Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Minggu, 16 Maret 2014

Golongan Putih Menurut Saya

Pada saat-saat mendekati PEMILU seperti saat ini banyak orang menggunakan istilah golongan putih (golput). Banyak persepsi orang tentang golput. Ada yang mempersepsikan golput sebagai sebuah golongan yang terorganisir. Persepsi bahwa golput adalah kelompok yang terorganisir sangatlah tidak relevan, tidak sesuai fakta. Memang ada beberapa organisasi, atau kelompok terorganisir yang menyatakan secara resmi bahwa mereka tidak mau ikut PEMILU, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa golput adalah kelompok yang terorganisir.

Ada orang yang mempersepsikan golput adalah orang-orang yang tidak mau memilih saat PEMILU, secara perorangan.

Kalau saya pribadi punya persepsi bahwa golongan putih adalah orang-orang yang menyukai kedamaian, ketenangan, kesederhanaan, dan kesucian, sesuai makna tersimbol dari warna putih. Golongan putih tidak suka kebisingan yang tidak bermanfaat, kekisruhan, hujatan, apalagi fitnah yang sangat kental mewarnai kegiatan politik.

Orang golongan putih tidak mau menodai keputihannya dengan kebencian kepada sesama manusia dengan perkataan kasar atau tindakan anarkis, dan tidak mau bedekatan dengan kelompok atau orang yang seperti itu. Bila ada orang yang tidak mau memilih tapi menghujat orang yang memilih, maka sebenarnya dia bukanlah golongan putih, karena dia tidak pantas menyandang warna putih.

Orang golongan putih tidak suka kegiatan-kegiatan pamer kekuatan yang dilakukan oleh partai politik, karena bertentangan dengan kebersahajaan yang diwakili warna putih, dan cenderung memancing kedengkian. Dia memilih diam merenung, mengagungkan nama Tuhan dalam keheningan untuk meminta petunjuk pilihan yang terbaik.

Bisa jadi orang golongan putih sudah punya pilihan, dan akan  memilih saat PEMILU, tapi dia tidak mau menjelek-jelekkan kelompok atau orang yang bukan pilihannya. Dia memilih untuk bersikap baik, ramah, dan bersahabat kepada semua kelompok, semua partai, semua caleg.



Ya ,saya Nur Muhammadian masuk golongan putih dengan persepsi yang sudah saya sebutkan. Saya menghimbau Anda untuk masuk golongan putih, bagi yang ingin memilih ataupun tidak saat PEMILU nanti. Saya menghimbau para praktisi politik untuk berhenti menyebut pihak yang menghujat Anda sebagai golongan putih, sebagaimana saya menolak orang yang suka menghujat sebagai golongan putih.

Sabtu, 15 Maret 2014

Bisakah Anda Memilih?

Berdasarkan beberapa tulisan saya akhir-akhir ini ada yang menganggap saya masuk golongan putih (golput), dan saya bersyukur daripada dianggap sebagai golongan hitam. Padahal PEMILU belum lagi terlaksana, sudah banyak caleg yang merasa berhak menilai jelek calon-calon rakyat yang akan diwakilinya.

Semua politikus punya jargon yang sama "Golput bukan solusi", dan ada kesangsian dari para apatist "Apakah memilih bisa memperbaiki negeri?", sedangkan  para optimist berpikir “Selalu ada harapan, dan pasti ada jalan…lain”


Entahlah...Yang jelas saya sendiri punya pilihan sikap, dan harus bertanggungjawab pada pilihan saya sendiri, apapun itu.

Semua orang berhak memilih, termasuk Anda wahai para caleg yang merasa berhak mewakili saya.
Tolong Anda pilihkan sikap bagaimana yang harus saya pilih :

1. Saya memilih, tapi saya memilih caleg dari partai lain karena saya anggap dia lebih baik dari Anda. Kemudian saya memuji-muji dia dan menjelek-jelekkan Anda karena dengan cara itu pilihan saya punya kesempatan terpilih lebih besar dari Anda.

