Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2022

Pelayanan Prima - Empati

Belasan tahun yang lalu, di suatu siang seorang anggota tim frontliner mendatangi saya, “Pak...ada pelanggan mau bertemu Bapak langsung, nggak mau pergi sebelum ketemu Bapak...”

Saya tersenyum memandang wajah cantiknya yang tampak jengkel bercampur cemas. Sembilan belas tim frontliner memang cantik dan pintar, memenuhi kriteria 3B (Brain, Beauty, Behavior), ada di bawah tanggung jawab saya termasuk untuk menjaga emosi dan kesehatan mental mereka.

“Apa yang terjadi...?” Saya bertanya dengan tetap senyum semanis mungkin. Saya yakin senyum saya bukanlah senyum genit, semoga demikian.

Maka dia pun menjelaskan masalah yang dialami oleh pelanggan, menceritakan apa yang sudah dia sampaikan kepada pelanggan tersebut, dan sambil merengut menyampaikan kegagalannya mengatasi masalah tersebut. Masalahnya sangat rumit, dan saya juga ragu akan bisa membantu pelanggan tersebut, tapi saya harus menyelesaikannya.

“Persilakan dia masuk ke ruang VIP, saya akan segera turun menemuinya...”

Si cantik pun turun dengan wajah yang sedikit agak lega. Saya sangat memahami kegundahan hatinya. Bayangkan saja sejak pagi dia harus menerima keluhan dari puluhan pelanggan yang datang ke galery pelayanan kami. Saya harus membantunya menyelesaikan masalah, membuatnya tenang sehingga bisa menangani pelanggan yang lain dengan tetap ramah dan manis.

Saya turun dan langsung menemui pelanggan, tersenyum menyalaminya dan memperkenalkan diri. Dia seorang pria seusia saya berpakaian kemeja sederhana, tipikal pengusaha menengah. Setelah saya persilakan duduk kembali, hanya dengan bertanya  “Bagaimana Pak...Apa yang bisa saya bantu...?”, dia sudah membanjirkan keluhannya. Saya hanya mendengar dengan ekspresi yang kuat, menunjukkan bahwa saya sangat memerhatikan masalahnya. Sesekali saya mengulang kata-katanya untuk meminta kepastian.

Saat dia berhenti bicara saya bertanya mengenai beberapa hal yang kurang jelas dari ceritanya, saya harus yakin sudah menerima semua detil masalah tanpa ada potongan yang tercecer. Sambil mendengarkan, pikiran saya juga berputar mencari berbagai alternatif solusi yang bisa saya tawarkan kepadanya.

Dari uraian panjangnya, awalnya saya menyimpulkan bahwa kalau mengikuti SOP (Standard Operational Procedure) saya tidak mungkin bisa membantunya, dan itu sudah disampaikan oleh si cantik kepada saya. Saya sampaikan hal tersebut kepada pelanggan, bahwa kerugian yang dia dapatkan karena kesalahannya sendiri, tentu saja dengan cara dan bahasa yang santun.

Namun saya yakin punya sesuatu yang bisa membantunya, maka saya beri dia ruang untuk membela diri, memancing semua argumentasi darinya. Sengaja saya lakukan hal tersebut karena yakin masih ada serpihan fakta yang belum saya dapatkan dari cerita panjangnya.

Ternyata benar, setelah berdiskusi beberapa menit, saya berhasil menemukan satu fakta yang bisa menjadi celah cahaya untuk menerangi jalan keluar bagi masalahnya. Saya sampaikan kepadanya bahwa akan melakukan ikhtiar maksimal agar bisa menyelesaikan masalahnya, dan memintanya untuk berdoa. Tapi saya juga menyampaikan bahwa tingkat keberhasilan ikhtiar saya adalah 50-50, bisa berhasil bisa tidak, dan saya minta dia siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Dia bisa menerimanya, menyalami saya “Tolong ya Pak...!”, dan pergi. Alhamdulillah masalah besar sudah terselesaikan. Selesai...? Ya iya lah...Masalahnya tadi khan pelanggan itu tidak mau pergi, dan saya berhasil membuatnya pergi tanpa mengusirnya, dan membuatnya memiliki harapan menghadapi masalah.

