Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Kamis, 27 Desember 2012

Saya (dulu) Phobia Cicak


Saat SD dulu saya pernah tidak mau masuk kelas karena teman-teman kompak menakuti saya dengan cicak. Ya...saya dulu phobia cicak.

Dulu, bila ada cicak di langit-langit kamar saya tidak akan mau tidur dalam kamar tersebut. Saya khawatir cicak itu menjatuhi saya. Saya akan menyiram dari jauh bila ada cicak di dinding kamar mandi, dan saya baru mau mandi bila sudah tidak ada cicak lagi.

Sejak kecil saya tidak pernah mengalami pengalaman buruk dengan cicak. Saya juga tidak ingat sejak kapan saya phobia terhadap cicak. Yang jelas Ibu saya phobia terhadap cicak.

Lucunya, kakak dan adik saya juga sangat takut cicak. Kami bertiga phobia cicak saat belum dewasa.
Saat remaja saya tahu peristiwa yang dialami Ibu sehingga phobia cicak, dari Ibu. Konon dahulu, saat Ibu masih kecil pernah secara tidak sengaja menekan seekor cicak di dinding sampai perut cicak pecah dan isi perutnya keluar. 
Sejak itu saya berusaha mempelajari phobia saya sendiri, menganalisa pikiran saya, berusaha menghilangkannya. Saya sadar bahwa tidak ada alasan saya untuk takut cicak, berdasar pengalaman masa lalu maupun secara logika. Sedikit-demi sedikit saya mulai belajar berani berdekatan dengan cicak. Saya takut cicak karena belajar dari Ibu secara tidak sengaja, karena itu saya yakin bisa belajar berani kepada cicak.

Sekarang ketakutan saya sudah banyak berkurang. Saya masih enggan menyentuh cicak, tapi saya tidak lagi ketakutan berlebihan bila berdekatan dengan cicak. Saya harus berubah. Saya tidak ingin secara tidak sengaja mengajari anak-anak saya takut yang tidak rasional kepada cicak.

Artikel lain tentang phobia :
[Gaya Hidup] Seri Phobia : Bukan Bawaan Tapi Bisa Diturunkan
[Gaya Hidup] Seri Phobia : Manfaat Takut dan Jijik

(Anda juga mau berubah? Menetapkan diri untuk menjadi lebih baik dan bahagia?)

Selasa, 27 November 2012

Semangat Berikrar Sumpah Pemuda dan Bernyanyi Lagu Kebangsaan Setelah Nonton Film



Saya sangat menyukai film ‘Invictus’ karena berisi pesan-pesan moral yang banyak sekali. Bahkan saat saya menonton yang keempat kali saya masih bisa menemukan pesan moral baru dalam film itu. Yang saya heran adalah bahwa saya beru ketemu film itu di tahun ini, tahun 2012, padahal film itu sudah diproduksi dan dipasarkan pada tahun dua ribu sembilan. Selama tiga tahun ada di mana film itu?

Mungkinkah karena film ‘Invictus’ bukan film laga atau horror sehingga tidak banyak orang membicarakannya? Atau mungkin para pemasar film di Indonesia kurang antusias dengan film-film bergenre drama. Entahlah…Yang jelas saya optimis dan antusias membawa film ini ke para pemuda, pelajar, mahasiswa, dan mengupas pesan-pesan moral yang ada di dalamnya. Saya yakin dengan cara berbeda dalam menyampaikan sebuah pesan, yaitu dengan cara yang menyenangkan dan asyik, lebih mudah masuk ke dalam benak anak-anak muda.

Ternyata hasil survey informal, yang saya sebarkan ke teman-teman muda pengurus FLP Malang, menunjukkan bahwa film ‘Invictus’ membosankan bagi mereka,nah lho…

Saya menyukai film ‘Invictus’. Saya mampu menonton film itu tanpa bosan sampai akhir. Saya tahu ‘bagaimana’ menonton film itu dengan asyik. Maka saya harus segera mempelajari ‘bagaimana’ teman-teman pengurus FLP Malang menonton film itu dengan perasaan bosan. Saya tidak terjebak dengan mempertanyakan mengapa mereka bosan menonton film itu, saya hanya perlu tahu bagaimana mereka melakukannya.