2. Saya tidak memilih siapapun (silakan bila Anda mengganggap saya sebagai golput), karena saya menyayangi semua caleg. Saya akan sering  dengan santun menegur Anda dan caleg-caleg lain bila saya anggap ada yang tidak tepat. Siapapun yang terpilih adalah wakil saya sebagai rakyat, meskipun saya tidak ikut memilih karena gaji Anda toh diambil dari pajak yang saya bayarkan. Karena itu saya harus bekerja keras agar semakin besar pajak yang bisa saya bayarkan, untuk pembangunan negeri dan membiayai sidang-sidang parlemen. Rumah saya selalu terbuka bagi semua caleg dari partai apapun bila memang ada yang berkenan mendapatkan masukan-masukan dari saya, sehingga lima tahun lagi mungkin saya punya caleg yang layak untuk saya pilih karena selama lima tahun peduli dan benar-benar memperjuangkan suara saya dan rakyat lain.

3. Saya memilih Anda, kemudian tidak peduli dengan yang Anda lakukan, karena memang Anda tidak lagi butuh aspirasi saya seperti yang terjadi selama ini. Bila pun Anda mengundang saya dalam sebuah pertemuan-pertemuan resmi yang Anda sebut 'penyerapan aspirasi', ternyata hanya sebuah formalitas administrasi untuk mencairkan dana 'penyerapan aspirasi' atau dana-dana lain, tidak lebih. Karena setelah pertemuan itu Anda tidak pernah mengabarkan kepada saya bagaimana progres perjuangan Anda membawa aspirasi saya. Anda juga tidak pernah memberi saya  informasi tentang apa-apa saja yang Anda lakukan selayaknya seorang wakil kepada orang yang diwakili, yang menggunakan dana sebagian pajak saya yang sangat kecil.

Bisakah Anda memilih?
Mungkin Anda berkata “Wah tiga-tiganya gak ada yang bagus untuk dipilih…”
Maka saya akan menjawab menggunakan kata-kata Anda sendiri “Pilihlah yang terbaik dari yang tidak bagus, karena tidak memilih bukanlah solusi”.

Apapun pilihan Anda adalah cerminan diri Anda sebagaimana pilihan sikap saya terhadap PEMILU.

Jumat, 14 Maret 2014

Saya Ingin Coqi dan Hanun Seperti Batman (3 Alasan Saya Pensiun Dini 3)

Alasan #3 : Saya Ingin Anak Saya Seperti Batman atau Ironman

Dalam satu sesi pelatihan guru saya menyampaikan bahwa Superhero yang baik itu Batman atau Ironman. Karena dalam kehidupan normal mereka kaya, dan bisa membantu orang dengan kekayaan mereka. Beda dengan Superman yang hanya reporter atau Spiderman yang hanya seorang Photographer (tanpa merendahkan profesi reporter maupun photographer). Si Bruce atau si Tony bisa kaya karena mewarisi dari orang tuanya, istilah jawa timurannya “Belungan Sugih”.

Para konglomerat, para jutawan, miliuner maupun triliuner, sebagian  mewarisi dari orang tuanya masing-masing. Mereka mewarisi kekayaan dari orang tuanya. Mereka punya “Belungan Sugih”, mereka jadi Superhero. Benarkah kekayaan materi bisa dipertahankan sampai beberapa generasi ahli waris?

Sebenarnya yang membuat ahli waris tersebut kaya bukanlah warisan kekayaan materi, memang ada pengaruhnya sebagai modal. Tetapi warisan terbesar mereka adalah kemampuan mereka mengelola kekayaan materi yang diwarisi dari orang tuanya. Kemampuan itu sudah mereka dapatkan sejak kecil. Mereka sudah terbiasa melihat orang tua mereka bekerja keras sebagai pengusaha, wirausahawan. Mental entrepreneur sudah tertanam, mungkin, sejak mereka lahir. Mental itulah yang membuat mereka memiliki “Belungan Sugih”, mental pantang menyerah-mental kreatif-mental produktif.

