Dua buku berkualitas karya Forum Lingkar Pena Malang

"Ada Kisah di Setiap Jejak" adalah buku kumpulan kisah nyata inspiratif, dan "Perempuan Merah dan Lelaki Haru" adalah buku kumpulan cerpen berkualitas. Hanya dijual online.

Ebook Gratis - Seminar - Workshop

Download Gratis Ebooknya di http://pustaka-ebook.com/pnbb-e-book-15-8-rahasia-sukses-ujian-nasional

Kebahagiaan dan Kedamaian Hati tergantung Keputusan Anda Sendiri

Kami hanya bisa membantu pribadi-pribadi yang mau berubah dan bersedia dibantu

Kripik untuk Jiwa - Renyah Dibaca, Bergizi dan Gurih Maknanya

Buku ringan berisi kiat-kiat mudah berubah menjadi bahagia dan membahagiakan

Inspirasi - Harmoni - Solusi

Berbagi inspirasi ... Membangun keselarasan ... Menawarkan solusi

Sabtu, 12 Oktober 2013

Phobia Durian

Saya sangat suka buah durian. Dulu, saat masih kecil, saya bisa menghabiskan beberapa buah durian dalam sekali makan, yang berarti puluhan biji. Bapak, Ibu, dan semua saudara saya sangat suka durian. Karena itu saya dulu sempat heran bila ada orang yang tidak suka durian. Tapi lambat laun saya bisa memahami dan memaklumi orang yang tidak suka durian.

“Pak saya phobia durian…!”

Wah ini ada yang baru lagi. Untuk memahami orang yang tidak suka durian saja saya perlu waktu lama, apalagi ini phobia durian. Tapi kali ini saya tidak boleh terlalu lama minta waktu untuk memahami orang yang phobia durian, bahkan saya tidak perlu memahaminya. Client saya yang seorang bapak muda ini butuh dibantu, tidak butuh dipahami.

Saya tidak menanyakan kepadanya mengapa dia phobia durian, karena mungkin ceritanya akan terlalu panjang, atau bahkan sebaliknya, dia tidak tahu mengapa dia phobia durian. Yang awal saya tanyakan adalah tujuan dia mendatangi saya.

“Saya ingin sembuh pak. Saya ingin menghilangkan phobia saya”

Maka pertanyaan saya selanjutnya adalah tujuan dia menghilangkan phobia.

“Saya ingin membahagiakan istri dan anak saya Pak. Selama ini saya sangat enggan membelikan mereka durian, padahal mereka suka durian. Bila pun terpaksa membelikan saya akan keluar rumah, pergi sejauh mungkin sampai durian habis tuntas. Saya ingin bisa menemani mereka menikmati durian, paling tidak duduk bersama”

Saya menilai client saya ini punya tujuan yang jelas, dan itu berarti proses kesembuhannya sudah lima puluh persen. Yang lima puluh persen sisanya hanya masalah teknis saja.

Tanpa tujuan yang jelas sebuah sesi terapi hanya menjadi ajang curcol, tidak ada ujung dan pangkal. Sedangkan bila client punya tujuan yang jelas, sang therapist hanya menjadi pemandu jalannya menuju tujuan. 

Dengan kekuasaan Tuhan dan karena tujuan yang jelas serta kemauan yang kuat, client saya bisa sembuh dari phobianya terhadap durian. Pada akhir sesi terapi dia tidak lagi pusing bila berdekatan dengan durian, meskipun tetap tidak suka makan durian.


“Biarlah saya tetap tidak bisa makan durian, asal saya bisa bersama anak dan istri saya saat mereka menikmati durian.”

Kamis, 03 Oktober 2013

[Anak Bermasalah 1] Orang Tua Harus Mau Berubah

Beberapa malam yang lalu saya menerima tamu, sepasang suami-istri atau lebih tepatnya sepasang ayah-bunda. Sebelum datang sang Ayah sebenarnya sudah menghubungi saya melalui Blackberry Message, secara singkat menyampaikan tentang keinginan mereka untuk bertemu saya dan konsultasi masalah anak mereka. Kami sepakat pada pertemuan pertama sang anak tidak perlu diajak.

Berdasarkan pengalaman menangani masalah anak, memang hampir 90% masalah yang terjadi ternyata bersumber dari orang tua, sehingga saat kedua orang tua bersedia berubah maka masalah pada anak terselesaikan dengan sendirinya.