Setelah melakukan beberapa pertanyaan singkat kepada mereka melalui sms, mencari tahu secara tersirat  apa yang mereka lakukan sebelum, saat, dan setelah menonton film, saya bisa menemukan beberapa hal yang harus saya lakukan saat saya membawa film ini ke hadapan dua ratus siswa SMK Putera Indonesia Malang. Beruntung mbak Wulan, salah satu teman FLP yang merasa bosan saat menonton film itu menyadari apa yang terjadi pada dirinya dan memberi saya beberapa masukan, yang sesuai dengan rencana-rencana saya.

Di depan para siswa, saya membuka acara dengan membangkitkan semangat dan antusias mereka. Saya mengajak mereka bersepakat bahwa sepanjang acara kita bersenang-senang dengan asyik. Sebelum mulai membicarakan film, saya membahas sedikit tentang sejarah dan makna peristiwa Sumpah Pemuda. Saya kaitkan ikrar Sumpah Pemuda dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Apa yang saya sampaikan tentang Sumpah Pemuda kepada para siswa adalah yang saya tulis di Malang Post tanggal 28 Oktober 2012, atau bisa dibaca di sini http://bit.ly/musuhbersamabangkitkansemangatsumpahpemuda .

Selanjutnya saya menjelaskan tentang latar belakang film ‘Invictus’. Saya jelaskan kepada mereka kelebihan-kelebihan film itu layaknya seorang penjual tiket nonton, atau penjual DVD yang mempromosikan film-film dagangannya.

Saya membagi film yang berdurasi sembilan puluh menit menjadi enam session. Tiap awal session saya menyampaikan beberapa pesan tentang adegan-adegan yang perlu lebih diperhatikan, karena setiap session berakhir saya akan menyampaikan tantangan berhadiah.
Sempat ada kendala saat pemutaran session kelima, sound system tiba-tiba tak bersuara. Cukup lama teknisi mengotak-atik perangkatnya, dan para siswa mulai gaduh. Terlihat beberapa siswa (sekitar sepuluh persen) mulai meninggalkan tempat. Karena saya tidak bisa mendapat kepastian perangkat pengeras suara bisa digunakan lagi atau tidak sedangkan waktu saya terbatas, saya pun menyampaikan tawaran kepada para siswa, sambil berteriak, untuk menghentikan pemutaran film dan langsung ke babak hadiah utama. Yang mengharukan adalah ternyata hampir semua siswa menghendaki film diteruskan, mereka bersedia menunggu. ALHAMDULILLAH film bisa dilanjutkan dengan menggunakan perangkat pengeras suara kecil, tidak ada rotan akar pun jadi.
Karena waktu sudah terpotong, session kelima sampai akhir saya jadikan satu.

Selesai pemutaran film, setelah membagikan hadiah-hadiah utama, saya mengajak para siswa membaca ikrar Sumpah Pemuda dan menyanyikan Indonesia Raya. Para siswa, yang mau bertahan selama empat jam dalam aula yang gerah karena kipas angin tidak bisa dinyalakan, dengan semangat bersama-sama berikrar Sumpah Pemuda dan bernyanyi  lagu kebangsaan. ALHAMDULILLAH, saya sangat bersyukur dan terharu.

Minggu, 25 November 2012

Menang Lomba Baca Syair Semarak Tahun Baru Hijriyah



Bulan Muharom

Syair karya Nur Muhammadian

Bulan Muharom...
Bulan pertama tahun Hijriyah
Bulan Muharom...
Adalah bulan qomariah
Bulan Muharom
Satu dari empat bulan mulia
Bulan Muharom
Bulan Rajab, bulan Dzulqo'dah, dan bulan Dzulhijah

Hari Asyuro
Hari ke sepuluh bulan muharom
Hari Asyuro
Hari diselamatkannya umat nabi Musa
Hari Asyuro
Disunahkan berpuasa



“Pak bikinkan puisi tentang tahun baru Hijriyah!” pinta Hanun setengah memerintah.
“Buat apa?”
“Untuk lomba syair di sekolahku”
“Kapan?”
“Tiga hari lagi…”
“#%&^*(&)*_)”

Sudah lama saya tidak menulis puisi, dan sekarang diminta membuat puisi yang akan dibaca dalam lomba, dalam waktu tiga hari. Yang lebih menantang lagi adalah bagaimana Hanun bisa menghafal dan berlatih membaca puisi dalam waktu tiga hari, itupun kalau puisinya segera jadi. Untunglah lomba syairnya berpasangan antara ibu dan anak.

