakukan masing-masing. Saya akan tahu apa yang dilakukan Coqi dengan laptopnya, kecuali dia sendirian di ruang belajar, sebaliknya Coqi akan selalu tahu apa yang saya lakukan dengan laptop saya. Dengan cara ini, selain untuk fungsi pengawasan, saya bisa memotivasi Coqi untuk menulis. Bukankah pendidikan yang terbaik itu dengan teladan? ALHAMDULILLAH Coqi sudah mulai aktif menulis di blog-nya http://blackbazil.blogspot.com.

Coqi sudah menyampaikan permohonan izin membeli smartphone dengan menggunakan uang tabungannya. Saya mengizinkan dengan syarat nilai hasil Ujian Nasional SMP memuaskan, dan kelak tidak dibawa ke sekolah. Saya mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat SMA karena saya merasakan ada manfaat baginya. Coqi yang bercita-cita menjadi journalist saat ini sering meminjam smartphone milik ibunya untuk searching informasi bahan tulisan (Coqi punya kebiasaan menulis secara manual bahan tulisannya di buku sebelum diketik). Dia bilang lebih praktis menggunakan smartphone dibanding laptop untuk mencari data dengan cepat. “Kalau pakai laptop itu aku khan harus menunggu saat loading awal, loading membuka aplikasi internet, keburu hilang ideku Pak…” Seandainya saya tidak melihat manfaat itu saya mungkin baru mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat lulus SMA.


Bagaimana dengan Hanun? Akan saya bahas pada tulisan berikutnya.

Kamis, 17 April 2014

[Anak Bermasalah 2] Anak adalah Akibat Orang Tuanya

Seorang ibu muda mengeluhkan anaknya yang 'speech delay'. Dia bahkan berani bayar berapapun untuk sesi terapi anaknya.

Alih-alih menerapi anaknya, saya malah mengajak ibu tersebut ngobrol tentang dirinya.
"Ibu bekerja?"
"Iya Pak...Saya berwirausaha..."
"Jam berapa Ibu sampai rumah?"
"Saya sampai rumah menjelang Ashar Pak"
"Capek Bu?"
"Iya Pak..."
"Apa yang Ibu lakukan saat capek di rumah, selain tidur?"
"Saya itu suka menggambar Pak..."
"Wah asik juga Bu...Dengan menggambar bisa menghilangkan capek? Wah sangat produktif kalau begitu..."
"Iya Pak...Wah kalau sedang asyik menggambar saya gak mau diganggu Pak...Biasanya saya malah jadi emosi kalau saat menggambar ada yang berisik. Saya merasa relax dan bebas saat sedang menggambar..."
(Obrolan terus berlanjut...)

Dari sekilas obrolan tersebut Anda pasti sudah bisa menebak apa yang akan saya sampaikan kepada ibu muda tersebut tentang masalah anaknya. Seperti biasa saya tidak menyampaikan pesan-pesan nasihat, tetapi beberapa pertanyaan yang harus dijawab Ibu muda tersebut. Kira-kira pertanyaan seperti apa yang saya sampaikan?

Pertanyaan bagi Anda : menggambar itu perbuatan baik atau buruk? Apa hubungan antara menggambar dengan ‘speech delay’?

Menggambar adalah suatu kebaikan. Melakukan sesuatu kebaikan untuk menyenangkan diri adalah perbuatan mulia. Tapi harus disadari bahwa sebagai  orang tua, menjadi ayah atau ibu, pasti memiliki amanah dan tanggung jawab lebih, lebih dan sangat besar. Jangankan menggambar, orang tua yang  tidak berbuat apa-apa bisa berakibat buruk sangat besar bagi anak-anaknya.


Anak adalah akibat orang tuanya. Bila Anda belum punya anak, segala perilaku Anda hanya akan ditanggung sendiri. Anda bebas berbuat sesuatu, apalagi suatu kebaikan.  
Tetapi saat Anda punya anak, maka semua anak Anda akan 'menikmati' akibat yang Anda sebabkan meskipun itu bukan kejahatan. Selalu pikirkan akibat yang akan ditanggung anak sebelum berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. Kebaikan bagi Anda belum tentu membawa akibat kebaikan bagi Anak Anda.


Waspadalah dan segera berubah, atau Anda harus siap  kecewa melihat Anak Anda.

Jumat, 14 Maret 2014

Saya Ingin Coqi dan Hanun Seperti Batman (3 Alasan Saya Pensiun Dini 3)

Alasan #3 : Saya Ingin Anak Saya Seperti Batman atau Ironman

Dalam satu sesi pelatihan guru saya menyampaikan bahwa Superhero yang baik itu Batman atau Ironman. Karena dalam kehidupan normal mereka kaya, dan bisa membantu orang dengan kekayaan mereka. Beda dengan Superman yang hanya reporter atau Spiderman yang hanya seorang Photographer (tanpa merendahkan profesi reporter maupun photographer). Si Bruce atau si Tony bisa kaya karena mewarisi dari orang tuanya, istilah jawa timurannya “Belungan Sugih”.

Para konglomerat, para jutawan, miliuner maupun triliuner, sebagian  mewarisi dari orang tuanya masing-masing. Mereka mewarisi kekayaan dari orang tuanya. Mereka punya “Belungan Sugih”, mereka jadi Superhero. Benarkah kekayaan materi bisa dipertahankan sampai beberapa generasi ahli waris?

Sebenarnya yang membuat ahli waris tersebut kaya bukanlah warisan kekayaan materi, memang ada pengaruhnya sebagai modal. Tetapi warisan terbesar mereka adalah kemampuan mereka mengelola kekayaan materi yang diwarisi dari orang tuanya. Kemampuan itu sudah mereka dapatkan sejak kecil. Mereka sudah terbiasa melihat orang tua mereka bekerja keras sebagai pengusaha, wirausahawan. Mental entrepreneur sudah tertanam, mungkin, sejak mereka lahir. Mental itulah yang membuat mereka memiliki “Belungan Sugih”, mental pantang menyerah-mental kreatif-mental produktif.

