Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Kamis, 15 November 2012

Jangan Sebut Saya 'Ustadz'


Kata ‘ustadz’ dalam bahasa Arab adalah guru dalam bahasa Indonesia. Saya sangat bahagia, dan menjadi impian saya, menjadi seorang guru. Namun sampai saat ini, entah sampai kapan, saya masih risih bila dipanggil ustadz. Bagi saya gelar ustadz adalah gelar yang sangat mulia, beberapa tingkat lebih tinggi dari gelar guru, menurut perasaan saya pribadi. Saya merasa sebutan ustadz belum pantas saya sandang, terlalu berat bebannya.

Dalam setiap kesempatan menyampaikan materi di forum saya selalu menyampaikan agar tidak memanggil saya ustadz. Banyak yang layak dan pantas dipanggil ‘ustadz’ dan saya belum layak.

Masih menurut perasaan saya, ustadz adalah seorang alim yang memahami ilmu-ilmu dunia dan akhirat, paham dan mampu memandu umat melalui jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan saya masih sedikit paham jalan menuju kebahagiaan di dunia, dan selalu mencari jalan terbaik menuju kebahagiaan akhirat.

Seorang ustadz adalah insan mulia yang sudah menjalankan segala ajaran-ajaran mulia, yang kemudian diajarkan kepada umat. Sedangkan saya masih sedikit-demi sedikit mengumpulkan ilmu mulia itu dan belajar mengamalkannya, sementara hanya saya bagi dan contohkan kepada anak dan istri.

Saya bahagia jadi guru, tapi saya belum lagi ustadz. Jangan sebut saya ustadz karena saya khawatir terbatasnya ilmu dan tindakan saya akan menodai gelar ustadz yang mulia.

Rabu, 14 November 2012

Hutang Budi (Dibawa Mati) Saya Kepada FLP Malang

Saya mulai berani dan bisa menulis sejak berkumpul dengan teman-teman FLP Malang. Saya rasakan sendiri manfaat sebuah  kebersamaan dalam komunitas yang memiliki kecenderungan minat yang sama. Dalam komunitas kita bisa saling memotivasi dan menginspirasi.

Saya merasa bisa seperti saat ini dalam hal kepenulisan adalah karena ALLOH mempertemukan saya dengan FLP Malang. Karena itu sampai kapanpun saya tidak akan melupakan ini, dan berharap dianugerahi kesempatan untuk membalas budi.

Sebagai sebuah organisasi, saya menilai FLP Malang masih sangat banyak kekurangannya, dan mungkin dari situlah sarana saya membalas budi kepada FLP Malang. Ilmu organisasi yang saya dapatkan saat menjadi karyawan, dan pengalaman akan saya sumbangkan semaksimalkan mungkin untuk meningkatkan kualitas FLP Malang sebagai sebuah organisasi.

ALHAMDULILLAH FLP Malang menyambut baik itikad saya. Dengan semangat fastabikul khoirot teman-teman FLP Malang khususnya pengurus sangat antusias menyambut tawaran saya. Mereka dengan kemauan dan semangat yang tinggi bersedia mengubah pikiran dan tindakan dalam berorganisasi. Memang belum bisa dibilang ideal, tapi saya mengamati dan membuktikan adanya progres kemajuan yang significant. Saya sangat menghargai dan salut atas kemauan tinggi teman-teman FLP Malang untuk berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi yang terbaik.

Saya tidak bisa menjamin kapan FLP Malang bisa benar-benar menjadi organisasi nirlaba yang profesional. Tapi saya yakin, bila proses perubahan ini secara istiqomah dijalankan, secepatnya FLP Malang akan menjadi sebuah organisasi yang disegani secara nasional bahkan internasional, dan maksimal bermanfaat bagi seluruh anggotanya maupun masyarakat umum.

Selasa, 13 November 2012

Majalah Bahasa Jawa


Entah sejak kapan saya suka membaca, saya tidak ingat. Mungkin sejak saya bisa membaca, atau mungkin sebelumnya. Karena samar-samar saya ingat suka memandangi gambar-gambar dalam salah satu majalah anak-anak, entah usia saya berapa saat itu.