Satu hari berlalu, dan ide puisi yang akan saya buat belum terlintas di benak saya, yang berarti kesempatan berlatih juga berkurang sehari. Berarti saya harus membuat puisi pendek sehingga mudah dan cepat dihafal Hanun dan ibunya.

Saya segera browsing, baca buku, mencari informasi segala hal tentang bulan Muharom, tentang tahun baru Hijriyah. Hikmahnya, saya jadi tahu bahwa bulan Muharom bukanlah bulan hijrahnya Rosululloh, tapi bulan pertama kali para sahabat mulai berhijrah ke Madinah. Sedangkan Rosululloh baru hijrah sebulan kemudian, tepatnya di bulan Safhar (mungkin karena itu namanya Safar=perjalanan).

Saya harus membuat puisi tentang keutamaan bulan Muharom, tidak terlalu panjang agar Hanun dan ibunya mudah menghafalkannya, dan harus dirancang membacanya bergantian antara Hanun dan ibunya. Maka jadilah puisi yang pendek sederhana itu.

Waktu saya tunjukkan ke Coqi untuk minta masukan, Coqi tertawa cekikikan.
“Ini puisi atau catatan kecil Pak?”
“Ya kalau terlalu panjang nanti adik dan ibu sulit menghafalnya. Tapi rimanya ada lho meski tidak sempurna…Coba perhatikan!”
“Iya sih…” Coqi masih menahan senyumnya.
“Coqi punya ide atau tambahan lagi?”
“Belum ada Pak…” Masih dengan senyum geli.

Dalam waktu satu setengah hari Hanun dan ibunya berlatih dengan bersungguh-sungguh membaca syair ‘Bulan Muharom’. Saya dan Coqi yang menilai penampilan mereka dan memberi beberapa saran gerakan atau intonasi suara. Hanun bertugas membaca baris yang pendek dan ibunya yang panjang. Saya menyampaikan ke mereka bahwa penilaian juri kemungkinan pada gaya bersyair dan kekompakan baik dari segi kostum maupun aksi panggung.

Pada hari perlombaan saya tidak bisa hadir menonton penampilan mereka. Selesai perlombaan, sesampai di rumah, Hanun dan ibunya melaporkan bahwa hanya mereka yang membaca syair tanpa text karena hafal.

Lima hari kemudian, agak lama karena terpotong hari libur panjang, pemenang lomba diumumkan. ALHAMDULILLAH Hanun dan ibunya berhasil memenangkan lomba, jadi juara pertama. Kemenangan ini adalah prestasi resmi pertama yang berhasil dicapai Hanun. Dia sangat senang, dipandangi terus pialanya. Dipajang pialanya di ruang tamu kami. “Adik menang karena ALLOH sayang kepada anak yang rajin dan mau berusaha dengan keras dan serius…” Saya jongkok di samping Hanun menemani memandangi piala yang diletakkan di meja ruang tamu.

Kamis, 22 November 2012

Tak Mau Berobat Karena Menikmati Sakit


Sejak kecil saya bercita-cita menjadi dokter, mungkin karena Ibu seorang Bidan sehingga sering sekali saya bertemu dengan dokter yang gagah dengan baju putih berkalung stetoskop. Saat SMP saya berpikir ulang tentang cita-cita saya karena ternyata saya membenci pelajaran biologi yang banyak hapalannya, genus-species dan turunan-turunannya.

Sekarang, berpuluh tahun sejak membuang keinginan menjadi dokter, saya menemukan bahwa ternyata di pikiran bawah sadar saya tetap bermimpi menjadi dokter, berbuat sesuatu untuk mengobati orang lain. Beberapa tahun terakhir saya banyak berinvestasi materi maupun waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu pengobatan, meskipun bukan ilmu pengobatan formal medis ala dunia barat. Bukankah NLP, Egostate Therapy, SEFT, Hijamah, ilmu herbal, bisa digunakan untuk membantu mengobati orang yang sakit?

Ternyata dulu saya ingin jadi dokter bukan semata ingin gagah berbaju putih berkalung stetoskop. Ternyata saya ingin jadi dokter karena melihat dokter-dokter itu tampak bahagia bisa berbuat sesuatu membantu orang yang sakit.

