Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Selasa, 21 Januari 2014

Menikmati Toleransi

Dalam ajaran agama saya ada larangan makan sambil berdiri. Saya sangat yakin dan berusaha menghindari larangan tersebut. Kami juga diwajibkan makan menggunakan tangan kanan.
Sementara di Indonesia, tradisi yang berkembang adalah Standing Party, yang merupakan tradisi adopsi dari budaya bangsa 'barat'. Saat ini sangat jarang pesta pernikahan yang menyediakan cukup kursi untuk makan sambil duduk.

Ketika saya menghadiri suatu undangan pernikahan, saya harus menghormati pihak pengundang dengan berusaha menghadiri undangannya, bagaimanapun acaranya. Saya yakin pihak pengundang, apapun agamanya, tahu agama saya dan pasti sudah menyediakan fasilitas sesuai aturan agama saya. Bila pun  ternyata dalam acara pesta pernikahan tersebut ada hal-hal yang tidak sesuai ajaran agama yang saya anut, saya hanya perlu tersenyum mengucapkan selamat kepada mempelai dan segera meninggalkan tempat dengan sikap santun. Inilah toleransi.



Saat menikmati makanan di acara Standing Party saya harus mencari tempat duduk agar bisa makan sambil duduk. Saya bisa cukup lama berdiri menunggu untuk bergantian duduk, karena kursi yang tersedia sangat terbatas jumlahnya dibanding jumlah undangan. Bahkan bila tidak sabar menunggu, saya makan sambil jongkok di pojok ruangan. Jadi bila Anda dalam sebuah pestas resepsi pernikahan melihat ada orang mengenakan setelan jas lengkap dan makan sambil jongkok, mungkin Anda sedang melihat saya.



ilustrasi dari rinaldimunir.wordpress.com

Bagi saya aturan yang menjadi prioritas utama untuk dipatuhi adalah ajaran agama. Saya wajib meninggalkan semua hal yang dilarang dalam agama, kecuali keadaan genting darurat. Menurut saya larangan makan sambil berdiri adalah mutlak, selama saya bisa melakukannya sambil duduk, kapanpun dan di manapun. Sementara ada orang yang menganut agama sama dengan saya beranggapan bahwa suatu acara standing party adalah kondisi darurat sehingga boleh makan sambil berdiri. Saya tidak pernah berniat memperdebatkan perbedaan ini dengan mereka, saya menghargai pendapat mereka. Saya akan menikmati makanan sambil jongkok dan tak perlu memandang sinis orang-orang yang makan sambil berdiri, sehingga saya benar-benar merasakan nikmatnya beraneka ragam makanan yang dihidangkan. Inilah nikmatnya toleransi.

Toleransi tidak selalu terjadi pada agama yang berbeda, dalam agama yang sama pun dibutuhkan toleransi terhadap perbedaan pendapat.Toleransi adalah sikap menghargai pendapat yang berbeda, dengat tetap memegang teguh keyakinan pendapat kita sendiri. Toleransi bukanlah proses asimilasi pendapat yang berbeda , atau bukanlah rekonsiliasi  perbedaan pendapat. Saya tidak perlu makan sambil berdiri untuk menghargai orang yang makan sambil berdiri, begitu pula sebaliknya. Mereka tidak perlu makan sambil jongkok menemani saya.

Saya tidak akan mencap kafir orang-orang yang makan menggunakan tangan kiri. Mungkin, pada moment yang tepat, dengan cara yang baik, saya akan mengingatkan tentang perintah makan menggunakan tangan kanan.
Saya juga tidak perlu mengucapkan “Selamat menikmati makan menggunakan tangan kiri” hanya untuk menunjukkan toleransi saya, tapi saya juga tidak akan menyalahkan orang yang berpendapat ucapan itu sebagai syarat toleransi.

Saya akan tetap makan dengan nikmat menggunakan tangan kanan sambil duduk atau jongkok meskipun semua orang di sekeliling saya makan menggunakan tangan kiri sambil berdiri. Saya tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan mereka, dan mereka tidak bertanggungjawab terhadap kenikmatan saya, itulah nikmatnya toleransi.