Saya ingin Coqi dan Hanun jadi seperti Ironman atau Batman, hidup sejahtera meskipun seluruh hidupnya digunakan untuk membantu orang lain. Saya ingin mereka punya “Belungan Sugih”.

Selasa, 11 Maret 2014

Pilihan Coqi (Cita-cita Coqi)

Saya sangat setuju bahwa pendidikan itu sangat penting, bahkan sampai akhir hayat. Untuk sahabat-sahabat yang sudah berusia lanjut justru harus semakin banyak belajar karena zaman terus berubah dan Anda diberi kelebihan usia untuk dimanfaatkan di zaman ini, bukan zaman dulu.

Tapi saya berpendapat menuntut ilmu tidak harus di jalur umum (baca : formal), karena ilmu itu dicari untuk diamalkan dan dimanfaatkan, bukan sekedar gelar administrasi, kecuali bila memang gelar administrasi itu dibutuhkan untuk peningkatan jenjang karir. 
Bila menuntut ilmu hanya melalui jalur umum  maka setelah memiliki gelar akademik orang akan berhenti melakukannya. Tidak ada seorang pun yang berani sesumbar  bahwa gelar akademik bisa menjamin hidup jadi sukses. Pun tidak ada seorang pun yang berani bertaruh bahwa tanpa gelar akademik, tanpa ijazah, orang tak bisa sukses.

Saya dan istri sangat menyadari itu, dan kami terapkan dalam pola didik ke Coqi. Kami tidak ingin Coqi memilih jalur pendidikan tanpa tujuan yang jelas, asal pilih atau asal ikut.Saat ini Coqi sedang bersiap menghadapi Ujian Nasional SMP. Kami memberinya beberapa pilihan jalur setelah lulus SMP : masuk SMA, SMK, Pondok Pesantren, atau tidak semuanya alias Home Schooling. Kami beri dia kebebasan memilih, dan kami dukung maksimal pilihannya bila dia bisa memberikan alasan yang tepat. Tapi bila ternyata alasannya kurang kuat sehingga argumennya bisa saya patahkan maka dia harus mengubah pilihannya.

“Aku masuk SMA aja Pak…”

“Kenapa bukan SMK, Pesantren , atau Home  Schooling aja??” Saya sudah menyiapkan segala jurus untuk mematahkan argument dia. Saya berasumsi  Coqi memilih SMA tanpa memiliki alasan yang kuat, hanya karena kebanyakan teman-temannya memilih itu, ternyata asumsi saya salah.

“Aku ingin jadi journalist dan comedian Pak…Aku butuh masyarakat majemuk untuk latihan. SMA adalah sekolah yang paling majemuk dibanding SMK dan Ponpes apalagi Home Schooling” Coqi hanya menyampaikan tiga kalimat dan saya tidak punya satu kalimat pun untuk mematahkan argumennya. Saya kalah dan bangga dengan kondisi kekalahan saya. Ternyata anak lelaki saya yang beranjak remaja sudah memikirkan manfaat dari pilihannya.


Sekali lagi saya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berharap Coqi mendapat penataan langsung dari NYA.

Senin, 10 Maret 2014

Cita-cita Coqi

“Piye toh Coq orang ini…Bisa-bisanya dia minta didukung di PEMILU agar bisa melakukan perubahan…Jelas-jelas partainya adalah tiga partai terbesar perolehan suaranya di PEMILU lalu, dan lima tahun ini partainya tidak berbuat yang significant untuk rakyat, malah alegnya banyak yang korupsi. Kok gak malu minta dipilih lagi…!?!?” Saya mengomentari  pidato politik seorang tokoh partai dalam promonya di televisi.

“Hehehehe iya Pak…Nggak lucu…” Coqi terkekeh mendengar  gerutuan saya.

“Politikus itu memang pelawak-pelawak yang gak lucu Coq…”

Coqi  tertarik pada politik sejak usia lima tahun, sejak dia mulai belajar membaca. Saat itu memang sedang puncak pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya. Mungkin Coqi tertarik dengan bertebarannya banner kampanye calon presiden. Di usianya yang sangat muda itu Coqi sudah sangat antusias mengikuti berita politik baik dengan membaca media cetak maupun menonton televisi. Saat itu, dengan gaya khas anak-anak, dia sudah bisa menganalisa para calon presiden dan partai-partainya. Coqi pun bercita-cita menjadi  presiden.

Pernah saat  di sekolahnya disuruh gurunya membuat kreasi bentuk tertentu, sementara teman-temannya membuat bentuk benda-benda yang nyata seperti rumah, pesawat, mobil dan lain-lain, Coqi membuat bentuk yang absurd dan menyebutnya sebagai kursi DPR. Pada usia sembilan tahun Coqi menyumbangkan uang tabungannya  untuk dana kampanye salah satu calon Walikota Malang yang dia sukai.

Bersama dengan berjalannya waktu, Coqi semakin dewasa, minat mengamati politik tidak berkurang tetapi cita-citanya berubah. “Nggak jadi dech Pak…Presiden itu amanatnya sangat besar, terlalu berat”

Saat ini Coqi menemukan sendiri bahwa dia sangat berminat menjadi journalist dan comedian, dan memang sikapnya menunjukkan itu. Saat saya mengambil raport kenaikan kelas, wali kelasnya menyampaikan bahwa Coqi suka menghibur guru dan teman-temannya dengan banyolan-banyolannya. Bila tertarik pada sesuatu, seperti film atau berita tertentu, maka Coqi akan segera melakukan penggalian data sebanyak-banyaknya. Sambil menonton siaran ulang acara penganugerahan piala Oscar, Coqi mampu menjelaskan tentang  film  dan actor- actress  yang mendapatkan piala Oscar cukup detil.