Mohon maaf saya tidak bisa menceritakan detil masalah yang dialami pelanggan tersebut karena sangat sensitif terhadap kepentingan perusahaan, dan juga tidak penting untuk dibahas.

Pelanggan yang datang dengan masalah karena menganggap kita bisa membantunya, dan itu harus dipenuhi dulu. Bisa menyelesaikan atau tidak, kita harus menunjukkan dengan tulus kepadanya bahwa kita siap membantu. Dengan tulus...tidak sekadar menyampaikan kata-kata yang sudah kita hapal “kami siap membantu”. Kita harus bisa meyakinkan pelanggan bahwa kita sudah menampung semua detil masalahnya, semuanya sedetil mungkin. Untuk melakukannya kita harus benar-benar menghadirkan diri seutuhnya, pikiran dan hati, di hadapan pelanggan. Kita harus mampu menampung masalahnya secara logika maupun emosi. Itulah yang disebut empati.

Apakah saya berhasil membantu pelanggan tersebut? Apa yang harus saya lakukan ketika pelanggan itu akan memberi saya imbalan yang besar untuk penyelesaian masalahnya? (bersambung)


Sabtu, 28 Juni 2014

Coqi Mulai Suka dan Rajin Menulis

Saya suka menulis, sangat suka menulis. Impian saya adalah hidup dengan dan dari menulis.
Menulis adalah kegiatan yang murah, sederhana, dan banyak manfaatnya. Karena itu saya juga punya impian anak-anak saya juga suka menulis. Saya memang tidak boleh memaksa anak-anak untuk suka menulis, tapi saya akan melakukan berbagai upaya agar mereka jadi suka menulis.

Cara mendidik yang paling efektif adalah dengan contoh, teladan. Saya optimis bisa membuat anak-anak suka menulis karena saya sudah memberikan contoh. Setiap hari mereka melihat saya menulis.

Sejak bisa menulis Coqi Basil sudah saya kompori (meminjam istilah Pak Heri) agar mau dan suka menulis. Awalnya Coqi mencoba menulis cerpen anak karena tertarik setelah membaca buku-buku karya penulis anak dalam seri Kecil-kecil Punya Karya, tapi tidak pernah bisa selesai. Hanya satu atau dua paragraph saja yang berhasil dia tulis. Setelah mencoba beberapa kali dan tidak berhasil, Coqi berhenti berusaha menulis cerpen. Terakhir dia berusaha menulis kira-kira saat masih kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak itu dia tidak lagi mau membuat karya tulis, dan saya tidak mau memaksanya.

Mungkin saat itu saya dan Coqi keliru memahami, seperti para penulis pemula lainnya, bahwa karya tulis itu harus berjenis fiksi atau sastra. Tulisan nonfiksi kami anggap bukan karya tulis, dan Coqi merasa tidak nyaman menulis fiksi. Atau mungkin saat itu Coqi belum menemukan genre tulisan yang dia sukai.

Saat mulai sekolah di tingkat menengah pertama atau SMP, Coqi mulai menyadari minatnya di bidang komedi. Dalam setiap kesempatan dia melontarkan joke-joke original dan berhasil membuat orang-orang sekitarnya tertawa.

Coqi sangat berminat mempelajari stand up comedy. Setiap ada kesempatan browsing-surfing dia gunakan untuk mencari infomasi dan pengetahuan tentang Stand Up Comedy. Dia menemukan kesimpulan bahwa seorang Comic (sebutan untuk comedian Stand Up Comedy) yang baik harus sering menuliskan materi-materinya. Sejak itu dia selalu menulis dalam buku khusus setiap kali menemukan ide materi. Dan sejak itu pula dia rajin mengisi blog-nya dengan tulisan-tulisan komedi.

Tulisan Coqi dalam blog-nya tidak sebagus tulisan Raditya Dika, Solih Solihun, atau penulis buku lainnya, tapi saya sangat bangga. Saya bangga Coqi sudah suka dan rajin menulis. Saya yakin cepat atau lambat, bila dia konsisten dan istiqomah menulis, kualitas tulisannya akan semakin baik.