Pada pertemuan malam itu, setelah mereka menyampaikan masalah anak mereka, ada satu pernyataan mereka yang membuat saya terkesan dan menilai mereka adalah orang tua yang luar biasa. Mereka menyatakan, yang diwakili dinyatakan oleh sang Ayah :" Apa yang salah dari kami Pak? Perubahan apa yang harus kami lakukan?". Bagi saya pernyataan itu suatu tanda bahwa sebenarnya tidak ada masalah krusial pada anak mereka, bahkan pada keluarga kecil mereka. Bila pun mereka merasa ada yang harus dibenahi, saya yakin dalam waktu cepat bisa berubah jadi lebih baik.
Ayah-Bunda tamu saya ini menunjukkan kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk berubah, dan itu adalah lebih dari separuh penyelesaian masalah.

Sangat banyak terjadi pada pasangan Ayah-Bunda lain, yang sebagian juga melakukan konsultasi dengan saya, yang menganggap anaknya bermasalah tapi tidak mau mengakui bahwa mereka lah yang harus berubah terlebih dahulu.

"Pak...Anak saya itu maunya sendiri, sering membantah kalau dikasih tahu...! Tolong terapi dia Pak..."
"Saya sudah melakukan segala yang dia mau, tapi dia semakin ngelunjak...Nyerah saya..."

Banyak orang tua yang menganggap anak mereka bermasalah, tapi mereka merasa sudah memperlakukan anak mereka dengan benar. Tugas terberat saya adalah membuat mereka sadar bahwa mereka harus berubah terlebih dahulu bila menginginkan anak mereka berubah, nyaris tidak ada cara lain.

Kamis, 27 Juni 2013

Menasihati Diri Sendiri

Saya tergelitik membaca status Facebook seorang sahabat. Dia menyatakan bahwa status facebook yang berisi motivasi atau nasihat kemungkinan besar menandakan sang pemilik status-lah yang membutuhkan motivasi dan nasihat. Saya se-juta-tuju dengan pernyataannya, karena saya melakukannya.

Saya suka menuliskan nasihat-nasihat untuk saya sendiri dalam status Facebook, dan menurut saya sangatlah bermanfaat. Saat merasa ada sesuatu dalam hidup saya yang perlu dibenahi, harus segera diubah atau untuk mengingatkan diri sendiri, saya menulis nasihat untuk saya sendiri dalam status. Nasihat untuk diri sendiri yang dituliskan dalam status Facebook bagaikan deklarasi perubahan. Karena saya menuliskannya di media sosial yang bisa dibaca publik, maka saya wajib mempertanggungjawabkannya. Saya harus benar-benar menjalankan apa yang saya tulis, dan itu benar-benar untuk kebaikan saya sendiri. Seandainya ada pembaca status saya yang mengalami kondisi yang sama dan mendapatkan manfaat dari nasihat itu, maka segala puji bagi ALLOH.


Saat merasakan kualitas tindakan menurun, saya menasihati diri untuk segera melakukan perbaikan. Saat mendapatkan kebaikan, saya menasihati diri untuk memperbanyak syukur dan bertindak lebih banyak dan lebih baik lagi. Saat mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai harapan, saya mengingatkan diri bahwa itu hanyalah umpan balik untuk memperbaiki proses.

Nasihat dari diri sendiri lebih mudah dilaksanakan karena berdasarkan nilai-nilai yang sudah saya yakini. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan saya sendiri yang tahu kemampuan diri sendiri.


Saya berusaha sesering mungkin menasehati diri sendiri karena saya ingin selalu berubah menjadi lebih baik. Semakin sering saya menasihati diri sendiri, semakin besar komitmen saya untuk berubah menjadi lebih baik.

Selasa, 07 Mei 2013

Anugerah Alergi


Beberapa waktu lalu saya menulis tentang penyakit masa kecil : Menyesal Tapi Tidak Menyesali.
Dua bulan yang lalu gejala alergi itu kambuh, setelah berpuluh tahun tidak mengalaminya. Gejalanya tidak sama persis, tapi awalnya sangat mirip. Hampir pada seluruh jari-jari kaki saya muncul benjolan kecil bernanah, sangat sakit, cekot-cekot. Ketika pecah rasanya sangat perih. Setelah pecah dan mengering muncul benjolan kecil lain di tempat yang sama, atau di tempat lain sekitar jari kaki.


Dengan awal yang sama seperti sakit saat masih kecil dulu saya menduga alergi saya kambuh, maka saya berhenti dulu makan daging ayam,telur, dan segala mahluk laut. Ternyata benjolan kecil masih terus bermunculan, hingga saya bertemu dan berkonsultasi dengan teman yang seorang herbalist. Dia menyarankan saya untuk berhenti makan segala macam daging, segala macam telur, mahluk laut, dan mengurangi konsumsi gula. ALHAMDULILLAH berangsur-angsur benjolan kecil di kaki saya berkurang, sampai akhirnya tidak ada sama sekali di jari-jari kaki.
Saya harus benar-benar menghindari aneka macam daging, telur dan mahluk laut sepanjang hidup atau harus segera mengobati alergi itu.