Sabtu, 12 Oktober 2013

Phobia Durian

Saya sangat suka buah durian. Dulu, saat masih kecil, saya bisa menghabiskan beberapa buah durian dalam sekali makan, yang berarti puluhan biji. Bapak, Ibu, dan semua saudara saya sangat suka durian. Karena itu saya dulu sempat heran bila ada orang yang tidak suka durian. Tapi lambat laun saya bisa memahami dan memaklumi orang yang tidak suka durian.

“Pak saya phobia durian…!”

Wah ini ada yang baru lagi. Untuk memahami orang yang tidak suka durian saja saya perlu waktu lama, apalagi ini phobia durian. Tapi kali ini saya tidak boleh terlalu lama minta waktu untuk memahami orang yang phobia durian, bahkan saya tidak perlu memahaminya. Client saya yang seorang bapak muda ini butuh dibantu, tidak butuh dipahami.

Saya tidak menanyakan kepadanya mengapa dia phobia durian, karena mungkin ceritanya akan terlalu panjang, atau bahkan sebaliknya, dia tidak tahu mengapa dia phobia durian. Yang awal saya tanyakan adalah tujuan dia mendatangi saya.

“Saya ingin sembuh pak. Saya ingin menghilangkan phobia saya”

Maka pertanyaan saya selanjutnya adalah tujuan dia menghilangkan phobia.

“Saya ingin membahagiakan istri dan anak saya Pak. Selama ini saya sangat enggan membelikan mereka durian, padahal mereka suka durian. Bila pun terpaksa membelikan saya akan keluar rumah, pergi sejauh mungkin sampai durian habis tuntas. Saya ingin bisa menemani mereka menikmati durian, paling tidak duduk bersama”

Saya menilai client saya ini punya tujuan yang jelas, dan itu berarti proses kesembuhannya sudah lima puluh persen. Yang lima puluh persen sisanya hanya masalah teknis saja.

Tanpa tujuan yang jelas sebuah sesi terapi hanya menjadi ajang curcol, tidak ada ujung dan pangkal. Sedangkan bila client punya tujuan yang jelas, sang therapist hanya menjadi pemandu jalannya menuju tujuan. 

Dengan kekuasaan Tuhan dan karena tujuan yang jelas serta kemauan yang kuat, client saya bisa sembuh dari phobianya terhadap durian. Pada akhir sesi terapi dia tidak lagi pusing bila berdekatan dengan durian, meskipun tetap tidak suka makan durian.


“Biarlah saya tetap tidak bisa makan durian, asal saya bisa bersama anak dan istri saya saat mereka menikmati durian.”

Kamis, 03 Oktober 2013

[Anak Bermasalah 1] Orang Tua Harus Mau Berubah

Beberapa malam yang lalu saya menerima tamu, sepasang suami-istri atau lebih tepatnya sepasang ayah-bunda. Sebelum datang sang Ayah sebenarnya sudah menghubungi saya melalui Blackberry Message, secara singkat menyampaikan tentang keinginan mereka untuk bertemu saya dan konsultasi masalah anak mereka. Kami sepakat pada pertemuan pertama sang anak tidak perlu diajak.

Berdasarkan pengalaman menangani masalah anak, memang hampir 90% masalah yang terjadi ternyata bersumber dari orang tua, sehingga saat kedua orang tua bersedia berubah maka masalah pada anak terselesaikan dengan sendirinya.

Pada pertemuan malam itu, setelah mereka menyampaikan masalah anak mereka, ada satu pernyataan mereka yang membuat saya terkesan dan menilai mereka adalah orang tua yang luar biasa. Mereka menyatakan, yang diwakili dinyatakan oleh sang Ayah :" Apa yang salah dari kami Pak? Perubahan apa yang harus kami lakukan?". Bagi saya pernyataan itu suatu tanda bahwa sebenarnya tidak ada masalah krusial pada anak mereka, bahkan pada keluarga kecil mereka. Bila pun mereka merasa ada yang harus dibenahi, saya yakin dalam waktu cepat bisa berubah jadi lebih baik.
Ayah-Bunda tamu saya ini menunjukkan kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk berubah, dan itu adalah lebih dari separuh penyelesaian masalah.

Sangat banyak terjadi pada pasangan Ayah-Bunda lain, yang sebagian juga melakukan konsultasi dengan saya, yang menganggap anaknya bermasalah tapi tidak mau mengakui bahwa mereka lah yang harus berubah terlebih dahulu.