Saya ingin Coqi dan Hanun jadi seperti Ironman atau Batman, hidup sejahtera meskipun seluruh hidupnya digunakan untuk membantu orang lain. Saya ingin mereka punya “Belungan Sugih”.

Kamis, 13 Maret 2014

Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah (3 Alasan Saya Pensiun Dini 2)

Alasan #2 : Saya Ingin Menulis Tanpa Merasa Bersalah

Saat saya diterima di sebuah perusahaan saya harus menandatangani surat perjanjian bersedia mematuhi segala aturan yang berlaku di perusahaan tersebut.
Karena itu untuk teman-teman yang berminat jadi karyawan, baca surat perjanjian dengan teliti dan seksama. Jangan sampai teman-teman setuju terhadap hal-hal yang bertentangan dengan norma agama kita. ALHAMDULILLAH perusahaan tempat saya bekerja memiliki aturan yang tidak bertentangan dengan semua prinsip-prinsip yang saya yakini.

Dan sejak itulah saya terikat kewajiban terhadap perusahaan. Minimal lima hari setiap minggu selama delapan jam per hari waktu saya harus saya peruntukkan untuk perusahaan, seluruh delapan jam waktu saya. Dan untuk itu saya mendapatkan uang gaji yang saya terima tiap akhir bulan. Jadi bila waktu yang saya peruntukkan untuk perusahaan kurang dari yang seharusnya, apakah saya berhak menerima uang gaji seluruhnya?

Seringkali saat jam kerja muncul ide-ide di benak saya untuk saya tulis, saat jam kerja. Sering pula beberapa sahabat dan saudara tercinta berkenan bertemu saya saat jam kerja. Beberapa teman kerja ingin curhat dan minta saran di luar urusan pekerjaan saat jam kerja, dan beberapa hal lain selain urusan perusahaan, yang menurut saya suatu hal yang baik, tapi harus saya lakukan saat jam kerja.

Meskipun baik dan untuk kebaikan, bila tidak ada hubungannya dengan perusahaan dan saya lakukan saat jam kerja, tetap saja tidak benar, salah. Saya menganggapnya tidak amanah menggunakan waktu, dan pengkhianatan terhadap komitmen saya sebagai karyawan.

Tidak ada cara lain, tidak ada pilihan lagi, bila saya ingin tetap berbuat baik tanpa berkhianat terhadap siapapun. Saya harus menebus lagi waktu saya yang sudah saya serahkan kepada perusahaan. Saya harus berhak sepenuhnya atas waktu yang saya miliki. Agar saya bisa menulis dengan bahagia, menulis tanpa rasa bersalah.



SAYA HARUS BEKERJA PADA SAYA SENDIRI SEHINGGA BERHAK SEPENUHNYA TERHADAP WAKTU YANG SAYA MILIKI

Rabu, 12 Maret 2014

Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik (3 Alasan Saya Pensiun Dini 1)

“Apa yang kamu cari Dian?”

Pertanyaan itu mungkin yang sering muncul di kepala saya baik yang bersumber dari eksternal maupun internal, saat saya memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempat saya bekerja. Dan Alhamdulillah saya punya segudang alasan untuk menjawabnya. Saya akan menuliskan tiga alasan yang paling tidak klise. Saya punya alasan tentang mengejar impian, membuat lapangan pekerjaan, membantu orang lain, dan alasan-alasan mainstream lainnya, tapi yang akan saya tulis adalah yang spesifik ada dalam kepala saya.