Sejak  SD Coqi selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba pidato agama. Coqi selalu menang di tingkat kecamatan tapi tidak pernah menang di tingkat kota. Menurut analisa gurunya hal itu disebabkan  Coqi menolak memasukkan banyak unsur-unsur banyolan dalam pidato-ceramahnya, sedangkan juri-juri lomba pidato tingkat kota sangat apresiatif pada pidato yang kocak atau lucu.

“Daripada ceramah berisi banyolan mending sekalian aku melawak tapi berisi pesan-pesan moral Pak….!”

Sampai sekarang Coqi masih suka berdiskusi tentang politik, meskipun tidak lagi berminat terjun ke dalamnya. Saya belum mendengar secara verbal, tapi saya yakin dalam hatinya Coqi punya pernyataan :

“Daripada jadi politikus yang omongannya seperti  lawakan yang tidak lucu, mending  jadi  pelawak yang menghibur dan mencerdaskan penontonnya”


Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk Coqi, doa seorang bapak yang memasrahkan masa depan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.

Sabtu, 01 Maret 2014

Anakku...Mencintalah dengan Mulia



Bapak lihat kumismu mulai rapat tumbuh, kaubilang bulu- bulu di bagian lain juga begitu. Tubuhmu semakin tinggi melampauiku. Suaramu membesar, dan sudah beberapa kali muncul jerawat di mukamu.

Kau semakin dewasa anakku. Kau sedang dalam proses perubahan besar secara fisik. Hormon-hormon kelelakianmu mulai aktif.

Sementara mengikuti perubahanmu,, Bapak juga mendapati berita dan kabar perilaku teman-temanmu, anak-anak seusiamu, yang melakukan perbuatan hina.
Bapak menyadari bahwa sejak dulu, saat Bapak seusiamu, sudah banyak anak-anak remaja berbuat seperti itu, tapi saat ini semakin gila dan hina.

Bapak tahu, karena pernah merasakannya, bahwa seiring perubahan fisik emosimu juga tumbuh. Kau sudah mulai merasakan hasrat kepada dia yang cantik, dan itu normal anakku. Hasratmu adalah hal yang wajar, kau tak berdosa memilikinya, terima dan berbahagialah.

Berhati-hatilah memilih tindakan mengikuti hasrat itu anakku...
Hasratmu bisa tumbuh, atau pergi dan berganti.
Hasratmu bisa tumbuh menjadi cinta yang mulia, atau tumbuh liar menjadi nafsu yang hina, dan kamu sendirilah yang memilihnya.
Bila kau memilih cinta, maka ujungnya adalah kebahagiaan dan kemuliaan. Tapi bila kau membiarkan hasratmu berubah menjadi nafsu liar maka ujungnya adalah kehinaan dan penderitaan.

Coqi anakku...
Kau pastilah tahu mana yang harus kau pilih. Tapi waspadalah pada nafsu bertopeng cinta. Berhati-hatilah terhadap rayuan hina berbalut cinta.
Bila kau mencintai dia yang cantik dan indah, pastilah kau tak akan rela dia menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Bila kau mencintainya, kau tak akan tega melihatnya mabuk kepayang karena bunga-bunga rayuanmu sehingga tak bisa berbuat yang lebih berguna. Bila kau mencintainya, kau akan tegas menjawab ajakannya : "Kau cantik dan indah, semoga Tuhan membuat ahlakmu lebih cantik dan indah"

Coqi anakku...
Wanita itu diciptakan Tuhan untuk dicintai dan dimuliakan, sebagaimana Bapak mencintai dan memuliakan Ibumu, dan banyak cara untuk itu.

Saat belum menjadi istrimu, cintailah dia yang cantik dengan memberinya waktu untuk tumbuh semakin cantik dan mulia, jangan kau ganggu. Ubahlah cinta di hatimu menjadi karya-karya sesuai kemampuanmu, sehingga kamu juga bertumbuh menjadi semakin indah dan mulia. Senandungkan bait-bait cintamu hanya saat bersujud di hadapan Yang Maha Penyayang, pasrahkan kepada NYA.


Bila kau jaga cintamu bertumbuh semakin mulia, maka suatu saat nanti tiba waktunya kau dipersandingkan dengan dia yang paling cantik dan mulia, seindah dan semulia cintamu.

Kamis, 03 Oktober 2013

[Anak Bermasalah 1] Orang Tua Harus Mau Berubah

Beberapa malam yang lalu saya menerima tamu, sepasang suami-istri atau lebih tepatnya sepasang ayah-bunda. Sebelum datang sang Ayah sebenarnya sudah menghubungi saya melalui Blackberry Message, secara singkat menyampaikan tentang keinginan mereka untuk bertemu saya dan konsultasi masalah anak mereka. Kami sepakat pada pertemuan pertama sang anak tidak perlu diajak.

Berdasarkan pengalaman menangani masalah anak, memang hampir 90% masalah yang terjadi ternyata bersumber dari orang tua, sehingga saat kedua orang tua bersedia berubah maka masalah pada anak terselesaikan dengan sendirinya.

Pada pertemuan malam itu, setelah mereka menyampaikan masalah anak mereka, ada satu pernyataan mereka yang membuat saya terkesan dan menilai mereka adalah orang tua yang luar biasa. Mereka menyatakan, yang diwakili dinyatakan oleh sang Ayah :" Apa yang salah dari kami Pak? Perubahan apa yang harus kami lakukan?". Bagi saya pernyataan itu suatu tanda bahwa sebenarnya tidak ada masalah krusial pada anak mereka, bahkan pada keluarga kecil mereka. Bila pun mereka merasa ada yang harus dibenahi, saya yakin dalam waktu cepat bisa berubah jadi lebih baik.
Ayah-Bunda tamu saya ini menunjukkan kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk berubah, dan itu adalah lebih dari separuh penyelesaian masalah.