Silakan kunjungi Blog-nya http://blackbazil.blogspot.com

Minggu, 25 Mei 2014

Manfaat Gadget bagi Coqi?

Beberapa bulan yang lalu saya mendapat kuisioner dari sekolah Hanun tentang gadget. Pertanyaannya hanya lima, tapi pada pertanyaan ketiga saya terhenti karena kesulitan menjawab.

Pertanyaan pertama : “Mulai usia berapa ananda diperkenankan memegang gadget?”

Saya menjawab tiga tahun. Saat menjawab pertanyaan pertama ini, sebelum membaca pertanyaan berikutnya perasaan saya sudah tidak enak. Dan benar, pertanyaan kedua sangat sulit dijawab.

Pertanyaan kedua : “Apa tujuan Ayah/Bunda memperkenankan ananda memegang gadget?”

Pikiran saya campur aduk karena tersadar bahwa selama ini banyak sikap kami mendidik Hanun yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Saya berusaha berpikir, mencari jawaban yang jujur dan pantas untuk pertanyaan kedua ini. Akhirnya saya menuliskan jawaban :”sekedar memperkenalkan teknologi”

Pertanyaan ketiga : “Manfaat apa yang didapat ananda dari gadget?”

Pertanyaan ketiga ini tampak pendek, tapi bagi saya terasa panjang. Bagi saya makna sebenarnya dari pertanyaan ini adalah “Manfaat apa yang bisa diberikan gadget kepada ananda yang tidak bisa diberikan oleh benda lain, yang benar-benar penting dalam proses tumbuh kembang ananda secara fisik, mental, dan sosial”
Saya benar-benar tidak mampu menemukan jawaban pertanyaan ketiga ini, maka saya tulis “nihil”.

Saya berhenti berusaha menjawab kuisioner, dan mulai berusaha berpikir untuk introspeksi tentang sikap-sikap kami dalam mendidik anak-anak. Saya teringat sempat merasa kasihan kepada Coqi dan Hanun, saat berkumpul dengan saudara-saudara sepupu mereka yang memegang gadget canggih masing-masing, Coqi dan Hanun hanya memandang dan berusaha meminjam dengan wajah melas. Saya sempat bimbang apakah langkah kami tidak membelikan gadget untuk anak-anak itu benar. Karena itu meskipun Coqi dan Hanun tidak memiliki gadget, mereka sering saya biarkan memainkan gadget milik saya atau ibunya. Setelah membaca kuisioner saya semakin mantap untuk membatasi Coqi dan Hanun memainkan gadget.

Coqi sudah punya laptop sendiri yang dia beli menggunakan uang tabungan hasil mengumpulkan uang beasiswa saat dia SD. Kami memberlakukan aturan bahwa belajar dan mengoperasikan computer/laptop harus dilakukan di ruang belajar bersama sehingga bisa saling tahu apa yang dilakukan masing-masing. Saya akan tahu apa yang dilakukan Coqi dengan laptopnya, kecuali dia sendirian di ruang belajar, sebaliknya Coqi akan selalu tahu apa yang saya lakukan dengan laptop saya. Dengan cara ini, selain untuk fungsi pengawasan, saya bisa memotivasi Coqi untuk menulis. Bukankah pendidikan yang terbaik itu dengan teladan? ALHAMDULILLAH Coqi sudah mulai aktif menulis di blog-nya http://blackbazil.blogspot.com.

Coqi sudah menyampaikan permohonan izin membeli smartphone dengan menggunakan uang tabungannya. Saya mengizinkan dengan syarat nilai hasil Ujian Nasional SMP memuaskan, dan kelak tidak dibawa ke sekolah. Saya mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat SMA karena saya merasakan ada manfaat baginya. Coqi yang bercita-cita menjadi journalist saat ini sering meminjam smartphone milik ibunya untuk searching informasi bahan tulisan (Coqi punya kebiasaan menulis secara manual bahan tulisannya di buku sebelum diketik). Dia bilang lebih praktis menggunakan smartphone dibanding laptop untuk mencari data dengan cepat. “Kalau pakai laptop itu aku khan harus menunggu saat loading awal, loading membuka aplikasi internet, keburu hilang ideku Pak…” Seandainya saya tidak melihat manfaat itu saya mungkin baru mengizinkan Coqi memiliki smartphone saat lulus SMA.