Dengan beberapa ilmu yang saya pelajari, saya bisa mengobati diri sendiri saat mengalami beberapa gangguan fisik. Namun anehnya saya tidak melakukan itu, pun tidak mendatangi dokter untuk berobat. Saya memilih untuk sakit.

Untuk gangguan kesehatan pada level tertentu saya memilih untuk tidak mengobatinya. Selain saya yakin bahwa ALLOH sebenarnya sudah menciptakan obat dalam tubuh saya, saya juga memilih untuk menikmati sakit saya. Saya tidak mengeluh, saya tidak merintih, karena saya benar-benar menikmati sakit itu.

Dengan menikmati sakit lebih mudah bagi saya bersyukur saat sakit itu diangkat ALLOH.
Dengan menikmati sakit saya bisa melatih kesabaran saya.
Dengan menikmati sakit saya lebih waspada dan awas dalam bersikap agar terhindar dari sakit-sakit yang berat. Saya jadi lebih mudah mengubah pola makan saya menjadi lebih sehat, lebih mudah termotivasi untuk berolah-raga
Saya menikmati sakit sambil istighfar memohon ampunanNYA. Bukankah sakit itu melebur dosa? Bila kita segera berobat dan ingin segera sembuh hanya sedikit dosa kita yang terkurangi.

Pada level berapa sakit yang saya nikmati dan tidak saya obati? Selama sakit saya tidak mengganggu orang lain, orang-orang di sekitar saya yang saya sayangi, selama sakit itu tidak mengganggu kegiatan saya bermanfaat bagi orang lain, selama tidak menghalangi saya menunaikan amanah dan kewajiban. Lebih dari itu saya akan berusaha mengobati sakit saya, sendiri atau meminta bantuan orang lain.


Selasa, 20 November 2012

Hari Ulang Tahun Coqi Tidaklah Istimewa


Bulan November adalah bulan kelahiran Coqi. Di antara kami, di keluarga kecil kami, sudah ada pemahaman yang sama tentang ulang tahun. Mungkin Hanun yang baru berusia empat tahun yang belum benar-benar paham.

Dulu, tepatnya saya lupa, seperti anak-anak pada umumnya Coqi selalu minta hadiah di hari ulang tahunnya.
"Coqi senang dapat hadiah di hari ulang tahun?"
Coqi mengangguk tersenyum.
"Coqi senang gak kalau dapat hadiahnya lebih sering, tidak hanya setahun sekali?"
"Ya senang sekali Pak.."
"Pilih mana?...Coqi mendapat sesuatu saat Coqi membutuhkan, atau Coqi mendapatkannya setahun sekali, saat ulang tahun saja."
"Ya pilih yang pertama dong Pak..."
"Bersyukur, mensyukuri nikmat itu setiap hari atau sebulan sekali?"
"Ya setiap hari dong Pak..."
"Berdoa memohon perlindungan, keselamatan, kebahagiaan, itu tiap tahun atau tiap hari?"
"Ya tiap hari dong Pak.."
Sejak saat itu di antara kami hari ulang tahun bukanlah moment yang luar biasa, sama istimewanya dengan hari-hari lain. Kami pun terbiasa 'merayakan' ulang hari.

Sementara, masih dalam lingkungan keluarga kecil saya memahamkan tentang budaya 'merayakan' ulang hari lebih baik dari ulang tahun. Saya tidak bisa memaksakan kepada orang lain. Saya juga tidak akan menyalahkan orang yang mengistimewakan hari ulang tahun, bahkan pun bila mereka mengistimewakan hari ulang tahun saya, istri dan anak-anak. Seperti yang terjadi di bulan November ini, teman-teman Coqi sudah tahu hari ulang tahunnya dan minta Coqi merayakannya.

Saya bersyukur Coqi juga sudah paham tentang hidup efektif dan bahagia. Uang yang dia dapat dari nenek dan paman-bibinya dia gunakan untuk mentraktir teman-temannya sekelas. Bagi Coqi kebahagiaan adalah bila membahagiakan orang lain, dan kebersamaan lebih efektif membuat bahagia dibanding materi.

Saya dan ibunya tidak mengucapkan 'selamat ulang tahun' kepada Coqi. Kami hanya mengingatkan tentang masa yang sudah dia jalani, dan peningkatan-peningkatan yang seharusnya dia capai. Kami tidak mendoakan Coqi khusus di hari ulang tahunnya, karena kami mendoakannya setiap hari.