Sangat banyak terjadi pada pasangan Ayah-Bunda lain, yang sebagian juga melakukan konsultasi dengan saya, yang menganggap anaknya bermasalah tapi tidak mau mengakui bahwa mereka lah yang harus berubah terlebih dahulu.

"Pak...Anak saya itu maunya sendiri, sering membantah kalau dikasih tahu...! Tolong terapi dia Pak..."
"Saya sudah melakukan segala yang dia mau, tapi dia semakin ngelunjak...Nyerah saya..."

Banyak orang tua yang menganggap anak mereka bermasalah, tapi mereka merasa sudah memperlakukan anak mereka dengan benar. Tugas terberat saya adalah membuat mereka sadar bahwa mereka harus berubah terlebih dahulu bila menginginkan anak mereka berubah, nyaris tidak ada cara lain.

Sabtu, 04 Mei 2013

Televisi oh Televisi


Saya dan istri menyadari bahwa sedikit sekali manfaat yang bisa didapat dari televisi, tetapi kami mengakui meskipun sedikit masih ada manfaatnya sehingga masih mempertahankannya di rumah kami. Saya sendiri sangat jarang sempat meluangkan waktu menonton acara televisi. Sebelum kakak ipar mengirimi kami televisi dua puluh inch, kami hanya memiliki televisi empat belas inch yang kami beli lima belas tahun lalu. Kami tidak bisa menolak pemberian kakak ipar.

gambar dari depositphotos.com 

Dulu saya sempat berniat menghilangkan televisi dari rumah kami, karena mengkhawatirkan anak-anak. Saat itu kedua anak kami banyak menghabiskan waktu di depan televisi, sehingga saya merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka, tapi saya tidak mungkin melarang mereka tiba-tiba tanpa alasan. Saya tidak ingin anak-anak merasa 'terpaksa' tidak menonton televisi, bukan dari kesadaran diri.
Hingga akhirnya suatu ketika kedua anak kami bertengkar berebut acara televisi. Saya merasa menemukan moment yang bagus untuk melakukan perubahan.  Saya cabut kabel listrik sebagai hukuman pertengkaran mereka. Saya akan mengizinkan mereka menonton televisi setelah mereka berbaikan, dan menunggu hasil 'musyawarah keluarga'.

Kami memang mempunyai tradisi mengadakan 'musyawarah keluarga' untuk mencari solusi masalah atau merencanakan sesuatu. Dalam musyawarah itu semua orang berhak mengajukan pendapat, dan semua peserta harus komitmen pada hasil musyawarah.

Saya membuka musyawarah dengan menyampaikan kekhawatiran saya tentang terlalu banyaknya waktu yang digunakan anak-anak untuk menonton televisi. Mereka saya tanya satu persatu manfaat televisi untuk masa depan mereka, dan mereka terdiam. Saya minta pendapat mereka acara apa saja yang bermanfaat di Televisi, yang bermanfaat untuk kebahagiaan dan masa depan mereka, dan yang paling kecil pengaruh buruknya. Hanun yang saat itu masih balita juga aktif berbicara dengan gaya dan celotehnya yang lucu. Kami asyik berdiskusi, menimbang-nimbang, menganalisa kondisi, dan akhirnya membuat keputusan. Ternyata Coqi hanya tertarik menonton pertandingan bola, acara pengetahuan populer, dan beberapa film seri detektif. Kami bersama memiliki kesamaan pendapat bahwa ada manfaat dari acara-acara itu, dan khusus film detektif syaratnya Coqi harus saya atau ibunya dampingi saat menonton. Setiap hari Coqi hanya punya waktu satu jam setelah Ashar dan satu jam setelah belajar malam hari.
Sedangkan Hanun hanya suka film kartun, dan punya jatah satu jam setiap hari. Hasil kesepakatan musyawarah mengikat kami semua, termasuk saya dan istri.

Meskipun kecil ada manfaat yang bisa didapat dari televisi. Yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan diri, karena televisi hanyalah alat pasif. Kita sendiri yang bisa memilih untuk mendapatkan untung atau rugi dari televisi.

Rabu, 27 Februari 2013

Teladan dan Amanah (Jilbab Hanun 3)


Saya dan istri yakin bahwa pendidikan yang terbaik adalah dengan contoh, teladan. Karena itu dalam mendidik Hanun contoh dari ibunya sangatlah penting.

Sebagai Bapak, seorang laki-laki, saya hanya bisa memberi contoh untuk sikap-sikap multi gender, sikap-sikap umum seorang muslim. Sejak dini kami sudah mengajarkan tentang perbedaan gender kepada Hanun. Dia sudah kami beritahu bahwa Bapak dan Ibu punya banyak perbedaan, terkait gender.Pelan-pelan kami sampaikan apa-apa yang boleh dilakukan laki-laki dan yang boleh dilakukan perempuan.

Sebagai seorang wanita dewasa yang paling dekat dengan Hanun, peran ibunya sebagai teladan sangat mempengaruhi perkembangan Hanun. Peran saya saya sebagai teladan Hanun lebih kecil porsinya dibandingkan peran saya sebagai penegur istri...hehehe...
Istri saya lebih tinggi kemauan untuk berubah bila termotivasi kesadaran sebagai teladan Hanun.

Dari awal menikah kami memang berkomitmen untuk melakukan secara maksimal, yang terbaik, dalam mendidik anak. Kami yakin niat dan usaha kami pasti ada hasilnya, meskipun semua hasil  tergantung keputusan TUHAN. Kami tidak bisa menjamin, tidak akan sesumbar, anak-anak kami menjadi insan terbaik kelak. Kami hanya akan melakukan apapun, bahkan bila perlu mengorbankan nyawa, untuk menjaga amanah TUHAN yang kami terima agar bisa mempertanggungjawabkannya pada pengadilan tertinggi kelak.


