Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Sabtu, 08 Maret 2014

Pentingkah Suara Saya?

Saya sangat prihatin dengan bertebarannya banner promo caleg yang bertebaran di pohon-pohon. Para  caleg itu memasang bannernya secara serampangan sehingga secara estetika sangat mengganggu. Semakin parah lagi sebagian besar mereka memasang bannernya dengan cara memaku ke pohon, menurut saya hal tersebut adalah tindakan biadab.

Saya pernah bekerja dalam team marketing, yang salah satu tugasnya adalah melakukan promo produk juga dalam bentuk banner outdoor. Dulu tidak pernah sekalipun saya izinkan team saya pasang banner dengan memaku pohon. Saya tegur keras bila ada yang melanggarnya.
Menurut saya sikap yang menyayangi dan tak mau menyakiti pohon bukanlah sikap berlebihan, karena sebagai manusia saya punya amanah untuk menyayangi seluruh alam ciptaan Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sangat kecewa karena mendapati wajah orang yang saya kenal dipaku di pohon. Orang itu adalah caleg yang saat ini sudah atau sedang menjadi anggota legislatif, yang rencananya akan saya pilih pada pemilu nanti. Saya segera mengirim pesan ke beberapa orang yang saya anggap bisa menyampaikan pesan saya kepada aleg tersebut. Saya kirimkan foto banner yang terpaku di pohon itu diiringi pesan “Salam dari pohon yang teraniaya”.

Beberapa saat kemudian saya mendapatkan balasan pesan yang kira-kira berbunyi :“Pesan sudah saya sampaikan, berikut balasan :  maaf dan terima kasih atas kritiknya”. Saat itu saya agak lega dan berharap segera ada perubahan.

Beberapa minggu kemudian kekecewaan saya memuncak karena banner wajah aleg yang saya kenal itu masih dengan arogannya menganiaya pohon.
Selain wajah caleg, hampir semua partai peserta PEMILU dengan pongahnya memaku banner kampanye mereka ke pohon, termasuk partai tempat caleg yang saya kenal tersebut. Saya mendapat jawaban dari beberapa kader partai tersebut bahwa itu perilaku team sukses bukan kader resmi partai. Maka saya sampaikan bahwa bila masalah kecil tapi penting seperti itu saja partai tidak bisa mengendalikan team suksesnya bagaimana mungkin partai itu pantas dipilih sebagai wakil rakyat?

Saya bereaksi hanya kepada satu partai itu, dan hanya kepada satu caleg itu karena saya menyayangkan tindakannya dan berharap mereka bisa berubah, karena saya berencana memilih mereka saat PEMILU nanti. Saya tidak peduli kepada caleg lain dan partai lain. Tapi kepedulian saya ternyata tidak bersambut. Pesan teguran saya tidak mereka gubris.


Saya sadar diri, apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang tidak peduli melihat pohon dianiaya. Apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang memilih mereka, dan yang tidak peduli mereka berbuat apapun saat proses kampanye. Bila saya tidak memilih, mereka hanya kehilangan satu suara, tidak ada pengaruh significant untuk mendapatkan kursi DPR. 
Saya memang layak diabaikan.

Pelatihan yang Membosankan, Sebuah Pengalaman Berharga

Beberapa tahun lalu, saat saya masih bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, saya pernah mendapat perintah mengikuti pelatihan selama dua hari. Saat itu berlaku peraturan bahwa seluruh karyawan setiap tahun harus mengikuti pelatihan minimal dua persen dari seluruh jam kerjanya setahun. 

Saat itu akhir tahun dan target jam pelatihan saya belum terpenuhi, maka saya wajib mengikuti pelatihan “Administrasi Proyek” yang ternyata isi materinya tidak ada hubungan dengan pekerjaan saya sehari-hari. Bisa dibayangkan bagaimana membosankannya suasana pelatihan yang saya rasakan, dan ternyata juga dirasakan oleh hampir seluruh teman-teman saya karena pematerinya juga menyampaikan dengan cara yang membosankan..

Daripada tertidur, atau ngobrol dengan teman yang akan menyinggung pemateri, maka saya mulai menulis cerpen fiksi. Sebenarnya saat itu adalah untuk yang pertama kalinya saya menulis cerpen fiksi. Sambil duduk tegak posisi memperhatikan imajinasi saya melayang dan saya tulis semuanya. Ajaib, ternyata tulisan saya mengalir lancar.