Dengan metode pengobatan atau terapi yang saya pelajari sebenarnya saya bisa mencoba menghilangkan alergi itu, tapi saya memilih untuk tidak melakukannya. Saya memilih untuk tetap mempertahankan alergi itu karena menganggapnya sebagai anugerah.

Saya sangat bersyukur ALLOH memberi saya sakit kulit seperti itu. ALLOH memberi saya sensor untuk menghindari makanan tertentu. Bukankah aneka daging, telur dan sea food, serta terlalu banyak gula adalah penyebab penyakit-penyakit berat seperti kelebihan kolesterol, darah tinggi, jantung, asam urat, diabetes dan semacamnya?

Bila orang lain berhenti makan daging, telur dan sea food karena penyakit dalam yang berat, saya berhenti makan aneka makanan itu karena penyakit kulit yang tidak berbahaya.

Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Sabtu, 04 Mei 2013

Televisi oh Televisi


Saya dan istri menyadari bahwa sedikit sekali manfaat yang bisa didapat dari televisi, tetapi kami mengakui meskipun sedikit masih ada manfaatnya sehingga masih mempertahankannya di rumah kami. Saya sendiri sangat jarang sempat meluangkan waktu menonton acara televisi. Sebelum kakak ipar mengirimi kami televisi dua puluh inch, kami hanya memiliki televisi empat belas inch yang kami beli lima belas tahun lalu. Kami tidak bisa menolak pemberian kakak ipar.

gambar dari depositphotos.com 

Dulu saya sempat berniat menghilangkan televisi dari rumah kami, karena mengkhawatirkan anak-anak. Saat itu kedua anak kami banyak menghabiskan waktu di depan televisi, sehingga saya merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka, tapi saya tidak mungkin melarang mereka tiba-tiba tanpa alasan. Saya tidak ingin anak-anak merasa 'terpaksa' tidak menonton televisi, bukan dari kesadaran diri.
Hingga akhirnya suatu ketika kedua anak kami bertengkar berebut acara televisi. Saya merasa menemukan moment yang bagus untuk melakukan perubahan.  Saya cabut kabel listrik sebagai hukuman pertengkaran mereka. Saya akan mengizinkan mereka menonton televisi setelah mereka berbaikan, dan menunggu hasil 'musyawarah keluarga'.

Kami memang mempunyai tradisi mengadakan 'musyawarah keluarga' untuk mencari solusi masalah atau merencanakan sesuatu. Dalam musyawarah itu semua orang berhak mengajukan pendapat, dan semua peserta harus komitmen pada hasil musyawarah.

Saya membuka musyawarah dengan menyampaikan kekhawatiran saya tentang terlalu banyaknya waktu yang digunakan anak-anak untuk menonton televisi. Mereka saya tanya satu persatu manfaat televisi untuk masa depan mereka, dan mereka terdiam. Saya minta pendapat mereka acara apa saja yang bermanfaat di Televisi, yang bermanfaat untuk kebahagiaan dan masa depan mereka, dan yang paling kecil pengaruh buruknya. Hanun yang saat itu masih balita juga aktif berbicara dengan gaya dan celotehnya yang lucu. Kami asyik berdiskusi, menimbang-nimbang, menganalisa kondisi, dan akhirnya membuat keputusan. Ternyata Coqi hanya tertarik menonton pertandingan bola, acara pengetahuan populer, dan beberapa film seri detektif. Kami bersama memiliki kesamaan pendapat bahwa ada manfaat dari acara-acara itu, dan khusus film detektif syaratnya Coqi harus saya atau ibunya dampingi saat menonton. Setiap hari Coqi hanya punya waktu satu jam setelah Ashar dan satu jam setelah belajar malam hari.
Sedangkan Hanun hanya suka film kartun, dan punya jatah satu jam setiap hari. Hasil kesepakatan musyawarah mengikat kami semua, termasuk saya dan istri.

Meskipun kecil ada manfaat yang bisa didapat dari televisi. Yang perlu kita lakukan adalah mengendalikan diri, karena televisi hanyalah alat pasif. Kita sendiri yang bisa memilih untuk mendapatkan untung atau rugi dari televisi.

Selasa, 23 April 2013

Trauma yang Bermanfaat




Seorang gadis kecil sedang makan bersama dengan beberapa saudaranya di ruang tamu rumahnya. Sambil makan gadis ini asyik ngobrol dan bercanda, meskipun beberapa kali ditegur ibunya agar tidak banyak bercanda saat sedang makan. Tiba-tiba gadis kecil ini berhenti makan, melempar piring makannya dan memuntahkan isi mulutnya. Ternyata di atas nasi di piringnya ada satu setengah ekor anak tikus yang masih berwarna merah tanpa bulu. Sebagian badan anak tikus itu sudah terkunyah si gadis kecil, yang kemudian dia muntahkan.