Jumat, 22 Februari 2013

Mandi dan Hidup Efektif


Gaya hidup efektif dan bahagia saya terapkan di rumah, lingkungan terkecil dan paling dekat hidup saya. Di rumah kami, saya biasakan melakukan sesuatu dengan efektif. Sebelum melakukan sesuatu kami harus tahu dan paham manfaatnya. Meskipun sulit kami harus melakukannya bila manfaatnya besar.

Dari hal-hal terkecil kami usahakan selalu efektif. Misalkan masalah jadwal mandi. Kami sekeluarga punya kesepakatan untuk tidak memiliki jadwal mandi, alias suka-suka. Kalau tidak perlu ya tidak mandi, tapi minimal sekali sehari. Sebaliknya kami bisa mandi berkali-kali sehari, sesuai kebutuhan. Kami berpedoman pada agama dan kesehatan dalam menentukan manfaat  mandi.  Selain agama dan  kesehatan, kami juga memperhatikan kebaikan dan kenyamanan orang lain. Meskipun sudah dua kali mandi, tapi karena berkeringat badan jadi bau tidak sedap, kami mandi lagi. Sebaliknya kami sering hanya mandi sekali karena badan masih bersih, tak berkeringat dan wangi sampai tidur malam hari.

Jadi masalah mandi ini kami benar-benar menggunakan azaz manfaat, bukan sekedar rutinitas tradisi.
Masalahnya, tidak semua orang di sekitar kami bisa memahami azaz manfaat mandi yang kami anut. Contohnya adalah peristiwa saat kami berkunjung dan menginap di rumah Ibu saya selama liburan sekolah.
Ibu saya, Utinya Coqi, memegang teguh tradisi sejak lama, mandi dua kali sehari. Sehingga beliau tidak berkenan saat Coqi menolak disuruh mandi sore “Badanku masih bersih Uti…Baru tadi siang Aku mandi dan sekarang belum kotor dan tidak berkeringat….”. Neneknya tidak bisa menerima alasan Coqi.

Saya panggil Coqi…

“Bapak menghargai pendirian Coqi tidak mau mandi sore, berdasarkan gaya hidup efektif kita. Tapi dalam mempertimbangkan manfaat Coqi juga harus memperhatikan konteks. Meskipun Coqi tidak kotor dan masih wangi, Coqi harus menghargai kebiasaan di rumah Uti…Coqi harus menjaga kebahagiaan Uti…Kali ini Coqi harus mandi karena manfaat yang besar, kebahagiaan Uti…”

Coqi harus belajar bahwa membahagiakan orang adalah pertimbangan tertinggi gaya hidup efektif setelah ajaran agama.



Senin, 18 Februari 2013

Belajarlah Setiap Saat Agar Semakin Baik Setiap Hari


Hanun anakku...Hari ini usiamu genap lima tahun bila dihitung menggunakan kalender masehi.
Artinya Hanun sudah lima tahun belajar menjadi anak yang baik, anak yang pandai, anak yang hebat.
Anak yang usianya genap lima tahun harus lebih baik, lebih pandai, dan lebih hebat daripada anak yang usianya lebih muda. Khan sudah lebih lama belajarnya...

Hanun anakku...setelah ini kamu harus meneruskan belajarmu, setiap hari, setiap saat. Apapun yang kau temui, kau lihat, kau dengar, adalah pelajaran. Bapak dan Ibu akan selalu memberikan contoh yang terbaik yang bisa kami lakukan. Bila kau menemui sesuatu yang mengganjal hatimu tanyakan kepada Bapak, Ibu, atau Ibu Guru, jangan kau pendam sendiri. Bahkan bila menurutmu Bapak melakukan sesuatu yang tidak baik, tegurlah, karena Bapak juga mungkin melakukan kesalahan. Bapak juga masih terus belajar menjadi orang yang lebih baik.

Hanun anakku...Jadilah semakin baik, semakin pandai, semakin hebat setiap hari, tak perlu menunggu ulang tahun. Bapak selalu mendoakanmu, hadiah terbaik yang bisa Bapak berikan, setiap hari.

Jumat, 15 Februari 2013

Doa dalam Nama Coqi

"What is a name"
Apalah arti sebuah nama.
Bagi saya nama adalah doa, harapan, cita-cita orang tua kepada anaknya.

Semua orang tua ingin anaknya menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak semua orang tua memberi nama anaknya sebagai doa dan harapan. Itu pilihan mereka, dan saya menghargainya. Seperti sebuah cerita humor yang pernah saya baca :
"Ma...Benarkah di suku kita nama orang itu sesuai peristiwa besar yang terjadi saat ibunya belum hamil sampai melahirkan?"
"Benar...Kenapa kamu menanyakan itu Dipan Ambruk?"

Banyak juga orang yang memiliki nama yang bagus, menggunakan nama-nama Nabi, orang-orang bijak, atau nama-nama lain yang memiliki arti bagus dan mulia tapi perilakunya sangat hina, keji, suka menyakiti sesama. Apakah yang dilakukan orang tua mereka memberi nama bagus tidak ada gunanya?

Orang tua memberi nama yang bagus adalah ihtiar untuk kebaikan anaknya, salah satu usaha. Usaha orang tua tidak cukup sampai di situ, tidak cukup hanya memberi nama yang bagus, tapi harus berkelanjutan dengan pendidikan yang baik.

Nama lengkap Coqi adalah Muhammad Isyroqi Basil. Muhammad artinya orang yang terpuji, isyroq artinya memancar, dan basil artinya pemberani. Sejak kecil, sejak bisa bicara Coqi sudah kami beri penjelasan tentang arti namanya sendiri. Kami sampaikan juga bahwa dia harus bertanggung jawab menyandang nama yang artinya baik. Dia harus bersikap selaras dengan kebaikan namanya. Itulah ikhtiar awal kami...

Nama Muhammad Isyroqi Basil adalah doa dan harapan kami untuk Coqi. Semoga dia menjadi orang yang terpuji, yang memancarkan sinar ke sekelilingnya dan berani berbuat untuk kebenaran. Aamiin...