Bagaimana dengan Hanun? Akan saya bahas pada tulisan berikutnya.

Kamis, 17 April 2014

[Anak Bermasalah 2] Anak adalah Akibat Orang Tuanya

Seorang ibu muda mengeluhkan anaknya yang 'speech delay'. Dia bahkan berani bayar berapapun untuk sesi terapi anaknya.

Alih-alih menerapi anaknya, saya malah mengajak ibu tersebut ngobrol tentang dirinya.
"Ibu bekerja?"
"Iya Pak...Saya berwirausaha..."
"Jam berapa Ibu sampai rumah?"
"Saya sampai rumah menjelang Ashar Pak"
"Capek Bu?"
"Iya Pak..."
"Apa yang Ibu lakukan saat capek di rumah, selain tidur?"
"Saya itu suka menggambar Pak..."
"Wah asik juga Bu...Dengan menggambar bisa menghilangkan capek? Wah sangat produktif kalau begitu..."
"Iya Pak...Wah kalau sedang asyik menggambar saya gak mau diganggu Pak...Biasanya saya malah jadi emosi kalau saat menggambar ada yang berisik. Saya merasa relax dan bebas saat sedang menggambar..."
(Obrolan terus berlanjut...)

Dari sekilas obrolan tersebut Anda pasti sudah bisa menebak apa yang akan saya sampaikan kepada ibu muda tersebut tentang masalah anaknya. Seperti biasa saya tidak menyampaikan pesan-pesan nasihat, tetapi beberapa pertanyaan yang harus dijawab Ibu muda tersebut. Kira-kira pertanyaan seperti apa yang saya sampaikan?

Pertanyaan bagi Anda : menggambar itu perbuatan baik atau buruk? Apa hubungan antara menggambar dengan ‘speech delay’?

Menggambar adalah suatu kebaikan. Melakukan sesuatu kebaikan untuk menyenangkan diri adalah perbuatan mulia. Tapi harus disadari bahwa sebagai  orang tua, menjadi ayah atau ibu, pasti memiliki amanah dan tanggung jawab lebih, lebih dan sangat besar. Jangankan menggambar, orang tua yang  tidak berbuat apa-apa bisa berakibat buruk sangat besar bagi anak-anaknya.


Anak adalah akibat orang tuanya. Bila Anda belum punya anak, segala perilaku Anda hanya akan ditanggung sendiri. Anda bebas berbuat sesuatu, apalagi suatu kebaikan.  
Tetapi saat Anda punya anak, maka semua anak Anda akan 'menikmati' akibat yang Anda sebabkan meskipun itu bukan kejahatan. Selalu pikirkan akibat yang akan ditanggung anak sebelum berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu. Kebaikan bagi Anda belum tentu membawa akibat kebaikan bagi Anak Anda.


Waspadalah dan segera berubah, atau Anda harus siap  kecewa melihat Anak Anda.

Selasa, 11 Maret 2014

Pilihan Coqi (Cita-cita Coqi)

Saya sangat setuju bahwa pendidikan itu sangat penting, bahkan sampai akhir hayat. Untuk sahabat-sahabat yang sudah berusia lanjut justru harus semakin banyak belajar karena zaman terus berubah dan Anda diberi kelebihan usia untuk dimanfaatkan di zaman ini, bukan zaman dulu.

Tapi saya berpendapat menuntut ilmu tidak harus di jalur umum (baca : formal), karena ilmu itu dicari untuk diamalkan dan dimanfaatkan, bukan sekedar gelar administrasi, kecuali bila memang gelar administrasi itu dibutuhkan untuk peningkatan jenjang karir. 
Bila menuntut ilmu hanya melalui jalur umum  maka setelah memiliki gelar akademik orang akan berhenti melakukannya. Tidak ada seorang pun yang berani sesumbar  bahwa gelar akademik bisa menjamin hidup jadi sukses. Pun tidak ada seorang pun yang berani bertaruh bahwa tanpa gelar akademik, tanpa ijazah, orang tak bisa sukses.