"Pak...Anak saya itu maunya sendiri, sering membantah kalau dikasih tahu...! Tolong terapi dia Pak..."
"Saya sudah melakukan segala yang dia mau, tapi dia semakin ngelunjak...Nyerah saya..."

Banyak orang tua yang menganggap anak mereka bermasalah, tapi mereka merasa sudah memperlakukan anak mereka dengan benar. Tugas terberat saya adalah membuat mereka sadar bahwa mereka harus berubah terlebih dahulu bila menginginkan anak mereka berubah, nyaris tidak ada cara lain.

Kamis, 27 Juni 2013

Menasihati Diri Sendiri

Saya tergelitik membaca status Facebook seorang sahabat. Dia menyatakan bahwa status facebook yang berisi motivasi atau nasihat kemungkinan besar menandakan sang pemilik status-lah yang membutuhkan motivasi dan nasihat. Saya se-juta-tuju dengan pernyataannya, karena saya melakukannya.

Saya suka menuliskan nasihat-nasihat untuk saya sendiri dalam status Facebook, dan menurut saya sangatlah bermanfaat. Saat merasa ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dibenahi, harus segera diubah atau untuk mengingatkan diri sendiri, saya menulis nasihat untuk saya sendiri dalam status. Nasihat untuk diri sendiri yang dituliskan dalam status Facebook bagaikan deklarasi perubahan. Karena saya menuliskannya di media sosial yang bisa dibaca publik, maka saya wajib mempertanggungjawabkannya. Saya harus benar-benar menjalankan apa yang saya tulis, dan itu benar-benar untuk kebaikan saya sendiri. Seandainya ada pembaca status saya yang mengalami kondisi yang sama dan mendapatkan manfaat dari nasihat itu, maka segala puji bagi ALLOH.


Saat merasakan kualitas tindakan menurun, saya menasihati diri untuk segera melakukan perbaikan. Saat mendapatkan kebaikan, saya menasihati diri untuk memperbanyak syukur dan bertindak lebih banyak dan lebih baik lagi. Saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, saya mengingatkan diri bahwa itu hanyalah umpan balik untuk memperbaiki proses.

Nasihat dari diri sendiri lebih mudah dilaksanakan karena berdasarkan nilai-nilai yang sudah saya yakini. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan saya sendiri yang tahu kemampuan diri sendiri.


Saya berusaha sesering mungkin menasehati diri sendiri karena saya ingin selalu berubah menjadi lebih baik. Semakin sering saya menasihati diri sendiri, semakin besar komitmen saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Selasa, 07 Mei 2013

Anugerah Alergi


Beberapa waktu lalu saya menulis tentang penyakit masa kecil : Menyesal Tapi Tidak Menyesali.
Dua bulan yang lalu gejala alergi itu kambuh, setelah berpuluh tahun tidak mengalaminya. Gejalanya tidak sama persis, tapi awalnya sangat mirip. Hampir pada seluruh jari-jari kaki saya muncul benjolan kecil bernanah, sangat sakit, cekot-cekot. Ketika pecah rasanya sangat perih. Setelah pecah dan mengering muncul benjolan kecil lain di tempat yang sama, atau di tempat lain sekitar jari kaki.


Dengan awal yang sama seperti sakit saat masih kecil dulu saya menduga alergi saya kambuh, maka saya berhenti dulu makan daging ayam,telur, dan segala mahluk laut. Ternyata benjolan kecil masih terus bermunculan, hingga saya bertemu dan berkonsultasi dengan teman yang seorang herbalist. Dia menyarankan saya untuk berhenti makan segala macam daging, segala macam telur, mahluk laut, dan mengurangi konsumsi gula. ALHAMDULILLAH berangsur-angsur benjolan kecil di kaki saya berkurang, sampai akhirnya tidak ada sama sekali di jari-jari kaki.
Saya harus benar-benar menghindari aneka macam daging, telur dan mahluk laut sepanjang hidup atau harus segera mengobati alergi itu.

Dengan metode pengobatan atau terapi yang saya pelajari sebenarnya saya bisa mencoba menghilangkan alergi itu, tapi saya memilih untuk tidak melakukannya. Saya memilih untuk tetap mempertahankan alergi itu karena menganggapnya sebagai anugerah.