Minggu, 18 November 2012

Tanpa Kritik Mana Bisa Berkembang


Saat diminta mengisi materi pada sebuah forum saya selalu mengajak istri, meskipun karena kesibukan tugas sebagai ibu rumah tangga tidak selalu bisa memenuhi ajakan saya. Saya suka komentar atau kritik masukan dari istri tentang kualitas materi saya dan cara penyampaiannya. Sampai saat ini saya merasa baru istri  yang berani memberi kritik masukan tentang kualitas public speaking saya.

"Bapak tadi terlalu banyak menggunakan bahasa Jawa, terasa kurang profesional..."
"Bapak tadi terlalu kaku..."
"Bapak tadi kurang luwes..."

Begitulah komentar-komentar istri saya. Saya tidak pernah membantah komentar-komentarnya, hanya  minta penjelasan lebih detil dan minta solusi apa yang harus saya lakukan.

Beda jauh antara melontarkan celaan dengan kritik. Perbedaan terbesar adalah pada niat sang pelontar. Orang yang mencela berniat memuaskan diri sendiri dengan menjelekkan atau merendahkan orang yang dicela. Sedangkan orang yang memberi kritik berniat membantu yang dikritik menjadi lebih baik, meningkat kualitasnya.

Saya juga selalu minta masukan tentang tulisan fiksi saya kepada istri dan anak sulung saya. Sebagai anggota FLP Malang saya bersyukur punya teman-teman yang siap mengkritik tulisan-tulisan saya, atau bersedia mengedit naskah saya.

Saya yakin tanpa kritik  tidak akan pernah bisa meningkatkan kualitas diri. Saya bersyukur dikelilingi orang-orang yang mendukung saya menjadi lebih baik, dengan memberi kritik.

Kamis, 15 November 2012

Jangan Sebut Saya 'Ustadz'


Kata ‘ustadz’ dalam bahasa Arab adalah guru dalam bahasa Indonesia. Saya sangat bahagia, dan menjadi impian saya, menjadi seorang guru. Namun sampai saat ini, entah sampai kapan, saya masih risih bila dipanggil ustadz. Bagi saya gelar ustadz adalah gelar yang sangat mulia, beberapa tingkat lebih tinggi dari gelar guru, menurut perasaan saya pribadi. Saya merasa sebutan ustadz belum pantas saya sandang, terlalu berat bebannya.

Dalam setiap kesempatan menyampaikan materi di forum saya selalu menyampaikan agar tidak memanggil saya ustadz. Banyak yang layak dan pantas dipanggil ‘ustadz’ dan saya belum layak.

Masih menurut perasaan saya, ustadz adalah seorang alim yang memahami ilmu-ilmu dunia dan akhirat, paham dan mampu memandu umat melalui jalan menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sedangkan saya masih sedikit paham jalan menuju kebahagiaan di dunia, dan selalu mencari jalan terbaik menuju kebahagiaan akhirat.

Seorang ustadz adalah insan mulia yang sudah menjalankan segala ajaran-ajaran mulia, yang kemudian diajarkan kepada umat. Sedangkan saya masih sedikit-demi sedikit mengumpulkan ilmu mulia itu dan belajar mengamalkannya, sementara hanya saya bagi dan contohkan kepada anak dan istri.

Saya bahagia jadi guru, tapi saya belum lagi ustadz. Jangan sebut saya ustadz karena saya khawatir terbatasnya ilmu dan tindakan saya akan menodai gelar ustadz yang mulia.

Rabu, 14 November 2012

Hutang Budi (Dibawa Mati) Saya Kepada FLP Malang

Saya mulai berani dan bisa menulis sejak berkumpul dengan teman-teman FLP Malang. Saya rasakan sendiri manfaat sebuah  kebersamaan dalam komunitas yang memiliki kecenderungan minat yang sama. Dalam komunitas kita bisa saling memotivasi dan menginspirasi.

Saya merasa bisa seperti saat ini dalam hal kepenulisan adalah karena ALLOH mempertemukan saya dengan FLP Malang. Karena itu sampai kapanpun saya tidak akan melupakan ini, dan berharap dianugerahi kesempatan untuk membalas budi.