Posisi tubuh saya yang menulis tanpa henti sepanjang pelatihan menyebabkan teman-teman ribut kebingungan. Hampir semua teman memandang saya heran, yang ada di benak mereka kemungkinan sama “Yang ditulis apa???”  Hampir seluruh teman saya, baik secara verbal maupun isyarat, minta dipinjami catatan saya untuk mereka salin. Saya hanya mengangguk dan memberi isyarat ‘ok’, sambil menahan tawa. 

Selesai pelatihan cerpen saya rampung sembilan puluh persen, dan tidak ada seorangpun teman saya yang jadi meminjam catatan saya karena memang di perusahaan kami dulu tidak ada kewajiban membuat laporan usai pelatihan. ALHAMDULILLAH, cerpen ‘Catatan Pelatihan Administrasi Proyek’ saya yang saya beri judul ‘Hukuman untuk Mbok Darmi’ dimuat dalam buku kumpulan cerpen ‘Aku Ingin Melukis WajahMU’  produksi Forum Lingkar Pena Ranting UM Malang tahun dua ribu delapan.

Dari pengalaman tersebut ada beberapa hal yang saya dapatkan sebagai pelajaran berharga :


1.      Sebagai peserta, saya tidak lagi mau mengikuti pelatihan secara gratis, atau saya tidak akan mengikuti sebuah pelatihan hanya karena tidak berbayar.

Bilapun saya mendapatkan kesempatan mendapatkan pelatihan tanpa bayar, saya tetap harus membayar pelatihan tersebut dalam bentuk lain, misalkan dalam bentuk komitmen tindakan tertentu. Dengan cara itu saya tidak sembarangan mengikuti pelatihan, saya akan berusaha maksimal mendapatkan informasi tentang pelatihan yang akan saya ikuti. 

2.      Sebagai pemateri, atau trainer, saya harus memastikan mendapatkan hak berbicara di depan peserta pelatihan.

Saya mungkin punya materi untuk disampaikan, tetapi belum tentu saya mendapat hak untuk berbicara dari para peserta. Bisa jadi di awal saya mendapatkan hak itu, tapi karena cara saya berbicara tidak bagus sehingga membosankan atau tidak menyamankan maka peserta pelatihan akan mulai mencabut hak itu. Sebagai pemateri saya punya amanah menambah nilai tambah peserta pelatihan, karena sedikitnya mereka sudah menginvestasikan waktu mereka.

3.      Sebagai pemateri, atau trainer, saya akan mengondisikan kelas menjadi interaktif dan banyak partisipasi aktif dari peserta.

Sebuah ilmu yang baru bagi peserta sebuah pelatihan akan sangat sulit dipahami bila tidak dicoba dipraktikkan. Mungkin peserta merasa sudah memahami, tapi akan terbukti ada yang belum dimengerti saat mempraktikkannya langsung dan sangat sayang bila itu baru ditemukan seusai pelatihan.

4.      Sebagai pemimpin team saya tidak akan mengikutkan anggota team saya dalam sebuah pelatihan secara cuma-cuma.

Saya akan mewajibkan anggota team saya untuk mengeluarkan kontribusi besar bila ingin mendapatkan sebuah kelas pelatihan, meskipun tidak harus dalam bentuk uang. Bila mereka mengikuti sebuah pelatihan harus dengan upaya yang besar maka mereka akan mengikuti pelatihan dengan sangat serius, tak akan melewatkan waktu sedetikpun.

5.      Sebagai penulis saya sangat bersyukur karena punya peluang memroduksi karya dalam kondisi apapun.


Sebenarnya, siapapun, tidak punya alasan untuk tidak berkarya. Semua orang pasti punya sumber daya untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat, dalam kondisi apapun.




Bagaimana dengan Anda?




Sabtu, 01 Maret 2014

Anakku...Mencintalah dengan Mulia



Bapak lihat kumismu mulai rapat tumbuh, kaubilang bulu- bulu di bagian lain juga begitu. Tubuhmu semakin tinggi melampauiku. Suaramu membesar, dan sudah beberapa kali muncul jerawat di mukamu.

Kau semakin dewasa anakku. Kau sedang dalam proses perubahan besar secara fisik. Hormon-hormon kelelakianmu mulai aktif.