Saya dan istri sangat menyadari itu, dan kami terapkan dalam pola didik ke Coqi. Kami tidak ingin Coqi memilih jalur pendidikan tanpa tujuan yang jelas, asal pilih atau asal ikut.Saat ini Coqi sedang bersiap menghadapi Ujian Nasional SMP. Kami memberinya beberapa pilihan jalur setelah lulus SMP : masuk SMA, SMK, Pondok Pesantren, atau tidak semuanya alias Home Schooling. Kami beri dia kebebasan memilih, dan kami dukung maksimal pilihannya bila dia bisa memberikan alasan yang tepat. Tapi bila ternyata alasannya kurang kuat sehingga argumennya bisa saya patahkan maka dia harus mengubah pilihannya.

“Aku masuk SMA aja Pak…”

“Kenapa bukan SMK, Pesantren , atau Home  Schooling aja??” Saya sudah menyiapkan segala jurus untuk mematahkan argument dia. Saya berasumsi  Coqi memilih SMA tanpa memiliki alasan yang kuat, hanya karena kebanyakan teman-temannya memilih itu, ternyata asumsi saya salah.

“Aku ingin jadi journalist dan comedian Pak…Aku butuh masyarakat majemuk untuk latihan. SMA adalah sekolah yang paling majemuk dibanding SMK dan Ponpes apalagi Home Schooling” Coqi hanya menyampaikan tiga kalimat dan saya tidak punya satu kalimat pun untuk mematahkan argumennya. Saya kalah dan bangga dengan kondisi kekalahan saya. Ternyata anak lelaki saya yang beranjak remaja sudah memikirkan manfaat dari pilihannya.


Sekali lagi saya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berharap Coqi mendapat penataan langsung dari NYA.

Senin, 10 Maret 2014

Cita-cita Coqi

“Piye toh Coq orang ini…Bisa-bisanya dia minta didukung di PEMILU agar bisa melakukan perubahan…Jelas-jelas partainya adalah tiga partai terbesar perolehan suaranya di PEMILU lalu, dan lima tahun ini partainya tidak berbuat yang significant untuk rakyat, malah alegnya banyak yang korupsi. Kok gak malu minta dipilih lagi…!?!?” Saya mengomentari  pidato politik seorang tokoh partai dalam promonya di televisi.

“Hehehehe iya Pak…Nggak lucu…” Coqi terkekeh mendengar  gerutuan saya.

“Politikus itu memang pelawak-pelawak yang gak lucu Coq…”

Coqi  tertarik pada politik sejak usia lima tahun, sejak dia mulai belajar membaca. Saat itu memang sedang puncak pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya. Mungkin Coqi tertarik dengan bertebarannya banner kampanye calon presiden. Di usianya yang sangat muda itu Coqi sudah sangat antusias mengikuti berita politik baik dengan membaca media cetak maupun menonton televisi. Saat itu, dengan gaya khas anak-anak, dia sudah bisa menganalisa para calon presiden dan partai-partainya. Coqi pun bercita-cita menjadi  presiden.

Pernah saat  di sekolahnya disuruh gurunya membuat kreasi bentuk tertentu, sementara teman-temannya membuat bentuk benda-benda yang nyata seperti rumah, pesawat, mobil dan lain-lain, Coqi membuat bentuk yang absurd dan menyebutnya sebagai kursi DPR. Pada usia sembilan tahun Coqi menyumbangkan uang tabungannya  untuk dana kampanye salah satu calon Walikota Malang yang dia sukai.

Bersama dengan berjalannya waktu, Coqi semakin dewasa, minat mengamati politik tidak berkurang tetapi cita-citanya berubah. “Nggak jadi dech Pak…Presiden itu amanatnya sangat besar, terlalu berat”

Saat ini Coqi menemukan sendiri bahwa dia sangat berminat menjadi journalist dan comedian, dan memang sikapnya menunjukkan itu. Saat saya mengambil raport kenaikan kelas, wali kelasnya menyampaikan bahwa Coqi suka menghibur guru dan teman-temannya dengan banyolan-banyolannya. Bila tertarik pada sesuatu, seperti film atau berita tertentu, maka Coqi akan segera melakukan penggalian data sebanyak-banyaknya. Sambil menonton siaran ulang acara penganugerahan piala Oscar, Coqi mampu menjelaskan tentang  film  dan actor- actress  yang mendapatkan piala Oscar cukup detil.