Alasan #1 : Saya Tidak Mau Jadi Orang Munafik

Di perusahaan tempat saya bekerja ada dua jenis karyawan, karyawan tetap dan karyawan kontrak. Selama enam belas tahun bekerja saya sudah merasakan puluhan kali kesedihan melihat teman-teman terbaik saya diberhentikan bekerja karena selesai masa kontraknya. Awal-awal dulu saya memberi semangat mereka dengan mengatakan bahwa masih banyak peluang kerja di perusahaan lain. Tetapi dengan berjalannya waktu saya mendapati bahwa teman-teman yang berpindah ke perusahaan lain tidak bernasib lebih baik daripada sebelumnya. Banyak perusahaan yang menerapkan aturan ke-sdm-an yang sama, tentang aturan tenaga kontrak dan batasan usianya. Sehingga pada tahun-tahun terakhir saya tidak lagi memberi mereka saran untuk berpindah ke perusahaan lain. Secara usia mereka juga sudah tidak masuk criteria karyawan baru di level mereka.

Saya melihat bahwa peluang terbaik bagi mereka adalah berwirausaha. Yang terbaik bagi mereka, saya tidak melihat ada yang lebih baik.

Dan luar biasa…Hampir tidak ada teman yang mau mengikuti saran saya. Tidak ada seorangpun yang percaya dengan betapa besarnya peluang sukses berwirausaha.

Kenapa saran saya tidak mereka lakukan? Kenapa mereka tidak percaya pada apa yang saya sampaikan?

KARENA SAYA SENDIRI BELUM MELAKUKAN.


Tidak ada cara untuk membuat orang lain percaya bahwa berwirausaha adalah pilihan terbaik, selain saya harus melakukannya dulu, segera!

Selasa, 11 Maret 2014

Pilihan Coqi (Cita-cita Coqi)

Saya sangat setuju bahwa pendidikan itu sangat penting, bahkan sampai akhir hayat. Untuk sahabat-sahabat yang sudah berusia lanjut justru harus semakin banyak belajar karena zaman terus berubah dan Anda diberi kelebihan usia untuk dimanfaatkan di zaman ini, bukan zaman dulu.

Tapi saya berpendapat menuntut ilmu tidak harus di jalur umum (baca : formal), karena ilmu itu dicari untuk diamalkan dan dimanfaatkan, bukan sekedar gelar administrasi, kecuali bila memang gelar administrasi itu dibutuhkan untuk peningkatan jenjang karir. 
Bila menuntut ilmu hanya melalui jalur umum  maka setelah memiliki gelar akademik orang akan berhenti melakukannya. Tidak ada seorang pun yang berani sesumbar  bahwa gelar akademik bisa menjamin hidup jadi sukses. Pun tidak ada seorang pun yang berani bertaruh bahwa tanpa gelar akademik, tanpa ijazah, orang tak bisa sukses.

Saya dan istri sangat menyadari itu, dan kami terapkan dalam pola didik ke Coqi. Kami tidak ingin Coqi memilih jalur pendidikan tanpa tujuan yang jelas, asal pilih atau asal ikut.Saat ini Coqi sedang bersiap menghadapi Ujian Nasional SMP. Kami memberinya beberapa pilihan jalur setelah lulus SMP : masuk SMA, SMK, Pondok Pesantren, atau tidak semuanya alias Home Schooling. Kami beri dia kebebasan memilih, dan kami dukung maksimal pilihannya bila dia bisa memberikan alasan yang tepat. Tapi bila ternyata alasannya kurang kuat sehingga argumennya bisa saya patahkan maka dia harus mengubah pilihannya.

“Aku masuk SMA aja Pak…”

“Kenapa bukan SMK, Pesantren , atau Home  Schooling aja??” Saya sudah menyiapkan segala jurus untuk mematahkan argument dia. Saya berasumsi  Coqi memilih SMA tanpa memiliki alasan yang kuat, hanya karena kebanyakan teman-temannya memilih itu, ternyata asumsi saya salah.

“Aku ingin jadi journalist dan comedian Pak…Aku butuh masyarakat majemuk untuk latihan. SMA adalah sekolah yang paling majemuk dibanding SMK dan Ponpes apalagi Home Schooling” Coqi hanya menyampaikan tiga kalimat dan saya tidak punya satu kalimat pun untuk mematahkan argumennya. Saya kalah dan bangga dengan kondisi kekalahan saya. Ternyata anak lelaki saya yang beranjak remaja sudah memikirkan manfaat dari pilihannya.