Sementara mengikuti perubahanmu,, Bapak juga mendapati berita dan kabar perilaku teman-temanmu, anak-anak seusiamu, yang melakukan perbuatan hina.
Bapak menyadari bahwa sejak dulu, saat Bapak seusiamu, sudah banyak anak-anak remaja berbuat seperti itu, tapi saat ini semakin gila dan hina.

Bapak tahu, karena pernah merasakannya, bahwa seiring perubahan fisik emosimu juga tumbuh. Kau sudah mulai merasakan hasrat kepada dia yang cantik, dan itu normal anakku. Hasratmu adalah hal yang wajar, kau tak berdosa memilikinya, terima dan berbahagialah.

Berhati-hatilah memilih tindakan mengikuti hasrat itu anakku...
Hasratmu bisa tumbuh, atau pergi dan berganti.
Hasratmu bisa tumbuh menjadi cinta yang mulia, atau tumbuh liar menjadi nafsu yang hina, dan kamu sendirilah yang memilihnya.
Bila kau memilih cinta, maka ujungnya adalah kebahagiaan dan kemuliaan. Tapi bila kau membiarkan hasratmu berubah menjadi nafsu liar maka ujungnya adalah kehinaan dan penderitaan.

Coqi anakku...
Kau pastilah tahu mana yang harus kau pilih. Tapi waspadalah pada nafsu bertopeng cinta. Berhati-hatilah terhadap rayuan hina berbalut cinta.
Bila kau mencintai dia yang cantik dan indah, pastilah kau tak akan rela dia menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Bila kau mencintainya, kau tak akan tega melihatnya mabuk kepayang karena bunga-bunga rayuanmu sehingga tak bisa berbuat yang lebih berguna. Bila kau mencintainya, kau akan tegas menjawab ajakannya : "Kau cantik dan indah, semoga Tuhan membuat ahlakmu lebih cantik dan indah"

Coqi anakku...
Wanita itu diciptakan Tuhan untuk dicintai dan dimuliakan, sebagaimana Bapak mencintai dan memuliakan Ibumu, dan banyak cara untuk itu.

Saat belum menjadi istrimu, cintailah dia yang cantik dengan memberinya waktu untuk tumbuh semakin cantik dan mulia, jangan kau ganggu. Ubahlah cinta di hatimu menjadi karya-karya sesuai kemampuanmu, sehingga kamu juga bertumbuh menjadi semakin indah dan mulia. Senandungkan bait-bait cintamu hanya saat bersujud di hadapan Yang Maha Penyayang, pasrahkan kepada NYA.


Bila kau jaga cintamu bertumbuh semakin mulia, maka suatu saat nanti tiba waktunya kau dipersandingkan dengan dia yang paling cantik dan mulia, seindah dan semulia cintamu.

Selasa, 18 Februari 2014

Pelawak yang Tidak Lucu

Acara televisi yang saya sukai akhir-akhir ini adalah Indonesia Lawak Klub, sebuah talk show parodi. Saya menikmati acara tersebut untuk melepas ketegangan, namun ternyata saya juga menemukan pesan-pesan moral dari celetukan-celetukan para komedian dalam acara itu.
Meskipun masih ada sedikit lawakan yang sarkasme, atau adegan fisik murahan, secara keseluruhan banyolan-banyolan cerdas lebih mendominasi acara tersebut.

Acara ini memarodikan acara serius di stasiun TV lain. Tapi anehnya, saya justru lebih banyak menangkap pesan-pesan moral bermanfaat di ILK, meskipun dalam kemasan lawakan, bahkan slogan acaranya saja 'menyelesaikan masalah tanpa solusi'.

Pada acara serius yang diparodikan saya jarang menemukan pernyataan-pernyataan bermanfaat, kebanyakan hanya retorika politik, hujatan kepada kelompok lain, atau dalih-dalih pembelaan kelompok yang membadak buta (babi lebih kecil, dan faktanya memang badak yang rabun berat). Setiap orang atau tokoh yang hadir dalam acara ini sudah membawa misi dari kelompoknya masing-masing. Tugas mereka adalah memenangkan kepentingan kelompok masing-masing, bukan mencari solusi. Tidak ada satupun hadirin yang mau menerima kebenaran, bila bertentangan dengan kepentingan kelompok.

Dalam ILK, para panelis adalah komedian yang memiliki misi yang sama, yaitu menghibur penonton. Konflik yang muncul sengaja dibuat untuk hiburan, tapi justru secara konten hampir tidak ada pertentangan. Meskipun berusaha melucu dengan membolak-balik kata, ternyata pernyataan mereka mengandung nilai-nilai yang patut direnungkan. Ternyata untuk bisa lucu mereka harus cerdas dan menggunakan hati nurani. Salah satu contoh sederhana adalah penyataan mereka yang disepakati seluruh peserta bahwa tidak pantas dipilih caleg yang memaku material kampanye di pohon.