Sejak  SD Coqi selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba pidato agama. Coqi selalu menang di tingkat kecamatan tapi tidak pernah menang di tingkat kota. Menurut analisa gurunya hal itu disebabkan  Coqi menolak memasukkan banyak unsur-unsur banyolan dalam pidato-ceramahnya, sedangkan juri-juri lomba pidato tingkat kota sangat apresiatif pada pidato yang kocak atau lucu.

“Daripada ceramah berisi banyolan mending sekalian aku melawak tapi berisi pesan-pesan moral Pak….!”

Sampai sekarang Coqi masih suka berdiskusi tentang politik, meskipun tidak lagi berminat terjun ke dalamnya. Saya belum mendengar secara verbal, tapi saya yakin dalam hatinya Coqi punya pernyataan :

“Daripada jadi politikus yang omongannya seperti  lawakan yang tidak lucu, mending  jadi  pelawak yang menghibur dan mencerdaskan penontonnya”


Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk Coqi, doa seorang bapak yang memasrahkan masa depan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.

Selasa, 18 Februari 2014

Pelawak yang Tidak Lucu

Acara televisi yang saya sukai akhir-akhir ini adalah Indonesia Lawak Klub, sebuah talk show parodi. Saya menikmati acara tersebut untuk melepas ketegangan, namun ternyata saya juga menemukan pesan-pesan moral dari celetukan-celetukan para komedian dalam acara itu.
Meskipun masih ada sedikit lawakan yang sarkasme, atau adegan fisik murahan, secara keseluruhan banyolan-banyolan cerdas lebih mendominasi acara tersebut.

Acara ini memarodikan acara serius di stasiun TV lain. Tapi anehnya, saya justru lebih banyak menangkap pesan-pesan moral bermanfaat di ILK, meskipun dalam kemasan lawakan, bahkan slogan acaranya saja 'menyelesaikan masalah tanpa solusi'.

Pada acara serius yang diparodikan saya jarang menemukan pernyataan-pernyataan bermanfaat, kebanyakan hanya retorika politik, hujatan kepada kelompok lain, atau dalih-dalih pembelaan kelompok yang membadak buta (babi lebih kecil, dan faktanya memang badak yang rabun berat). Setiap orang atau tokoh yang hadir dalam acara ini sudah membawa misi dari kelompoknya masing-masing. Tugas mereka adalah memenangkan kepentingan kelompok masing-masing, bukan mencari solusi. Tidak ada satupun hadirin yang mau menerima kebenaran, bila bertentangan dengan kepentingan kelompok.

Dalam ILK, para panelis adalah komedian yang memiliki misi yang sama, yaitu menghibur penonton. Konflik yang muncul sengaja dibuat untuk hiburan, tapi justru secara konten hampir tidak ada pertentangan. Meskipun berusaha melucu dengan membolak-balik kata, ternyata pernyataan mereka mengandung nilai-nilai yang patut direnungkan. Ternyata untuk bisa lucu mereka harus cerdas dan menggunakan hati nurani. Salah satu contoh sederhana adalah penyataan mereka yang disepakati seluruh peserta bahwa tidak pantas dipilih caleg yang memaku material kampanye di pohon.

Bila kita amati, dunia politik ternyata hanyalah panggung lawakan yang tidak lucu, karena para pemainnya berbicara dan bertindak melawan hati nurani, melawan logika,  dan tidak konsisten. Konsistensi mereka adalah pada kepentingan kelompok, bukan pada kemanfaatan masyarakat umum.

Saya sampai merasa bahwa ILK adalah talk show yang sebenarnya, sedangkan acara yang diparodikan hanyalah acara lawak yang tidak lucu dan menyebalkan.

Komedian yang terjun ke politik praktis adalah komedian yang rela kehilangan peluang untuk menyuarakan hati nurani, menurut pendapat saya pribadi.

Walau bagaimanapun saya menghargai pilihan dan pendapat mereka, para pelawak-pelawak yang tidak (lagi) lucu.