Karena sibuk bercanda sang gadis kecil tidak memerhatikan makanannya sehingga tidak menyadari dua ekor anak tikus jatuh dari atap rumah yang tanpa langit-langit dan mendarat persis di atas nasi di piringnya. Dia merasa aneh dan sadar  saat merasa mengunyah daging padahal dia tahu bahwa lauknya hanya tahu dan sambal. Bayangkan bagaimana perasaan sang gadis kecil!

Sejak saat itu sang gadis kecil tidak mau makan daging yang berlemak apalagi jerohan. Bila terpaksa dia hanya mau makan daging yang dimasak kering tanpa lemak.

Gadis kecil itu sekarang sudah berusia kepala tujuh. Sang gadis kecil sudah menjadi nenek sehat yang aktif. Sepanjang hidupnya, sejak peristiwa itu, dia tidak pernah makan daging berlemak, dan jerohan, sehingga dia tidak pernah sakit darah tinggi, kelebihan kolesterol, asam urat, maupun gula darah. Nenek yang sehat dan aktif ini mendapat  pengalaman yang mengerikan sehingga mengalami trauma, namun itu justru bermanfaat bagi hidupnya, bagi kesehatannya.


Nenek sehat yang aktif itu adalah Ibunda mertua saya yang sangat kami hormati. Ternyata tidak semua trauma merugikan. Karena itu, meskipun saya bisa mencoba mengobati trauma beliau, saya menyarankan untuk tidak menghilangkannya. Trauma yang beliau alami telah membantu menjaga kesehatan, trauma yang bermanfaat.

Kamis, 28 Maret 2013

Menyesal tapi Tidak Menyesali


Waktu kecil dulu saya menderita sakit kulit sehingga dilarang makan daging ayam, telur, dan segala makanan yang terbuat dari mahluk laut. Dokter bilang saya alergi. Saya 'hanya' boleh makan daging sapi, kambing, dan bahan nabati. Saat-saat itu saya sering mengeluh, rewel, bahkan mogok makan bila tidak tersedia lauk daging atau jeroan sapi. Saya tidak peduli apakah kondisi keuangan orang tua saya memungkinkan selalu menyediakan lauk seperti itu.

Mengapa saya yang sakit? Mengapa hanya saya yang sakit? Saya tidak bisa makan makanan enak yang bisa dimakan saudara-saudara atau teman-teman sebaya. Saya merasa menjadi 'korban', korban penyakit. Karena merasa banyak hak-hak yang tidak bisa saya terima, hak makan telur, daging ayam, dan ikan laut, saya merasa layak mendapatkan kompensasi. Saya merasa sudah sepantasnya mengeluh dan minta diperlakukan istimewa.

Bila mengingat masa-masa itu, saya sekarang menyesal sekaligus geli sekaligus malu. Saya menyesal karena ternyata pada masa itu saya tidak bisa mensyukuri nikmat yang luar biasa. Saya dulu terlalu terpaku pada makanan yang pantang saya makan, padahal masih banyak makanan yang boleh saya makan. Seharusnya saya berpikir 'hanya' dilarang makan beberapa makanan, bukan berpikir 'hanya' boleh makan beberapa makanan. Karena merasa menjadi 'korban' saya merasa pantas mengeluh dan menuntut macam-macam. Padahal apa yang sudah disediakan orang tua sudah sangat istimewa dibandingkan yang diterima anak-anak lain, saudara-saudara dan teman-teman, dan saya tidak bersyukur sehingga saya kurang bahagia saat itu.
Saya geli karena ternyata masa itu saya meributkan dan membesar-besarkan masalah yang sepele. Saya hanya sakit kulit yang tidak mengancam jiwa, tapi saya bertindak seakan-akan menderita penyakit yang menyiksa sepanjang hidup saya. Bersama dengan bertambahnya usia ternyata alergi saya berangsur-angsur hilang.
Saya malu kepada anak-anak saya, Coqi dan Hanun, yang lebih sabar saat sakit, lebih bersyukur sehingga lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Coqi dan Hanun bila sakit tidak pernah mengeluh dan jarang sekali rewel.

Sekarang, saya sangat mensyukuri hidup. Meskipun saya menyesal atas tindakan bodoh saya menghadapi sakit pada masa kecil, tapi saya tidak menyesali pengalaman itu karena itu yang membangun kekuataan saya sehingga bisa seperti saat ini.
Saya bangga kepada Coqi dan Hanun. Saya bersyukur bahwa ada perbaikan dan peningkatan kualitas  antar generasi. Saya malu dengan masa lalu saya, tapi sekarang saya tidak boleh memalukan mereka. Saya harus membuat mereka bangga dengan berubah, belajar dari mereka.