Bila kita amati, dunia politik ternyata hanyalah panggung lawakan yang tidak lucu, karena para pemainnya berbicara dan bertindak melawan hati nurani, melawan logika,  dan tidak konsisten. Konsistensi mereka adalah pada kepentingan kelompok, bukan pada kemanfaatan masyarakat umum.

Saya sampai merasa bahwa ILK adalah talk show yang sebenarnya, sedangkan acara yang diparodikan hanyalah acara lawak yang tidak lucu dan menyebalkan.

Komedian yang terjun ke politik praktis adalah komedian yang rela kehilangan peluang untuk menyuarakan hati nurani, menurut pendapat saya pribadi.

Walau bagaimanapun saya menghargai pilihan dan pendapat mereka, para pelawak-pelawak yang tidak (lagi) lucu.


Selasa, 21 Januari 2014

Menikmati Toleransi

Dalam ajaran agama saya ada larangan makan sambil berdiri. Saya sangat yakin dan berusaha menghindari larangan tersebut. Kami juga diwajibkan makan menggunakan tangan kanan.
Sementara di Indonesia, tradisi yang berkembang adalah Standing Party, yang merupakan tradisi adopsi dari budaya bangsa 'barat'. Saat ini sangat jarang pesta pernikahan yang menyediakan cukup kursi untuk makan sambil duduk.

Ketika saya menghadiri suatu undangan pernikahan, saya harus menghormati pihak pengundang dengan berusaha menghadiri undangannya, bagaimanapun acaranya. Saya yakin pihak pengundang, apapun agamanya, tahu agama saya dan pasti sudah menyediakan fasilitas sesuai aturan agama saya. Bila pun  ternyata dalam acara pesta pernikahan tersebut ada hal-hal yang tidak sesuai ajaran agama yang saya anut, saya hanya perlu tersenyum mengucapkan selamat kepada mempelai dan segera meninggalkan tempat dengan sikap santun. Inilah toleransi.



Saat menikmati makanan di acara Standing Party saya harus mencari tempat duduk agar bisa makan sambil duduk. Saya bisa cukup lama berdiri menunggu untuk bergantian duduk, karena kursi yang tersedia sangat terbatas jumlahnya dibanding jumlah undangan. Bahkan bila tidak sabar menunggu, saya makan sambil jongkok di pojok ruangan. Jadi bila Anda dalam sebuah pestas resepsi pernikahan melihat ada orang mengenakan setelan jas lengkap dan makan sambil jongkok, mungkin Anda sedang melihat saya.



ilustrasi dari rinaldimunir.wordpress.com

Bagi saya aturan yang menjadi prioritas utama untuk dipatuhi adalah ajaran agama. Saya wajib meninggalkan semua hal yang dilarang dalam agama, kecuali keadaan genting darurat. Menurut saya larangan makan sambil berdiri adalah mutlak, selama saya bisa melakukannya sambil duduk, kapanpun dan di manapun. Sementara ada orang yang menganut agama sama dengan saya beranggapan bahwa suatu acara standing party adalah kondisi darurat sehingga boleh makan sambil berdiri. Saya tidak pernah berniat memperdebatkan perbedaan ini dengan mereka, saya menghargai pendapat mereka. Saya akan menikmati makanan sambil jongkok dan tak perlu memandang sinis orang-orang yang makan sambil berdiri, sehingga saya benar-benar merasakan nikmatnya beraneka ragam makanan yang dihidangkan. Inilah nikmatnya toleransi.

Toleransi tidak selalu terjadi pada agama yang berbeda, dalam agama yang sama pun dibutuhkan toleransi terhadap perbedaan pendapat.Toleransi adalah sikap menghargai pendapat yang berbeda, dengat tetap memegang teguh keyakinan pendapat kita sendiri. Toleransi bukanlah proses asimilasi pendapat yang berbeda , atau bukanlah rekonsiliasi  perbedaan pendapat. Saya tidak perlu makan sambil berdiri untuk menghargai orang yang makan sambil berdiri, begitu pula sebaliknya. Mereka tidak perlu makan sambil jongkok menemani saya.