Saat saya masih kecil kemampuan ekonomi Bapak dan Ibu tidak terlalu kuat, meskipun tidak juga bisa dibilang lemah. Untuk mengalokasikan dana khusus kebutuhan membaca kadang bisa kadang tidak, lebih banyak tidak bisa. Pernah kali Ibu melangganankan kami majalah anak, tapi tidak bertahan lama. Tidak ada dana untuk melanjutkan berlangganan.Saya sangat sedih dan merasa kehilangan saat tidak lagi menerima majalah anak setiap minggu, seperti ada sesuatu yang kutunggu tapi tak kunjung datang. Kami bertiga, saya dan adik-kakak, memang selalu berebut saat majalah datang waktu masih berlangganan. Tapi sebenarnya hanya sayalah yang benar-benar menunggu dan mengharap kehadiran majalah tiap minggu. Hanya saya yang benar-benar menikmati membaca majalah. Maka hanya sayalah yang sangat kecewa dan merasa kehilangan.
gambar dari gusnardi.blogspot.com

Sebenarnya tidak semua majalah yang Ibu hentikan berlangganannya. Disisakan satu majalah, “Panjebar Semangat”, majalah bahasa Jawa dan bukan majalah anak. Tapi demi memenuhi kebutuhan, majalah itu pun saya baca sampai habis. Saya tidak begitu paham alasan Ibu tetap mempertahankan berlangganan majalah itu, mungkin karena harganya yang sangat murah, mungkin pula karena Ibu ingin mengenalkan dan memperkaya kemampuan anak-anaknya terhadap bahasa Jawa yang mulai ditinggalkan. Yang pasti hanya Ibu dan saya yang mau membaca majalah itu di rumah kami. Diskusi tentang cerpen atau cerbung Jawa, cerita wayang, atau artikel Jawa lainnya jadi acara saya dan Ibu yang tidak mungkin bisa diikuti oleh anggota keluarga yang lain.

Ternyata tradisi berlangganan majalah bahasa jawa ini sudah dimulai oleh almarhum Kakek, ayahnya Ibu. Kakek sangat perhatian dan peduli pada perkembangan Bahasa dan Budaya Jawa. Setiap bertemu beliau, saat saya masih kecil, Kakek selalu memberi wejangan tentang pentingnya mempelajari atau meningkatkan kemampuan Berbudaya Jawa khususnya Bahasa Jawa. Bahkan saya sempat segan bertemu dan berbicara dengan beliau karena Kakek selalu mengkritik ucapan Bahasa Jawa saya sekecil-detil kesalahannya.

Kegemaran atau kebiasaan saya membaca majalah “Panjebar Semangat” ternyata sangat bermanfaat bagi pelajaran Bahasa Jawa saya. Pelajaran Bahasa Jawa jadi terasa sangat mudah. Pelajaran huruf HANACARAKA yang selalu dikeluhkan oleh hampir semua teman-teman saya, saya rasakan mudah dan menyenangkan (sayangnya saat ini kemampuan itu hilang). Ujian (dulu kami menyebutnya ‘ulangan’) Bahasa Jawa adalah ujian yang saya tunggu-tunggu. Karena saya bisa menyelesaikan soal hanya dalam sepertiga waktu yang disediakan, dan malam harinya saya tidak perlu belajar atau mempersiapkan diri. Pernah saat ujian saya tertidur di atas lembar jawaban ujian, karena terlalu lama menunggu selesainya ujian dan saya malas keluar kelas bila belum ada teman yang menyelesaikan ujian. Tidur saya sangat nyenyak sampai saya tidak menyadari saat Ibu Guru berkali-kali mendatangi bangku saya (saya tahu dari teman-teman). Mungkin Ibu Guru heran kok ada muridnya yang bisa tidur nyenyak saat ujian. Anehnya beliau tidak berusaha membangunkan saya. Tidur saya sangat nyenyak sampai saya ngiler membasahi lembar jawaban. Saat waktu ujian habis teman-teman sibuk merampungkan jawaban, saya sibuk mengeringkan air liur pada lembar jawaban.

Beberapa waktu yang lalu saya baru menyadari ternyata Ibu masih berlangganan “Panjebar Semangat” setelah sekian lama saya tidak membacanya. Saya berencana berlangganan juga, agar anak-anak saya juga membacanya.Saya ingin meneruskan tradisi mempelajari Bahasa Jawa dan meneruskan tradisi ini kepada anak-anak saya.

Anak Aneh yang Bersahabat dengan Jarum Suntik dan Obat


Anak yang Aneh

Tidak seperti bayi pada umumnya, saya terlahir pada posisi dahi keluar terlebih dahulu. Entah apakah cara lahir tidak umum itu penyebabnya atau sebaliknya, kepala saya sangat besar saat lahir. Ibu saya yang seorang Bidan dan dokter yang membantu persalinan sempat khawatir saya menderita Hydrosephalus (penyakit kelainan genetika dengan membesarnya batok kepala karena kelebihan cairan). Karena kondisi kepala saya mengindikasikan penyakit itu, kepala besar tidak proporsional dan mata melotot. Itulah yang diceritakan Ibu saat saya sudah sekolah SMP. Yang sangat saya syukuri adalah bahwa saya tidak pernah merasa menjadi orang aneh saat di dalam rumah. Bapak, Ibu dan saudara-saudara sangat menyayangi saya dan memperlakukan seperti anak normal yang sehat. Meskipun di luar rumah banyak orang memandang aneh dan anak-anak kecil menyoraki saya sebagai anak aneh. Pernah saat sudah dewasa saya harus mewakili Bapak menghadiri undangan Tahlilan tetangga, saya berbincang dengan seorang tetangga jauh yang sudah tua yang saat itu duduk di sebelah saya.