Rabu, 27 Februari 2013

Teladan dan Amanah (Jilbab Hanun 3)


Saya dan istri yakin bahwa pendidikan yang terbaik adalah dengan contoh, teladan. Karena itu dalam mendidik Hanun contoh dari ibunya sangatlah penting.

Sebagai Bapak, seorang laki-laki, saya hanya bisa memberi contoh untuk sikap-sikap multi gender, sikap-sikap umum seorang muslim. Sejak dini kami sudah mengajarkan tentang perbedaan gender kepada Hanun. Dia sudah kami beritahu bahwa Bapak dan Ibu punya banyak perbedaan, terkait gender.Pelan-pelan kami sampaikan apa-apa yang boleh dilakukan laki-laki dan yang boleh dilakukan perempuan.

Sebagai seorang wanita dewasa yang paling dekat dengan Hanun, peran ibunya sebagai teladan sangat mempengaruhi perkembangan Hanun. Peran saya saya sebagai teladan Hanun lebih kecil porsinya dibandingkan peran saya sebagai penegur istri...hehehe...
Istri saya lebih tinggi kemauan untuk berubah bila termotivasi kesadaran sebagai teladan Hanun.

Dari awal menikah kami memang berkomitmen untuk melakukan secara maksimal, yang terbaik, dalam mendidik anak. Kami yakin niat dan usaha kami pasti ada hasilnya, meskipun semua hasil  tergantung keputusan TUHAN. Kami tidak bisa menjamin, tidak akan sesumbar, anak-anak kami menjadi insan terbaik kelak. Kami hanya akan melakukan apapun, bahkan bila perlu mengorbankan nyawa, untuk menjaga amanah TUHAN yang kami terima agar bisa mempertanggungjawabkannya pada pengadilan tertinggi kelak.


Sabtu, 23 Februari 2013

Berpikir Akibat Sebelum Bertindak


Teman-teman yang baru mengenal saya mungkin tidak mengira bahwa dulu saya pernah ‘melabrak’ pimpinan divisi general affair hanya karena tidak diprioritaskan menggunakan kendaraan operasional, sampai ada adegan membanting pintu segala. Saya juga pernah menghadap Kepala Cabang dengan emosi hanya karena ruangan saya dipinjam divisi lain. Saat itu saya merasa apa yang saya lakukan benar. Saya berani berbuat karena merasa benar. Ternyata benar saja tidak cukup.

“Lebih baik kalah dalam pertempuran untuk memenangkan peperangan”. Saya sering mendengar kata-kata bijak ini. Saya menyadari bahwa saya dulu selalu ingin memenangkan pertempuran karena merasa benar.  “Berani karena benar”. Ternyata berani saja belum cukup.

Dulu, saya cepat bertindak karena merasa benar, benar menurut saya, bagaimana menurut orang lain? Apa akibat tindakan saya bagi diri sendiri dan orang lain?

Dulu, saya menganggap cepat bertindak adalah perwujudan dari istilah tangkas, atau proaktif, atau cepat tanggap. Saya lupa bahwa juga ada istilah ceroboh, atau gegabah, atau grusa-grusu. Yang membedakan apa?

Yang membedakan adalah sebesar apa saya memperhatikan akibat, atau dampak, atau efek, dari tindakan saya. Bila saya merasa benar, kemudian bertindak cepat tanpa peduli baik buruknya akibat tindakan saya, maka saya telah melakukan tindakan gegabah.

“Ah kelamaan kalau mau bertindak harus mikir tentang segala akibatnya…”

Mungkin kelamaan, saat saya belum terbiasa memikirkan akibat sebelum melakukan tindakan, belum  menjadikan hidup efektif sebagai gaya hidup. Memang perlu kemauan untuk berubah, dan saya memutuskan untuk berubah menjadi lebih efektif, selalu berpikir akibat sebelum bertindak. Untuk itu saya harus terus berlatih dan berlatih, karena berubah menjadi lebih baik tidak boleh berhenti sampai maut menjemput.

Jumat, 22 Februari 2013

Mandi dan Hidup Efektif


Gaya hidup efektif dan bahagia saya terapkan di rumah, lingkungan terkecil dan paling dekat hidup saya. Di rumah kami, saya biasakan melakukan sesuatu dengan efektif. Sebelum melakukan sesuatu kami harus tahu dan paham manfaatnya. Meskipun sulit kami harus melakukannya bila manfaatnya besar.