Kamis, 31 Januari 2013

Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis (Jilbab Hanun 2)


Hanun saat ini berusia lima tahun, dan dia sudah paham tentang konsep aurat maupun muhrim. ALHAMDULILLAH tidak terlalu sulit membuat dia paham bagaimana harus bersikap kepada lawan jenis. Saya yakin itu karena hidayah Tuhan kepadanya, dan Tuhan pula yang mengilhamkan ke saya dan istri saya tentang mendidik ahlak sejak usia Hanun 0 tahun.

Saya yakin tentang konsep pendidikan sejak dalam kandungan. Saya belum pernah membaca jurnal ilmiah atau hasil penelitian tentang konsep ini, tapi saya sudah menemukan banyak bukti dan mengalaminya sendiri. Sayang sekali masih banyak orang tua di Indonesia yang meragukan konsep ini. Mereka masih berpendapat bahwa bayi dan anak di bawah usia tiga tahun belum bisa menangkap informasi sempurna dari sekelilingnya.

Pendidikan yang saya anggap paling penting untuk saya ajarkan kepada Hanun sesegera mungkin adalah tentang ahlak, dan saya meyakini sumber terbaik adalah ajaran agama. Saya meyakini bahwa ajaran agama adalah manual book atau user guide manusia untuk hidup. Sebagai muslim saya meyakini Al Qur'an dan Al Hadits sebagai pedoman hidup, acuan segala ilmu.

Saya percaya bahwa semua yang kita sampaikan kepada anak sejak usia 0 tahun terekam sempurna dalam pikirannya, di otaknya. Hanya saja mereka belum bisa menanggapi informasi itu. Informasi yang tersimpan di otaknya pasti bermanfaat suatu saat kelak. Sebaliknya, hati-hati dengan informasi negatif yang berpotensi masuk ke otak anak usia dini, juga akan terekam dalam otaknya. Televisi adalah media yang harus diwaspadai berpotensi besar mengirim informasi negatif  ke dalam pikiran anak.

Saat Hanun sudah mulai aktif berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, saya mulai sering mengingatkan tentang konsep hubungan yang benar menurut ajaran agama, konsep yang sudah dia terima informasinya sejak lahir.
"Bukankah larangan itu bagi orang yang sudah dewasa? Sudah baligh?"
Tak ada penegasan di agama bahwa aturan hanya boleh diajarkan kepada orang dewasa, kalau berlakunya keawajiban memang benar untuk orang yang sudah dewasa. Ahlak dan moral adalah sari pati inti dari karakter. Bukankah terlambat bila baru mengajarkan ahlak dan moral saat anak sudah dewasa? Saat karakternya sudah terbentuk? Secara biologis kita bisa mengenali kapan anak kita mencapai kedewasaan, tapi secara psikologis sulit mendeteksinya.

ALHAMDULILLAH sekarang Hanun sudah tahu dan melakukan sikap-sikap membatasi diri saat berhubungan dengan lawan jenis, meskipun kadang-kadang masih harus diingatkan. Paling tidak dia bisa menerima dan segera berubah saat diingatkan, tidak membantah atau menentang menggunakan  segala argumen nalar manusia yang tidak selaras dengan ajaran agama.

Rabu, 30 Januari 2013

Jilbab Hanun


Dulu, lama sebelum Hanun lahir saya sudah sangat suka melihat anak kecil perempuan yang berkerudung rapi. Teman-teman, orang tua anak-anak itu, memberi tips bahwa jauh lebih mudah mengajari anak berkerudung sedari kecil, sedini mungkin.  Sejak saat itu selalu ada dalam doa saya permohonan dianugerahi anak perempuan.

Memerhatikan tingkah polah perempuan-perempuan masa kini saya sangat miris dan khawatir. Betapa mereka sudah tidak peduli dengan  kehormatan, suka memamerkan bagian-bagian tubuh demi mendapatkan kepuasan karena jadi pusat perhatian.

Banyak yang berkilah bahwa bukan tanggung jawab mereka  bila banyak mata lelaki jalang memandang tubuh mereka.
"Ah...Bukan urusan saya bila para lelaki itu memandangi saya, khan mata mereka sendiri, saya gak nyuruh"
"Ya salah sendiri gak punya iman...Gak bisa menahan nafsu..."
"Dasar pikiran mereka sendiri yang ngeres, piktor"

Coba kita balik logikanya, seandainya tidak ada seorang lelakipun tertarik pada dandanan mereka, tidak sebuah matapun memandang kagum, atau lebih tepatnya jalang, apakah mereka masih mau berpakaian seperti itu? Apa sih yang ada di benak perempuan-perempuan yang suka berdandan ‘minimalist’ itu saat bercermin mematut diri selain ingin segera keluar menemui kerumunan kemudian mendapatkan pujian dan tatapan pemujaan?

"Wajar khan yang indah itu disukai orang?"
"Apa salahnya saya menampilkan keindahan?"

Keindahan adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Sebagai mahlukNYA kita wajib menjaga dan merawat keindahan yang kita terima. Menampilkan keindahan boleh saja, dengan memerhatikan manfaat yang ingin diraih, bagi diri sendiri dan orang lain. Saat menampilkan bagian-bagian tubuhnya, manfaat apa yang diperoleh? Manfaat apa yang diberikan untuk orang lain? Keburukan apa yang kemungkinan terjadi? Lebih condong ke manfaat atau keburukan?

"Ah, jangan munafik lah...! Toh banyak juga peristiwa di dunia ini perempuan berjilbab yang dilecehkan dan diperkosa..."

Perdebatan seperti ini tidak akan pernah selesai, tak ada habisnya. Selalu ada perbedaan dalam memandang sesuatu. Karena itulah saya ingin memiliki anak perempuan, agar saya bisa mendidiknya dengan kebenaran yang saya yakini. Saya ingin berbuat sesuatu di dunia tentang keindahan seorang wanita, melalui anak saya karena saya laki-laki.