“Rumahnya mana mas?”
“Rumah nomor satu pak…”
“Lho…Apanya pak Nur?”
“Saya anak yang nomor dua”
Si Bapak melihat saya lama, berusaha mengingat-ingat.
“Oooo yang dulu waktu masih kecil tidak normal ya…….?”
Saya hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Mungkin melihat senyum kecut saya si Bapak berusaha menetralisir kalimatnya : “Tapi sekarang ganteng kok…”

Saat masuk TK, teman-teman baru saya sudah mengejek kepala saya seperti tempe. Pada hari pertama sekolah saya pulang dengan menangis dan merajuk tidak mau masuk sekolah lagi. Akhirnya setelah dibujuk Bapak dan Ibu saya mau sekolah lagi. Sejak itu saya berusaha tidak menggubris apapun yang dikatakan orang tentang bentuk kepala saya.

Waktu SD dan SMP julukan saya “Ndas Genthong”. Waktu SMA saya dijuluki “Ndas Cebuk” (Cebuk:gayung). Meskipun berusaha tidak menggubris, sedikit banyak  ejekan-ejekan itu mempengaruhi  kepribadian saya. Pengaruh negatifnya adalah saya menjadi anak yang minder dan kurang percaya diri. Pengaruh positifnya adalah saya menjadi semangat belajar  untuk menunjukkan kepada orang-orang yang mengejek saya bahwa kepala saya besar karena isinya berkualitas.

Saya adalah anak aneh yang minder tapi semangat belajar.

Anak yang Bersahabat dengan Obat dan Jarum Suntik

Saya tidak ingat pasti tahun berapa, tidak ingat pastinya saat itu berapa usia saya. Tapi saya sangat ingat bahwa sebelum SD saya sangat akrab dengan obat dan jarum suntik. Saya sangat mengingat bentuk obatnya dan bentuk alat suntiknya.

Karena menderita Bronchitis Acut saya harus sering difoto rongent. Saya sangat mengingat beberapa kali sebulan saya bersama Ibu naik angkutan umum ke rumah sakit. Tidak hanya difoto, tapi juga diambil darah saya menggunakan alat suntik. Di rumah setiap hari Ibu yang menyuntik saya. Saya sangat suka makan telur, saya mendapat satu telur ayam kampung bila saya mau disuntik.

Sembuh dari Bronchitis, saya sakit peradangan amandel. Sekali lagi saya harus sering ke rumah sakit, disuntik dan harus minum berbutir-butir tablet yang waktu itu di mata saya terlihat sangat besar.
Dalam jarak waktu yang tidak terlalu jauh saya juga pernah menderita Typhus sehingga harus Bedrest berminggu-minggu. Untuk buang air kecil dan besar saya harus digendong ke kamar mandi. Tentu saja saya bertemu lagi dengan jarum suntik dan obat berbutir-butir.

Secara bersamaan dengan penyakit-penyakit dalam tersebut, saya juga menderita penyakit luar, penyakit kulit. Saya menderita alergi terhadap telur,ikan, dan ayam. Makanan ,yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh anak seusia saya saat itu, menyebabkan tumbuhnya bisul-bisul kecil di kaki saya. Bisul-bisul itu sangat banyak dan berisi nanah. Ketika pecah, cairan-cairan nanah campur darah itu lama sekali keringnya. Begitu kambuh maka membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan borok saya. Masih melekat di ingatan saya bagaimana Ibu dan Bapak secara bergantian membersihkan borok saya dan memasang perban, hampir tiap malam. Segala macam obat sudah dicoba untuk menyembuhkan borok saya. Mulai obat kimia sampai herbal. Bahkan saya juga mencoba makan kadal yang dibakar dan dimasukkan kapsul.

Dengan berbagai penyakit tersebut, saya menjadi akrab dengan obat dan jarum suntik. Bila anak-anak lain seusia saya masih sulit minum obat dan takut disuntik, saya merasa minum obat dan disuntik adalah suatu hal yang biasa, suatu rutinitas sehari-hari.Saya sudah bersahabat dengan obat dan jarum suntik saat belum usia sekolah.

Anak Aneh dan Penyakitan yang Dilimpahi Cinta dan Kasih Sayang

Seorang anak yang aneh, sering dicemoh orang, dan sakit-sakitan tentu hidupnya menderita, sangat tidak bahagia. Tapi tidak begitu yang saya rasakan. Memang ada masa-masa saya merasa tertekan dengan keanehan dan penyakit saya. Tapi tekanan itu tidak sampai mengisi sepertiga masa kecil saya. Sebagian besar saya rasakan kebahagiaan. Karena saya lahir dan tumbuh di antara orang-orang yang sangat mencintai saya.