Sebagai sebuah organisasi, saya menilai FLP Malang masih sangat banyak kekurangannya, dan mungkin dari situlah sarana saya membalas budi kepada FLP Malang. Ilmu organisasi yang saya dapatkan saat menjadi karyawan, dan pengalaman akan saya sumbangkan semaksimalkan mungkin untuk meningkatkan kualitas FLP Malang sebagai sebuah organisasi.

ALHAMDULILLAH FLP Malang menyambut baik itikad saya. Dengan semangat fastabikul khoirot teman-teman FLP Malang khususnya pengurus sangat antusias menyambut tawaran saya. Mereka dengan kemauan dan semangat yang tinggi bersedia mengubah pikiran dan tindakan dalam berorganisasi. Memang belum bisa dibilang ideal, tapi saya mengamati dan membuktikan adanya progres kemajuan yang significant. Saya sangat menghargai dan salut atas kemauan tinggi teman-teman FLP Malang untuk berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi yang terbaik.

Saya tidak bisa menjamin kapan FLP Malang bisa benar-benar menjadi organisasi nirlaba yang profesional. Tapi saya yakin, bila proses perubahan ini secara istiqomah dijalankan, secepatnya FLP Malang akan menjadi sebuah organisasi yang disegani secara nasional bahkan internasional, dan maksimal bermanfaat bagi seluruh anggotanya maupun masyarakat umum.

Selasa, 13 November 2012

Majalah Bahasa Jawa


Entah sejak kapan saya suka membaca, saya tidak ingat. Mungkin sejak saya bisa membaca, atau mungkin sebelumnya. Karena samar-samar saya ingat suka memandangi gambar-gambar dalam salah satu majalah anak-anak, entah usia saya berapa saat itu.

Saat saya masih kecil kemampuan ekonomi Bapak dan Ibu tidak terlalu kuat, meskipun tidak juga bisa dibilang lemah. Untuk mengalokasikan dana khusus kebutuhan membaca kadang bisa kadang tidak, lebih banyak tidak bisa. Pernah kali Ibu melangganankan kami majalah anak, tapi tidak bertahan lama. Tidak ada dana untuk melanjutkan berlangganan.Saya sangat sedih dan merasa kehilangan saat tidak lagi menerima majalah anak setiap minggu, seperti ada sesuatu yang kutunggu tapi tak kunjung datang. Kami bertiga, saya dan adik-kakak, memang selalu berebut saat majalah datang waktu masih berlangganan. Tapi sebenarnya hanya sayalah yang benar-benar menunggu dan mengharap kehadiran majalah tiap minggu. Hanya saya yang benar-benar menikmati membaca majalah. Maka hanya sayalah yang sangat kecewa dan merasa kehilangan.
gambar dari gusnardi.blogspot.com

Sebenarnya tidak semua majalah yang Ibu hentikan berlangganannya. Disisakan satu majalah, “Panjebar Semangat”, majalah bahasa Jawa dan bukan majalah anak. Tapi demi memenuhi kebutuhan, majalah itu pun saya baca sampai habis. Saya tidak begitu paham alasan Ibu tetap mempertahankan berlangganan majalah itu, mungkin karena harganya yang sangat murah, mungkin pula karena Ibu ingin mengenalkan dan memperkaya kemampuan anak-anaknya terhadap bahasa Jawa yang mulai ditinggalkan. Yang pasti hanya Ibu dan saya yang mau membaca majalah itu di rumah kami. Diskusi tentang cerpen atau cerbung Jawa, cerita wayang, atau artikel Jawa lainnya jadi acara saya dan Ibu yang tidak mungkin bisa diikuti oleh anggota keluarga yang lain.

Ternyata tradisi berlangganan majalah bahasa jawa ini sudah dimulai oleh almarhum Kakek, ayahnya Ibu. Kakek sangat perhatian dan peduli pada perkembangan Bahasa dan Budaya Jawa. Setiap bertemu beliau, saat saya masih kecil, Kakek selalu memberi wejangan tentang pentingnya mempelajari atau meningkatkan kemampuan Berbudaya Jawa khususnya Bahasa Jawa. Bahkan saya sempat segan bertemu dan berbicara dengan beliau karena Kakek selalu mengkritik ucapan Bahasa Jawa saya sekecil-detil kesalahannya.