Saya sangat bersyukur ALLOH memberi saya sakit kulit seperti itu. ALLOH memberi saya sensor untuk menghindari makanan tertentu. Bukankah aneka daging, telur dan sea food, serta terlalu banyak gula adalah penyebab penyakit-penyakit berat seperti kelebihan kolesterol, darah tinggi, jantung, asam urat, diabetes dan semacamnya?

Bila orang lain berhenti makan daging, telur dan sea food karena penyakit dalam yang berat, saya berhenti makan aneka makanan itu karena penyakit kulit yang tidak berbahaya.

Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Sabtu, 04 Mei 2013

Televisi oh Televisi


Saya dan istri menyadari bahwa sedikit sekali manfaat yang bisa didapat dari televisi, tetapi kami mengakui meskipun sedikit masih ada manfaatnya sehingga masih mempertahankannya di rumah kami. Saya sendiri sangat jarang sempat meluangkan waktu menonton acara televisi. Sebelum kakak ipar mengirimi kami televisi dua puluh inch, kami hanya memiliki televisi empat belas inch yang kami beli lima belas tahun lalu. Kami tidak bisa menolak pemberian kakak ipar.

gambar dari depositphotos.com 

Dulu saya sempat berniat menghilangkan televisi dari rumah kami, karena mengkhawatirkan anak-anak. Saat itu kedua anak kami banyak menghabiskan waktu di depan televisi, sehingga saya merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka, tapi saya tidak mungkin melarang mereka tiba-tiba tanpa alasan. Saya tidak ingin anak-anak merasa 'terpaksa' tidak menonton televisi, bukan dari kesadaran diri.
Hingga akhirnya suatu ketika kedua anak kami bertengkar berebut acara televisi. Saya merasa menemukan moment yang bagus untuk melakukan perubahan.  Saya cabut kabel listrik sebagai hukuman pertengkaran mereka. Saya akan mengizinkan mereka menonton televisi setelah mereka berbaikan, dan menunggu hasil 'musyawarah keluarga'.

Kami memang mempunyai tradisi mengadakan 'musyawarah keluarga' untuk mencari solusi masalah atau merencanakan sesuatu. Dalam musyawarah itu semua orang berhak mengajukan pendapat, dan semua peserta harus komitmen pada hasil musyawarah.

Saya membuka musyawarah dengan menyampaikan kekhawatiran saya tentang terlalu banyaknya waktu yang digunakan anak-anak untuk menonton televisi. Mereka saya tanya satu persatu manfaat televisi untuk masa depan mereka, dan mereka terdiam. Saya minta pendapat mereka acara apa saja yang bermanfaat di Televisi, yang bermanfaat untuk kebahagiaan dan masa depan mereka, dan yang paling kecil pengaruh buruknya. Hanun yang saat itu masih balita juga aktif berbicara dengan gaya dan celotehnya yang lucu. Kami asyik berdiskusi, menimbang-nimbang, menganalisa kondisi, dan akhirnya membuat keputusan. Ternyata Coqi hanya tertarik menonton pertandingan bola, acara pengetahuan populer, dan beberapa film seri detektif. Kami bersama memiliki kesamaan pendapat bahwa ada manfaat dari acara-acara itu, dan khusus film detektif syaratnya Coqi harus saya atau ibunya dampingi saat menonton. Setiap hari Coqi hanya punya waktu satu jam setelah Ashar dan satu jam setelah belajar malam hari.
Sedangkan Hanun hanya suka film kartun, dan punya jatah satu jam setiap hari. Hasil kesepakatan musyawarah mengikat kami semua, termasuk saya dan istri.

Meskipun kecil ada manfaat yang bisa didapat dari televisi. Yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan diri, karena televisi hanyalah alat pasif. Kita sendiri yang bisa memilih untuk mendapatkan untung atau rugi dari televisi.

Selasa, 23 April 2013

Trauma yang Bermanfaat




Seorang gadis kecil sedang makan bersama dengan beberapa saudaranya di ruang tamu rumahnya. Sambil makan gadis ini asyik ngobrol dan bercanda, meskipun beberapa kali ditegur ibunya agar tidak banyak bercanda saat sedang makan. Tiba-tiba gadis kecil ini berhenti makan, melempar piring makannya dan memuntahkan isi mulutnya. Ternyata di atas nasi di piringnya ada satu setengah ekor anak tikus yang masih berwarna merah tanpa bulu. Sebagian badan anak tikus itu sudah terkunyah si gadis kecil, yang kemudian dia muntahkan.