Ayah dan Ibu yang selalu telaten merawat saya. Mereka tetap bangga dengan segala kekurangan saya. Memang mereka sangat menjaga saya agar tidak terlalu sering bertemu dengan orang-orang yang berpotensi mengejek keanehan saya. Saya selalu merasa istimewa di hadapan Bapak dan Ibu.

Bapak,Ibu dan saudara-saudara saya memberikan kekuatan sehingga saya bisa mengahadapi segala ujian kehidupan pada usia yang sangat muda. Tuhan memberi saya ujian sekaligus menganugerahkan segala kelengkapan untuk menghadapinya. ALHAMDULILLAH saya lulus ujian.

Minggu, 11 November 2012

Bedah Film "Invictus" untuk Memperingati Sumpah Pemuda


“Pak filmnya kok gak seru ya…”
“Kami nonton bareng nih pak. Baru awal kami sudah boring.Apalagi anak-anak SMA pak.”
“Film belum habis saya sudah ngantuk pak…”
“Film ini film drama dan plot/temponya lambat pak, bikin bosan”

Begitulah beberapa sms yang masuk (sudah saya konversi dari bahasa SMS ke bahasa yang lebih mudah dipahami) dari teman-teman pengurus FLP Malang tentang film Invictus beberapa hari sebelum acara Bedah Film di SMK Putera Indonesia Malang.

FLP Malang menerima tawaran dari yayasan Putera Indonesia Malang  (PIM) untuk merancang dan mengisi acara memperingati peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 29 Oktober 2012. Pihak yayasan mengusulkan acara nonton bareng dan membedah filmnya. Jumlah peserta ada dua ratus hingga lima ratus siswa dan kami harus mengisi acara selama empat jam. Saya sampaikan kepada teman-teman FLP Malang bahwa tawaran ini sangat menantang, karena perlu rencana, fasilitas, dan kerja lebih keras agar bisa sukses mengendalikan siswa sebanyak itu, membuat mereka antusias berinteraksi sampai akhir acara.

Kebetulan para pengurus FLP Malang sedang proses pelatihan dan peningkatan kualitas dalam berbicara di depan publik. Tawaran dari yayasan PIM akan menjadi sarana praktik langsung ke lapangan yang sesungguhnya, meskipun proses pelatihan baru lima puluh persen. Entah karena tidak ada yang berani, atau ingin menguji pelatihnya, saya yang diminta teman-teman sebagai main speaker acara ini. Saya menyanggupi dengan syarat teman-teman hadir mendukung dan membantu saya maksimal.

Agak bingung juga memilih film yang akan dipertontonkan dan dibedah bersama para siswa kelas sebelas SMK (zaman saya dulu nyebutnya kelas dua). Bila kami memutar film documenter, sangat pesimis bisa mengundang minat siswa untuk mau menonton sampai akhir, apalagi harus aktif. Namun bila kami menyajikan film laga yang seru, apa yang bisa kami bedah dan mengaitkannya dengan nilai-nilai kebangsaan dan sumpah pemuda. Ada yang mengusulkan film Vertical Limit, Merah Putih, Kung Fu Panda, dan lain-lain. Setelah kami bahas bersama belum ada film yang kami pilih sampai H-6, padahal untuk mempersiapkannya kami terpotong hari-hari perayaan Idul Adha dan pemotongan hewan kurban. Sebagian teman-teman pengurus FLP ada yang harus pulang kampong, sehingga kecil sekali kesempatan untuk berkumpul membahas dan mempersiapkan acara. Sebagai main speaker acara nanti saya merasa harus memilih dan memutuskan sendiri satu film yang harus saya siapkan sendiri, dan ternyata secara tiba-tiba terbersit film Invictus di benak saya (saya meyakini bahwa benak saya di bawah kuasa ALLOH). Saya segera mencari film itu, dan membagikannya ke teman-teman pengurus FLP Malang agar menontonnya dan memikirkan strategi penyampaian film ini kepada siswa.

Saya pribadi sangat menyukai film Invictus yang sarat pesan-pesan moral. Di film ini kita bisa menemukan pesan tentang persatuan, kepemimpinan, kemanusiaan, kebangsaan, kekuatan maaf, komunikasi, kebahagiaan, dan banyak lagi. Saya pastikan bahwa film ini adalah satu-satunya film yang pernah saya tonton yang mengandung banyak sekali pesan positif. Saya beberapa kali menontonnya dan beberapa kali pula membahas dengan anak sulung saya, Coqi, dan saat memilih film ini pun saya minta pendapatnya.