Saya menyetujui dan sepakat bahwa pendidikan anak dimulai saat usia 0 tahun, bahkan sejak dalam kandungan. Maka saya dan ibunya  mengajari Hanun menutup aurat sejak usia 0 tahun. Kami sudah berburu jilbab kecil sejak Hanun lahir.  

Tidak mudah, karena banyak yang menentangnya.
"Kasihan, dia khan masih kecil.."
Justru sayang Hanun saya kasihan bila terlambat mendidiknya tentang ahlak beragama.

(bersambung : "Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis)


Senin, 28 Januari 2013

Dulu Belajar Rangkaian Listrik Sekarang Jualan Kripik


Saya dulu kuliah di Politeknik Malang jurusan Listrik dan saat ini saya jualan kripik buah. Apakah saya merasa kuliah saya tidak ada gunanya?
Saya dulu belajar rangkaian listrik dan sekarang menulis buku tentang mudahnya bahagia. Apakah saya menyesalinya?

Sama sekali tidak!

Seandainya saya dulu kuliah di fakultas ekonomi, belum tentu sekarang saya bisa menjual satu ton kripik buah ke Malaysia. Karena faktanya banyak sarjana ekonomi yang mempelajari manajemen pemasaran tidak mau jadi pedagang.
Seandainya saya dulu belajar ilmu psikologi, belum tentu saya bisa menulis buku "Kripik untuk Jiwa". Karena faktanya banyak sarjana psikologi tidak mau menerapkan ilmunya untuk membantu orang lain jadi lebih bahagia.

Saya bangga dulu pernah belajar ilmu listrik. Saya masuk jurusan itu bukan asal masuk, asal kuliah. Saya melakukannya dengan niat mencari ilmu dan meningkatkan kualitas berpikir, dan saya menapatkannya. Apapun yang saya dapatkan saat kuliah adalah bekal saya yang sangat berharga untuk melakukan perjalanan hidup, sehingga saya bisa seperti saat ini.

Menuntut ilmu bukanlah tujuan tapi hanya salah satu tahapan proses. Kuliah hanyalah salah satu pilihan tahapan dari proses peningkatan kualitas diri, proses tiada henti.
Karena kuliah hanya sebagai  salah satu pilihan, Anda tidak harus melakukannya karena ada pilihan lain. Apapun pilihan Anda, lakukan dengan sebaik mungkin, terbaik yang bisa Anda lakukan.

Selasa, 27 November 2012

Semangat Berikrar Sumpah Pemuda dan Bernyanyi Lagu Kebangsaan Setelah Nonton Film



Saya sangat menyukai film ‘Invictus’ karena berisi pesan-pesan moral yang banyak sekali. Bahkan saat saya menonton yang keempat kali saya masih bisa menemukan pesan moral baru dalam film itu. Yang saya heran adalah bahwa saya beru ketemu film itu di tahun ini, tahun 2012, padahal film itu sudah diproduksi dan dipasarkan pada tahun dua ribu sembilan. Selama tiga tahun ada di mana film itu?

Mungkinkah karena film ‘Invictus’ bukan film laga atau horror sehingga tidak banyak orang membicarakannya? Atau mungkin para pemasar film di Indonesia kurang antusias dengan film-film bergenre drama. Entahlah…Yang jelas saya optimis dan antusias membawa film ini ke para pemuda, pelajar, mahasiswa, dan mengupas pesan-pesan moral yang ada di dalamnya. Saya yakin dengan cara berbeda dalam menyampaikan sebuah pesan, yaitu dengan cara yang menyenangkan dan asyik, lebih mudah masuk ke dalam benak anak-anak muda.

Ternyata hasil survey informal, yang saya sebarkan ke teman-teman muda pengurus FLP Malang, menunjukkan bahwa film ‘Invictus’ membosankan bagi mereka,nah lho…

Saya menyukai film ‘Invictus’. Saya mampu menonton film itu tanpa bosan sampai akhir. Saya tahu ‘bagaimana’ menonton film itu dengan asyik. Maka saya harus segera mempelajari ‘bagaimana’ teman-teman pengurus FLP Malang menonton film itu dengan perasaan bosan. Saya tidak terjebak dengan mempertanyakan mengapa mereka bosan menonton film itu, saya hanya perlu tahu bagaimana mereka melakukannya.

Setelah melakukan beberapa pertanyaan singkat kepada mereka melalui sms, mencari tahu secara tersirat  apa yang mereka lakukan sebelum, saat, dan setelah menonton film, saya bisa menemukan beberapa hal yang harus saya lakukan saat saya membawa film ini ke hadapan dua ratus siswa SMK Putera Indonesia Malang. Beruntung mbak Wulan, salah satu teman FLP yang merasa bosan saat menonton film itu menyadari apa yang terjadi pada dirinya dan memberi saya beberapa masukan, yang sesuai dengan rencana-rencana saya.

Di depan para siswa, saya membuka acara dengan membangkitkan semangat dan antusias mereka. Saya mengajak mereka bersepakat bahwa sepanjang acara kita bersenang-senang dengan asyik. Sebelum mulai membicarakan film, saya membahas sedikit tentang sejarah dan makna peristiwa Sumpah Pemuda. Saya kaitkan ikrar Sumpah Pemuda dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Apa yang saya sampaikan tentang Sumpah Pemuda kepada para siswa adalah yang saya tulis di Malang Post tanggal 28 Oktober 2012, atau bisa dibaca di sini http://bit.ly/musuhbersamabangkitkansemangatsumpahpemuda .

Selanjutnya saya menjelaskan tentang latar belakang film ‘Invictus’. Saya jelaskan kepada mereka kelebihan-kelebihan film itu layaknya seorang penjual tiket nonton, atau penjual DVD yang mempromosikan film-film dagangannya.