Karena sibuk bercanda sang gadis kecil tidak memerhatikan makanannya sehingga tidak menyadari dua ekor anak tikus jatuh dari atap rumah yang tanpa langit-langit dan mendarat persis di atas nasi di piringnya. Dia merasa aneh dan sadar  saat merasa mengunyah daging padahal dia tahu bahwa lauknya hanya tahu dan sambal. Bayangkan bagaimana perasaan sang gadis kecil!

Sejak saat itu sang gadis kecil tidak mau makan daging yang berlemak apalagi jerohan. Bila terpaksa dia hanya mau makan daging yang dimasak kering tanpa lemak.

Gadis kecil itu sekarang sudah berusia kepala tujuh. Sang gadis kecil sudah menjadi nenek sehat yang aktif. Sepanjang hidupnya, sejak peristiwa itu, dia tidak pernah makan daging berlemak, dan jerohan, sehingga dia tidak pernah sakit darah tinggi, kelebihan kolesterol, asam urat, maupun gula darah. Nenek yang sehat dan aktif ini mendapat  pengalaman yang mengerikan sehingga mengalami trauma, namun itu justru bermanfaat bagi hidupnya, bagi kesehatannya.


Nenek sehat yang aktif itu adalah Ibunda mertua saya yang sangat kami hormati. Ternyata tidak semua trauma merugikan. Karena itu, meskipun saya bisa mencoba mengobati trauma beliau, saya menyarankan untuk tidak menghilangkannya. Trauma yang beliau alami telah membantu menjaga kesehatan, trauma yang bermanfaat.

Kamis, 28 Maret 2013

Menyesal tapi Tidak Menyesali


Waktu kecil dulu saya menderita sakit kulit sehingga dilarang makan daging ayam, telur, dan segala makanan yang terbuat dari mahluk laut. Dokter bilang saya alergi. Saya 'hanya' boleh makan daging sapi, kambing, dan bahan nabati. Saat-saat itu saya sering mengeluh, rewel, bahkan mogok makan bila tidak tersedia lauk daging atau jeroan sapi. Saya tidak peduli apakah kondisi keuangan orang tua saya memungkinkan selalu menyediakan lauk seperti itu.

Mengapa saya yang sakit? Mengapa hanya saya yang sakit? Saya tidak bisa makan makanan enak yang bisa dimakan saudara-saudara atau teman-teman sebaya. Saya merasa menjadi 'korban', korban penyakit. Karena merasa banyak hak-hak yang tidak bisa saya terima, hak makan telur, daging ayam, dan ikan laut, saya merasa layak mendapatkan kompensasi. Saya merasa sudah sepantasnya mengeluh dan minta diperlakukan istimewa.

Bila mengingat masa-masa itu, saya sekarang menyesal sekaligus geli sekaligus malu. Saya menyesal karena ternyata pada masa itu saya tidak bisa mensyukuri nikmat yang luar biasa. Saya dulu terlalu terpaku pada makanan yang pantang saya makan, padahal masih banyak makanan yang boleh saya makan. Seharusnya saya berpikir 'hanya' dilarang makan beberapa makanan, bukan berpikir 'hanya' boleh makan beberapa makanan. Karena merasa menjadi 'korban' saya merasa pantas mengeluh dan menuntut macam-macam. Padahal apa yang sudah disediakan orang tua sudah sangat istimewa dibandingkan yang diterima anak-anak lain, saudara-saudara dan teman-teman, dan saya tidak bersyukur sehingga saya kurang bahagia saat itu.
Saya geli karena ternyata masa itu saya meributkan dan membesar-besarkan masalah yang sepele. Saya hanya sakit kulit yang tidak mengancam jiwa, tapi saya bertindak seakan-akan menderita penyakit yang menyiksa sepanjang hidup saya. Bersama dengan bertambahnya usia ternyata alergi saya berangsur-angsur hilang.
Saya malu kepada anak-anak saya, Coqi dan Hanun, yang lebih sabar saat sakit, lebih bersyukur sehingga lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Coqi dan Hanun bila sakit tidak pernah mengeluh dan jarang sekali rewel.