Pendapat dan kesukaan saya pada film ini ternyata tidak seirama dengan sebagian besar teman-teman pengurus FLP Malang setelah mereka menontonnya. Banyak teman-teman yang pesimis bahwa film ini bisa membuat ratusan siswa mau bertahan menonton sampai akhir dan aktif berinteraksi. SMS komentar dari mereka saya balas dengan SMS yang intinya seperti ini :
“Bila Invictus kurang bagus saya mohon bantuan teman-teman mencarikan film lain sekaligus merencanakan strategi penyampaiannya.Saya sendiri akan fokus menyiapkan Invictus.Hari Minggu sore (H-1) kita bertemu dan kita tentukan film mana yang akan kita bawakan.Misal teman-teman tidak menemukan film pengganti paling tidak saya sudah siap dengan Invictus” (Panjang juga SMS saya, mungkin terkirim dalam tiga SMS)

Pada H-1 kami memutuskan menggunakan film Invictus.

Bagaimana strategi kami? Insya ALLOH akan saya lanjutkan pada tulisan berikutnya. Yang pasti pada akhir acara bedah film ada sembilan puluh persen siswa yang bertahan, mereka dengan semangat dan  antusias bersama-sama membaca ikrar Sumpah Pemuda serta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Kamis, 08 November 2012

Menebar Buku 'Kripik untuk Jiwa' Menuai Devisa


Tulisan dan buku “Kripik untuk Jiwa” adalah program ‘tebar benih’ yang paling besar ‘modalnya’. Selain dalam bentuk tulisan saya harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menerbitkan buku tersebut.
Apa alasan saya menerbitkan “Kripik untuk Jiwa” dalam bentuk buku cetak? Apakah tak cukup dengan Ebook saja?

Sampai saat ini saya tidak bisa tahan berlama-lama membaca tulisan dalam layar computer. Bahkan saat menulis pun saya perlu beberapa kali istirahat. Mungkin itu pula yang menyebabkan tulisan-tulisan saya cenderung pendek dan ringkas. Kalaupun bahasannya harus panjang saya sering memotongnya menjadi beberapa bagian. Buku “Kripik untuk Jiwa” saya cetak untuk memenuhi kebutuhan pembaca buku seperti saya.

Kalau menebar benih kok buku “Kripik untuk Jiwa” dijual? Mengapa tidak dibagikan saja?

Meskipun saya menerbitkan buku “Kripik untuk Jiwa” dengan semangat ‘menebar benih’, namun saya tidak mau memberikan buku ini ke sembarang orang. Saya tidak akan rela buku saya hanya jadi barang pajangan, atau bahkan ditelantarkan bagai nasib surat undangan yang kadaluarsa. Niat saya adalah menebar benih dalam bentuk tulisan bukan berbagi bundelan kertas. Untuk beberapa orang yang saya kenal, saya pastikan mereka berkenan membaca buku saya, saya berikan buku “Kripik untuk Jiwa” secara gratis. Saya memberi harga pada buku saya sekedar sebagai proses seleksi bahwa pemegang atau pemilik buku nanti benar-benar berminat membaca atau memanfaatkan isi buku saya.


Saya sengaja tidak membagikan buku saya secara cuma-cuma, dan menjualnya adalah juga untuk pembelajaran saya dalam menjual buku. Saya meyakini bahwa seorang penulis buku seharusnya tidaklah hanya menulis, tapi juga harus memperhatikan segala strategi untuk memasarkan bukunya, termasuk pemilihan tema dan tulisan isi buku. Semua orang yang memiliki uang pasti bisa menulis sebuah buku yang berisi apapun dengan kualitas bagaimanapun kemudian membagikannya sampai habis, namun dengan cara itu bagaimana akan terjadi proses improvement? Siapa yang akan mengevaluasi hasil tulisannya? Orang yang menerima buku secara cuma-cuma tentu saja lebih tinggi rasa segannya untuk memberikan penilaian yang obyektif dibanding orang yang merasa mengeluarkan uang untuk mendapatkan buku tersebut.

Bagaimana hasilnya?

ALHAMDULILLAH saya mendapat sejumlah uang dari hasil penjualan buku “Kripik untuk Jiwa” meskipun tidak sampai balik modal. Hasil non materilah yang saya rasakan luar biasa besar. Saya mendapatkan banyak sahabat baru yang merupakan pembaca buku saya. Saran-saran dari para pembaca juga sangat membantu saya meningkatkan kualitas diri.