Saya tidak akan mencap kafir orang-orang yang makan menggunakan tangan kiri. Mungkin, pada moment yang tepat, dengan cara yang baik, saya akan mengingatkan tentang perintah makan menggunakan tangan kanan.
Saya juga tidak perlu mengucapkan “Selamat menikmati makan menggunakan tangan kiri” hanya untuk menunjukkan toleransi saya, tapi saya juga tidak akan menyalahkan orang yang berpendapat ucapan itu sebagai syarat toleransi.

Saya akan tetap makan dengan nikmat menggunakan tangan kanan sambil duduk atau jongkok meskipun semua orang di sekeliling saya makan menggunakan tangan kiri sambil berdiri. Saya tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan mereka, dan mereka tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan saya, itulah nikmatnya toleransi.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Phobia Durian

Saya sangat suka buah durian. Dulu, saat masih kecil, saya bisa menghabiskan beberapa buah durian dalam sekali makan, yang berarti puluhan biji. Bapak, Ibu, dan semua saudara saya sangat suka durian. Karena itu saya dulu sempat heran bila ada orang yang tidak suka durian. Tapi lambat laun saya bisa memahami dan memaklumi orang yang tidak suka durian.

“Pak saya phobia durian…!”

Wah ini ada yang baru lagi. Untuk memahami orang yang tidak suka durian saja saya perlu waktu lama, apalagi ini phobia durian. Tapi kali ini saya tidak boleh terlalu lama minta waktu untuk memahami orang yang phobia durian, bahkan saya tidak perlu memahaminya. Client saya yang seorang bapak muda ini butuh dibantu, tidak butuh dipahami.

Saya tidak menanyakan kepadanya mengapa dia phobia durian, karena mungkin ceritanya akan terlalu panjang, atau bahkan sebaliknya, dia tidak tahu mengapa dia phobia durian. Yang awal saya tanyakan adalah tujuan dia mendatangi saya.

“Saya ingin sembuh pak. Saya ingin menghilangkan phobia saya”

Maka pertanyaan saya selanjutnya adalah tujuan dia menghilangkan phobia.

“Saya ingin membahagiakan istri dan anak saya Pak. Selama ini saya sangat enggan membelikan mereka durian, padahal mereka suka durian. Bila pun terpaksa membelikan saya akan keluar rumah, pergi sejauh mungkin sampai durian habis tuntas. Saya ingin bisa menemani mereka menikmati durian, paling tidak duduk bersama”

Saya menilai client saya ini punya tujuan yang jelas, dan itu berarti proses kesembuhannya sudah lima puluh persen. Yang lima puluh persen sisanya hanya masalah teknis saja.

Tanpa tujuan yang jelas sebuah sesi terapi hanya menjadi ajang curcol, tidak ada ujung dan pangkal. Sedangkan bila client punya tujuan yang jelas, sang therapist hanya menjadi pemandu jalannya menuju tujuan. 

Dengan kekuasaan Tuhan dan karena tujuan yang jelas serta kemauan yang kuat, client saya bisa sembuh dari phobianya terhadap durian. Pada akhir sesi terapi dia tidak lagi pusing bila berdekatan dengan durian, meskipun tetap tidak suka makan durian.


“Biarlah saya tetap tidak bisa makan durian, asal saya bisa bersama anak dan istri saya saat mereka menikmati durian.”

Kamis, 03 Oktober 2013

[Anak Bermasalah 1] Orang Tua Harus Mau Berubah

Beberapa malam yang lalu saya menerima tamu, sepasang suami-istri atau lebih tepatnya sepasang ayah-bunda. Sebelum datang sang Ayah sebenarnya sudah menghubungi saya melalui Blackberry Message, secara singkat menyampaikan tentang keinginan mereka untuk bertemu saya dan konsultasi masalah anak mereka. Kami sepakat pada pertemuan pertama sang anak tidak perlu diajak.

Berdasarkan pengalaman menangani masalah anak, memang hampir 90% masalah yang terjadi ternyata bersumber dari orang tua, sehingga saat kedua orang tua bersedia berubah maka masalah pada anak terselesaikan dengan sendirinya.