Sekarang, saya sangat mensyukuri hidup. Meskipun saya menyesal atas tindakan bodoh saya menghadapi sakit pada masa kecil, tapi saya tidak menyesali pengalaman itu karena itu yang membangun kekuataan saya sehingga bisa seperti saat ini.
Saya bangga kepada Coqi dan Hanun. Saya bersyukur bahwa ada perbaikan dan peningkatan kualitas  antar generasi. Saya malu dengan masa lalu saya, tapi sekarang saya tidak boleh memalukan mereka. Saya harus membuat mereka bangga dengan berubah, belajar dari mereka.

Rabu, 27 Februari 2013

Teladan dan Amanah (Jilbab Hanun 3)


Saya dan istri yakin bahwa pendidikan yang terbaik adalah dengan contoh, teladan. Karena itu dalam mendidik Hanun contoh dari ibunya sangatlah penting.

Sebagai Bapak, seorang laki-laki, saya hanya bisa memberi contoh untuk sikap-sikap multi gender, sikap-sikap umum seorang muslim. Sejak dini kami sudah mengajarkan tentang perbedaan gender kepada Hanun. Dia sudah kami beritahu bahwa Bapak dan Ibu punya banyak perbedaan, terkait gender.Pelan-pelan kami sampaikan apa-apa yang boleh dilakukan laki-laki dan yang boleh dilakukan perempuan.

Sebagai seorang wanita dewasa yang paling dekat dengan Hanun, peran ibunya sebagai teladan sangat mempengaruhi perkembangan Hanun. Peran saya saya sebagai teladan Hanun lebih kecil porsinya dibandingkan peran saya sebagai penegur istri...hehehe...
Istri saya lebih tinggi kemauan untuk berubah bila termotivasi kesadaran sebagai teladan Hanun.

Dari awal menikah kami memang berkomitmen untuk melakukan secara maksimal, yang terbaik, dalam mendidik anak. Kami yakin niat dan usaha kami pasti ada hasilnya, meskipun semua hasil  tergantung keputusan TUHAN. Kami tidak bisa menjamin, tidak akan sesumbar, anak-anak kami menjadi insan terbaik kelak. Kami hanya akan melakukan apapun, bahkan bila perlu mengorbankan nyawa, untuk menjaga amanah TUHAN yang kami terima agar bisa mempertanggungjawabkannya pada pengadilan tertinggi kelak.


Sabtu, 23 Februari 2013

Berpikir Akibat Sebelum Bertindak


Teman-teman yang baru mengenal saya mungkin tidak mengira bahwa dulu saya pernah ‘melabrak’ pimpinan divisi general affair hanya karena tidak diprioritaskan menggunakan kendaraan operasional, sampai ada adegan membanting pintu segala. Saya juga pernah menghadap Kepala Cabang dengan emosi hanya karena ruangan saya dipinjam divisi lain. Saat itu saya merasa apa yang saya lakukan benar. Saya berani berbuat karena merasa benar. Ternyata benar saja tidak cukup.

“Lebih baik kalah dalam pertempuran untuk memenangkan peperangan”. Saya sering mendengar kata-kata bijak ini. Saya menyadari bahwa saya dulu selalu ingin memenangkan pertempuran karena merasa benar.  “Berani karena benar”. Ternyata berani saja belum cukup.

Dulu, saya cepat bertindak karena merasa benar, benar menurut saya, bagaimana menurut orang lain? Apa akibat tindakan saya bagi diri sendiri dan orang lain?

Dulu, saya menganggap cepat bertindak adalah perwujudan dari istilah tangkas, atau proaktif, atau cepat tanggap. Saya lupa bahwa juga ada istilah ceroboh, atau gegabah, atau grusa-grusu. Yang membedakan apa?

Yang membedakan adalah sebesar apa saya memperhatikan akibat, atau dampak, atau efek, dari tindakan saya. Bila saya merasa benar, kemudian bertindak cepat tanpa peduli baik buruknya akibat tindakan saya, maka saya telah melakukan tindakan gegabah.

“Ah kelamaan kalau mau bertindak harus mikir tentang segala akibatnya…”

Mungkin kelamaan, saat saya belum terbiasa memikirkan akibat sebelum melakukan tindakan, belum  menjadikan hidup efektif sebagai gaya hidup. Memang perlu kemauan untuk berubah, dan saya memutuskan untuk berubah menjadi lebih efektif, selalu berpikir akibat sebelum bertindak. Untuk itu saya harus terus berlatih dan berlatih, karena berubah menjadi lebih baik tidak boleh berhenti sampai maut menjemput.