Secara materi, dari hasil penjualan langsung buku “Kripik untuk Jiwa” memang tidak terlalu besar. Hasil yang tidak langsunglah yang luar biasa besar. ALHAMDULILLAH saya mendapat kontrak export kripik satu ton ke Malaysia, untuk awal. Kripik buah, bukan buku kripik. Bagaimana bisa? Sejak buku saya masih dicetak saya sudah melakukan promosi dengan gencar melalui berbagai media digital, melalui  internet maupun Blackberry Messenger. Yang lucu adalah bahwa banyak orang yang membaca promo saya menyangka saya jualan kripik beneran. Kata Pak Heri Mulyo Cahyo rugi kalau dituduh tapi tidak melakukan, maka saya akhirnya benar-benar membuka toko online kripik buah.

Ah itu sih tidak berhubungan…Bukan disebabkan buku “Kripik untuk Jiwa”…. Orang yang mengatakan seperti itu adalah orang yang tidak memahami mekanisme kehidupan, proses dalam hidup. Orang-orang seperti itulah yang selalu mengharap keuntungan langsung dari setiap hal yang dia keluarkan, dari setiap tindakan. Orang yang tidak yakin akan janji Tuhan dan maunya sukses dengan cepat dan instant.

Sakit Hati Coqi 3


Pagi tadi, seperti yang sudah kami sepakati, Coqi menjalani terapi menghilangkan dendam dan kebencian. Kesediaan Coqi  adalah suatu hal yang sangat menggembirakan saya. Sebenarnya ada beberapa hal, menurut pengamatan saya sejak lama, yang perlu diubah dalam diri Coqi. Tetapi saat saya menawarkan untuk terapi perubahan Coqi menolaknya.
“Nggak usah pak…Coqi nggak apa-apa kok…”

Sedih juga, saya sudah banyak membantu orang dengan terapi, tapi tidak pernah membantu anak sendiri. Karena itu pagi tadi adalah peristiwa yang sangat berarti bagi saya.

Semalam sebelum tidur saya menganalisa masalah yang dialami Coqi untuk menentukan teknik terapi apa yang akan saya gunakan. Dendam dan kebencian Coqi disebabkan karena perilaku Fulan terhadapnya, bukan karena sosok si Fulan. Jadi sebenarnya Coqi benci pada apa yang dilakukan si Fulan, dendam Coqi karena ‘terluka’ saat diganggu si Fulan. Karena peristiwanya masih ‘segar’, masih baru saja terjadi, maka ‘luka’ Coqi belum terlalu dalam dan mengakar. Saya memutuskan untuk menggunakan teknik ‘Changing Bad Memories’ oleh  Richard Bandler.

Sepulang sholat subuh kamipun memulai sesi terapi .

Kelebihan teknik NLP adalah sangat sederhana dan praktis. Saking sederhanya sehingga tidak asyik untuk diceritakan. Coqi hanya berusaha untuk membayangkan lagi, mendengar lagi, merasakan lagi peristiwa yang membuatnya sakit hati. Kemudian memasukkan ‘peristiwa’ itu dalam sebuah layar, dan membuat jadi seperti sebuah adegan film. Beberapa kali layar diputihkan, adegan dibuat jalan mundur, diulang beberapa kali, selesai. Sangat sederhana.

Alhamdulillah perasaan Coqi berubah. Saat saya tanya bagaimana perasaannya, dia mengatakan merasa lebih ringan. Kebencian dan dendam di hatinya hilang. Sakit hatinya sembuh.
“Benar sudah tidak ada dendam kepada si Fulan?” Saya memastikan
“Benar pak…Sudah hilang…” Coqi menjawab ringan
“Sudah siap ngajak ngobrol si Fulan..?”
“Siap pak….!” Nada suara Coqi terdengar bersemangat.
“Ok Bapak tunggu laporannya nanti…”

Begitulah dengan semangat baru Coqi berangkat ke sekolah.  Sekali lagi saya tidak sabar menunggu Coqi pulang sekolah. Indikasi sakit hati Coqi benar-benar sembuh bisa saya ketahui dari ceritanya.
Sepulang sekolah sebelum ditanya Coqi sudah melaporkan perkembangan misinya.
“Alhamdulillah tadi aku sudah bisa ngobrol enak dengan si Fulan pak….”
Coqi sudah bisa mendapatkan informasi alamat si Fulan, pekerjaan ayahnya dan beberapa informasi tentang keluarganya. Coqi bercerita dengan nada riang dan bersemangat.

ALHAMDULILLAH..SUBHANALLOH…ALLOHU AKBAR…Dalam hati saya berkali-kali menyebut nama Tuhan sambil mendengarkan cerita Coqi. Saya sangat bersyukur atas kesembuhan sakit hati anak sulung saya. Saya sangat mensyukuri anugerah Tuhan yang sangat besar ini. Semoga anugerah Tuhan terus mengalir pada keluarga kami.

(Tamat)
Catatan : Agar bisa membantu orang jadi lebih baik kita harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu
Untuk ‘Sakit Hati Coqi’ saya cukupkan sampai di sini.

