Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Kamis, 28 Maret 2013

Menyesal tapi Tidak Menyesali


Waktu kecil dulu saya menderita sakit kulit sehingga dilarang makan daging ayam, telur, dan segala makanan yang terbuat dari mahluk laut. Dokter bilang saya alergi. Saya 'hanya' boleh makan daging sapi, kambing, dan bahan nabati. Saat-saat itu saya sering mengeluh, rewel, bahkan mogok makan bila tidak tersedia lauk daging atau jeroan sapi. Saya tidak peduli apakah kondisi keuangan orang tua saya memungkinkan selalu menyediakan lauk seperti itu.

Mengapa saya yang sakit? Mengapa hanya saya yang sakit? Saya tidak bisa makan makanan enak yang bisa dimakan saudara-saudara atau teman-teman sebaya. Saya merasa menjadi 'korban', korban penyakit. Karena merasa banyak hak-hak yang tidak bisa saya terima, hak makan telur, daging ayam, dan ikan laut, saya merasa layak mendapatkan kompensasi. Saya merasa sudah sepantasnya mengeluh dan minta diperlakukan istimewa.

Bila mengingat masa-masa itu, saya sekarang menyesal sekaligus geli sekaligus malu. Saya menyesal karena ternyata pada masa itu saya tidak bisa mensyukuri nikmat yang luar biasa. Saya dulu terlalu terpaku pada makanan yang pantang saya makan, padahal masih banyak makanan yang boleh saya makan. Seharusnya saya berpikir 'hanya' dilarang makan beberapa makanan, bukan berpikir 'hanya' boleh makan beberapa makanan. Karena merasa menjadi 'korban' saya merasa pantas mengeluh dan menuntut macam-macam. Padahal apa yang sudah disediakan orang tua sudah sangat istimewa dibandingkan yang diterima anak-anak lain, saudara-saudara dan teman-teman, dan saya tidak bersyukur sehingga saya kurang bahagia saat itu.
Saya geli karena ternyata masa itu saya meributkan dan membesar-besarkan masalah yang sepele. Saya hanya sakit kulit yang tidak mengancam jiwa, tapi saya bertindak seakan-akan menderita penyakit yang menyiksa sepanjang hidup saya. Bersama dengan bertambahnya usia ternyata alergi saya berangsur-angsur hilang.
Saya malu kepada anak-anak saya, Coqi dan Hanun, yang lebih sabar saat sakit, lebih bersyukur sehingga lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Coqi dan Hanun bila sakit tidak pernah mengeluh dan jarang sekali rewel.

Sekarang, saya sangat mensyukuri hidup. Meskipun saya menyesal atas tindakan bodoh saya menghadapi sakit pada masa kecil, tapi saya tidak menyesali pengalaman itu karena itu yang membangun kekuataan saya sehingga bisa seperti saat ini.
Saya bangga kepada Coqi dan Hanun. Saya bersyukur bahwa ada perbaikan dan peningkatan kualitas  antar generasi. Saya malu dengan masa lalu saya, tapi sekarang saya tidak boleh memalukan mereka. Saya harus membuat mereka bangga dengan berubah, belajar dari mereka.

Rabu, 27 Februari 2013

Teladan dan Amanah (Jilbab Hanun 3)


Saya dan istri yakin bahwa pendidikan yang terbaik adalah dengan contoh, teladan. Karena itu dalam mendidik Hanun contoh dari ibunya sangatlah penting.

Sebagai Bapak, seorang laki-laki, saya hanya bisa memberi contoh untuk sikap-sikap multi gender, sikap-sikap umum seorang muslim. Sejak dini kami sudah mengajarkan tentang perbedaan gender kepada Hanun. Dia sudah kami beritahu bahwa Bapak dan Ibu punya banyak perbedaan, terkait gender.Pelan-pelan kami sampaikan apa-apa yang boleh dilakukan laki-laki dan yang boleh dilakukan perempuan.