Pada pertemuan malam itu, setelah mereka menyampaikan masalah anak mereka, ada satu pernyataan mereka yang membuat saya terkesan dan menilai mereka adalah orang tua yang luar biasa. Mereka menyatakan, yang diwakili dinyatakan oleh sang Ayah :" Apa yang salah dari kami Pak? Perubahan apa yang harus kami lakukan?". Bagi saya pernyataan itu suatu tanda bahwa sebenarnya tidak ada masalah krusial pada anak mereka, bahkan pada keluarga kecil mereka. Bila pun mereka merasa ada yang harus dibenahi, saya yakin dalam waktu cepat bisa berubah jadi lebih baik.
Ayah-Bunda tamu saya ini menunjukkan kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk berubah, dan itu adalah lebih dari separuh penyelesaian masalah.

Sangat banyak terjadi pada pasangan Ayah-Bunda lain, yang sebagian juga melakukan konsultasi dengan saya, yang menganggap anaknya bermasalah tapi tidak mau mengakui bahwa mereka lah yang harus berubah terlebih dahulu.

"Pak...Anak saya itu maunya sendiri, sering membantah kalau dikasih tahu...! Tolong terapi dia Pak..."
"Saya sudah melakukan segala yang dia mau, tapi dia semakin ngelunjak...Nyerah saya..."

Banyak orang tua yang menganggap anak mereka bermasalah, tapi mereka merasa sudah memperlakukan anak mereka dengan benar. Tugas terberat saya adalah membuat mereka sadar bahwa mereka harus berubah terlebih dahulu bila menginginkan anak mereka berubah, nyaris tidak ada cara lain.

Kamis, 27 Juni 2013

Menasihati Diri Sendiri

Saya tergelitik membaca status Facebook seorang sahabat. Dia menyatakan bahwa status facebook yang berisi motivasi atau nasihat kemungkinan besar menandakan sang pemilik status-lah yang membutuhkan motivasi dan nasihat. Saya se-juta-tuju dengan pernyataannya, karena saya melakukannya.

Saya suka menuliskan nasihat-nasihat untuk saya sendiri dalam status Facebook, dan menurut saya sangatlah bermanfaat. Saat merasa ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dibenahi, harus segera diubah atau untuk mengingatkan diri sendiri, saya menulis nasihat untuk saya sendiri dalam status. Nasihat untuk diri sendiri yang dituliskan dalam status Facebook bagaikan deklarasi perubahan. Karena saya menuliskannya di media sosial yang bisa dibaca publik, maka saya wajib mempertanggungjawabkannya. Saya harus benar-benar menjalankan apa yang saya tulis, dan itu benar-benar untuk kebaikan saya sendiri. Seandainya ada pembaca status saya yang mengalami kondisi yang sama dan mendapatkan manfaat dari nasihat itu, maka segala puji bagi ALLOH.


Saat merasakan kualitas tindakan menurun, saya menasihati diri untuk segera melakukan perbaikan. Saat mendapatkan kebaikan, saya menasihati diri untuk memperbanyak syukur dan bertindak lebih banyak dan lebih baik lagi. Saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, saya mengingatkan diri bahwa itu hanyalah umpan balik untuk memperbaiki proses.

Nasihat dari diri sendiri lebih mudah dilaksanakan karena berdasarkan nilai-nilai yang sudah saya yakini. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan saya sendiri yang tahu kemampuan diri sendiri.


Saya berusaha sesering mungkin menasehati diri sendiri karena saya ingin selalu berubah menjadi lebih baik. Semakin sering saya menasihati diri sendiri, semakin besar komitmen saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Selasa, 07 Mei 2013

Anugerah Alergi


Beberapa waktu lalu saya menulis tentang penyakit masa kecil : Menyesal Tapi Tidak Menyesali.
Dua bulan yang lalu gejala alergi itu kambuh, setelah berpuluh tahun tidak mengalaminya. Gejalanya tidak sama persis, tapi awalnya sangat mirip. Hampir pada seluruh jari-jari kaki saya muncul benjolan kecil bernanah, sangat sakit, cekot-cekot. Ketika pecah rasanya sangat perih. Setelah pecah dan mengering muncul benjolan kecil lain di tempat yang sama, atau di tempat lain sekitar jari kaki.


Dengan awal yang sama seperti sakit saat masih kecil dulu saya menduga alergi saya kambuh, maka saya berhenti dulu makan daging ayam,telur, dan segala mahluk laut. Ternyata benjolan kecil masih terus bermunculan, hingga saya bertemu dan berkonsultasi dengan teman yang seorang herbalist. Dia menyarankan saya untuk berhenti makan segala macam daging, segala macam telur, mahluk laut, dan mengurangi konsumsi gula. ALHAMDULILLAH berangsur-angsur benjolan kecil di kaki saya berkurang, sampai akhirnya tidak ada sama sekali di jari-jari kaki.
Saya harus benar-benar menghindari aneka macam daging, telur dan mahluk laut sepanjang hidup atau harus segera mengobati alergi itu.