Kegemaran atau kebiasaan saya membaca majalah “Panjebar Semangat” ternyata sangat bermanfaat bagi pelajaran Bahasa Jawa saya. Pelajaran Bahasa Jawa jadi terasa sangat mudah. Pelajaran huruf HANACARAKA yang selalu dikeluhkan oleh hampir semua teman-teman saya, saya rasakan mudah dan menyenangkan (sayangnya saat ini kemampuan itu hilang). Ujian (dulu kami menyebutnya ‘ulangan’) Bahasa Jawa adalah ujian yang saya tunggu-tunggu. Karena saya bisa menyelesaikan soal hanya dalam sepertiga waktu yang disediakan, dan malam harinya saya tidak perlu belajar atau mempersiapkan diri. Pernah saat ujian saya tertidur di atas lembar jawaban ujian, karena terlalu lama menunggu selesainya ujian dan saya malas keluar kelas bila belum ada teman yang menyelesaikan ujian. Tidur saya sangat nyenyak sampai saya tidak menyadari saat Ibu Guru berkali-kali mendatangi bangku saya (saya tahu dari teman-teman). Mungkin Ibu Guru heran kok ada muridnya yang bisa tidur nyenyak saat ujian. Anehnya beliau tidak berusaha membangunkan saya. Tidur saya sangat nyenyak sampai saya ngiler membasahi lembar jawaban. Saat waktu ujian habis teman-teman sibuk merampungkan jawaban, saya sibuk mengeringkan air liur pada lembar jawaban.

Beberapa waktu yang lalu saya baru menyadari ternyata Ibu masih berlangganan “Panjebar Semangat” setelah sekian lama saya tidak membacanya. Saya berencana berlangganan juga, agar anak-anak saya juga membacanya.Saya ingin meneruskan tradisi mempelajari Bahasa Jawa dan meneruskan tradisi ini kepada anak-anak saya.

Anak Aneh yang Bersahabat dengan Jarum Suntik dan Obat


Anak yang Aneh

Tidak seperti bayi pada umumnya, saya terlahir pada posisi dahi keluar terlebih dahulu. Entah apakah cara lahir tidak umum itu penyebabnya atau sebaliknya, kepala saya sangat besar saat lahir. Ibu saya yang seorang Bidan dan dokter yang membantu persalinan sempat khawatir saya menderita Hydrosephalus (penyakit kelainan genetika dengan membesarnya batok kepala karena kelebihan cairan). Karena kondisi kepala saya mengindikasikan penyakit itu, kepala besar tidak proporsional dan mata melotot. Itulah yang diceritakan Ibu saat saya sudah sekolah SMP. Yang sangat saya syukuri adalah bahwa saya tidak pernah merasa menjadi orang aneh saat di dalam rumah. Bapak, Ibu dan saudara-saudara sangat menyayangi saya dan memperlakukan seperti anak normal yang sehat. Meskipun di luar rumah banyak orang memandang aneh dan anak-anak kecil menyoraki saya sebagai anak aneh. Pernah saat sudah dewasa saya harus mewakili Bapak menghadiri undangan Tahlilan tetangga, saya berbincang dengan seorang tetangga jauh yang sudah tua yang saat itu duduk di sebelah saya.

“Rumahnya mana mas?”
“Rumah nomor satu pak…”
“Lho…Apanya pak Nur?”
“Saya anak yang nomor dua”
Si Bapak melihat saya lama, berusaha mengingat-ingat.
“Oooo yang dulu waktu masih kecil tidak normal ya…….?”
Saya hanya mengangguk sambil tersenyum kecut. Mungkin melihat senyum kecut saya si Bapak berusaha menetralisir kalimatnya : “Tapi sekarang ganteng kok…”

Saat masuk TK, teman-teman baru saya sudah mengejek kepala saya seperti tempe. Pada hari pertama sekolah saya pulang dengan menangis dan merajuk tidak mau masuk sekolah lagi. Akhirnya setelah dibujuk Bapak dan Ibu saya mau sekolah lagi. Sejak itu saya berusaha tidak menggubris apapun yang dikatakan orang tentang bentuk kepala saya.