Kamis, 03 Oktober 2013

[Anak Bermasalah 1] Orang Tua Harus Mau Berubah

Beberapa malam yang lalu saya menerima tamu, sepasang suami-istri atau lebih tepatnya sepasang ayah-bunda. Sebelum datang sang Ayah sebenarnya sudah menghubungi saya melalui Blackberry Message, secara singkat menyampaikan tentang keinginan mereka untuk bertemu saya dan konsultasi masalah anak mereka. Kami sepakat pada pertemuan pertama sang anak tidak perlu diajak.

Berdasarkan pengalaman menangani masalah anak, memang hampir 90% masalah yang terjadi ternyata bersumber dari orang tua, sehingga saat kedua orang tua bersedia berubah maka masalah pada anak terselesaikan dengan sendirinya.

Pada pertemuan malam itu, setelah mereka menyampaikan masalah anak mereka, ada satu pernyataan mereka yang membuat saya terkesan dan menilai mereka adalah orang tua yang luar biasa. Mereka menyatakan, yang diwakili dinyatakan oleh sang Ayah :" Apa yang salah dari kami Pak? Perubahan apa yang harus kami lakukan?". Bagi saya pernyataan itu suatu tanda bahwa sebenarnya tidak ada masalah krusial pada anak mereka, bahkan pada keluarga kecil mereka. Bila pun mereka merasa ada yang harus dibenahi, saya yakin dalam waktu cepat bisa berubah jadi lebih baik.
Ayah-Bunda tamu saya ini menunjukkan kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk berubah, dan itu adalah lebih dari separuh penyelesaian masalah.

Sangat banyak terjadi pada pasangan Ayah-Bunda lain, yang sebagian juga melakukan konsultasi dengan saya, yang menganggap anaknya bermasalah tapi tidak mau mengakui bahwa mereka lah yang harus berubah terlebih dahulu.

"Pak...Anak saya itu maunya sendiri, sering membantah kalau dikasih tahu...! Tolong terapi dia Pak..."
"Saya sudah melakukan segala yang dia mau, tapi dia semakin ngelunjak...Nyerah saya..."

Banyak orang tua yang menganggap anak mereka bermasalah, tapi mereka merasa sudah memperlakukan anak mereka dengan benar. Tugas terberat saya adalah membuat mereka sadar bahwa mereka harus berubah terlebih dahulu bila menginginkan anak mereka berubah, nyaris tidak ada cara lain.

Kamis, 27 Juni 2013

Menasihati Diri Sendiri

Saya tergelitik membaca status Facebook seorang sahabat. Dia menyatakan bahwa status facebook yang berisi motivasi atau nasihat kemungkinan besar menandakan sang pemilik status-lah yang membutuhkan motivasi dan nasihat. Saya se-juta-tuju dengan pernyataannya, karena saya melakukannya.

Saya suka menuliskan nasihat-nasihat untuk saya sendiri dalam status Facebook, dan menurut saya sangatlah bermanfaat. Saat merasa ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dibenahi, harus segera diubah atau untuk mengingatkan diri sendiri, saya menulis nasihat untuk saya sendiri dalam status. Nasihat untuk diri sendiri yang dituliskan dalam status Facebook bagaikan deklarasi perubahan. Karena saya menuliskannya di media sosial yang bisa dibaca publik, maka saya wajib mempertanggungjawabkannya. Saya harus benar-benar menjalankan apa yang saya tulis, dan itu benar-benar untuk kebaikan saya sendiri. Seandainya ada pembaca status saya yang mengalami kondisi yang sama dan mendapatkan manfaat dari nasihat itu, maka segala puji bagi ALLOH.


Saat merasakan kualitas tindakan menurun, saya menasihati diri untuk segera melakukan perbaikan. Saat mendapatkan kebaikan, saya menasihati diri untuk memperbanyak syukur dan bertindak lebih banyak dan lebih baik lagi. Saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, saya mengingatkan diri bahwa itu hanyalah umpan balik untuk memperbaiki proses.

Nasihat dari diri sendiri lebih mudah dilaksanakan karena berdasarkan nilai-nilai yang sudah saya yakini. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan saya sendiri yang tahu kemampuan diri sendiri.