Menebar Benih dengan Menulis, Menuai Panen yang Dahsyat


“Bapak iki cuma nandur sing akeh. Rezeki saiki tanduren kabeh, kebutuhan sesuk yo urusan sesuk iso golek maneh. Sing manen iso wae dudu Bapak, tapi anak putu mengko” (Bapak ini hanya menebar benih sebanyak-banyaknya. Rezeki sekarang tebarkan semua, kebutuhan besok urusan besok bisa dicari. Yang menuai bisa saja bukan Bapak, tapi anak cucu nanti).
Wejangan Bapak saya almarhum ini sudah saya dengar sejak saya kecil. Bapak saya hanya punya ijazah SMP, tidak punya tanah lahan bercocok tanam, tapi ‘sawahnya’ sangat luas yang sampai sekarang pun bisa saya nikmati hasil ‘panennya’.

Kemampuan saya menulis, menuangkan ide dalam tulisan, sangat saya syukuri. Karena menulis adalah proses ‘menebar benih’ yang paling rendah modal baik dalam bentuk materi maupun tenaga. Sejak dulu wejangan Bapak selalu terngiang di telinga saya, semakin menua usia semakin keras iangan itu.
Sejak saya pensiun sebagai karyawan, menjadi orang yang merdeka bertindak, saya berkomitmen menguatkan identitas saya sebagai penulis. Memilih penulis sebagai identitas bukan berarti saya merasa punya karya tulis yang bagus, tapi justru saya merasa berkewajiban selalu menulis dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

Sebagai penulis saya pun menebar benih dalam bentuk tulisan. Saya yakin semakin banyak dan luas benih yang saya tebar, semakin luas ‘sawah’ saya. Saya sudah merasakan dan membuktikan, menikmati ‘panen’ dari ‘sawah’ Bapak saya.

Bagi saya menulis adalah menebar benih, bukan proses jual beli, beda jauh. Bila saya menulis sebagai proses jual beli, maka saya hanya mendapat imbalan sesuai jumlah dan kualitas tulisan saya, hanya itu. Padahal kualitas tulisan saya masih rendah. Sedangkan bila menulis untuk menebar benih, benih itu akan tumbuh dan berkembang sehingga suatu saat saya, atau anak cucu, akan menuai panennya.
Saya sangat bersyukur mbak Evyta AR berkenan menerbitkan tulisan-tulisan saya melalui Perpustakaan Online. Saya sangat bersyukur Pak Husnun Djuraid membuka jalan untuk menulis di Malang Post. Mbak Evyta dan Pak Husnun sangat membantu saya dalam proses penebaran benih, sampai kapan pun saya tidak melupakan ini, dan semoga saya bisa selalu konsisten dalam sikap terima kasih ini. Melalui Perpustakaan Online dan Malang Post saya menebar benih, bukan berdagang atau jual beli.

Yang luar biasa adalah, ternyata, saya tidak perlu menunggu lama untuk memulai memanen ‘sawah’ saya.

Kemarin saya dan Pak Dhe Heri Cahyo bertemu dengan sebuah lembaga yang ingin mencetak Ebook saya “8 Rahasia Sukses Ujian Nasional”. Kami membahas kerjasama yang menguntungkan. Panen awal yang lumayan.


Tanggal  empat November kemarin profile saya dipasang di Malang Post satu halaman penuh ( http://bit.ly/malangpost4nov ), suatu peluang yang sangat mahal dan langka. Berapapun uang Anda, belum tentu Anda bisa membuat seorang wartawan meliput profile Anda di korannya, apalagi satu halaman penuh.
‘Panen’ awal ini membuat saya semakin semangat menebar benih sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya.

Bagaimana dengan panen buku ‘Kripik untuk Jiwa’?? Insya ALLOH saya tulis setelah ini.

Senin, 05 November 2012

Sakit Hati Coqi 2


Saat menceritakan temannya yang dia anggap bermasalah, nada suara Coqi terdengar berat dan napasnya memburu sampai terengah-engah. Bahkan dia memerlukan waktu agar bisa bernapas normal lagi selesai bercerita. Saya juga menangkap sinar kebencian di matanya saat bercerita. Saya setuju dengan Coqi bahwa temannya bermasalah, tapi Coqi sendiri sedang mengalami masalah yang tidak kalah beratnya, dendam dan kebencian. Sebagai ayahnya saya tidak ingin masalah Coqi berlarut-larut, harus segera ditangani, dibereskan. Saya tidak ingin Coqi membawa terus dendam dan kebencian di hatinya. Tapi saya juga tidak mungkin mengatakan “Kamu juga bermasalah lho Coqi!”, karena akan menambah beban pikirannya. Saya ingin dia sadar dengan sendirinya bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang harus segera diubah jadi lebih baik. Saya sarankan dia mengajak ngobrol temannya baik-baik, menggali informasi sebanyak-banyaknya.