Sebagai seorang wanita dewasa yang paling dekat dengan Hanun, peran ibunya sebagai teladan sangat mempengaruhi perkembangan Hanun. Peran saya saya sebagai teladan Hanun lebih kecil porsinya dibandingkan peran saya sebagai penegur istri...hehehe...
Istri saya lebih tinggi kemauan untuk berubah bila termotivasi kesadaran sebagai teladan Hanun.

Dari awal menikah kami memang berkomitmen untuk melakukan secara maksimal, yang terbaik, dalam mendidik anak. Kami yakin niat dan usaha kami pasti ada hasilnya, meskipun semua hasil  tergantung keputusan TUHAN. Kami tidak bisa menjamin, tidak akan sesumbar, anak-anak kami menjadi insan terbaik kelak. Kami hanya akan melakukan apapun, bahkan bila perlu mengorbankan nyawa, untuk menjaga amanah TUHAN yang kami terima agar bisa mempertanggungjawabkannya pada pengadilan tertinggi kelak.


Sabtu, 23 Februari 2013

Berpikir Akibat Sebelum Bertindak


Teman-teman yang baru mengenal saya mungkin tidak mengira bahwa dulu saya pernah ‘melabrak’ pimpinan divisi general affair hanya karena tidak diprioritaskan menggunakan kendaraan operasional, sampai ada adegan membanting pintu segala. Saya juga pernah menghadap Kepala Cabang dengan emosi hanya karena ruangan saya dipinjam divisi lain. Saat itu saya merasa apa yang saya lakukan benar. Saya berani berbuat karena merasa benar. Ternyata benar saja tidak cukup.

“Lebih baik kalah dalam pertempuran untuk memenangkan peperangan”. Saya sering mendengar kata-kata bijak ini. Saya menyadari bahwa saya dulu selalu ingin memenangkan pertempuran karena merasa benar.  “Berani karena benar”. Ternyata berani saja belum cukup.

Dulu, saya cepat bertindak karena merasa benar, benar menurut saya, bagaimana menurut orang lain? Apa akibat tindakan saya bagi diri sendiri dan orang lain?

Dulu, saya menganggap cepat bertindak adalah perwujudan dari istilah tangkas, atau proaktif, atau cepat tanggap. Saya lupa bahwa juga ada istilah ceroboh, atau gegabah, atau grusa-grusu. Yang membedakan apa?

Yang membedakan adalah sebesar apa saya memperhatikan akibat, atau dampak, atau efek, dari tindakan saya. Bila saya merasa benar, kemudian bertindak cepat tanpa peduli baik buruknya akibat tindakan saya, maka saya telah melakukan tindakan gegabah.

“Ah kelamaan kalau mau bertindak harus mikir tentang segala akibatnya…”

Mungkin kelamaan, saat saya belum terbiasa memikirkan akibat sebelum melakukan tindakan, belum  menjadikan hidup efektif sebagai gaya hidup. Memang perlu kemauan untuk berubah, dan saya memutuskan untuk berubah menjadi lebih efektif, selalu berpikir akibat sebelum bertindak. Untuk itu saya harus terus berlatih dan berlatih, karena berubah menjadi lebih baik tidak boleh berhenti sampai maut menjemput.

Jumat, 22 Februari 2013

Mandi dan Hidup Efektif


Gaya hidup efektif dan bahagia saya terapkan di rumah, lingkungan terkecil dan paling dekat hidup saya. Di rumah kami, saya biasakan melakukan sesuatu dengan efektif. Sebelum melakukan sesuatu kami harus tahu dan paham manfaatnya. Meskipun sulit kami harus melakukannya bila manfaatnya besar.

Dari hal-hal terkecil kami usahakan selalu efektif. Misalkan masalah jadwal mandi. Kami sekeluarga punya kesepakatan untuk tidak memiliki jadwal mandi, alias suka-suka. Kalau tidak perlu ya tidak mandi, tapi minimal sekali sehari. Sebaliknya kami bisa mandi berkali-kali sehari, sesuai kebutuhan. Kami berpedoman pada agama dan kesehatan dalam menentukan manfaat  mandi.  Selain agama dan  kesehatan, kami juga memperhatikan kebaikan dan kenyamanan orang lain. Meskipun sudah dua kali mandi, tapi karena berkeringat badan jadi bau tidak sedap, kami mandi lagi. Sebaliknya kami sering hanya mandi sekali karena badan masih bersih, tak berkeringat dan wangi sampai tidur malam hari.