Sekali lagi saya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, berharap Coqi mendapat penataan langsung dari NYA.

Senin, 10 Maret 2014

Cita-cita Coqi

“Piye toh Coq orang ini…Bisa-bisanya dia minta didukung di PEMILU agar bisa melakukan perubahan…Jelas-jelas partainya adalah tiga partai terbesar perolehan suaranya di PEMILU lalu, dan lima tahun ini partainya tidak berbuat yang significant untuk rakyat, malah alegnya banyak yang korupsi. Kok gak malu minta dipilih lagi…!?!?” Saya mengomentari  pidato politik seorang tokoh partai dalam promonya di televisi.

“Hehehehe iya Pak…Nggak lucu…” Coqi terkekeh mendengar  gerutuan saya.

“Politikus itu memang pelawak-pelawak yang gak lucu Coq…”

Coqi  tertarik pada politik sejak usia lima tahun, sejak dia mulai belajar membaca. Saat itu memang sedang puncak pemilihan presiden langsung untuk pertama kalinya. Mungkin Coqi tertarik dengan bertebarannya banner kampanye calon presiden. Di usianya yang sangat muda itu Coqi sudah sangat antusias mengikuti berita politik baik dengan membaca media cetak maupun menonton televisi. Saat itu, dengan gaya khas anak-anak, dia sudah bisa menganalisa para calon presiden dan partai-partainya. Coqi pun bercita-cita menjadi  presiden.

Pernah saat  di sekolahnya disuruh gurunya membuat kreasi bentuk tertentu, sementara teman-temannya membuat bentuk benda-benda yang nyata seperti rumah, pesawat, mobil dan lain-lain, Coqi membuat bentuk yang absurd dan menyebutnya sebagai kursi DPR. Pada usia sembilan tahun Coqi menyumbangkan uang tabungannya  untuk dana kampanye salah satu calon Walikota Malang yang dia sukai.

Bersama dengan berjalannya waktu, Coqi semakin dewasa, minat mengamati politik tidak berkurang tetapi cita-citanya berubah. “Nggak jadi dech Pak…Presiden itu amanatnya sangat besar, terlalu berat”

Saat ini Coqi menemukan sendiri bahwa dia sangat berminat menjadi journalist dan comedian, dan memang sikapnya menunjukkan itu. Saat saya mengambil raport kenaikan kelas, wali kelasnya menyampaikan bahwa Coqi suka menghibur guru dan teman-temannya dengan banyolan-banyolannya. Bila tertarik pada sesuatu, seperti film atau berita tertentu, maka Coqi akan segera melakukan penggalian data sebanyak-banyaknya. Sambil menonton siaran ulang acara penganugerahan piala Oscar, Coqi mampu menjelaskan tentang  film  dan actor- actress  yang mendapatkan piala Oscar cukup detil.

Sejak  SD Coqi selalu mewakili sekolahnya mengikuti lomba pidato agama. Coqi selalu menang di tingkat kecamatan tapi tidak pernah menang di tingkat kota. Menurut analisa gurunya hal itu disebabkan  Coqi menolak memasukkan banyak unsur-unsur banyolan dalam pidato-ceramahnya, sedangkan juri-juri lomba pidato tingkat kota sangat apresiatif pada pidato yang kocak atau lucu.

“Daripada ceramah berisi banyolan mending sekalian aku melawak tapi berisi pesan-pesan moral Pak….!”

Sampai sekarang Coqi masih suka berdiskusi tentang politik, meskipun tidak lagi berminat terjun ke dalamnya. Saya belum mendengar secara verbal, tapi saya yakin dalam hatinya Coqi punya pernyataan :

“Daripada jadi politikus yang omongannya seperti  lawakan yang tidak lucu, mending  jadi  pelawak yang menghibur dan mencerdaskan penontonnya”


Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik untuk Coqi, doa seorang bapak yang memasrahkan masa depan anaknya kepada Yang Maha Kuasa.