Dari hal-hal terkecil kami usahakan selalu efektif. Misalkan masalah jadwal mandi. Kami sekeluarga punya kesepakatan untuk tidak memiliki jadwal mandi, alias suka-suka. Kalau tidak perlu ya tidak mandi, tapi minimal sekali sehari. Sebaliknya kami bisa mandi berkali-kali sehari, sesuai kebutuhan. Kami berpedoman pada agama dan kesehatan dalam menentukan manfaat  mandi.  Selain agama dan  kesehatan, kami juga memperhatikan kebaikan dan kenyamanan orang lain. Meskipun sudah dua kali mandi, tapi karena berkeringat badan jadi bau tidak sedap, kami mandi lagi. Sebaliknya kami sering hanya mandi sekali karena badan masih bersih, tak berkeringat dan wangi sampai tidur malam hari.

Jadi masalah mandi ini kami benar-benar menggunakan azaz manfaat, bukan sekedar rutinitas tradisi.
Masalahnya, tidak semua orang di sekitar kami bisa memahami azaz manfaat mandi yang kami anut. Contohnya adalah peristiwa saat kami berkunjung dan menginap di rumah Ibu saya selama liburan sekolah.
Ibu saya, Utinya Coqi, memegang teguh tradisi sejak lama, mandi dua kali sehari. Sehingga beliau tidak berkenan saat Coqi menolak disuruh mandi sore “Badanku masih bersih Uti…Baru tadi siang Aku mandi dan sekarang belum kotor dan tidak berkeringat….”. Neneknya tidak bisa menerima alasan Coqi.

Saya panggil Coqi…

“Bapak menghargai pendirian Coqi tidak mau mandi sore, berdasarkan gaya hidup efektif kita. Tapi dalam mempertimbangkan manfaat Coqi juga harus memperhatikan konteks. Meskipun Coqi tidak kotor dan masih wangi, Coqi harus menghargai kebiasaan di rumah Uti…Coqi harus menjaga kebahagiaan Uti…Kali ini Coqi harus mandi karena manfaat yang besar, kebahagiaan Uti…”

Coqi harus belajar bahwa membahagiakan orang adalah pertimbangan tertinggi gaya hidup efektif setelah ajaran agama.



Senin, 18 Februari 2013

Belajarlah Setiap Saat Agar Semakin Baik Setiap Hari


Hanun anakku...Hari ini usiamu genap lima tahun bila dihitung menggunakan kalender masehi.
Artinya Hanun sudah lima tahun belajar menjadi anak yang baik, anak yang pandai, anak yang hebat.
Anak yang usianya genap lima tahun harus lebih baik, lebih pandai, dan lebih hebat daripada anak yang usianya lebih muda. Khan sudah lebih lama belajarnya...

Hanun anakku...setelah ini kamu harus meneruskan belajarmu, setiap hari, setiap saat. Apapun yang kau temui, kau lihat, kau dengar, adalah pelajaran. Bapak dan Ibu akan selalu memberikan contoh yang terbaik yang bisa kami lakukan. Bila kau menemui sesuatu yang mengganjal hatimu tanyakan kepada Bapak, Ibu, atau Ibu Guru, jangan kau pendam sendiri. Bahkan bila menurutmu Bapak melakukan sesuatu yang tidak baik, tegurlah, karena Bapak juga mungkin melakukan kesalahan. Bapak juga masih terus belajar menjadi orang yang lebih baik.

Hanun anakku...Jadilah semakin baik, semakin pandai, semakin hebat setiap hari, tak perlu menunggu ulang tahun. Bapak selalu mendoakanmu, hadiah terbaik yang bisa Bapak berikan, setiap hari.

Jumat, 15 Februari 2013

Doa dalam Nama Coqi

"What is a name"
Apalah arti sebuah nama.
Bagi saya nama adalah doa, harapan, cita-cita orang tua kepada anaknya.

Semua orang tua ingin anaknya menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain, tapi tidak semua orang tua memberi nama anaknya sebagai doa dan harapan. Itu pilihan mereka, dan saya menghargainya. Seperti sebuah cerita humor yang pernah saya baca :
"Ma...Benarkah di suku kita nama orang itu sesuai peristiwa besar yang terjadi saat ibunya belum hamil sampai melahirkan?"
"Benar...Kenapa kamu menanyakan itu Dipan Ambruk?"

Banyak juga orang yang memiliki nama yang bagus, menggunakan nama-nama Nabi, orang-orang bijak, atau nama-nama lain yang memiliki arti bagus dan mulia tapi perilakunya sangat hina, keji, suka menyakiti sesama. Apakah yang dilakukan orang tua mereka memberi nama bagus tidak ada gunanya?