Jadi masalah mandi ini kami benar-benar menggunakan azaz manfaat, bukan sekedar rutinitas tradisi.
Masalahnya, tidak semua orang di sekitar kami bisa memahami azaz manfaat mandi yang kami anut. Contohnya adalah peristiwa saat kami berkunjung dan menginap di rumah Ibu saya selama liburan sekolah.
Ibu saya, Utinya Coqi, memegang teguh tradisi sejak lama, mandi dua kali sehari. Sehingga beliau tidak berkenan saat Coqi menolak disuruh mandi sore “Badanku masih bersih Uti…Baru tadi siang Aku mandi dan sekarang belum kotor dan tidak berkeringat….”. Neneknya tidak bisa menerima alasan Coqi.

Saya panggil Coqi…

“Bapak menghargai pendirian Coqi tidak mau mandi sore, berdasarkan gaya hidup efektif kita. Tapi dalam mempertimbangkan manfaat Coqi juga harus memperhatikan konteks. Meskipun Coqi tidak kotor dan masih wangi, Coqi harus menghargai kebiasaan di rumah Uti…Coqi harus menjaga kebahagiaan Uti…Kali ini Coqi harus mandi karena manfaat yang besar, kebahagiaan Uti…”

Coqi harus belajar bahwa membahagiakan orang adalah pertimbangan tertinggi gaya hidup efektif setelah ajaran agama.



Senin, 18 Februari 2013

Belajarlah Setiap Saat Agar Semakin Baik Setiap Hari


Hanun anakku...Hari ini usiamu genap lima tahun bila dihitung menggunakan kalender masehi.
Artinya Hanun sudah lima tahun belajar menjadi anak yang baik, anak yang pandai, anak yang hebat.
Anak yang usianya genap lima tahun harus lebih baik, lebih pandai, dan lebih hebat daripada anak yang usianya lebih muda. Khan sudah lebih lama belajarnya...

Hanun anakku...setelah ini kamu harus meneruskan belajarmu, setiap hari, setiap saat. Apapun yang kau temui, kau lihat, kau dengar, adalah pelajaran. Bapak dan Ibu akan selalu memberikan contoh yang terbaik yang bisa kami lakukan. Bila kau menemui sesuatu yang mengganjal hatimu tanyakan kepada Bapak, Ibu, atau Ibu Guru, jangan kau pendam sendiri. Bahkan bila menurutmu Bapak melakukan sesuatu yang tidak baik, tegurlah, karena Bapak juga mungkin melakukan kesalahan. Bapak juga masih terus belajar menjadi orang yang lebih baik.

Hanun anakku...Jadilah semakin baik, semakin pandai, semakin hebat setiap hari, tak perlu menunggu ulang tahun. Bapak selalu mendoakanmu, hadiah terbaik yang bisa Bapak berikan, setiap hari.

Jumat, 15 Februari 2013

Doa dalam Nama Coqi

"What is a name"
Apalah arti sebuah nama.
Bagi saya nama adalah doa, harapan, cita-cita orang tua kepada anaknya.

Semua orang tua ingin anaknya menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak semua orang tua memberi nama anaknya sebagai doa dan harapan. Itu pilihan mereka, dan saya menghargainya. Seperti sebuah cerita humor yang pernah saya baca :
"Ma...Benarkah di suku kita nama orang itu sesuai peristiwa besar yang terjadi saat ibunya belum hamil sampai melahirkan?"
"Benar...Kenapa kamu menanyakan itu Dipan Ambruk?"