“Hanya dengan cara itu Coqi bisa membuat dia berubah. Coqi mau khan kalau dia berubah jadi lebih baik? “ Coqi mengangguk, tapi saya rasakan keterpaksaan dalam sikapnya. “Ok…Besok laporkan bapak bagaimana hasilnya…”

Hari berikutnya saya tidak sabar menunggu laporan dari Coqi. Tapi saya berusaha menahan diri, tidak menunjukkan sikap antusias yang berlebihan, agar Coqi tidak merasa terdesak dan tertekan. Sepulang sekolah, setelah dia makan siang, saya tanyakan apa yang sudah dia lakukan di sekolah.

“Coqi sudah ngajak ngobrol si Fulan?”
“Sudah pak…Tapi dia jawabnya ngawur…” Coqi menjawab dengan nada malas tanpa semangat. “Tapi tadi aku dapat kesempatan untuk balas dendam pak….!!” Coqi kemudian meneruskan cerita dengan semangat bahwa ada temannya yang berkelahi dengan si Fulan, dan Coqi menghalangi teman-teman yang lain untuk melerai mereka sehingga membuat temannya tadi lebih leluasa menghajar si Fulan. Saya biarkan Coqi menyelesaikan ceritanya yang dia sampaikan dengan semangat menggebu.

“Coqi seneng banget si Fulan dihajar…Dendam banget ya…??”
Coqi  diam, memandangku. Meskipun samar saya menangkap kebencian dalam tatapannya.
“Iya nak…? Coqi sangat benci dan dendam kepada si Fulan?” Saya bertanya sekali lagi.
“Aku yang paling sering diganggu di kelas pak…!! Padahal aku tidak pernah mengganggu dia! Masak hanya ngelihat dia aja dia sudah marah dan ngajak berkelahi…!!”
“Coqi tahu nggak kenapa gagal ngajak ngobrol Fulan secara baik-baik? Karena di hati Coqi ada dendam dan kebencian. Dia merasakan itu lho nak…Kalau Coqi ingin merubah dia jadi baik, Coqi harus menghilangkan dulu perasaan dendam dan kebencian di hati Coqi…Coqi mau menghilangkannya?”
“Mau pak…” Coqi mengangguk pelan.
“Nggak enak khan nak menyimpan perasaan dendam dan kebencian…?”
Sekali lagi Coqi mengangguk, kali ini lebih mantap.

“Ok…Besok pagi habis subuh Coqi terapi menghilangkan dendam dan kebencian ya….?!”
(Bersambung)

Sakit Hati Coqi 1


“Pak…Kalau ada orang tidak sadar bahwa dia bermasalah, bisa nggak diterapi?” Coqi bertanya saat mendampingi dan melihat saya sedang mengolah ‘kripik’.

“Bila seseorang tidak sadar bahwa dia bermasalah, pasti dia juga tidak punya kemauan untuk berubah. Diterapi berapa jam pun tidak akan bisa berubah, tidak akan sembuh.  Dalam semua metode pengobatan, termasuk pengobatan medis, yang paling penting adalah kemauan sang pasien untuk sembuh…Obat atau terapi hanyalah sarana. Dan hanya Tuhan yang kuasa menyembuhkan. Bahkan bila seseorang punya kemauan yang tinggi untuk sembuh, dengan Ridlo Tuhan orang itu bisa sembuh tanpa obat atau pengobatan….Kenapa nak? Kenapa Coqi tanya seperti itu?”

Coqi menghela napas panjang, kemudian mulai bercerita. Anak saya yang mulai remaja itu bercerita tentang seorang temannya di kelas yang sangat sering mengganggu dirinya. Coqi merasa temannya tersebut punya jiwa yang tidak stabil, dan Coqi jadi pelampiasannya di kelas. Saya mendengarkan dengan seksama. Yang menarik adalah ekspresi Coqi saat bercerita, sangat emosional, seperti ada sesuatu yang sangat besar yang ia tahan. Berdasarkan cerita Coqi, saya setuju bahwa temannya punya masalah yang harus ditangani. Tapi bagi saya, Coqi-lah yang harus saya tangani secepatnya. Karena dia menyimpan dendam yang sangat besar, penyakit hati yang sangat fatal dampaknya bagi hidupnya nanti.

“Coqi ajak omong dia baik-baik ya…Tanyakan bagaimana keluarganya…Bagaimana ayah dan ibunya…Besok ya Coqi tanyakan” Saya memberi saran, dan hanya dijawab anggukan dengan napas yang masih memburu penuh emosi.

(Bersambung)
Catatan : Kesembuhan adalah Kemauan dari sang pasien, bukan tentang obat atau pengobatan.