Sabtu, 08 Maret 2014

Pentingkah Suara Saya?

Saya sangat prihatin dengan bertebarannya banner promo caleg yang bertebaran di pohon-pohon. Para  caleg itu memasang bannernya secara serampangan sehingga secara estetika sangat mengganggu. Semakin parah lagi sebagian besar mereka memasang bannernya dengan cara memaku ke pohon, menurut saya hal tersebut adalah tindakan biadab.

Saya pernah bekerja dalam team marketing, yang salah satu tugasnya adalah melakukan promo produk juga dalam bentuk banner outdoor. Dulu tidak pernah sekalipun saya izinkan team saya pasang banner dengan memaku pohon. Saya tegur keras bila ada yang melanggarnya.
Menurut saya sikap yang menyayangi dan tak mau menyakiti pohon bukanlah sikap berlebihan, karena sebagai manusia saya punya amanah untuk menyayangi seluruh alam ciptaan Tuhan.

Beberapa waktu yang lalu saya sangat kecewa karena mendapati wajah orang yang saya kenal dipaku di pohon. Orang itu adalah caleg yang saat ini sudah atau sedang menjadi anggota legislatif, yang rencananya akan saya pilih pada pemilu nanti. Saya segera mengirim pesan ke beberapa orang yang saya anggap bisa menyampaikan pesan saya kepada aleg tersebut. Saya kirimkan foto banner yang terpaku di pohon itu diiringi pesan “Salam dari pohon yang teraniaya”.

Beberapa saat kemudian saya mendapatkan balasan pesan yang kira-kira berbunyi :“Pesan sudah saya sampaikan, berikut balasan :  maaf dan terima kasih atas kritiknya”. Saat itu saya agak lega dan berharap segera ada perubahan.

Beberapa minggu kemudian kekecewaan saya memuncak karena banner wajah aleg yang saya kenal itu masih dengan arogannya menganiaya pohon.
Selain wajah caleg, hampir semua partai peserta PEMILU dengan pongahnya memaku banner kampanye mereka ke pohon, termasuk partai tempat caleg yang saya kenal tersebut. Saya mendapat jawaban dari beberapa kader partai tersebut bahwa itu perilaku team sukses bukan kader resmi partai. Maka saya sampaikan bahwa bila masalah kecil tapi penting seperti itu saja partai tidak bisa mengendalikan team suksesnya bagaimana mungkin partai itu pantas dipilih sebagai wakil rakyat?

Saya bereaksi hanya kepada satu partai itu, dan hanya kepada satu caleg itu karena saya menyayangkan tindakannya dan berharap mereka bisa berubah, karena saya berencana memilih mereka saat PEMILU nanti. Saya tidak peduli kepada caleg lain dan partai lain. Tapi kepedulian saya ternyata tidak bersambut. Pesan teguran saya tidak mereka gubris.


Saya sadar diri, apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang tidak peduli melihat pohon dianiaya. Apalah arti satu suara saya dibanding dua atau lebih suara orang-orang yang memilih mereka, dan yang tidak peduli mereka berbuat apapun saat proses kampanye. Bila saya tidak memilih, mereka hanya kehilangan satu suara, tidak ada pengaruh significant untuk mendapatkan kursi DPR. 
Saya memang layak diabaikan.

Pelatihan yang Membosankan, Sebuah Pengalaman Berharga

Beberapa tahun lalu, saat saya masih bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, saya pernah mendapat perintah mengikuti pelatihan selama dua hari. Saat itu berlaku peraturan bahwa seluruh karyawan setiap tahun harus mengikuti pelatihan minimal dua persen dari seluruh jam kerjanya setahun. 