Banyak juga orang yang memiliki nama yang bagus, menggunakan nama-nama Nabi, orang-orang bijak, atau nama-nama lain yang memiliki arti bagus dan mulia tapi perilakunya sangat hina, keji, suka menyakiti sesama. Apakah yang dilakukan orang tua mereka memberi nama bagus tidak ada gunanya?

Orang tua memberi nama yang bagus adalah ihtiar untuk kebaikan anaknya, salah satu usaha. Usaha orang tua tidak cukup sampai di situ, tidak cukup hanya memberi nama yang bagus, tapi harus berkelanjutan dengan pendidikan yang baik.

Nama lengkap Coqi adalah Muhammad Isyroqi Basil. Muhammad artinya orang yang terpuji, isyroq artinya memancar, dan basil artinya pemberani. Sejak kecil, sejak bisa bicara Coqi sudah kami beri penjelasan tentang arti namanya sendiri. Kami sampaikan juga bahwa dia harus bertanggung jawab menyandang nama yang artinya baik. Dia harus bersikap selaras dengan kebaikan namanya. Itulah ikhtiar awal kami...

Nama Muhammad Isyroqi Basil adalah doa dan harapan kami untuk Coqi. Semoga dia menjadi orang yang terpuji, yang memancarkan sinar ke sekelilingnya dan berani berbuat untuk kebenaran. Aamiin...

Kamis, 31 Januari 2013

Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis (Jilbab Hanun 2)


Hanun saat ini berusia lima tahun, dan dia sudah paham tentang konsep aurat maupun muhrim. ALHAMDULILLAH tidak terlalu sulit membuat dia paham bagaimana harus bersikap kepada lawan jenis. Saya yakin itu karena hidayah Tuhan kepadanya, dan Tuhan pula yang mengilhamkan ke saya dan istri saya tentang mendidik ahlak sejak usia Hanun 0 tahun.

Saya yakin tentang konsep pendidikan sejak dalam kandungan. Saya belum pernah membaca jurnal ilmiah atau hasil penelitian tentang konsep ini, tapi saya sudah menemukan banyak bukti dan mengalaminya sendiri. Sayang sekali masih banyak orang tua di Indonesia yang meragukan konsep ini. Mereka masih berpendapat bahwa bayi dan anak di bawah usia tiga tahun belum bisa menangkap informasi sempurna dari sekelilingnya.

Pendidikan yang saya anggap paling penting untuk saya ajarkan kepada Hanun sesegera mungkin adalah tentang ahlak, dan saya meyakini sumber terbaik adalah ajaran agama. Saya meyakini bahwa ajaran agama adalah manual book atau user guide manusia untuk hidup. Sebagai muslim saya meyakini Al Qur'an dan Al Hadits sebagai pedoman hidup, acuan segala ilmu.

Saya percaya bahwa semua yang kita sampaikan kepada anak sejak usia 0 tahun terekam sempurna dalam pikirannya, di otaknya. Hanya saja mereka belum bisa menanggapi informasi itu. Informasi yang tersimpan di otaknya pasti bermanfaat suatu saat kelak. Sebaliknya, hati-hati dengan informasi negatif yang berpotensi masuk ke otak anak usia dini, juga akan terekam dalam otaknya. Televisi adalah media yang harus diwaspadai berpotensi besar mengirim informasi negatif  ke dalam pikiran anak.

Saat Hanun sudah mulai aktif berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, saya mulai sering mengingatkan tentang konsep hubungan yang benar menurut ajaran agama, konsep yang sudah dia terima informasinya sejak lahir.
"Bukankah larangan itu bagi orang yang sudah dewasa? Sudah baligh?"
Tak ada penegasan di agama bahwa aturan hanya boleh diajarkan kepada orang dewasa, kalau berlakunya keawajiban memang benar untuk orang yang sudah dewasa. Ahlak dan moral adalah sari pati inti dari karakter. Bukankah terlambat bila baru mengajarkan ahlak dan moral saat anak sudah dewasa? Saat karakternya sudah terbentuk? Secara biologis kita bisa mengenali kapan anak kita mencapai kedewasaan, tapi secara psikologis sulit mendeteksinya.