Saya berusaha sesering mungkin menasehati diri sendiri karena saya ingin selalu berubah menjadi lebih baik. Semakin sering saya menasihati diri sendiri, semakin besar komitmen saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Sabtu, 23 Februari 2013

Berpikir Akibat Sebelum Bertindak


Teman-teman yang baru mengenal saya mungkin tidak mengira bahwa dulu saya pernah ‘melabrak’ pimpinan divisi general affair hanya karena tidak diprioritaskan menggunakan kendaraan operasional, sampai ada adegan membanting pintu segala. Saya juga pernah menghadap Kepala Cabang dengan emosi hanya karena ruangan saya dipinjam divisi lain. Saat itu saya merasa apa yang saya lakukan benar. Saya berani berbuat karena merasa benar. Ternyata benar saja tidak cukup.

“Lebih baik kalah dalam pertempuran untuk memenangkan peperangan”. Saya sering mendengar kata-kata bijak ini. Saya menyadari bahwa saya dulu selalu ingin memenangkan pertempuran karena merasa benar.  “Berani karena benar”. Ternyata berani saja belum cukup.

Dulu, saya cepat bertindak karena merasa benar, benar menurut saya, bagaimana menurut orang lain? Apa akibat tindakan saya bagi diri sendiri dan orang lain?

Dulu, saya menganggap cepat bertindak adalah perwujudan dari istilah tangkas, atau proaktif, atau cepat tanggap. Saya lupa bahwa juga ada istilah ceroboh, atau gegabah, atau grusa-grusu. Yang membedakan apa?

Yang membedakan adalah sebesar apa saya memperhatikan akibat, atau dampak, atau efek, dari tindakan saya. Bila saya merasa benar, kemudian bertindak cepat tanpa peduli baik buruknya akibat tindakan saya, maka saya telah melakukan tindakan gegabah.

“Ah kelamaan kalau mau bertindak harus mikir tentang segala akibatnya…”

Mungkin kelamaan, saat saya belum terbiasa memikirkan akibat sebelum melakukan tindakan, belum  menjadikan hidup efektif sebagai gaya hidup. Memang perlu kemauan untuk berubah, dan saya memutuskan untuk berubah menjadi lebih efektif, selalu berpikir akibat sebelum bertindak. Untuk itu saya harus terus berlatih dan berlatih, karena berubah menjadi lebih baik tidak boleh berhenti sampai maut menjemput.

Kamis, 15 November 2012

Jangan Sebut Saya 'Ustadz'


Kata ‘ustadz’ dalam bahasa Arab adalah guru dalam bahasa Indonesia. Saya sangat bahagia, dan menjadi impian saya, menjadi seorang guru. Namun sampai saat ini, entah sampai kapan, saya masih risih bila dipanggil ustadz. Bagi saya gelar ustadz adalah gelar yang sangat mulia, beberapa tingkat lebih tinggi dari gelar guru, menurut perasaan saya pribadi. Saya merasa sebutan ustadz belum pantas saya sandang, terlalu berat bebannya.

Dalam setiap kesempatan menyampaikan materi di forum saya selalu menyampaikan agar tidak memanggil saya ustadz. Banyak yang layak dan pantas dipanggil ‘ustadz’ dan saya belum layak.

Masih menurut perasaan saya, ustadz adalah seorang alim yang memahami ilmu-ilmu dunia dan akhirat, paham dan mampu memandu umat melalui jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan saya masih sedikit paham jalan menuju kebahagiaan di dunia, dan selalu mencari jalan terbaik menuju kebahagiaan akhirat.

Seorang ustadz adalah insan mulia yang sudah menjalankan segala ajaran-ajaran mulia, yang kemudian diajarkan kepada umat. Sedangkan saya masih sedikit-demi sedikit mengumpulkan ilmu mulia itu dan belajar mengamalkannya, sementara hanya saya bagi dan contohkan kepada anak dan istri.

Saya bahagia jadi guru, tapi saya belum lagi ustadz. Jangan sebut saya ustadz karena saya khawatir terbatasnya ilmu dan tindakan saya akan menodai gelar ustadz yang mulia.