Dengan metode pengobatan atau terapi yang saya pelajari sebenarnya saya bisa mencoba menghilangkan alergi itu, tapi saya memilih untuk tidak melakukannya. Saya memilih untuk tetap mempertahankan alergi itu karena menganggapnya sebagai anugerah.

Saya sangat bersyukur ALLOH memberi saya sakit kulit seperti itu. ALLOH memberi saya sensor untuk menghindari makanan tertentu. Bukankah aneka daging, telur dan sea food, serta terlalu banyak gula adalah penyebab penyakit-penyakit berat seperti kelebihan kolesterol, darah tinggi, jantung, asam urat, diabetes dan semacamnya?

Bila orang lain berhenti makan daging, telur dan sea food karena penyakit dalam yang berat, saya berhenti makan aneka makanan itu karena penyakit kulit yang tidak berbahaya.

Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Sabtu, 04 Mei 2013

Televisi oh Televisi


Saya dan istri menyadari bahwa sedikit sekali manfaat yang bisa didapat dari televisi, tetapi kami mengakui meskipun sedikit masih ada manfaatnya sehingga masih mempertahankannya di rumah kami. Saya sendiri sangat jarang sempat meluangkan waktu menonton acara televisi. Sebelum kakak ipar mengirimi kami televisi dua puluh inch, kami hanya memiliki televisi empat belas inch yang kami beli lima belas tahun lalu. Kami tidak bisa menolak pemberian kakak ipar.

gambar dari depositphotos.com 

Dulu saya sempat berniat menghilangkan televisi dari rumah kami, karena mengkhawatirkan anak-anak. Saat itu kedua anak kami banyak menghabiskan waktu di depan televisi, sehingga saya merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka, tapi saya tidak mungkin melarang mereka tiba-tiba tanpa alasan. Saya tidak ingin anak-anak merasa 'terpaksa' tidak menonton televisi, bukan dari kesadaran diri.
Hingga akhirnya suatu ketika kedua anak kami bertengkar berebut acara televisi. Saya merasa menemukan moment yang bagus untuk melakukan perubahan.  Saya cabut kabel listrik sebagai hukuman pertengkaran mereka. Saya akan mengizinkan mereka menonton televisi setelah mereka berbaikan, dan menunggu hasil 'musyawarah keluarga'.

Kami memang mempunyai tradisi mengadakan 'musyawarah keluarga' untuk mencari solusi masalah atau merencanakan sesuatu. Dalam musyawarah itu semua orang berhak mengajukan pendapat, dan semua peserta harus komitmen pada hasil musyawarah.

Saya membuka musyawarah dengan menyampaikan kekhawatiran saya tentang terlalu banyaknya waktu yang digunakan anak-anak untuk menonton televisi. Mereka saya tanya satu persatu manfaat televisi untuk masa depan mereka, dan mereka terdiam. Saya minta pendapat mereka acara apa saja yang bermanfaat di Televisi, yang bermanfaat untuk kebahagiaan dan masa depan mereka, dan yang paling kecil pengaruh buruknya. Hanun yang saat itu masih balita juga aktif berbicara dengan gaya dan celotehnya yang lucu. Kami asyik berdiskusi, menimbang-nimbang, menganalisa kondisi, dan akhirnya membuat keputusan. Ternyata Coqi hanya tertarik menonton pertandingan bola, acara pengetahuan populer, dan beberapa film seri detektif. Kami bersama memiliki kesamaan pendapat bahwa ada manfaat dari acara-acara itu, dan khusus film detektif syaratnya Coqi harus saya atau ibunya dampingi saat menonton. Setiap hari Coqi hanya punya waktu satu jam setelah Ashar dan satu jam setelah belajar malam hari.
Sedangkan Hanun hanya suka film kartun, dan punya jatah satu jam setiap hari. Hasil kesepakatan musyawarah mengikat kami semua, termasuk saya dan istri.

Meskipun kecil ada manfaat yang bisa didapat dari televisi. Yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan diri, karena televisi hanyalah alat pasif. Kita sendiri yang bisa memilih untuk mendapatkan untung atau rugi dari televisi.