ALHAMDULILLAH sekarang Hanun sudah tahu dan melakukan sikap-sikap membatasi diri saat berhubungan dengan lawan jenis, meskipun kadang-kadang masih harus diingatkan. Paling tidak dia bisa menerima dan segera berubah saat diingatkan, tidak membantah atau menentang menggunakan  segala argumen nalar manusia yang tidak selaras dengan ajaran agama.

Rabu, 30 Januari 2013

Jilbab Hanun


Dulu, lama sebelum Hanun lahir saya sudah sangat suka melihat anak kecil perempuan yang berkerudung rapi. Teman-teman, orang tua anak-anak itu, memberi tips bahwa jauh lebih mudah mengajari anak berkerudung sedari kecil, sedini mungkin.  Sejak saat itu selalu ada dalam doa saya permohonan dianugerahi anak perempuan.

Memerhatikan tingkah polah perempuan-perempuan masa kini saya sangat miris dan khawatir. Betapa mereka sudah tidak peduli dengan  kehormatan, suka memamerkan bagian-bagian tubuh demi mendapatkan kepuasan karena jadi pusat perhatian.

Banyak yang berkilah bahwa bukan tanggung jawab mereka  bila banyak mata lelaki jalang memandang tubuh mereka.
"Ah...Bukan urusan saya bila para lelaki itu memandangi saya, khan mata mereka sendiri, saya gak nyuruh"
"Ya salah sendiri gak punya iman...Gak bisa menahan nafsu..."
"Dasar pikiran mereka sendiri yang ngeres, piktor"

Coba kita balik logikanya, seandainya tidak ada seorang lelakipun tertarik pada dandanan mereka, tidak sebuah matapun memandang kagum, atau lebih tepatnya jalang, apakah mereka masih mau berpakaian seperti itu? Apa sih yang ada di benak perempuan-perempuan yang suka berdandan ‘minimalist’ itu saat bercermin mematut diri selain ingin segera keluar menemui kerumunan kemudian mendapatkan pujian dan tatapan pemujaan?

"Wajar khan yang indah itu disukai orang?"
"Apa salahnya saya menampilkan keindahan?"

Keindahan adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Sebagai mahlukNYA kita wajib menjaga dan merawat keindahan yang kita terima. Menampilkan keindahan boleh saja, dengan memerhatikan manfaat yang ingin diraih, bagi diri sendiri dan orang lain. Saat menampilkan bagian-bagian tubuhnya, manfaat apa yang diperoleh? Manfaat apa yang diberikan untuk orang lain? Keburukan apa yang kemungkinan terjadi? Lebih condong ke manfaat atau keburukan?

"Ah, jangan munafik lah...! Toh banyak juga peristiwa di dunia ini perempuan berjilbab yang dilecehkan dan diperkosa..."

Perdebatan seperti ini tidak akan pernah selesai, tak ada habisnya. Selalu ada perbedaan dalam memandang sesuatu. Karena itulah saya ingin memiliki anak perempuan, agar saya bisa mendidiknya dengan kebenaran yang saya yakini. Saya ingin berbuat sesuatu di dunia tentang keindahan seorang wanita, melalui anak saya karena saya laki-laki.

Saya menyetujui dan sepakat bahwa pendidikan anak dimulai saat usia 0 tahun, bahkan sejak dalam kandungan. Maka saya dan ibunya  mengajari Hanun menutup aurat sejak usia 0 tahun. Kami sudah berburu jilbab kecil sejak Hanun lahir.  

Tidak mudah, karena banyak yang menentangnya.
"Kasihan, dia khan masih kecil.."
Justru sayang Hanun saya kasihan bila terlambat mendidiknya tentang ahlak beragama.