Saat itu akhir tahun dan target jam pelatihan saya belum terpenuhi, maka saya wajib mengikuti pelatihan “Administrasi Proyek” yang ternyata isi materinya tidak ada hubungan dengan pekerjaan saya sehari-hari. Bisa dibayangkan bagaimana membosankannya suasana pelatihan yang saya rasakan, dan ternyata juga dirasakan oleh hampir seluruh teman-teman saya karena pematerinya juga menyampaikan dengan cara yang membosankan..

Daripada tertidur, atau ngobrol dengan teman yang akan menyinggung pemateri, maka saya mulai menulis cerpen fiksi. Sebenarnya saat itu adalah untuk yang pertama kalinya saya menulis cerpen fiksi. Sambil duduk tegak posisi memperhatikan imajinasi saya melayang dan saya tulis semuanya. Ajaib, ternyata tulisan saya mengalir lancar.

Posisi tubuh saya yang menulis tanpa henti sepanjang pelatihan menyebabkan teman-teman ribut kebingungan. Hampir semua teman memandang saya heran, yang ada di benak mereka kemungkinan sama “Yang ditulis apa???”  Hampir seluruh teman saya, baik secara verbal maupun isyarat, minta dipinjami catatan saya untuk mereka salin. Saya hanya mengangguk dan memberi isyarat ‘ok’, sambil menahan tawa. 

Selesai pelatihan cerpen saya rampung sembilan puluh persen, dan tidak ada seorangpun teman saya yang jadi meminjam catatan saya karena memang di perusahaan kami dulu tidak ada kewajiban membuat laporan usai pelatihan. ALHAMDULILLAH, cerpen ‘Catatan Pelatihan Administrasi Proyek’ saya yang saya beri judul ‘Hukuman untuk Mbok Darmi’ dimuat dalam buku kumpulan cerpen ‘Aku Ingin Melukis WajahMU’  produksi Forum Lingkar Pena Ranting UM Malang tahun dua ribu delapan.

Dari pengalaman tersebut ada beberapa hal yang saya dapatkan sebagai pelajaran berharga :


1.      Sebagai peserta, saya tidak lagi mau mengikuti pelatihan secara gratis, atau saya tidak akan mengikuti sebuah pelatihan hanya karena tidak berbayar.

Bilapun saya mendapatkan kesempatan mendapatkan pelatihan tanpa bayar, saya tetap harus membayar pelatihan tersebut dalam bentuk lain, misalkan dalam bentuk komitmen tindakan tertentu. Dengan cara itu saya tidak sembarangan mengikuti pelatihan, saya akan berusaha maksimal mendapatkan informasi tentang pelatihan yang akan saya ikuti. 

2.      Sebagai pemateri, atau trainer, saya harus memastikan mendapatkan hak berbicara di depan peserta pelatihan.

Saya mungkin punya materi untuk disampaikan, tetapi belum tentu saya mendapat hak untuk berbicara dari para peserta. Bisa jadi di awal saya mendapatkan hak itu, tapi karena cara saya berbicara tidak bagus sehingga membosankan atau tidak menyamankan maka peserta pelatihan akan mulai mencabut hak itu. Sebagai pemateri saya punya amanah menambah nilai tambah peserta pelatihan, karena sedikitnya mereka sudah menginvestasikan waktu mereka.

3.      Sebagai pemateri, atau trainer, saya akan mengondisikan kelas menjadi interaktif dan banyak partisipasi aktif dari peserta.

Sebuah ilmu yang baru bagi peserta sebuah pelatihan akan sangat sulit dipahami bila tidak dicoba dipraktikkan. Mungkin peserta merasa sudah memahami, tapi akan terbukti ada yang belum dimengerti saat mempraktikkannya langsung dan sangat sayang bila itu baru ditemukan seusai pelatihan.