Orang tua memberi nama yang bagus adalah ihtiar untuk kebaikan anaknya, salah satu usaha. Usaha orang tua tidak cukup sampai di situ, tidak cukup hanya memberi nama yang bagus, tapi harus berkelanjutan dengan pendidikan yang baik.

Nama lengkap Coqi adalah Muhammad Isyroqi Basil. Muhammad artinya orang yang terpuji, isyroq artinya memancar, dan basil artinya pemberani. Sejak kecil, sejak bisa bicara Coqi sudah kami beri penjelasan tentang arti namanya sendiri. Kami sampaikan juga bahwa dia harus bertanggung jawab menyandang nama yang artinya baik. Dia harus bersikap selaras dengan kebaikan namanya. Itulah ikhtiar awal kami...

Nama Muhammad Isyroqi Basil adalah doa dan harapan kami untuk Coqi. Semoga dia menjadi orang yang terpuji, yang memancarkan sinar ke sekelilingnya dan berani berbuat untuk kebenaran. Aamiin...

Kamis, 31 Januari 2013

Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis (Jilbab Hanun 2)


Hanun saat ini berusia lima tahun, dan dia sudah paham tentang konsep aurat maupun muhrim. ALHAMDULILLAH tidak terlalu sulit membuat dia paham bagaimana harus bersikap kepada lawan jenis. Saya yakin itu karena hidayah Tuhan kepadanya, dan Tuhan pula yang mengilhamkan ke saya dan istri saya tentang mendidik ahlak sejak usia Hanun 0 tahun.

Saya yakin tentang konsep pendidikan sejak dalam kandungan. Saya belum pernah membaca jurnal ilmiah atau hasil penelitian tentang konsep ini, tapi saya sudah menemukan banyak bukti dan mengalaminya sendiri. Sayang sekali masih banyak orang tua di Indonesia yang meragukan konsep ini. Mereka masih berpendapat bahwa bayi dan anak di bawah usia tiga tahun belum bisa menangkap informasi sempurna dari sekelilingnya.

Pendidikan yang saya anggap paling penting untuk saya ajarkan kepada Hanun sesegera mungkin adalah tentang ahlak, dan saya meyakini sumber terbaik adalah ajaran agama. Saya meyakini bahwa ajaran agama adalah manual book atau user guide manusia untuk hidup. Sebagai muslim saya meyakini Al Qur'an dan Al Hadits sebagai pedoman hidup, acuan segala ilmu.

Saya percaya bahwa semua yang kita sampaikan kepada anak sejak usia 0 tahun terekam sempurna dalam pikirannya, di otaknya. Hanya saja mereka belum bisa menanggapi informasi itu. Informasi yang tersimpan di otaknya pasti bermanfaat suatu saat kelak. Sebaliknya, hati-hati dengan informasi negatif yang berpotensi masuk ke otak anak usia dini, juga akan terekam dalam otaknya. Televisi adalah media yang harus diwaspadai berpotensi besar mengirim informasi negatif  ke dalam pikiran anak.

Saat Hanun sudah mulai aktif berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan lawan jenis, saya mulai sering mengingatkan tentang konsep hubungan yang benar menurut ajaran agama, konsep yang sudah dia terima informasinya sejak lahir.
"Bukankah larangan itu bagi orang yang sudah dewasa? Sudah baligh?"
Tak ada penegasan di agama bahwa aturan hanya boleh diajarkan kepada orang dewasa, kalau berlakunya keawajiban memang benar untuk orang yang sudah dewasa. Ahlak dan moral adalah sari pati inti dari karakter. Bukankah terlambat bila baru mengajarkan ahlak dan moral saat anak sudah dewasa? Saat karakternya sudah terbentuk? Secara biologis kita bisa mengenali kapan anak kita mencapai kedewasaan, tapi secara psikologis sulit mendeteksinya.

ALHAMDULILLAH sekarang Hanun sudah tahu dan melakukan sikap-sikap membatasi diri saat berhubungan dengan lawan jenis, meskipun kadang-kadang masih harus diingatkan. Paling tidak dia bisa menerima dan segera berubah saat diingatkan, tidak membantah atau menentang menggunakan  segala argumen nalar manusia yang tidak selaras dengan ajaran agama.

Rabu, 30 Januari 2013

Jilbab Hanun


Dulu, lama sebelum Hanun lahir saya sudah sangat suka melihat anak kecil perempuan yang berkerudung rapi. Teman-teman, orang tua anak-anak itu, memberi tips bahwa jauh lebih mudah mengajari anak berkerudung sedari kecil, sedini mungkin.  Sejak saat itu selalu ada dalam doa saya permohonan dianugerahi anak perempuan.