(bersambung : "Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis)


Senin, 28 Januari 2013

Dulu Belajar Rangkaian Listrik Sekarang Jualan Kripik


Saya dulu kuliah di Politeknik Malang jurusan Listrik dan saat ini saya jualan kripik buah. Apakah saya merasa kuliah saya tidak ada gunanya?
Saya dulu belajar rangkaian listrik dan sekarang menulis buku tentang mudahnya bahagia. Apakah saya menyesalinya?

Sama sekali tidak!

Seandainya saya dulu kuliah di fakultas ekonomi, belum tentu sekarang saya bisa menjual satu ton kripik buah ke Malaysia. Karena faktanya banyak sarjana ekonomi yang mempelajari manajemen pemasaran tidak mau jadi pedagang.
Seandainya saya dulu belajar ilmu psikologi, belum tentu saya bisa menulis buku "Kripik untuk Jiwa". Karena faktanya banyak sarjana psikologi tidak mau menerapkan ilmunya untuk membantu orang lain jadi lebih bahagia.

Saya bangga dulu pernah belajar ilmu listrik. Saya masuk jurusan itu bukan asal masuk, asal kuliah. Saya melakukannya dengan niat mencari ilmu dan meningkatkan kualitas berpikir, dan saya menapatkannya. Apapun yang saya dapatkan saat kuliah adalah bekal saya yang sangat berharga untuk melakukan perjalanan hidup, sehingga saya bisa seperti saat ini.

Menuntut ilmu bukanlah tujuan tapi hanya salah satu tahapan proses. Kuliah hanyalah salah satu pilihan tahapan dari proses peningkatan kualitas diri, proses tiada henti.
Karena kuliah hanya sebagai  salah satu pilihan, Anda tidak harus melakukannya karena ada pilihan lain. Apapun pilihan Anda, lakukan dengan sebaik mungkin, terbaik yang bisa Anda lakukan.

Kamis, 27 Desember 2012

Saya (dulu) Phobia Cicak


Saat SD dulu saya pernah tidak mau masuk kelas karena teman-teman kompak menakuti saya dengan cicak. Ya...saya dulu phobia cicak.

Dulu, bila ada cicak di langit-langit kamar saya tidak akan mau tidur dalam kamar tersebut. Saya khawatir cicak itu menjatuhi saya. Saya akan menyiram dari jauh bila ada cicak di dinding kamar mandi, dan saya baru mau mandi bila sudah tidak ada cicak lagi.

Sejak kecil saya tidak pernah mengalami pengalaman buruk dengan cicak. Saya juga tidak ingat sejak kapan saya phobia terhadap cicak. Yang jelas Ibu saya phobia terhadap cicak.

Lucunya, kakak dan adik saya juga sangat takut cicak. Kami bertiga phobia cicak saat belum dewasa.
Saat remaja saya tahu peristiwa yang dialami Ibu sehingga phobia cicak, dari Ibu. Konon dahulu, saat Ibu masih kecil pernah secara tidak sengaja menekan seekor cicak di dinding sampai perut cicak pecah dan isi perutnya keluar. 
Sejak itu saya berusaha mempelajari phobia saya sendiri, menganalisa pikiran saya, berusaha menghilangkannya. Saya sadar bahwa tidak ada alasan saya untuk takut cicak, berdasar pengalaman masa lalu maupun secara logika. Sedikit-demi sedikit saya mulai belajar berani berdekatan dengan cicak. Saya takut cicak karena belajar dari Ibu secara tidak sengaja, karena itu saya yakin bisa belajar berani kepada cicak.

Sekarang ketakutan saya sudah banyak berkurang. Saya masih enggan menyentuh cicak, tapi saya tidak lagi ketakutan berlebihan bila berdekatan dengan cicak. Saya harus berubah. Saya tidak ingin secara tidak sengaja mengajari anak-anak saya takut yang tidak rasional kepada cicak.

Artikel lain tentang phobia :
[Gaya Hidup] Seri Phobia : Bukan Bawaan Tapi Bisa Diturunkan
[Gaya Hidup] Seri Phobia : Manfaat Takut dan Jijik

(Anda juga mau berubah? Menetapkan diri untuk menjadi lebih baik dan bahagia?)