Waktu SD dan SMP julukan saya “Ndas Genthong”. Waktu SMA saya dijuluki “Ndas Cebuk” (Cebuk:gayung). Meskipun berusaha tidak menggubris, sedikit banyak  ejekan-ejekan itu mempengaruhi  kepribadian saya. Pengaruh negatifnya adalah saya menjadi anak yang minder dan kurang percaya diri. Pengaruh positifnya adalah saya menjadi semangat belajar  untuk menunjukkan kepada orang-orang yang mengejek saya bahwa kepala saya besar karena isinya berkualitas.

Saya adalah anak aneh yang minder tapi semangat belajar.

Anak yang Bersahabat dengan Obat dan Jarum Suntik

Saya tidak ingat pasti tahun berapa, tidak ingat pastinya saat itu berapa usia saya. Tapi saya sangat ingat bahwa sebelum SD saya sangat akrab dengan obat dan jarum suntik. Saya sangat mengingat bentuk obatnya dan bentuk alat suntiknya.

Karena menderita Bronchitis Acut saya harus sering difoto rongent. Saya sangat mengingat beberapa kali sebulan saya bersama Ibu naik angkutan umum ke rumah sakit. Tidak hanya difoto, tapi juga diambil darah saya menggunakan alat suntik. Di rumah setiap hari Ibu yang menyuntik saya. Saya sangat suka makan telur, saya mendapat satu telur ayam kampung bila saya mau disuntik.

Sembuh dari Bronchitis, saya sakit peradangan amandel. Sekali lagi saya harus sering ke rumah sakit, disuntik dan harus minum berbutir-butir tablet yang waktu itu di mata saya terlihat sangat besar.
Dalam jarak waktu yang tidak terlalu jauh saya juga pernah menderita Typhus sehingga harus Bedrest berminggu-minggu. Untuk buang air kecil dan besar saya harus digendong ke kamar mandi. Tentu saja saya bertemu lagi dengan jarum suntik dan obat berbutir-butir.

Secara bersamaan dengan penyakit-penyakit dalam tersebut, saya juga menderita penyakit luar, penyakit kulit. Saya menderita alergi terhadap telur,ikan, dan ayam. Makanan ,yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh anak seusia saya saat itu, menyebabkan tumbuhnya bisul-bisul kecil di kaki saya. Bisul-bisul itu sangat banyak dan berisi nanah. Ketika pecah, cairan-cairan nanah campur darah itu lama sekali keringnya. Begitu kambuh maka membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan borok saya. Masih melekat di ingatan saya bagaimana Ibu dan Bapak secara bergantian membersihkan borok saya dan memasang perban, hampir tiap malam. Segala macam obat sudah dicoba untuk menyembuhkan borok saya. Mulai obat kimia sampai herbal. Bahkan saya juga mencoba makan kadal yang dibakar dan dimasukkan kapsul.

Dengan berbagai penyakit tersebut, saya menjadi akrab dengan obat dan jarum suntik. Bila anak-anak lain seusia saya masih sulit minum obat dan takut disuntik, saya merasa minum obat dan disuntik adalah suatu hal yang biasa, suatu rutinitas sehari-hari.Saya sudah bersahabat dengan obat dan jarum suntik saat belum usia sekolah.

Anak Aneh dan Penyakitan yang Dilimpahi Cinta dan Kasih Sayang

Seorang anak yang aneh, sering dicemoh orang, dan sakit-sakitan tentu hidupnya menderita, sangat tidak bahagia. Tapi tidak begitu yang saya rasakan. Memang ada masa-masa saya merasa tertekan dengan keanehan dan penyakit saya. Tapi tekanan itu tidak sampai mengisi sepertiga masa kecil saya. Sebagian besar saya rasakan kebahagiaan. Karena saya lahir dan tumbuh di antara orang-orang yang sangat mencintai saya.

Ayah dan Ibu yang selalu telaten merawat saya. Mereka tetap bangga dengan segala kekurangan saya. Memang mereka sangat menjaga saya agar tidak terlalu sering bertemu dengan orang-orang yang berpotensi mengejek keanehan saya. Saya selalu merasa istimewa di hadapan Bapak dan Ibu.

Bapak,Ibu dan saudara-saudara saya memberikan kekuatan sehingga saya bisa mengahadapi segala ujian kehidupan pada usia yang sangat muda. Tuhan memberi saya ujian sekaligus menganugerahkan segala kelengkapan untuk menghadapinya. ALHAMDULILLAH saya lulus ujian.