Memerhatikan tingkah polah perempuan-perempuan masa kini saya sangat miris dan khawatir. Betapa mereka sudah tidak peduli dengan  kehormatan, suka memamerkan bagian-bagian tubuh demi mendapatkan kepuasan karena jadi pusat perhatian.

Banyak yang berkilah bahwa bukan tanggung jawab mereka  bila banyak mata lelaki jalang memandang tubuh mereka.
"Ah...Bukan urusan saya bila para lelaki itu memandangi saya, khan mata mereka sendiri, saya gak nyuruh"
"Ya salah sendiri gak punya iman...Gak bisa menahan nafsu..."
"Dasar pikiran mereka sendiri yang ngeres, piktor"

Coba kita balik logikanya, seandainya tidak ada seorang lelakipun tertarik pada dandanan mereka, tidak sebuah matapun memandang kagum, atau lebih tepatnya jalang, apakah mereka masih mau berpakaian seperti itu? Apa sih yang ada di benak perempuan-perempuan yang suka berdandan ‘minimalist’ itu saat bercermin mematut diri selain ingin segera keluar menemui kerumunan kemudian mendapatkan pujian dan tatapan pemujaan?

"Wajar khan yang indah itu disukai orang?"
"Apa salahnya saya menampilkan keindahan?"

Keindahan adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Indah. Sebagai mahlukNYA kita wajib menjaga dan merawat keindahan yang kita terima. Menampilkan keindahan boleh saja, dengan memerhatikan manfaat yang ingin diraih, bagi diri sendiri dan orang lain. Saat menampilkan bagian-bagian tubuhnya, manfaat apa yang diperoleh? Manfaat apa yang diberikan untuk orang lain? Keburukan apa yang kemungkinan terjadi? Lebih condong ke manfaat atau keburukan?

"Ah, jangan munafik lah...! Toh banyak juga peristiwa di dunia ini perempuan berjilbab yang dilecehkan dan diperkosa..."

Perdebatan seperti ini tidak akan pernah selesai, tak ada habisnya. Selalu ada perbedaan dalam memandang sesuatu. Karena itulah saya ingin memiliki anak perempuan, agar saya bisa mendidiknya dengan kebenaran yang saya yakini. Saya ingin berbuat sesuatu di dunia tentang keindahan seorang wanita, melalui anak saya karena saya laki-laki.

Saya menyetujui dan sepakat bahwa pendidikan anak dimulai saat usia 0 tahun, bahkan sejak dalam kandungan. Maka saya dan ibunya  mengajari Hanun menutup aurat sejak usia 0 tahun. Kami sudah berburu jilbab kecil sejak Hanun lahir.  

Tidak mudah, karena banyak yang menentangnya.
"Kasihan, dia khan masih kecil.."
Justru sayang Hanun saya kasihan bila terlambat mendidiknya tentang ahlak beragama.

(bersambung : "Sikap Hanun Kepada Lawan Jenis)


Senin, 28 Januari 2013

Dulu Belajar Rangkaian Listrik Sekarang Jualan Kripik


Saya dulu kuliah di Politeknik Malang jurusan Listrik dan saat ini saya jualan kripik buah. Apakah saya merasa kuliah saya tidak ada gunanya?
Saya dulu belajar rangkaian listrik dan sekarang menulis buku tentang mudahnya bahagia. Apakah saya menyesalinya?

Sama sekali tidak!

Seandainya saya dulu kuliah di fakultas ekonomi, belum tentu sekarang saya bisa menjual satu ton kripik buah ke Malaysia. Karena faktanya banyak sarjana ekonomi yang mempelajari manajemen pemasaran tidak mau jadi pedagang.
Seandainya saya dulu belajar ilmu psikologi, belum tentu saya bisa menulis buku "Kripik untuk Jiwa". Karena faktanya banyak sarjana psikologi tidak mau menerapkan ilmunya untuk membantu orang lain jadi lebih bahagia.

Saya bangga dulu pernah belajar ilmu listrik. Saya masuk jurusan itu bukan asal masuk, asal kuliah. Saya melakukannya dengan niat mencari ilmu dan meningkatkan kualitas berpikir, dan saya menapatkannya. Apapun yang saya dapatkan saat kuliah adalah bekal saya yang sangat berharga untuk melakukan perjalanan hidup, sehingga saya bisa seperti saat ini.

Menuntut ilmu bukanlah tujuan tapi hanya salah satu tahapan proses. Kuliah hanyalah salah satu pilihan tahapan dari proses peningkatan kualitas diri, proses tiada henti.
Karena kuliah hanya sebagai  salah satu pilihan, Anda tidak harus melakukannya karena ada pilihan lain. Apapun pilihan Anda, lakukan dengan sebaik mungkin, terbaik yang bisa Anda lakukan.