4.      Sebagai pemimpin team saya tidak akan mengikutkan anggota team saya dalam sebuah pelatihan secara cuma-cuma.

Saya akan mewajibkan anggota team saya untuk mengeluarkan kontribusi besar bila ingin mendapatkan sebuah kelas pelatihan, meskipun tidak harus dalam bentuk uang. Bila mereka mengikuti sebuah pelatihan harus dengan upaya yang besar maka mereka akan mengikuti pelatihan dengan sangat serius, tak akan melewatkan waktu sedetikpun.

5.      Sebagai penulis saya sangat bersyukur karena punya peluang memroduksi karya dalam kondisi apapun.


Sebenarnya, siapapun, tidak punya alasan untuk tidak berkarya. Semua orang pasti punya sumber daya untuk menghasilkan sebuah karya yang bermanfaat, dalam kondisi apapun.




Bagaimana dengan Anda?




Sabtu, 01 Maret 2014

Anakku...Mencintalah dengan Mulia



Bapak lihat kumismu mulai rapat tumbuh, kaubilang bulu- bulu di bagian lain juga begitu. Tubuhmu semakin tinggi melampauiku. Suaramu membesar, dan sudah beberapa kali muncul jerawat di mukamu.

Kau semakin dewasa anakku. Kau sedang dalam proses perubahan besar secara fisik. Hormon-hormon kelelakianmu mulai aktif.

Sementara mengikuti perubahanmu,, Bapak juga mendapati berita dan kabar perilaku teman-temanmu, anak-anak seusiamu, yang melakukan perbuatan hina.
Bapak menyadari bahwa sejak dulu, saat Bapak seusiamu, sudah banyak anak-anak remaja berbuat seperti itu, tapi saat ini semakin gila dan hina.

Bapak tahu, karena pernah merasakannya, bahwa seiring perubahan fisik emosimu juga tumbuh. Kau sudah mulai merasakan hasrat kepada dia yang cantik, dan itu normal anakku. Hasratmu adalah hal yang wajar, kau tak berdosa memilikinya, terima dan berbahagialah.

Berhati-hatilah memilih tindakan mengikuti hasrat itu anakku...
Hasratmu bisa tumbuh, atau pergi dan berganti.
Hasratmu bisa tumbuh menjadi cinta yang mulia, atau tumbuh liar menjadi nafsu yang hina, dan kamu sendirilah yang memilihnya.
Bila kau memilih cinta, maka ujungnya adalah kebahagiaan dan kemuliaan. Tapi bila kau membiarkan hasratmu berubah menjadi nafsu liar maka ujungnya adalah kehinaan dan penderitaan.

Coqi anakku...
Kau pastilah tahu mana yang harus kau pilih. Tapi waspadalah pada nafsu bertopeng cinta. Berhati-hatilah terhadap rayuan hina berbalut cinta.
Bila kau mencintai dia yang cantik dan indah, pastilah kau tak akan rela dia menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Bila kau mencintainya, kau tak akan tega melihatnya mabuk kepayang karena bunga-bunga rayuanmu sehingga tak bisa berbuat yang lebih berguna. Bila kau mencintainya, kau akan tegas menjawab ajakannya : "Kau cantik dan indah, semoga Tuhan membuat ahlakmu lebih cantik dan indah"

Coqi anakku...
Wanita itu diciptakan Tuhan untuk dicintai dan dimuliakan, sebagaimana Bapak mencintai dan memuliakan Ibumu, dan banyak cara untuk itu.

Saat belum menjadi istrimu, cintailah dia yang cantik dengan memberinya waktu untuk tumbuh semakin cantik dan mulia, jangan kau ganggu. Ubahlah cinta di hatimu menjadi karya-karya sesuai kemampuanmu, sehingga kamu juga bertumbuh menjadi semakin indah dan mulia. Senandungkan bait-bait cintamu hanya saat bersujud di hadapan Yang Maha Penyayang, pasrahkan kepada NYA.


Bila kau jaga cintamu bertumbuh semakin mulia, maka suatu saat nanti tiba waktunya kau dipersandingkan dengan dia yang paling cantik dan mulia, seindah dan semulia cintamu.