Saya membagi film yang berdurasi sembilan puluh menit menjadi enam session. Tiap awal session saya menyampaikan beberapa pesan tentang adegan-adegan yang perlu lebih diperhatikan, karena setiap session berakhir saya akan menyampaikan tantangan berhadiah.
Sempat ada kendala saat pemutaran session kelima, sound system tiba-tiba tak bersuara. Cukup lama teknisi mengotak-atik perangkatnya, dan para siswa mulai gaduh. Terlihat beberapa siswa (sekitar sepuluh persen) mulai meninggalkan tempat. Karena saya tidak bisa mendapat kepastian perangkat pengeras suara bisa digunakan lagi atau tidak sedangkan waktu saya terbatas, saya pun menyampaikan tawaran kepada para siswa, sambil berteriak, untuk menghentikan pemutaran film dan langsung ke babak hadiah utama. Yang mengharukan adalah ternyata hampir semua siswa menghendaki film diteruskan, mereka bersedia menunggu. ALHAMDULILLAH film bisa dilanjutkan dengan menggunakan perangkat pengeras suara kecil, tidak ada rotan akar pun jadi.
Karena waktu sudah terpotong, session kelima sampai akhir saya jadikan satu.

Selesai pemutaran film, setelah membagikan hadiah-hadiah utama, saya mengajak para siswa membaca ikrar Sumpah Pemuda dan menyanyikan Indonesia Raya. Para siswa, yang mau bertahan selama empat jam dalam aula yang gerah karena kipas angin tidak bisa dinyalakan, dengan semangat bersama-sama berikrar Sumpah Pemuda dan bernyanyi  lagu kebangsaan. ALHAMDULILLAH, saya sangat bersyukur dan terharu.

Minggu, 25 November 2012

Menang Lomba Baca Syair Semarak Tahun Baru Hijriyah



Bulan Muharom

Syair karya Nur Muhammadian

Bulan Muharom...
Bulan pertama tahun Hijriyah
Bulan Muharom...
Adalah bulan qomariah
Bulan Muharom
Satu dari empat bulan mulia
Bulan Muharom
Bulan Rajab, bulan Dzulqo'dah, dan bulan Dzulhijah

Hari Asyuro
Hari ke sepuluh bulan muharom
Hari Asyuro
Hari diselamatkannya umat nabi Musa
Hari Asyuro
Disunahkan berpuasa



“Pak bikinkan puisi tentang tahun baru Hijriyah!” pinta Hanun setengah memerintah.
“Buat apa?”
“Untuk lomba syair di sekolahku”
“Kapan?”
“Tiga hari lagi…”
“#%&^*(&)*_)”

Sudah lama saya tidak menulis puisi, dan sekarang diminta membuat puisi yang akan dibaca dalam lomba, dalam waktu tiga hari. Yang lebih menantang lagi adalah bagaimana Hanun bisa menghafal dan berlatih membaca puisi dalam waktu tiga hari, itupun kalau puisinya segera jadi. Untunglah lomba syairnya berpasangan antara ibu dan anak.

Satu hari berlalu, dan ide puisi yang akan saya buat belum terlintas di benak saya, yang berarti kesempatan berlatih juga berkurang sehari. Berarti saya harus membuat puisi pendek sehingga mudah dan cepat dihafal Hanun dan ibunya.

Saya segera browsing, baca buku, mencari informasi segala hal tentang bulan Muharom, tentang tahun baru Hijriyah. Hikmahnya, saya jadi tahu bahwa bulan Muharom bukanlah bulan hijrahnya Rosululloh, tapi bulan pertama kali para sahabat mulai berhijrah ke Madinah. Sedangkan Rosululloh baru hijrah sebulan kemudian, tepatnya di bulan Safhar (mungkin karena itu namanya Safar=perjalanan).

Saya harus membuat puisi tentang keutamaan bulan Muharom, tidak terlalu panjang agar Hanun dan ibunya mudah menghafalkannya, dan harus dirancang membacanya bergantian antara Hanun dan ibunya. Maka jadilah puisi yang pendek sederhana itu.

Waktu saya tunjukkan ke Coqi untuk minta masukan, Coqi tertawa cekikikan.
“Ini puisi atau catatan kecil Pak?”
“Ya kalau terlalu panjang nanti adik dan ibu sulit menghafalnya. Tapi rimanya ada lho meski tidak sempurna…Coba perhatikan!”
“Iya sih…” Coqi masih menahan senyumnya.
“Coqi punya ide atau tambahan lagi?”
“Belum ada Pak…” Masih dengan senyum geli.

Dalam waktu satu setengah hari Hanun dan ibunya berlatih dengan bersungguh-sungguh membaca syair ‘Bulan Muharom’. Saya dan Coqi yang menilai penampilan mereka dan memberi beberapa saran gerakan atau intonasi suara. Hanun bertugas membaca baris yang pendek dan ibunya yang panjang. Saya menyampaikan ke mereka bahwa penilaian juri kemungkinan pada gaya bersyair dan kekompakan baik dari segi kostum maupun aksi panggung.

Pada hari perlombaan saya tidak bisa hadir menonton penampilan mereka. Selesai perlombaan, sesampai di rumah, Hanun dan ibunya melaporkan bahwa hanya mereka yang membaca syair tanpa text karena hafal.

Lima hari kemudian, agak lama karena terpotong hari libur panjang, pemenang lomba diumumkan. ALHAMDULILLAH Hanun dan ibunya berhasil memenangkan lomba, jadi juara pertama. Kemenangan ini adalah prestasi resmi pertama yang berhasil dicapai Hanun. Dia sangat senang, dipandangi terus pialanya. Dipajang pialanya di ruang tamu kami. “Adik menang karena ALLOH sayang kepada anak yang rajin dan mau berusaha dengan keras dan serius…” Saya jongkok di samping Hanun menemani memandangi piala yang diletakkan di meja ruang tamu.